Friday, October 2, 2015

Ahok, Anjing!

Lagi-lagi, komentar Ahok membuat kontroversi di tengah masyarakat. Kali ini, gara-gara anjing. Iya, anjing. Binatang anjing. Bukan karena Ahok ngomong anjing. Tapi karena anjing yang dimakan manusia.

Alasannya sederhana, Ahok, yang nama aslinya adalah Basuki Tjahaja purnama, berencana membuat pergub untuk mengatur peredaran daging anjing di Jakarta. Entah karena memang Ahok ini musuhnya di dunia maya banyak atau bagaimana, yang menentang ide ini sangat banyak. Mulai dari para ikhwan-akhwat Facebook dan sosial media lainnya. MUI, hingga tentu saja Fahira Idris. Yang pertama disebut, bahkan mengeluarkan jurus andalannya: nyebut Ahok kafir!

Jangan heran banyak yang tidak menyetujui idenya karena memang rencana tersebut diartikan secara ramai oleh khalayak sebagai langkah "melegalkan" daging anjing. Well, jika memang Ahok berencana membuat Pergub, maka memang benar langkahnya adalah langkah melegalkan.
legal/le·gal/ /l├ęgal/ a sesuai dng peraturan perundang-undangan atau hukum*
melegalkan/me·le·gal·kan/ v membuat menjadi legal*
Sayangnya, tidak semua orang mau melihat fakta yang ada, atau memang tidak mau membaca kamus, atau memang tidak mau baca apapun sama sekali, atau memang benci sama Ahok, akhirnya kata "melegalkan" yang beredar diartikan sebagai
 melegalkan/me·le·gal·kan/ v membuat menjadi normal, boleh, halal, lazim**
Inilah yang membuat banyak orang ramai-ramai menolak ide ini.

Seingat saya, kejadian ini bukan yang pertama. Beberapa waktu yang lalu, ide Ahok untuk melegalkan minuman keras juga ditentang banyak masyarakat. Penyebabnya sama, karena artian kata "melegalkan" dianggap menjadi:
melegalkan/me·le·gal·kan/ v membuat menjadi normal, boleh, halal, lazim**
Hasilnya, ya orang-orang protes semua.

Padahal, jika diartikan menurut arti sebenarnya yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), melegalkan itu tidak melulu soal membolehkan, menghalalkan, menormalkan, atau melazimkan sesuatu. Tapi juga soal melarang, mengharamkan, mengkhususkan, dan membatasi sesuatu.

Dengan demikian artian melegalkan daging anjing atau minuman keras itu tidak terlalu menyeramkan. Malah menenangkan.

Peredaran daging anjing di Jakarta, atau bahkan di Indonesia ini masih memprihatinkan. Tidak ada standar resmi tentang kesehatan dan kebersihan, Undang-Undang yang mengatur tidak dipatuhi oleh rumah-rumah pengelola daging anjing, dan bahkan para penikmatnya pun tidak memperhatikan bagaimana makanan mereka diolah sejak dipotongnya.

Akan lebih baik jika ada standar seperti, misalnya, kebersihan di tempat pemotongan daging anjing harus begini, anjing yang dipotong kesehatannya harus begitu, cara memotongnya kayak gini kayak gitu, boleh dijual di sini dan di situ, juga yang boleh dipotong anjing yang seperti ini yang seperti itu.

Sama halnya dengan minuman keras. Ide melegalkan peredaran minuman keras di Jakarta diawali oleh concern Ahok banyaknya minuman keras oplosan. Sudah banyak korban jatuh karena hal itu. Makanya, akan lebih baik jika dibuat regulasi baru yang lebih baik: kandungannya ini dan itu, pengemasannya seperti ini, Pengirimannya seperti itu, boleh dijual di sini dan di situ, boleh dikonsumsi situ apa enggak.

Tapi ya itu, polisi moral pada kebakaran jenggot duluan. Karena apa lagi kalau bukan salah mengartikan kata "melegalkan".

Saya pribadi enggak peduli soal di agama ini di agama anu makan daging anjing itu haram. Yang saya tahu, ada orang yang mengkonsumsi, dan menjadikan ini sebagai budaya. Kewajiban pemerintah adalah melindungi mereka. Yang saya tahu juga, ada kepercayaan yang enggak makan daging sapi karena suci, but it's still normal when major Indonesian people still have an annual fest on sacrificing cow. Religions, yea?

Just so you know, saya enggak makan daging anjing. Tapi saya enggak mau sok-sokan bermoral, dan egois.

***

NB: Judul ini sebenarnya bukan memanggil Ahok "anjing". Maksudnya, memberi judul 'Ahok dan Anjing" karena memang ini yang dibahas dalam tulisan ini. Sengaja saya menambah koma (,) di antara 'Ahok' dan 'Anjing' juga menambah tanda seru di akhir, supaya kalian klik. Efektif? I'm not sure. You tell me. *sungkem sama Pak Ahok*

*) Arti sebenarnya dalam kamus
**) Bukan arti sebenarnya dalam kamus
***) Lagi-lagi penulis akan disebut kafir dan liberal dalam hitungan 3... 2... ....