Monday, June 29, 2015

Soal Kampungannya Presiden

Dari Oktober 2014 sampai hari ini (dan mungkin sampai 2019 nanti), Joko Widodo adalah Presiden Republik Indonesia. Dia menang tipis di pilpres 2014 melawan rivalnya, Prabowo Subianto.

Dari sejak era kampanye hingga hari ini, ada argumen lucu dari para pendukung Prabowo (dan yang tidak mendukung kedua capres), kenapa Jokowi enggak pantas jadi Presiden. Yaitu, fisiknya kurus, mukanya kampungan, tidak berwibawa.

Kenapa lucu? Karena menurut saya, argumen itu tidak relevan sama sekali untuk mencari seorang pemimpin.

***

Menurut Forbes, ada sepuluh hal yang menjadikan seorang pemimpin  sebagai penimpin yang baik. Kejujuran, kemampuan untuk memberikan kepercayaan, komunikasi, sense of humor, percaya diri, komitmen, sikap yang positif, kreatifitas, intuisi, dan kemampuan untuk menginspirasi.

Dari sepuluh hal tersebut, tidak ada tuh faktor yang mengharuskan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berkharisma, yang berwibawa, dan tidak kerempeng.

***

Namun, jika saya boleh menambahkan, di atas kesepuluh item tadi, ada item lain. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat terpilih untuk memimpin. Apalagi di era demokrasi seperti sekarang. Dan item lain untuk menjadi pemimpin terpilih adalah: popularitas.

Nah, popularitas ini didukung oleh banyak faktor. Menurut saya, faktor-faktor di atas harusnya menjadi alasan seorang pemimpin menjadi populer. Karena populer atas dasar jujur, menginspirasi, kreatif, punya visi jelas, dan menginspirasi harusnya lebih baik dan masuk akal ketimbang populer karena ganteng/cantik, berwibawa, dan berkharisma.

***

Anda tahu Gandhi? Silakan cari namanya di Google. Gambarnya akan banyak bermunculan. Apakah dia ganteng? Berkharisma? Badannya berisi dan tidak kerempeng? Jawabannya bisa macam-macam. Tergantung siapa yang melihat. Yang jelas, yang pasti, Gandhi merupakan salah satu contoh pemimpin terbaik yang pernah berjalan di dunia ini.

Pertanyaan serupa bisa ditujukan kepada para nabi atau para santo di kisah-kisah kitab suci. Walaupun ada nabi dan santo yang digambarkan tampan, apakah mereka menjadi pemimpin umat yang baik karena dan hanya karena wajahnya tampan, cantik, dan kurus, gemuknya? Tidak. Tapi bagaimana ia membawa umatnya ke arah yang lebih baik. Ini nabi dan santo, mereka masuk kitab suci, bukan sinetron, film, atau majalah.

Kalau percaya Tuhan itu mahaadil, maka kita semua harusnya percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia tanpa kekurangan. Kalau kalian mempermasalahkan fisik seorang pemimpin, kalian mempermasalahkan keadilan Tuhan kalian sendiri.

***

Menurut saya, seharusnya tidak perlu ada ungkapan seperti, "malu ya Presidennya mukanya kampungan banget, kerempeng pula. Enggak berwibawa banget," atau "Kang Emil ganteng pisan, beda ya sama Presiden di sebelahnya. Lebih berwibawa kang Emil. Harusnya kang Emil Presidennya," karena ya tidak relevan seorang pemimpin dilihat dari fisiknya saja.

Saya akan lebih senang mendengar, "malu ya presiden gak bisa jaga stabilitas nilai rupiah. Sampai anjlok terus, dan harga-harga jadi mahal," atau "hukum di negara masih berantakan kok berani banget presiden menghukum mati orang. Gak malu apa kalau keputusannya bisa saja salah," karena memang seharusnya itu yang dikritisi dari Presiden sekarang.

***

Yah, pesan saya, dikurang-kurangi kritik gak relevannya. Dan diterima aja bahwa laki-laki dari Solo yang kata kalian kampungan itu ya Presiden kita.

Ada lho orang yang masih maki-maki Presiden secara fisik. Sudah gitu gak mau mengakui kalau Jokowi itu Presidennya dia karena hal itu. Hihi..

Kalau minjem temen, ada istilah yang cocok buat dia, "The Nile is not just a river in Africa,"

NB: yang punya blog juga gak bisa dinilai dari fisiknya. Misalnya kayak saya, fisiknya ganteng, tulisannya ancur kayak di atas. #dikeplak

Friday, June 26, 2015

Sejalan Bandung: Chapter One

CHAPTER ONE
Gatot Soebroto

I bet it will. Bandung tanggal muda, hari Jum’at di mana Senin minggu depan libur. Terkadang saya mikir kalau Bandung itu mati tiap ada long weekend,” jawab Nindi sambil menyender dengan lebih rileks di kursi depan.

Sebelumnya, Nindi agak khawatir untuk ikut nebeng lewat Twitter. Biar bagaimanapun juga, sejak kecil, ia diajarkan untuk selalu waspada dengan orang asing. Kalau bukan karena ia bosan harus naik angkutan umum di perjalanan pulangnya yang panjang, ia tidak akan mau mencoba ikut nebeng ke orang hanya karena jalan pulangnya searah.

Ia tahu ada akun Twitter yang memberikan info nebenh setelah direkomendasikan temannya yang sudah beberapa kali ikut menumpang pulang ke orang yang jalan pulangnya searah dengannya. Baru tadi pagi ia coba mengecek dan mulai mem-follow akun Twitter itu, dan saat itu pula ia membaca sebuah twit dari Adi yang ternyata menawarkan tebengan.

Yang mencuri perhatiannya bukan hanya karena Adi menawarkan tebengan searah, namun juga karena avatar Twitter yang digunakan Adi; Nindi mengenalinya. Adi adalah kakak kelasnya ketika SMA. Kakak kelas keren, pintar, dan populer. Sebagai seorang adik kelas yang baru masuk, melihat kakak kelas 3 yang begitu berkharisma seperti Adi tentunya membuatnya kagum. Diam-diam, Nindi selalu memperhatikan tingkah kakak kelasnya itu, walau tidak pernah berinteraksi sama sekali, hingga akhirnya Adi lulus dan ia tidak pernah melihatnya lagi.

“Kamu sendiri enggak liburan kemana-mana long weekend gini?” tanya Adi.

“Enggak lah. Lagian Bandung long weekend pasti macet di mana-mana. Kemana-mana pasti jalanan penuh sama mobil luar kota semua. Keburu tua di jalan,” Nindi tertawa kecil di akhir jawabannya. Adi tersenyum.

“Ya, maksudnya gak liburan di Bandung gitu. Ke Jakarta kek gitu misalnya. Kan kalau long weekend Jakarta sepi,”

“Iya sih. Tapi untuk kali ini kayaknya momennya lebih enak buat santai di rumah. Istirahat,” kali ini Nindi menjawabnya sambil mengerling ke arah Adi. Masih keren seperti dulu, waktu dia jadi kakak kelasnya. Tapi Adi tampaknya memang benar-benar tidak mengenal Nindi sama sekali. Adi mengangguk-angguk.

“Lagian heran gak sih? Bandung itu setiap long weekend pasti macet, orang-orang udah tau itu. Tapi kenapa ya mereka masih tetep aja ngotot liburan ke sini?”

Well, memang Bandung asik buat liburan sih. Mau makan enak, ada di sini. Mau udara sejuk, ada di sini. Mau baju murah, ada di sini. Mau ke tempat-tempat seni bagus, ada juga di sini. Jadi gak aneh sih banyak yang tetep ngotot liburan ke sini,”

“Itu bener sih, tapi kan ada tempat lain kayak Jogja, Malang, Semarang, gitu yang kurang lebih sama lah kalau mau cari makanan atau tempat bersejarah atau baju doang,”

“Ada faktor lainnya yang enggak ada di tempat lain itu, Bandung jaraknya deket dari Jakarta. Jadi banyak yang lebih milih ke sini. Perginya cepat sampe, pulangnya cepat pulang.”
Mobil yang mereka kendarai telah sampai di perempatan jalan Laswi – Gatot Soebroto. Lampu merah menyala. Para pengamen mendatangi mereka mobil-mobil yang berhenti. Adi memberikan sejumlah receh ke salah satu pengamen.

“Kamu sendiri, kenapa gak liburan? Biasanya kan cowok kalau Jum’at malam keluyuran,” tanya Nindi iseng. Adi tersenyum sebelum menjawab.

“Biasanya sih emang begitu. Tapi anak-anak pada punya rencana sendiri-sendiri. Jadi ya kayak kamu. Milih pulang, terus istirahat.”

“Apa enggak ngerasa aneh biasanya Jum’at malam jalan-jalan keluyuran bareng teman-teman, tapi sekarang enggak?”

“Well, aneh sih. Tapi keluyuran atau nongkrong sendiri kan juga bakalan aneh. Atau kamu mau saya ajak keluyuran Bandung malem ini?” goda Adi sambil melihat dalam-dalam ke mata Nindi.

“Wow, are you asking me out?” jawab Nindi sambil tetawa. Sedikit membuatnya tidak nyaman karena digoda secara langsung seperti itu. Tapi, dalam hati kecilnya, ia senang. Dulu, kala SMA, hal seperti ini cuma ada dalam mimpi.

“Ha ha ha.. Bercanda. Baru juga kenal. Masa udah mau ngajak jalan lagi. Yang ada nanti kamu malah kabur, ketakutan.”

“Kamu bukan psikopat yang suka ngikutin terus nyulik cewek gitu kan?” tanya Nindi sambil senyum dan membuat gerakan menjauhi Adi. Memepet ke pintu mobil. Menanggapi candaan Adi.

“Bukan dong. Cuma kan gak setiap hari ngajak nebeng orang random di Twitter tapi ternyata yang nyahut cewek cantik,” jawabnya, kembali menggoda. Nindi salah tingkah, semburat merah muncul di wajahnya.

Lampu berubah menjadi hijau. Kendaraan mulai maju melanjutan perjalanan, walau hanya sekitar 10-20 km/jam. Nindi masih salah tingkah.
Jangan salah kira, ia senang dipuji seperti itu. Sekali lagi ia mengingat masa SMA. Ketika itu, kalimat yang diucapkan Adi tidaklah mungkin terucap kecuali di mimpi. Kali ini ia senang bukan kepalang. Walau sebenarnya, masih menyisakan sedikit keragu-raguan. Bagaimanapun juga, Adi terlalu agresif, dan Nindi tidak tahu kehidupan Adi setelah lulus dari SMA.

What about a little music?” tanya Adi sambil menyalakan CD player di mobilnya. Mencoba mencairkan kekakuan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. “Because you know, ‘without music, life would be a mistake,’ right?” ujar Adi mengutip Nietzsche.

Yup, and ‘I would only believe in a God who knew how to dance,’” ucap Nindi melanjutkan kutipan itu.

“Wow, I’m amaze. Mungkin saya yang kurang bergaul, tapi gak banyak cewek yang bisa ngutip Nietzsche kayak kamu,” ada rasa terkesan yang teramat di sana. Nindi berhasil mencuri perhatiannya.

“Ha ha ha.. Saya enggak begitu paham juga kok sama Nietzsche. Kebetulan aja kemarin saya baca kutipan itu di blog orang,” Nindi membalas tatapan Adi yang masih terkesan. “Banyak orang memang sebegitu cintanya sama musik. Sampai-sampai gak bisa lepas satu kali pun,”

“Terang lah. Pernah membayangkan gak hidup tanpa musik? It would be boring as hell, not that I was there. Tapi, tentu saja bakalan membosankan banget. Apalagi di tengah macet begini. Iya, kan?”

“Saya mikirnya malah sedikit beda. Bayangin deh, kalau enggak ada musik, hidup tentunya bakal penuh akan obrolan orang-orang yang kebosanan. Saling tukar pikiran, saling memberi ide, saling mengungkapkan perasaan,” ujar Nindi sambil menerawang melihat langit yang mulai tampak kekuningan. “Akan ada banyak orang yang terbuka pikirannya, idenya, bahkan emosinya; karena mereka akan mendengar hal yang berbeda dari setiap orangnya, bukan ide yang diulang-ulang seperti musik.
Hidup bakal lebih menyenangkan, bukan? Tidak hanya mendengar musik yang bisa diputar setiap kali, padahal isi dari musik itu sendiri sama. Diulang-ulang.”

“Wow, saya enggak pernah mikir sampai ke sana,” Adi masih menyisakan rasa kagumnya.

“Ya, saya malah gak bisa mikir sependek kamu,” kali ini sambil kembali mengerling Adi lagi. Adi yang kaget mendengarnya juga langsung mendengarnya. “I’m kidding,” tawa Nindi. Adi pun ikut tertawa.

“Kamu bener-bener sudah menghancurkan gambaran musik di hidup saya,” Adi menginjak rem, memberi jalan mobil yang ingin belok ke jalan Burangrang . “Sekarang, setiap saya dengar lagu, saya pasti Cuma mikir kalau itu adalah ide yang diulang-ulang,”

Scary, huh?”

“Yap. Sekarang saya baru sadar kenapa musik bisa jadi salah satu alat propaganda paling ampuh. Idenya diulang-ulang...,”

“Sampai kamu sendiri akan menganggap ide itu adalah suatu hal yang benar,”

“Yeah, sedikit menakutkan memang,”

But it’s fine. Musik dan lagu memang kan ampuh untuk propaganda, tapi memang mendengarkan musik, asal tidak termakan propagandanya itu, memang menyenangkan. Musik memang hal paling indah yang pernah ada di dunia.”

How so?”

Think about it, musik itu lahir dari perbedaan nada, tapi bisa menjadi harmoni dan simfoni yang bisa menghibur banyak orang. Enak didengar, dan menyenangkan. It’s life is all about. Hidup dalam perbedaan memang harus harmonis sehingga bisa menjadi simfoni yang menyenangkan bagi banyak orang,” jelas Nindi panjang lebar sambil mencoba memutar volume CD Player di mobil Adi. Ia tampaknya sudah merasa kerasan dan tidak canggung lagi.

“Wow. Kamu benar-benar mikir jauh soal musik ini,” Adi geleng-geleng sambil terus mengemudi. “Apa kamu memang selalu memikirkan banyak hal secara jauh seperti ini?”

Nindi menjawabnya dengan senyuman. Adi memperlambat laju kendaraannya. Beberapa mobil dan motor pun sama. Jalan di depannya sudah dipenuhi oleh beberapa kendaraan yang mengantri di lampu merah Simpang Lima Bandung.

Adi memperhatikan Nindi. Nindi balas memperhatikannya. Keduanya tersenyum. “Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”
Mobil mereka akhirnya berhenti di simpang lima. Lagi-lagi, menunggu si lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.(A)

Bersambung...

Sejalan Bandung: Prolog

PROLOG

Tidak banyak yang menyadari, bahwa sesungguhnya mencari kebahagiaan itu bisa dimulai dengan melihat ke belakang, ke masa sebelumnya, melihat teman-teman lama yang sudah lama tidak saling berhubungan kembali dengan kita; menjemput masa lalu untuk menciptakan masa depan. Hal ini kerap dilupakan karena kebanyakan orang disibukkan dengan hidupnya saat ini dan lebih memikirkan masa depan.

Adi seketika melihat seorang perempuan sedang berdiri di pinggir jalan, di depan sebuah SD Negeri, di seberang salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bandung. Cantik. Blazer dan rok span hitam, tas jinjing putih. Itu dia.
Segera Adi menepikan mobilnya. Agak sulit untuk menepikan mobilnya mengingat banyak motor yang enggan mengalah untuk memberikan jalan dan menyalip lewat sisi kiri. Ia membuka jendela samping mobilnya dan memanggil perempuan itu.

“Nindi? Saya Adi. Ayo.” ajak Adi sambil setengah berteriak dari dalam mobilnya. Nindi yang awalnya terlihat bingung, langsung mengangguk dan berlari kecil ke mobil yang Adi tumpangi. Tampaknya ia sadar bahwa Adi adalah lelaki yang sebelumnya menghubungi dan janji akan memberikan tumpangan pulang.

“Sudah lama nunggunya?” tanya Adi membuka obrolan sambil terus melihat Nindi ketika perempuan berambut pendek itu duduk dan menutup pintu di sampingnya. Ia terlihat agak canggung.

“Enggak begitu lama kok. Barusan abis beres kerja, langsung ke sini. Baru aja nyeberang, kamu sudah manggil dari dalem mobil. Pas banget,” jawab Nindi. Adi mengangguk-angguk. Keduanya kemudian terdiam. Awkward silence.

Adi memperhatikan Nindi. Nindi melihat lurus ke arah jalan. Tidak lama, Nindi seakan menyadari bahwa ia tengah diperhatikan, Nindi melihat ke arah Adi. Seketika itu pula Adi mengalihkan padangannya ke depan. Mereka saling mencuri pandang.

Adi dan Nindi sebelumnya saling berhubungan lewat Twitter; tepatnya lewat akun salah satu gerakan saling memberikan tumpangan agar mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Saling nebeng. Adi terkadang jenuh ketika harus pulang kerja membelah jalanan kota Bandung sendirian. Makanya ia mengajak orang untuk ikut pulang dengannya. Apes baginya, teman sekantornya tidak ada yang pulang searah, jadi ia menawarkan tumpangan ke akun nebeng tersebut. Gayung bersambut, Nindi, karyawati di hotel yang terhubung dengan mall besar di depan SD Negeri tadi itu, ternyata merespon twit Adi.

Perjalanan Adi ke rumahnya di daerah Dago akan panjang seperti biasa. Namun, kali ini, mungkin, tidak akan terasa membosankan seperti biasanya. Karena sekarang ia memiliki teman ngobrol. Cantik pula. Siapa tahu bisa menambah teman, atau bahkan malah jodoh; walau sebenarnya ia tidak berharap banyak dan hanya minta ditemani dalam perjalanan pulang.

Adi merasa sangat beruntung. “She came to me wholly herself. I was just lucky enough to be there to catch her.” Ucapnya dalam hati mengutip kalimat yang diucapkan Calvin dalam Ruby Sparks, salah satu film favoritnya.

It’s gonna be a long ride. So buckle up..” ujar Adi. Jalan di depannya tersendat kemacetan sore hari ketika banyak anak manusia ingin pulang setelah lelah seharian bekerja.(A)

Bersambung...

Friday, June 12, 2015

Umat Preman

Menjelang Ramadhan, yang saya lihat di sosial media, umat beragama malah saling serang satu sama lain. Eerrrm.. koreksi, umat suatu agama saling serang satu sama lain.

Perkaranya? Komentar Wakil Presiden soal mengaji pakai kaset dan speaker. Juga komentar Menteri Agama soal warung makan boleh buka saat puasa.

***

Senin (8/6), Wapres Jusuf Kalla, yang ketika kalah Pilpres 2009 berencana pulang kampung dan jadi marbot ini, menyarankan masjid-masjid untuk menghentikan rekaman pengajian di masjid melalui speaker. Alasannya, suara mengaji suatu masjid dan masjid yang lain saling bersahutan tidak karuan sehingga menimbulkan polusi suara.

Tujuannya menurut saya baik. Kenapa? Karena jujur saja, saya tidak bisa menikmati keindahan lantunan ayat suci Al-Quran yang saling bersahutan dan speakernya tidak disetel standar broadcast. Dan tampaknya Pak Wapres juga merasakan hal yang serupa.

Saya juga yakin, tujuan dari memasang rekaman pengajian keras-keras melalui speaker juga baik. Toh orang yang mendengarnya juga mendapat pahala, paling tidak itu klaim orang yang tidak setuju pendapat JK. Jadi ya sama-sama baik.

Saya tidak mau bicara lewat sudut pandang agama. Karena toh saya juga bukan umat beragama yang baik. Maka saya hanya akan melihat dari sudut pandang berkemasyarakatan, atau berkehidupan sosial saja.

Suara kencang pengajian dari speaker masjid itu jelas menggangu. Ya. Menggangu orang beraktifitas (mengajar, belajar, rapat, berdagang, dll), menggangu orang yang sakit dan butuh istirahat, menggangu si adik bayi yang baru lahir dan perlu tidur panjang, menggangu individu dengan autistik yang sensitif terhadap suara lantang, dan tentu saja menggangu pemeluk agama selain Islam (juga agnostik dan atheis) yang tidak perlu-perlu amat mendengarkan pengajian.

***

Jum'at (5/6) lalu, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin membuat tweet yang intinya warung-warung tidak perlu dipaksa tutup ketika Ramadhan.

Tujuannya baik, karena yang berpuasa juga harus menghormati yang tidak puasa. Banyak juga yang tidak puasa dan mencari tempat makan. Maka dari itu, tempat makan ya jangan dipaksa tutup.

Hal ini diprotes oleh banyak orang. Mereka menyebut bahwa harusnya, yang tidak berpuasalah yang menghormati orang berpuasa sehingga harus menutup warung.

Kedua tujuannya baik. Sama-sama soal hormat. Hanya saja, yang pertama itu menghormati. Yang satu lagi minta dihormati.

***

Dari dua komentar pejabat itu muncul banyak argumen-argumen dari umat Islam sendiri. Sangat banyak yang menentang dua pernyataan tersebut lalu mengungkit-ungkit ini terjadi karena pemilu kemarin kita salah pilih Presiden (Bro, move on, bro..). Ada juga yang setuju akan pernyataan dua pejabat ini. Saya termasuk yang setuju.

***

Allah mahapenyayang. Allah mahapengasih. Jikapun benar mendengarkan ayat suci Al-Quran benar mendapat pahala, tentunya tidak melalui suara speaker cempreng yang bersahutan dari satu masjid ke masjid yang lain sehingga menggangu masyarakat sekitar.

Jika Islam adalah agama yang besar, tentu umatnya akan menghormati baik yang berpuasa maupun yang tidak. Mereka akan minta dihormati ibadahnya, tapi tidak dengan menutup rejeki orang lewat menutup paksa warung makan.

Ungkapan seperti, "Kalau mayoritas penduduk sini Islam, ya gak apa-apa dong pasang pengajian seharian di speaker masjid?!", atau "lebih banyak muslim yang berpuasa di Indonesia daripada yang tidak, jadi warung harus tutup untuk menghormati yang berpuasa," adalah ungkapan yang seharusnya tidak keluar dari mulut siapapun. Kecuali preman.

Sayangnya, alasan itu yang sering saya dengar di sosial media sekarang. Bahkan ada yang mempertanyakan, dua komentar pejabat di atas itu; toleransi untuk apa dan untuk siapa, hanya karena merasa dirinya adalah bagian dari kaum so-called mayoritas. Ya, mirip preman.

Apa iya Islam ini umatnya banyak yang berjiwa preman? Semoga saya salah.

NB: By the way, menjadi terhormat adalah dengan menghormati. Bukan ingin dihormati. Kecuali memang berjiwa preman atau diktator.

Betewe, kalai benar Pak JK jadi marbot, pasti masjidnya juara. Gak berisik. :)

Lagi-lagi, penulis akan dicap kafir pada 5... 4... 3... 2... 1...

Monday, June 1, 2015

Lia Eden dan Orang Beragama Lainnya

Kamu tahu Lia Eden?

Beberapa tahun lalu, dia bikin heboh karena dia mengaku bahwa dirinya mendapat wahyu dari Tuhan. Dia pernah dipenjara karena melakukan penistaan agama. Sebenarnya, mengklaim dapat wahyu dari Tuhan itu ya enggak apa-apa. Enggak dosa lah. Lha orang urusan dirinya sendiri. Hihi
Nah, Lia Eden ini beberapa hari ke belakang bikin heboh lagi. Dia ngirim surat ke Presiden Jokowi. Katanya, dia minta izin untuk mendaratkan UFO  (Unidentified Flying Object) di Monas.

"Untuk itu, kami mengharapkan perkenan Presiden Jokowi bersedia memberi izin pendaratan UFO kami. Adapun pendaratan UFO Jibril sudah pernah kami sinyalkan melalui penampakan UFO kami itu di atas Monas dan terekam oleh ponsel 2 pemuda di Monas," (selengkapnya: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/94767-lia-eden-izin-ufo-pada-jokowi )

Bukan hanya itu, kabarnya dia juga mengklaim surati Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Direktur NASA, Polri, KPK, DPR, Menteri Agama RI, MUI, dan juga Ahok, Gubernur DKI Jakarta soal UFO dan ramalannya tentang kiamat yang datang tak lama lagi; well, setidaknya, menurut kepercayaannya.

***

Banyak orang berkomentar miring soal Lia Eden terkait hal ini. Lia Eden disebut orang gila yang punya halusinasi. Kepercayaan (atau agamanya?) tentu jadi bahan olok-olok banyak orang. Menurut mereka, kelakuan Lia Eden ini lucu.

Nah, orang-orang ini, yang menurut saya malah lucu. :))

***

Dalam sejarahnya, perkembangan agama-agama besar di dunia ini dimulai oleh orang yang (bagi masyarakat pada zamannya) disebut gila. Muhammad atau panggilan lainnya, Isa atau panggilan lainnya, Musa atau panggilan lainnya, Ibrahim atau panggilan lainnya, semuanya disebut orang gila ketika menyebarkan kepercayaannya.

Mereka diejek. Kepercayaan mereka disebut menyesatkan dan menistakan agama/kepercayaan yang telah ada lebih dulu.

Sounds familiar? Yak.. mirip apa yang dialami Lia Eden dan kepercayaannya sekarang.

Lalu, apa sih hal yang ditertawakan orang-orang terhadap Lia Eden dan agamanya? Apa karena dia percaya dia utusan Tuhan? Semua nabi mengklaim hal yang sama. Apa karena dia percaya bahwa ia dapat berkomunikasi dengan Djibril? Semua nabi juga mengklaim hal yang sama. Apa karena dia pecaya punya mukjizat bisa meramal? Semua nabi juga mengklaim punya mukjizat sendiri-sendiri.
Sama, kan? Hihihi

***

Mungkin terlambat, tapi saya mau pasang disclaimer di tulisan ini. Saya bukan pendukung/pengikut Lia Eden. Saya diajarkan salah satu agama oleh orang tua saya yang sampai saat sekarang saya percayai. Tapi gak usah disebut, gak relevan.

Lewat tulisan ini sebenarnya cuma mempertanyakan apa sih yang ditertawakan oleh pemeluk agama yang menertawakan Lia Eden dan kepercayaannya? Karena saya melihat mereka mentertawakan agama mereka sendiri.

***

Andai saja Lia Eden hidup dan menyebarkan kepercayaannya 6000 tahun lebih awal, mungkin kalian akan jadi pengikutnya sekarang.


NB: penulis akan dicap kafir pada 5... 4... 3... 2... ...