Saturday, October 29, 2016

Sosial Media dan Ajakan Membunuh

Perdana Menteri Inggris bersenggama dengan seekor babi dan disiarkan secara langsung di seluruh stasiun TV di Inggris.


***Major Spoiler Alert on Black Mirror TV Series***



Suatu malam, Perdana Menteri (PM) Inggris Michael Callow dibangunkan dering telepon. Di seberang telepon, ia di beritakan oleh asistennya bahwa Princess Susannah, salah satu puteri kerajaan Inggris, diculik.

Penculiknya, mengirimkan sebuah video. Dalam video tersebut, sang putri terlihat didudukkan di atas kursi, dengan tangan terikat. Ia menyampaikan pesan yang khusus ditujukan kepada Perdana Menteri (PM). Pesan tersebut adalah sebuah permintaan dan perintah dari penculiknya. Harus dilaksanakan. Jika tidak, sang penculik akan membunuh sang putri.

Seketika, muka sang PM berubah jijik. Enggan. Murka. Namun juga bingung karena ia harus menyelamatkan sang putri tapi tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan.

Perintah tersebut bukanlah meminta uang atau tebusan lain. Permintaan sang penculik sederhana: Sang PM harus bersenggama dengan Babi dan disiarkan oleh seluruh stasiun tv baik satelit maupun kabel pada pukul 4 sore di hari itu.

Tidak hanya mengirim video tersebut ke PM, sang penculik juga mengunggah video tersebut ke YouTube. Seketika, sosial media meledak. Facebook, Twitter, Instagram, hingga siaran TV semuanya ramai membicarakan dan memberitakan penculikan ini.

Singkat cerita, segala cara yang dilakukan untuk menemukan dan menyelamatkan sang putri tidak berhasil. Masyarakat di sosial media mendukung sang PM untuk bersenggama dengan babi; baik untuk menyelamatkan sang putri, atau untuk kesenangan mereka sendiri.

Beberapa menit sebelum pukul 4 sore, seluruh kota di Inggris sepi. Semua mata tertuju pada TV. Mereka berkumpul di bar, di rumah, di manapun tempat TV berada.

Banyak orang yang senang. Merayakannya dengan minum-minum. Mereka tertawa membayangkan sang PM akan benar-benar bersenggama dengan babi.

Orang-orang di bar berteriak senang, senyum geli, dan mengangkat gelas saat sang PM mulai memasukki ruangan tempat babi berada. Mereka kembali bersorak saat sang PM menurunkan celananya. Juga saat sang PM berkata "I Love You" untuk istrinya.

Semua senang, geli, dan bersorak karena tidak menyangka hal ini akan terjadi. Semuanya hanya ada dalam impian liar mereka.

Hingga akhirnya, sang PM benar-benar melakukan hal itu: bersenggama dengan babi.

Raut wajah semua orang berubah. Mereka menjadi jijik. Kasihan. Iba. Mereka kini dihadapkan pada kenyataan kenapa hal ini harus terjadi kepada sang PM? Siapa orang yang tega melakukan ini ke sang PM?

Semuanya tidak semenyenangkan seperti apa yang ada dipikiran mereka ketika hal ini benar-benar terjadi. Mereka baru menyadari kenapa mereka bisa bahagia saat reputasi dan harga diri seseorang dihancurkan di depan publik? Apa yang ada dipikiran keluarga, kerabat, dan kawannya? Kenapa mereka bisa setega itu?

That happened. And people know why it happened: they cheered happily the idea of a PM fucking a pig. Secara langsung mereka menginginkan dan mendukung hal itu untuk terjadi. The thing is: it shouldn't have happened.

***

Kisah di atas adalah kisah dari episode perdana serial Inggris Black Mirror. Cerita lengkap dan akhir ceritanya bisa Anda saksikan sendiri. Kejadian tersebut, sedikit banyak mengingatkan saya pada situasi sosial media di Indonesia.

Sosial media di Indonesia belakangan ramai dengan ajakan membunuh. Ajakan untuk membinasakan salah satu gubernur di Indonesia.

Semua senang. Bersorak. Mengajak. Di sosial media mereka mengangkat kepal untuk melakukan mewujudkan hal itu.

Mereka semua seakan bahagia membayangkan seorang pejabat dibunuh. Bayangan yang ada di dalam pikiran mereka hal itu menyenangkan. Banyak yang mendukung ide membunuh sang pejabat dengan dalih membela agama, atau untuk kesenangan mereka sendiri.

Mereka bahagia karena banyak orang memiliki pemikiran serupa. Ide liar yang tidak mungkin terjadi. Membayangkan kehidupan dan reputasi seseorang akan hancur di depan publik.

But please ask yourself this: if that ever happens, would you really cheer on his death? atau kalian akan jijik sendiri karena ternyata ada jiwa pembunuh dalam diri kalian? Is it really for your religion, or just your self-satisfaction?

Is that really your answer? Are you really a killer?

2 comments:

  1. Bagus, mas.
    Jon Ronson, jurnalis asal inggris bahas lumayan panjang lebar di buku terakhirnya. Plus dia jadi pembicara di TED talk taun ini ngebahas Halah itu juga.

    https://www.ted.com/talks/jon_ronson_what_happens_when_online_shaming_spirals_out_of_control?language=en

    Keep the good work, mas.

    ReplyDelete
  2. Kajian yang bagus terhadap episode yang luar biasa tentang dinamika psikis manusia. Salut!

    ReplyDelete