Saturday, March 12, 2016

Trump, Sanders, dan Lingkaran Facebook

Menarik untuk melihat pemilu Amerika Serikat yang tampaknya makin memanas. Kandidat Partai Demokrat, Bernie Sanders dan Hillary Clinton, tampak bersaing ketat. Sementara dari Partai Republikan, Donald Trump tampak sudah di atas angin.

Menarik pula untuk melihat bagaimana orang Indonesia bereaksi akan kampanye-kampanye para kandidat Presiden AS tersebut. Mengingat Donald Trump tampaknya sangat kencang dan lantang untuk menentang (atau membenci) Islam, agama mayoritas penduduk Indonesia.

Di lingkaran (lagi-lagi) Facebook saya, banyak yang marah akan hal yang dilakukan, dikampanyekan, diucapkan, oleh Trump terhadap Islam. Mereka menyebut apa yang dilakukan Trump merupakan sebuah tindakan yang menyerang minoritas, bagian dari Islamophobia, menunjukkan kebencian, dan bisa memicu konflik horizontal.

That's a very good argument. Sampai kalian melihat lebih teliti. Karena, sayangnya, teman-teman Facebook saya juga melakukan hal yang sama terhadap minoritas di Indonesia.

Banyak dari mereka yang juga menyerang minoritas. Mulai dari Orang Cina tidak boleh jadi pemimpin karena mereka disebut hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Menyebut bahwa kafir (orang selain Islam) haram untuk memimpin; dan jika terjadi, masyarakatnya menjadi auto-kafir. Bilang bahwa pembangunan gereja di daerah yang mayoritas penduduknya muslim adalah cari gara-gara. Dan sebagainya.. Dan sebagainya. Menyedihkan.

Orang bisa menjadi sangat munafik; terutama akan hal yang berpengaruh langsung terhadap kepentingannya. Dan itulah yang terjadi.

Saat mereka membenci Trump yang islamophobia di AS sana, di sini mereka ber-agama-lain-selain-islam-phobia. Saat Trump di sana membenci minoritas seperti kulit hitam dan imigran, di sini mereka membenci golongan lain seperti teman-teman Keturunan Cina.

They hate Trump, but they are one.

***

Menarik juga membicarakan Bernie Sanders. Mengingat dia adalah seorang Yahudi. Di AS sana, ramai dibicarakan bahwa jika terpilih, ia akan menjadi Presiden Yahudi pertama di AS. Ya. Presiden. Yahudi. Pertama. AS.

Padahal, teman-teman saya yang tadi saya bicarakan juga sering mengeluarkan statement yang mengkaitkan segala yang berhubungan dengan AS adalah Yahudi, dan sebaliknya. Seperti memaki, "DASAR AMERIKA YAHUDI!" 

Well, get your fact straight first, dude.

Jika Sanders menjadi calon Presiden Indonesia, dia pasti sudah jadi bulan-bulanan karena ia Yahudi. Beruntung, dia bukan.

Beruntung dia menjadi calon Presiden AS. Mengapa, karena muslim AS mendukungnya. Di Michigan, ia menang atas Hillary setelah sebelumnya dalam polling, ia disebut akan kalah telak. Dukungan Muslim Michigan memenangkannya.

Para teman-teman bigot di Facebook saya tentu bertanya, kenapa Muslim mendukung Yahudi? Beberapa dari mereka juga pasti akan berpendapat, Muslim Michigan yang mendukung Sanders tentunya jadi auto-kafir.

Well you know what? Someone's religion doesn't matter in this kind of thing.

Muslim AS sedang berupaya memilih pemimpin yang terbaik. Yang bisa mengayomi mereka. Bukan memilih karena agama calon pemimpinnya saja.

Jika mereka berpikiran pendek dan menentukan pilihan hanya dari agama yang dianut seorang calon pemimpin, tentunya seorang fasis seperti Trump akan menang mudah karena Muslim AS tidak akan ikut menentukan pilihan. Mengingat tidak ada capres Muslim di AS.

***

Jika kita membenci rasisme, janganlah menjadi seorang rasis. Jika kita membenci fasisme, janganlah menjadi fasis. Jika kita benci agama kita disebut teroris, berhentilah meneror agama minoritas lain.

Kita bisa belajar banyak dari pilpres AS saat ini. Menjadi mayoritas bisa sangat membahayakan; membuat diri kita merasa yang terbaik. Padahal belum tentu.

Lewat apa yang terjadi, harusnya kita sadar bahwa menekan minoritas hanya karena kalian mayoritas adalah tindakan brengsek. Sebrengsek Trump dengan rambut jagungnya itu.

Tol Cipularang Km 72 arah Bandung
Sabtu, 12 Maret 2016. 09:53 AM.m

NB: mengingat lingkaran Facebook saya tampaknya gak beres melulu, tampaknya harus mulai filter teman. Sedih, mengingat Facebook itu tempat hanya bagi teman yang saya kenal langsung. Apa mungkin saya yang memilih teman? 



No comments:

Post a Comment