Thursday, May 28, 2015

Bacaan di Media Sosial

Sudah lama saya tidak menulis. Salah saya sendiri. Padahal, sebenarnya ada saja hal yang bisa jadi bahan tulisan.

Well, setidaknya, saya tetap membaca walau tidak menulis. Dulu, Eyang saya berpesan, "percuma kamu baca kalau kamu tidak menulis. Hanya menikmati buah pikiran orang lain, padahal kamu sendiri pasti punya itu,"

Terang saja saya yang waktu itu masih SD bengong. Tidak ngerti. Ya namanya juga anak-anak. Mungkin karena melihat muka saya yang cuma bisa bengong, Eyang saya melanjutkan, "tapi ya baguslah, daripada enggak nulis dan mbaca sama sekali," katanya.

***

Ngomong-ngomong soal baca, kini saya bukan baca buku saja. Saya juga baca dan ikuti media sosial. Baca di media sosial itu gampang. Karena tiap media sosial punya tulisan yang beda-beda. Padahal, orangnya mungkin ya itu-itu juga.

Jika sedang ingin belajar sok tahu, saya baca Twitter. Di sana banyak yang sok tahu, termasuk saya. Ya ndak apa-apa lah. Yang nulis mungkin memang banyak tahu, yang baca mungkin senang di-sok-tahu-i.

Kalau sedang ingin membaca kebahagiaan orang, saya biasanya buka Instagram. Di sana banyak yang saling pamer kebahagiaan. Termasuk saya. Makan di tempat mewah itu, pergi ke tempat indah sana, beli barang meriah ini. Plus, bukan cuma tulisan, tapi juga ada gambarnya.

Path juga punya fungsi yang hampir serupa. Hanya saja kadang-kadang ditambah curhatan pemilik akun; terutama yang jomblo.

Nah, bagi kalian semua yang butuh diarahkan ke jalan yang lurus, silakan membuka Facebook. Di sana, banyak yang menulis ceramah, dan berdakwah. Mereka berbeda dengan ustad-ustad  tenar yang ada. Mereka tidak mengharapkan pamrih. Tidak minta buku "Yang Penting Nikah Walau Masih Miskin" dibeli. Like  yang banyak cukup bagi mereka; dan kadang pujian di kolom komen.

Baca saja cukup, yang penting ceramahnya jangan disanggah, nanti dicap kafir.

***

Ya begitulah keseharian saya sekarang. Baca-baca media sosial. Kadang bingungin, kadang seruin. Yah, tergantung suasana hati dan kondisi saldo ATM lah.

Semoga tulisan ini bisa membantu pembaca untuk dapat memilih media sosial sebagai bahan bacaan yang tepat. Salam.

NB: Dicap kafir ketika menyanggah ceramah di Facebook itu lumayan spesial. Karena biasanya yang menyanggah ceramah di Facebook langsung dicap fanboy Jokowi.
.
.
.
Bro, move on, bro..