Friday, December 4, 2015

Wamena - Mbuwa Trip part. 2

Macet. Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung di hari Jumat memang hampir pasti selalu macet. Banyak orang Bandung dan kota sekitarnya yang bekerja di Jakarta pulang kampung. Memilih berlibur di rumah akhir Minggu. Bukan hanya mereka, banyak juga orang Jakarta yang ingin menghabiskan waktu di tempat rekreasi di Bandung.

Sumpek. Jengah. Itu yang paling sering saya rasakan di kota besar seperti Jakarta dan Bandung ini. Melihat kepadatan kota ini, saya jadi ingat bagaimana tenangnya kehidupan di Wamena dan Mbuwa saat saya pergi ke sana beberapa waktu lalu.

Di Wamena, kota tertata rapi. Jalan lurus membentuk blok-blok. Seperti kota-kota maju di luar negeri sana. Walau memang, tiap blok berisi bangunan yang tidak terlalu asri maupun indah dipandang mata. Namun, bagaimanapun, Wamena itu sudah berbentuk Kota. Kota yang bagaimanapun juga, terlihat ramai. Walau memang tidak seramai kota-kota di Pulau Jawa.

Keramaian, kesumpekan, dan hiruk pikuk kota tidak saya dapatkan ketika saya tiba di Distrik Mbuwa. Sebuah desa indah yang terletak disebuah lembah di Pegunungan Jayawijaya.

Berada di sana bagaikan sedang berada di dalam bola kaca. Dikelilingi gunung, langit di Mbuwa sering ditutupi kabut menyerupai awan. Kabut itu tidak ikut turun ke desa pada siang hari. Ia hanya terbang, menutupi puncak-puncak gunung yang mengelilingi Mbuwa.

Tidak ada jalan beraspal di sana. Semua jalannya berbentuk tanah yang di atasnya ditutupi batu. Jika hujan, jalanan ini menbentuk lumpur licin. Kerap kali, mobil 4x4 yang dikendarai akan selip di jalan ini. Sehingga perlu di dorong.

Jalan itu merupakan jalan satu-satunya di Mbuwa. Jika dilanjutkan, jalan tersebut akan terputus di distrik seberang. "Sedang coba dibuka jalur hingga akhirnya sampai ke Nduga," ujar salah seorang warga di sana.

Perlu diketahui, Nduga merupakan sebuah kabupaten yang daerahnya melingkupi beberapa distrik. Salah satunya adalah Mbuwa.

Bayangkan bagaimana tertinggalnya daerah ini: sebuah distrik yang tidak memiliki jalan yang terhubung ke pusat pemerintahan kabupatennya sendiri. Di ujung jalan, kita perlu berjalan kaki selama berjam-jam untuk tiba di Nduga.

Ironi tidak hanya sampai di sana. Perekonomian warga Mbuwa sangat bergantung pada Wanena. Ya kota berjarak 5 jam perjalanan mendaki dan turuni gunung. Bukan Nduga. Tapi Wamena. Sebuah Kabupaten lain.

Warga di sana terbiasa pergi ke Wamena dengan ikut nebeng di mobil 4x4. Perorang harus membayar Rp300.000 hingga Rp600.000 sekali jalan. Jika tidak punya uang, beberapa warga memilih berjalan kaki menuju Wamena. Mereka akan bermalam di tenda-tenda terpal yang tidak berpenghuni di sepanjang jalan; tenda yang memang diperuntukkan mereka, siapa saja, yang berjalan kaki ke Wamena.

Sampai sini saya ingat bahwa saya belum bercerita bahwa udara di sepanjang perjalanan sangatlah dingin. Di Wamena hingga Danau Habema, udara bisa mencapai 15℃. Dingin. Semakin ke atas, semakin dingin lagi. Ketika kami tiba di Puncak trikora pada pagi hari, suhu di sana 8℃ dengan matahari bersinar cukup terang. Bayangkan mereka yang harus menginap di tenda terpal, malam hari, dengan suhu yang tentunya akan lebih dingin lagi dari 8℃.

Dari sana, kita juga bisa membayangkam, bagaimana pola hidup dan kesehatan masyarakat kebanyakan. Dengan suhu yang ekstrem seperti itu, tentunya masyarakat akan sangat mudah sakit. Terutama anak-anak. Dan menurut dokter yang bertugas di Mbuwa, faktor keadaan cuaca inilah salah satu indikasi penyebab kematian puluhan anak di Mbuwa.

Mbuwa mengalami kemarau panjang sepanjang 2015. Mereka yang kebanyakan menanam sendiri bahan makanan seperti sayuran dan umbi-umbian harus gagal panen. Banyak dari mereka yang kelaparan. Mereka juga terbiasa minum dari air hujan. Air hujan di Mbuwa, menurut dokter, tidak berefek negatif pada masyarakat. Namun sejak kemarau berkepanjangan, masyarakat mulai mengkonsumsi air sungai yang menang melintasi Mbuwa.

Kemarau memang menjadi persoalan utamanya. Kemarau membuat sumber makanan masyarakat berkurang. Suhu di Wamena meningkat drastis. Panas terik di siang hari, sangat dingin di malam hari. Warga mulai mengkonsumsi air sungai, padahal air belum tentu bersih karena di hulu juga ada warga yang membangun Honai--rumah adat Papua.

Hasilnya, banyak hewan ternak yang mati kelaparan, kehausan. Puluhan anak yang memiliki kekebalan tubuh tidak sebaik orang dewasa juga mengalami hal serupa. Pengaruh cuaca ekstrem menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) bagi anak-anak di sana. Batuk, beringus, panas tinggi, kejang, mengigil, dan pusing disebut sebagai simtom yang dialami banyak anak di periode itu; gejala-gejala yang kerap dialami penderita ISPA. Ketika saya ke sana, banyak juga anak yang tampak mengalami gejala serupa.

ISPA, sebuah penyakit yang sebenarnya bisa ditangani dengan mudah. Iya, jika penyakit itu diidap oleh anak yang lahir di kota atau daerah yang memiliki infrastruktur mumpuni. Sayangnya, Mbuwa tidak memiliki kemewahan itu.

Jarak kota terdekat adalah 5 jam perjalanan. Bisa dibilang, desa ini sangat terpencil. Obat-obatan menjadi barang mahal yang hanya bisa didapatkan jika diberi oleh dokter.

Hanya ada satu puskesmas. Dokter di Mbuwa bukan dokter tetap. Mereka adalah dokter yang ditugaskan. Biasanya hanya 6 bulan. Setelah itu diganti lagi. Jumlah mereka hanya empat orang, itu juga sudah bagus. Biasanya kurang. Mereka harus mengurusi sekitar 4000-an warga di 3 distrik; termasuk Mbuwa. Jumlah yang sangat tidak ideal.

Obat-obatan yang ada juga sangat minim. Menurut dokter kurang. Selain karena biaya yang mahal untuk mengantar obat ke Mbuwa, juga karena memang peredaran obat di Papua kurang. Apalagi, kebanyakan warga kurang pengetahuan tentang obat dan vitamin.

Melihat kenyataan ini, pembangunan infrastruktur yang tidak merata menjadi penyebab utama kematian di Distrik Mbuwa. Jika saja akses menuju kota lain dan rumah sakit yang memiliki alat juga obat-obatan lengkap dapat dinikmati warga Mbuwa, tentu kasus 32 anak meninggal dunia tidak perlu terjadi.

Saya pun kini tidak heran jika beberapa rakyat Papua meneriakkan kemerdekaan. Kekayaan Papua yang berlimpah seakan digunakan untuk menghidupi seluruh dunia, kecuali Papua sendiri. Hingga untuk mendapatkan kesehatan yang layak pun mereka tidak dapat menikmatinya.

***

1 Desember 2015. Warga Mbuwa ramai-ramai berkumpul di bawah kantor Camat. Mereka membuat tiga lubang besar untuk acara bakar batu. Meriah. Semua senang.

Para orang tua senyum. Semangat ikut mengambil batu dan tumbuh-tumbuhan, dibantu para anak-anak yang tersenyun gembira disela batuknya yang belum sembuh.

Semua seakan melupakan sejenak tragedi yang baru terjadi. Mereka menyambut Natal dengan membuka gerbang dan berpesta dalam syukur.

Setiap tahun mereka merayakan hal acara menyambut gerbang Natal ini. Tiap tahun pula mereka membuat acara bakar batu. Di tengah kemeriahan, sedikit terbersit juga kesedihan di mata Erias dwijangge, Kepala Distrik Mbuwa.

"Tahun-tahun kemarin kita bisa buat 10-11 lubang, kini hanya tiga," ujarnya di tengah masyarakat yang sedang menyiapkan bakar batu. "Ini bukti nyata kalau distrik ini sedang kelaparan. Dulu, umbi-umbian, daging, sayur menggunung. Sekarang tidak," lanjutnya sambil menjelaskan bakar batu tahun ini tidak menggunakan umbi-umbian karena gagal panen; gantinya mereka menggunakan beras bantuan pemerintah. Bantuan yang baru datang setelah berita kematian puluhan anak di sana tersiar.

Walau begitu, semua bersuka cita. Mereka juga tidak lupa berdoa di depan gereja. Meminta Tuhan untuk memberikan kesehatan dan kesejahteraan. Juga bersyukur bahwa gerbang Natal tiba bersamaan dengan hujan yang sudah mulai turun lebih sering.

Tidak ada wabah. Hanya ada penyakit yang tidak bisa tertangani dengan cepat karena kurangnya infrastruktur dan penunjang kesehatan lain. Hanya ada anak-anak ingusan batuk-batuk meminta penyakitnya segera sembuh. Hanya ada sebuah desa yang seakan tidak diberi perhatian pemerintah, sehingga tidak dianganggap penting pembangunan infrastrukturnya.

***

Jalan tol Cipularang arah Jakarta-Bandung, 4 Desember 2015.
18.33 WIB

Wamena - Mbuwa Trip Part. 1

Bandara ini tidak mutakhir. Ruang tunggunya tampak seperti kandang kuda. Atapnya ditutupi seng. Walau begitu, udara di dalamnya tidak panas. Ya, Wamena memang berudara sejuk. 15-20℃ sehari-harinya. Udara yang walaupun di bandara sempit ini banyak orang, tidak akan membuat orang di dalamnya kepanasan.

Ada sedikit gundah yang hadir saat saya datang ke bandara ini untuk ke-2 kalinya. Artinya, saya harus pulang meninggalkan lembah Baliem yang indah ini.

Saya tiba ke Wamena dalam cemas. Bagaimana tidak. Saya datang ke sini dalam rangka meliput suatu wabah di daerah Mbuwa, Kabupaten Nduga--sebuah tempat yang hanya lewat Wamena-lah Ia bisa dijangkau. Berita yang tersiar, ada puluhan anak berusia 7 tahun ke bawah yang meninggal secara misterius dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, dikabarkan banyak hewan yang juga mati mendadak.

Hewan mati mendadak itu pertanda adanya wabah. Di Afrika sana, itu salah satu tanda Ebola. Di Asia, dulu flu burung memiliki simtom yang sama. Juga Antrax, flu babi, dan wabah lainnya yang menggegerkan dunia.

Itulah berita yang kami dapat di Jakarta. Jauh dari lokus peristiwa. Informasi yang kami dapat dari media online--media yang memang lebih mengutamakan kecepatan terbit, dibanding ketepatan isi berita.

Tiba di Wamena, kami berusaha mengkonfirmasi ke pejabat-pejabat berwenang. Kapolres dan Dandim Jayawijaya yang baru tiba di Wamena dari Mbuwa kami mintai keterangannya. Mereka menyebut, jumlah korban yang beredar, 50an orang anak merupakan data yang salah. Tidak sebanyak itu.

Penasaran, kami pun memutuskan datang langsung ke lokasi kejadian. Kami bertanya ke Pak Niko, seorang preman pensiun yang beralih profesi menjadi driver dan guide para turis. Lelaki asli Wamena yang senang bercanda ini bilang, perjalanan ke Mbuwa bisa di tempuh lewat jalur darat dan udara.

Jika lewat jalur udara, kita harus menyewa pesawat kecil yang bisa menampung 5-6 awak. Sekali jalan Rp. 25 juta. "Pulang pergi, ko kalikan saja sendiri," terangnya. Selain itu, terbang di Wamena dengan pesawat kecil banyak resikonya. Jayawijaya selalu ditutupi kabut, hal yang sulit diprediksi dan bisa mengancam keselamatan, apalagi harus berkelok-kelok melewati celah gunung gemunung di pegungungan Jayawijaya.

Akhirnya kami memilih jalur darat. Jalur ini hanya biaa dilewati oleh mobil khusus 4x4, mobil yang sering dipakai para pecinta off-road. Harga pulang pergi Wamena-Mbuwa itu seharga tiket pesawat Jakarta-Jayapura untuk 3 orang. Ya mahal. Sangat mahal. Saya sendiri hampir tidak percaya kenapa hingga sampai semahal itu.

Akhirnya kami berangkat ke Mbuwa dua kali dari Wamena. Hari ke-3 di Wamena, dang hari ke-6. Di hari ke-3, kami berangkat agak siang. 09.30 WIT. Perjalanan sangat melelahkan. Lima jam kita bergelut dengan buruknya jalan. Jalan batu, jalan lumpur, kubangan, tanjakan curam, turunan tajam, membuat siapapun yang pergi ke sana tidak akan bisa tidur di perjalanan.

Untungnya, pemandangan di perjalanan kita ke Mbuwa sangatlah memanjakan mata. Danau Habema yang luas dan cantik tiba-tiba hadir selepas melewati bukit berbatu. Selepas Habema, kita akan melewati gunung karang purba. Bukit-bukit karang bertumpuk, menggunung, memberikan pemandangan indah nan eksotis. "Surreal," ujar Vano saat melihat bukit ini pertama kalinya.

Tidak berhenti di sana, perjalanan terus menanjak hingga ketinggian 3600 mdpl. Memang, perjalanan Wamena menuju Mbuwa memang harus melewati Puncak Trikora. Di atas sana, sejauh kita memandang, deretan gunung berbaris dengan indahnya. Langit biru dan kabut memberikan kesan misterius bagi gunung yang bersembunyi, hingga hanya menampakkan siluet biru di balik gunung hijau di depannya.

Keindahan ini seakan membayar bagaimana melelahkannya perjalanan menuju Mbuwa. Tapi, keindahan ini harus sedikit terlupakan saat kita menuruni puncak. Di jalur ini, kesan suram yang didapatkan. Pohon berdempetan tinggi di kedua sisi jalan. Jalanan berkerikil, licin. Kabut menyelimuti, menutupi jalan di depan. Belum lagi, jalan ini curam. Kemiringan turunan bisa mencapai kemiringan 80°. Sangat berbahaya.

Tapi lagi-lagi, Papua menberikan kita hadiah. Melewati gunung curam berkerikil yang tidadak bersahabat itu, hadir sebuah lembah indah. Sebuah lembah yang dikelilingi gunung. Dialiri sungai, diselimuti kabut. Lembah ini dihiasi rumah-rumah kecil. Jaraknya berjauhan. Sangat indah dan asri.

Mbuwa, nama lembah itu. Tempat yang digambarkan media di Jakarta sedang dikutuk wabah. Sebuah distrik indah yang sedang dirundung duka.

***

Bandara Wamena, 3 November 2015. 
13.18 WIT