Friday, December 4, 2015

Wamena - Mbuwa Trip part. 2

Macet. Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung di hari Jumat memang hampir pasti selalu macet. Banyak orang Bandung dan kota sekitarnya yang bekerja di Jakarta pulang kampung. Memilih berlibur di rumah akhir Minggu. Bukan hanya mereka, banyak juga orang Jakarta yang ingin menghabiskan waktu di tempat rekreasi di Bandung.

Sumpek. Jengah. Itu yang paling sering saya rasakan di kota besar seperti Jakarta dan Bandung ini. Melihat kepadatan kota ini, saya jadi ingat bagaimana tenangnya kehidupan di Wamena dan Mbuwa saat saya pergi ke sana beberapa waktu lalu.

Di Wamena, kota tertata rapi. Jalan lurus membentuk blok-blok. Seperti kota-kota maju di luar negeri sana. Walau memang, tiap blok berisi bangunan yang tidak terlalu asri maupun indah dipandang mata. Namun, bagaimanapun, Wamena itu sudah berbentuk Kota. Kota yang bagaimanapun juga, terlihat ramai. Walau memang tidak seramai kota-kota di Pulau Jawa.

Keramaian, kesumpekan, dan hiruk pikuk kota tidak saya dapatkan ketika saya tiba di Distrik Mbuwa. Sebuah desa indah yang terletak disebuah lembah di Pegunungan Jayawijaya.

Berada di sana bagaikan sedang berada di dalam bola kaca. Dikelilingi gunung, langit di Mbuwa sering ditutupi kabut menyerupai awan. Kabut itu tidak ikut turun ke desa pada siang hari. Ia hanya terbang, menutupi puncak-puncak gunung yang mengelilingi Mbuwa.

Tidak ada jalan beraspal di sana. Semua jalannya berbentuk tanah yang di atasnya ditutupi batu. Jika hujan, jalanan ini menbentuk lumpur licin. Kerap kali, mobil 4x4 yang dikendarai akan selip di jalan ini. Sehingga perlu di dorong.

Jalan itu merupakan jalan satu-satunya di Mbuwa. Jika dilanjutkan, jalan tersebut akan terputus di distrik seberang. "Sedang coba dibuka jalur hingga akhirnya sampai ke Nduga," ujar salah seorang warga di sana.

Perlu diketahui, Nduga merupakan sebuah kabupaten yang daerahnya melingkupi beberapa distrik. Salah satunya adalah Mbuwa.

Bayangkan bagaimana tertinggalnya daerah ini: sebuah distrik yang tidak memiliki jalan yang terhubung ke pusat pemerintahan kabupatennya sendiri. Di ujung jalan, kita perlu berjalan kaki selama berjam-jam untuk tiba di Nduga.

Ironi tidak hanya sampai di sana. Perekonomian warga Mbuwa sangat bergantung pada Wanena. Ya kota berjarak 5 jam perjalanan mendaki dan turuni gunung. Bukan Nduga. Tapi Wamena. Sebuah Kabupaten lain.

Warga di sana terbiasa pergi ke Wamena dengan ikut nebeng di mobil 4x4. Perorang harus membayar Rp300.000 hingga Rp600.000 sekali jalan. Jika tidak punya uang, beberapa warga memilih berjalan kaki menuju Wamena. Mereka akan bermalam di tenda-tenda terpal yang tidak berpenghuni di sepanjang jalan; tenda yang memang diperuntukkan mereka, siapa saja, yang berjalan kaki ke Wamena.

Sampai sini saya ingat bahwa saya belum bercerita bahwa udara di sepanjang perjalanan sangatlah dingin. Di Wamena hingga Danau Habema, udara bisa mencapai 15℃. Dingin. Semakin ke atas, semakin dingin lagi. Ketika kami tiba di Puncak trikora pada pagi hari, suhu di sana 8℃ dengan matahari bersinar cukup terang. Bayangkan mereka yang harus menginap di tenda terpal, malam hari, dengan suhu yang tentunya akan lebih dingin lagi dari 8℃.

Dari sana, kita juga bisa membayangkam, bagaimana pola hidup dan kesehatan masyarakat kebanyakan. Dengan suhu yang ekstrem seperti itu, tentunya masyarakat akan sangat mudah sakit. Terutama anak-anak. Dan menurut dokter yang bertugas di Mbuwa, faktor keadaan cuaca inilah salah satu indikasi penyebab kematian puluhan anak di Mbuwa.

Mbuwa mengalami kemarau panjang sepanjang 2015. Mereka yang kebanyakan menanam sendiri bahan makanan seperti sayuran dan umbi-umbian harus gagal panen. Banyak dari mereka yang kelaparan. Mereka juga terbiasa minum dari air hujan. Air hujan di Mbuwa, menurut dokter, tidak berefek negatif pada masyarakat. Namun sejak kemarau berkepanjangan, masyarakat mulai mengkonsumsi air sungai yang menang melintasi Mbuwa.

Kemarau memang menjadi persoalan utamanya. Kemarau membuat sumber makanan masyarakat berkurang. Suhu di Wamena meningkat drastis. Panas terik di siang hari, sangat dingin di malam hari. Warga mulai mengkonsumsi air sungai, padahal air belum tentu bersih karena di hulu juga ada warga yang membangun Honai--rumah adat Papua.

Hasilnya, banyak hewan ternak yang mati kelaparan, kehausan. Puluhan anak yang memiliki kekebalan tubuh tidak sebaik orang dewasa juga mengalami hal serupa. Pengaruh cuaca ekstrem menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) bagi anak-anak di sana. Batuk, beringus, panas tinggi, kejang, mengigil, dan pusing disebut sebagai simtom yang dialami banyak anak di periode itu; gejala-gejala yang kerap dialami penderita ISPA. Ketika saya ke sana, banyak juga anak yang tampak mengalami gejala serupa.

ISPA, sebuah penyakit yang sebenarnya bisa ditangani dengan mudah. Iya, jika penyakit itu diidap oleh anak yang lahir di kota atau daerah yang memiliki infrastruktur mumpuni. Sayangnya, Mbuwa tidak memiliki kemewahan itu.

Jarak kota terdekat adalah 5 jam perjalanan. Bisa dibilang, desa ini sangat terpencil. Obat-obatan menjadi barang mahal yang hanya bisa didapatkan jika diberi oleh dokter.

Hanya ada satu puskesmas. Dokter di Mbuwa bukan dokter tetap. Mereka adalah dokter yang ditugaskan. Biasanya hanya 6 bulan. Setelah itu diganti lagi. Jumlah mereka hanya empat orang, itu juga sudah bagus. Biasanya kurang. Mereka harus mengurusi sekitar 4000-an warga di 3 distrik; termasuk Mbuwa. Jumlah yang sangat tidak ideal.

Obat-obatan yang ada juga sangat minim. Menurut dokter kurang. Selain karena biaya yang mahal untuk mengantar obat ke Mbuwa, juga karena memang peredaran obat di Papua kurang. Apalagi, kebanyakan warga kurang pengetahuan tentang obat dan vitamin.

Melihat kenyataan ini, pembangunan infrastruktur yang tidak merata menjadi penyebab utama kematian di Distrik Mbuwa. Jika saja akses menuju kota lain dan rumah sakit yang memiliki alat juga obat-obatan lengkap dapat dinikmati warga Mbuwa, tentu kasus 32 anak meninggal dunia tidak perlu terjadi.

Saya pun kini tidak heran jika beberapa rakyat Papua meneriakkan kemerdekaan. Kekayaan Papua yang berlimpah seakan digunakan untuk menghidupi seluruh dunia, kecuali Papua sendiri. Hingga untuk mendapatkan kesehatan yang layak pun mereka tidak dapat menikmatinya.

***

1 Desember 2015. Warga Mbuwa ramai-ramai berkumpul di bawah kantor Camat. Mereka membuat tiga lubang besar untuk acara bakar batu. Meriah. Semua senang.

Para orang tua senyum. Semangat ikut mengambil batu dan tumbuh-tumbuhan, dibantu para anak-anak yang tersenyun gembira disela batuknya yang belum sembuh.

Semua seakan melupakan sejenak tragedi yang baru terjadi. Mereka menyambut Natal dengan membuka gerbang dan berpesta dalam syukur.

Setiap tahun mereka merayakan hal acara menyambut gerbang Natal ini. Tiap tahun pula mereka membuat acara bakar batu. Di tengah kemeriahan, sedikit terbersit juga kesedihan di mata Erias dwijangge, Kepala Distrik Mbuwa.

"Tahun-tahun kemarin kita bisa buat 10-11 lubang, kini hanya tiga," ujarnya di tengah masyarakat yang sedang menyiapkan bakar batu. "Ini bukti nyata kalau distrik ini sedang kelaparan. Dulu, umbi-umbian, daging, sayur menggunung. Sekarang tidak," lanjutnya sambil menjelaskan bakar batu tahun ini tidak menggunakan umbi-umbian karena gagal panen; gantinya mereka menggunakan beras bantuan pemerintah. Bantuan yang baru datang setelah berita kematian puluhan anak di sana tersiar.

Walau begitu, semua bersuka cita. Mereka juga tidak lupa berdoa di depan gereja. Meminta Tuhan untuk memberikan kesehatan dan kesejahteraan. Juga bersyukur bahwa gerbang Natal tiba bersamaan dengan hujan yang sudah mulai turun lebih sering.

Tidak ada wabah. Hanya ada penyakit yang tidak bisa tertangani dengan cepat karena kurangnya infrastruktur dan penunjang kesehatan lain. Hanya ada anak-anak ingusan batuk-batuk meminta penyakitnya segera sembuh. Hanya ada sebuah desa yang seakan tidak diberi perhatian pemerintah, sehingga tidak dianganggap penting pembangunan infrastrukturnya.

***

Jalan tol Cipularang arah Jakarta-Bandung, 4 Desember 2015.
18.33 WIB

Wamena - Mbuwa Trip Part. 1

Bandara ini tidak mutakhir. Ruang tunggunya tampak seperti kandang kuda. Atapnya ditutupi seng. Walau begitu, udara di dalamnya tidak panas. Ya, Wamena memang berudara sejuk. 15-20℃ sehari-harinya. Udara yang walaupun di bandara sempit ini banyak orang, tidak akan membuat orang di dalamnya kepanasan.

Ada sedikit gundah yang hadir saat saya datang ke bandara ini untuk ke-2 kalinya. Artinya, saya harus pulang meninggalkan lembah Baliem yang indah ini.

Saya tiba ke Wamena dalam cemas. Bagaimana tidak. Saya datang ke sini dalam rangka meliput suatu wabah di daerah Mbuwa, Kabupaten Nduga--sebuah tempat yang hanya lewat Wamena-lah Ia bisa dijangkau. Berita yang tersiar, ada puluhan anak berusia 7 tahun ke bawah yang meninggal secara misterius dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, dikabarkan banyak hewan yang juga mati mendadak.

Hewan mati mendadak itu pertanda adanya wabah. Di Afrika sana, itu salah satu tanda Ebola. Di Asia, dulu flu burung memiliki simtom yang sama. Juga Antrax, flu babi, dan wabah lainnya yang menggegerkan dunia.

Itulah berita yang kami dapat di Jakarta. Jauh dari lokus peristiwa. Informasi yang kami dapat dari media online--media yang memang lebih mengutamakan kecepatan terbit, dibanding ketepatan isi berita.

Tiba di Wamena, kami berusaha mengkonfirmasi ke pejabat-pejabat berwenang. Kapolres dan Dandim Jayawijaya yang baru tiba di Wamena dari Mbuwa kami mintai keterangannya. Mereka menyebut, jumlah korban yang beredar, 50an orang anak merupakan data yang salah. Tidak sebanyak itu.

Penasaran, kami pun memutuskan datang langsung ke lokasi kejadian. Kami bertanya ke Pak Niko, seorang preman pensiun yang beralih profesi menjadi driver dan guide para turis. Lelaki asli Wamena yang senang bercanda ini bilang, perjalanan ke Mbuwa bisa di tempuh lewat jalur darat dan udara.

Jika lewat jalur udara, kita harus menyewa pesawat kecil yang bisa menampung 5-6 awak. Sekali jalan Rp. 25 juta. "Pulang pergi, ko kalikan saja sendiri," terangnya. Selain itu, terbang di Wamena dengan pesawat kecil banyak resikonya. Jayawijaya selalu ditutupi kabut, hal yang sulit diprediksi dan bisa mengancam keselamatan, apalagi harus berkelok-kelok melewati celah gunung gemunung di pegungungan Jayawijaya.

Akhirnya kami memilih jalur darat. Jalur ini hanya biaa dilewati oleh mobil khusus 4x4, mobil yang sering dipakai para pecinta off-road. Harga pulang pergi Wamena-Mbuwa itu seharga tiket pesawat Jakarta-Jayapura untuk 3 orang. Ya mahal. Sangat mahal. Saya sendiri hampir tidak percaya kenapa hingga sampai semahal itu.

Akhirnya kami berangkat ke Mbuwa dua kali dari Wamena. Hari ke-3 di Wamena, dang hari ke-6. Di hari ke-3, kami berangkat agak siang. 09.30 WIT. Perjalanan sangat melelahkan. Lima jam kita bergelut dengan buruknya jalan. Jalan batu, jalan lumpur, kubangan, tanjakan curam, turunan tajam, membuat siapapun yang pergi ke sana tidak akan bisa tidur di perjalanan.

Untungnya, pemandangan di perjalanan kita ke Mbuwa sangatlah memanjakan mata. Danau Habema yang luas dan cantik tiba-tiba hadir selepas melewati bukit berbatu. Selepas Habema, kita akan melewati gunung karang purba. Bukit-bukit karang bertumpuk, menggunung, memberikan pemandangan indah nan eksotis. "Surreal," ujar Vano saat melihat bukit ini pertama kalinya.

Tidak berhenti di sana, perjalanan terus menanjak hingga ketinggian 3600 mdpl. Memang, perjalanan Wamena menuju Mbuwa memang harus melewati Puncak Trikora. Di atas sana, sejauh kita memandang, deretan gunung berbaris dengan indahnya. Langit biru dan kabut memberikan kesan misterius bagi gunung yang bersembunyi, hingga hanya menampakkan siluet biru di balik gunung hijau di depannya.

Keindahan ini seakan membayar bagaimana melelahkannya perjalanan menuju Mbuwa. Tapi, keindahan ini harus sedikit terlupakan saat kita menuruni puncak. Di jalur ini, kesan suram yang didapatkan. Pohon berdempetan tinggi di kedua sisi jalan. Jalanan berkerikil, licin. Kabut menyelimuti, menutupi jalan di depan. Belum lagi, jalan ini curam. Kemiringan turunan bisa mencapai kemiringan 80°. Sangat berbahaya.

Tapi lagi-lagi, Papua menberikan kita hadiah. Melewati gunung curam berkerikil yang tidadak bersahabat itu, hadir sebuah lembah indah. Sebuah lembah yang dikelilingi gunung. Dialiri sungai, diselimuti kabut. Lembah ini dihiasi rumah-rumah kecil. Jaraknya berjauhan. Sangat indah dan asri.

Mbuwa, nama lembah itu. Tempat yang digambarkan media di Jakarta sedang dikutuk wabah. Sebuah distrik indah yang sedang dirundung duka.

***

Bandara Wamena, 3 November 2015. 
13.18 WIT

Saturday, November 21, 2015

Soal Pilihan Baik

"What's wrong with the world, mama
People livin' like they ain't got no mamas
I think the whole world addicted to the drama
Only attracted to things that'll bring you trauma"*

Tragedi di Paris minggu lalu tentunya meninggalkan duka. Sedih. Marah. Rasa kesal yang entah ditujukan kepada siapa pasti muncul setelah mendengar kelakuan biadab itu.

Emosi semakin memuncak setelah kita tahu juga bahwa juga ada tragedi yang sama di Lebanon. Juga di Suriah. Belum lagi di Palestina dan negara-negara lain yang juga tengah berkonflik.

Bahwa akan selalu ada, sekelompok orang biadab yang merasa dirinya lebih baik dari kelompok lain. Dijanjikan surga. Dijanjikan tempat terbaik juga di dunia. Merasa paling benar. Paling hebat. Paling suci sehingga membunuh mereka yang menentang adalah suatu hal yang wajar. Biadab.

Menurut saya, yang menurut dosen saya bodoh, lupa ilmu, dan tidak bermartabat  karena terlalu lama jadi kuli, apa yang dilakukan para megalomania ini adalah suatu kejahatan yang harus dilawan bersama. Bahwa tidak boleh ada tempat untuk kekerasan di dunia ini. Sayangnya, tidak semua orang berpikiran sama dengan saya.

Jika dilihat di media sosial, khususnya lingkaran pertemanan saya, banyak yang melakukan hal lain. Mereka tidak mengutuk sama apa yang dilakukan teroris itu.

Mereka lebih memilih untuk mempermasalahkan hal lain. Mempermasalahkan kenapa kita harus berduka untuk Paris bukan Lebanon, Suriah, atau Palestina? Kenapa media tidak memberitakan kejadian di Lebanon, Suriah dan Palestina? Kenapa Facebook memasang filter avatar bendera Perancis, bukan Lebanon, Palestina, atau Suriah?

Menyedihkan. Menyedihkan bagaimana, teman-teman media sosial saya lebih mempermasalahkan hal-hal di atas. Padahal, bukan itu yang patut dipermasalahkan. Yang harus dipermasalahkan adalah, kenapa masih harus ada perang di dunia ini? Kenapa harus masih membunuh atas nama Tuhan? Kenapa kita tidak bisa berdamai dan melihat bahwa membunuh adalah hal yang salah?

Masalah yang selalu diungkit rekan media sosial di lingkaran saya sebenarnya hanya masalah pilihan. Tidak ada yang salah dengan berduka terhadap tragedi di Paris. Tidak ada yang salah jika kalian mau berduka untuk warga Lebanon, Palestina, atau Suriah.

Mendukung dan bersimpati terhadap Perancis? Silakan. Jangan dilarang dan dinyinyiri. Itu hal yang benar. Mengutuk tragedi di Timur Tengah? Silakan. Jangan diledek dan dipermasalahkan. Itu hal yang benar.

Tidak ada salahnya menyatakan dukungan terhadap Paris dengan memasang filter avatar berbendera Perancis. Karena itu hal yang benar. Mendukung dengan hal tersebut memberikan pesan moral bahwa warga Perancis tidak sendirian memerangi teror. Tidak salah juga kalau kalian mau melakukan hal yang sama dengan bendera Suriah, Lebanon, atau Palestina. That's the right thing to do. That's what we need. Support. And a message that we want to live in peace.

Memberikan dukungan terhadap kebaikan itu baik. Siapapun yang didukung. Ini hanya masalah pilihan. Dan pilihan atas kebaikan seharusnya tidak dipertanyakan. Kecuali oleh mereka yang mendengki.

Jadi, jika ada yang mempermasalahkan bentuk dukungan apapun terhadap negara yang tengah diliputi tragedi, saya mempertanyakan motifnya. Rasanya, mereka hanyalah orang yang ingin memperkeruh suasana.

"But if you only have love for your own race
Then you only leave space to discriminate
And to discriminate only generates hate
And when you hate then you're bound to get irate, yeah"*

PS: Yang bilang kalau gak ada media yang mengangkat konflik timur tengah (Suriah, Palestina, Lebanon) ini antara gak punya tv, radio, gak pernah baca koran, majalah, media online, atau memang cuma mau memperkeruh suasana sih. Hence, they are assholes.
.
.
.
Atau kebanyakan baca statusnya Jonru sama baca dakwah kompornya Felixsiauw

* Black Eyed Peas - Where Is the Love

Friday, October 2, 2015

Ahok, Anjing!

Lagi-lagi, komentar Ahok membuat kontroversi di tengah masyarakat. Kali ini, gara-gara anjing. Iya, anjing. Binatang anjing. Bukan karena Ahok ngomong anjing. Tapi karena anjing yang dimakan manusia.

Alasannya sederhana, Ahok, yang nama aslinya adalah Basuki Tjahaja purnama, berencana membuat pergub untuk mengatur peredaran daging anjing di Jakarta. Entah karena memang Ahok ini musuhnya di dunia maya banyak atau bagaimana, yang menentang ide ini sangat banyak. Mulai dari para ikhwan-akhwat Facebook dan sosial media lainnya. MUI, hingga tentu saja Fahira Idris. Yang pertama disebut, bahkan mengeluarkan jurus andalannya: nyebut Ahok kafir!

Jangan heran banyak yang tidak menyetujui idenya karena memang rencana tersebut diartikan secara ramai oleh khalayak sebagai langkah "melegalkan" daging anjing. Well, jika memang Ahok berencana membuat Pergub, maka memang benar langkahnya adalah langkah melegalkan.
legal/le·gal/ /l├ęgal/ a sesuai dng peraturan perundang-undangan atau hukum*
melegalkan/me·le·gal·kan/ v membuat menjadi legal*
Sayangnya, tidak semua orang mau melihat fakta yang ada, atau memang tidak mau membaca kamus, atau memang tidak mau baca apapun sama sekali, atau memang benci sama Ahok, akhirnya kata "melegalkan" yang beredar diartikan sebagai
 melegalkan/me·le·gal·kan/ v membuat menjadi normal, boleh, halal, lazim**
Inilah yang membuat banyak orang ramai-ramai menolak ide ini.

Seingat saya, kejadian ini bukan yang pertama. Beberapa waktu yang lalu, ide Ahok untuk melegalkan minuman keras juga ditentang banyak masyarakat. Penyebabnya sama, karena artian kata "melegalkan" dianggap menjadi:
melegalkan/me·le·gal·kan/ v membuat menjadi normal, boleh, halal, lazim**
Hasilnya, ya orang-orang protes semua.

Padahal, jika diartikan menurut arti sebenarnya yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), melegalkan itu tidak melulu soal membolehkan, menghalalkan, menormalkan, atau melazimkan sesuatu. Tapi juga soal melarang, mengharamkan, mengkhususkan, dan membatasi sesuatu.

Dengan demikian artian melegalkan daging anjing atau minuman keras itu tidak terlalu menyeramkan. Malah menenangkan.

Peredaran daging anjing di Jakarta, atau bahkan di Indonesia ini masih memprihatinkan. Tidak ada standar resmi tentang kesehatan dan kebersihan, Undang-Undang yang mengatur tidak dipatuhi oleh rumah-rumah pengelola daging anjing, dan bahkan para penikmatnya pun tidak memperhatikan bagaimana makanan mereka diolah sejak dipotongnya.

Akan lebih baik jika ada standar seperti, misalnya, kebersihan di tempat pemotongan daging anjing harus begini, anjing yang dipotong kesehatannya harus begitu, cara memotongnya kayak gini kayak gitu, boleh dijual di sini dan di situ, juga yang boleh dipotong anjing yang seperti ini yang seperti itu.

Sama halnya dengan minuman keras. Ide melegalkan peredaran minuman keras di Jakarta diawali oleh concern Ahok banyaknya minuman keras oplosan. Sudah banyak korban jatuh karena hal itu. Makanya, akan lebih baik jika dibuat regulasi baru yang lebih baik: kandungannya ini dan itu, pengemasannya seperti ini, Pengirimannya seperti itu, boleh dijual di sini dan di situ, boleh dikonsumsi situ apa enggak.

Tapi ya itu, polisi moral pada kebakaran jenggot duluan. Karena apa lagi kalau bukan salah mengartikan kata "melegalkan".

Saya pribadi enggak peduli soal di agama ini di agama anu makan daging anjing itu haram. Yang saya tahu, ada orang yang mengkonsumsi, dan menjadikan ini sebagai budaya. Kewajiban pemerintah adalah melindungi mereka. Yang saya tahu juga, ada kepercayaan yang enggak makan daging sapi karena suci, but it's still normal when major Indonesian people still have an annual fest on sacrificing cow. Religions, yea?

Just so you know, saya enggak makan daging anjing. Tapi saya enggak mau sok-sokan bermoral, dan egois.

***

NB: Judul ini sebenarnya bukan memanggil Ahok "anjing". Maksudnya, memberi judul 'Ahok dan Anjing" karena memang ini yang dibahas dalam tulisan ini. Sengaja saya menambah koma (,) di antara 'Ahok' dan 'Anjing' juga menambah tanda seru di akhir, supaya kalian klik. Efektif? I'm not sure. You tell me. *sungkem sama Pak Ahok*

*) Arti sebenarnya dalam kamus
**) Bukan arti sebenarnya dalam kamus
***) Lagi-lagi penulis akan disebut kafir dan liberal dalam hitungan 3... 2... ....

Monday, June 29, 2015

Soal Kampungannya Presiden

Dari Oktober 2014 sampai hari ini (dan mungkin sampai 2019 nanti), Joko Widodo adalah Presiden Republik Indonesia. Dia menang tipis di pilpres 2014 melawan rivalnya, Prabowo Subianto.

Dari sejak era kampanye hingga hari ini, ada argumen lucu dari para pendukung Prabowo (dan yang tidak mendukung kedua capres), kenapa Jokowi enggak pantas jadi Presiden. Yaitu, fisiknya kurus, mukanya kampungan, tidak berwibawa.

Kenapa lucu? Karena menurut saya, argumen itu tidak relevan sama sekali untuk mencari seorang pemimpin.

***

Menurut Forbes, ada sepuluh hal yang menjadikan seorang pemimpin  sebagai penimpin yang baik. Kejujuran, kemampuan untuk memberikan kepercayaan, komunikasi, sense of humor, percaya diri, komitmen, sikap yang positif, kreatifitas, intuisi, dan kemampuan untuk menginspirasi.

Dari sepuluh hal tersebut, tidak ada tuh faktor yang mengharuskan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berkharisma, yang berwibawa, dan tidak kerempeng.

***

Namun, jika saya boleh menambahkan, di atas kesepuluh item tadi, ada item lain. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat terpilih untuk memimpin. Apalagi di era demokrasi seperti sekarang. Dan item lain untuk menjadi pemimpin terpilih adalah: popularitas.

Nah, popularitas ini didukung oleh banyak faktor. Menurut saya, faktor-faktor di atas harusnya menjadi alasan seorang pemimpin menjadi populer. Karena populer atas dasar jujur, menginspirasi, kreatif, punya visi jelas, dan menginspirasi harusnya lebih baik dan masuk akal ketimbang populer karena ganteng/cantik, berwibawa, dan berkharisma.

***

Anda tahu Gandhi? Silakan cari namanya di Google. Gambarnya akan banyak bermunculan. Apakah dia ganteng? Berkharisma? Badannya berisi dan tidak kerempeng? Jawabannya bisa macam-macam. Tergantung siapa yang melihat. Yang jelas, yang pasti, Gandhi merupakan salah satu contoh pemimpin terbaik yang pernah berjalan di dunia ini.

Pertanyaan serupa bisa ditujukan kepada para nabi atau para santo di kisah-kisah kitab suci. Walaupun ada nabi dan santo yang digambarkan tampan, apakah mereka menjadi pemimpin umat yang baik karena dan hanya karena wajahnya tampan, cantik, dan kurus, gemuknya? Tidak. Tapi bagaimana ia membawa umatnya ke arah yang lebih baik. Ini nabi dan santo, mereka masuk kitab suci, bukan sinetron, film, atau majalah.

Kalau percaya Tuhan itu mahaadil, maka kita semua harusnya percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia tanpa kekurangan. Kalau kalian mempermasalahkan fisik seorang pemimpin, kalian mempermasalahkan keadilan Tuhan kalian sendiri.

***

Menurut saya, seharusnya tidak perlu ada ungkapan seperti, "malu ya Presidennya mukanya kampungan banget, kerempeng pula. Enggak berwibawa banget," atau "Kang Emil ganteng pisan, beda ya sama Presiden di sebelahnya. Lebih berwibawa kang Emil. Harusnya kang Emil Presidennya," karena ya tidak relevan seorang pemimpin dilihat dari fisiknya saja.

Saya akan lebih senang mendengar, "malu ya presiden gak bisa jaga stabilitas nilai rupiah. Sampai anjlok terus, dan harga-harga jadi mahal," atau "hukum di negara masih berantakan kok berani banget presiden menghukum mati orang. Gak malu apa kalau keputusannya bisa saja salah," karena memang seharusnya itu yang dikritisi dari Presiden sekarang.

***

Yah, pesan saya, dikurang-kurangi kritik gak relevannya. Dan diterima aja bahwa laki-laki dari Solo yang kata kalian kampungan itu ya Presiden kita.

Ada lho orang yang masih maki-maki Presiden secara fisik. Sudah gitu gak mau mengakui kalau Jokowi itu Presidennya dia karena hal itu. Hihi..

Kalau minjem temen, ada istilah yang cocok buat dia, "The Nile is not just a river in Africa,"

NB: yang punya blog juga gak bisa dinilai dari fisiknya. Misalnya kayak saya, fisiknya ganteng, tulisannya ancur kayak di atas. #dikeplak

Friday, June 26, 2015

Sejalan Bandung: Chapter One

CHAPTER ONE
Gatot Soebroto

I bet it will. Bandung tanggal muda, hari Jum’at di mana Senin minggu depan libur. Terkadang saya mikir kalau Bandung itu mati tiap ada long weekend,” jawab Nindi sambil menyender dengan lebih rileks di kursi depan.

Sebelumnya, Nindi agak khawatir untuk ikut nebeng lewat Twitter. Biar bagaimanapun juga, sejak kecil, ia diajarkan untuk selalu waspada dengan orang asing. Kalau bukan karena ia bosan harus naik angkutan umum di perjalanan pulangnya yang panjang, ia tidak akan mau mencoba ikut nebeng ke orang hanya karena jalan pulangnya searah.

Ia tahu ada akun Twitter yang memberikan info nebenh setelah direkomendasikan temannya yang sudah beberapa kali ikut menumpang pulang ke orang yang jalan pulangnya searah dengannya. Baru tadi pagi ia coba mengecek dan mulai mem-follow akun Twitter itu, dan saat itu pula ia membaca sebuah twit dari Adi yang ternyata menawarkan tebengan.

Yang mencuri perhatiannya bukan hanya karena Adi menawarkan tebengan searah, namun juga karena avatar Twitter yang digunakan Adi; Nindi mengenalinya. Adi adalah kakak kelasnya ketika SMA. Kakak kelas keren, pintar, dan populer. Sebagai seorang adik kelas yang baru masuk, melihat kakak kelas 3 yang begitu berkharisma seperti Adi tentunya membuatnya kagum. Diam-diam, Nindi selalu memperhatikan tingkah kakak kelasnya itu, walau tidak pernah berinteraksi sama sekali, hingga akhirnya Adi lulus dan ia tidak pernah melihatnya lagi.

“Kamu sendiri enggak liburan kemana-mana long weekend gini?” tanya Adi.

“Enggak lah. Lagian Bandung long weekend pasti macet di mana-mana. Kemana-mana pasti jalanan penuh sama mobil luar kota semua. Keburu tua di jalan,” Nindi tertawa kecil di akhir jawabannya. Adi tersenyum.

“Ya, maksudnya gak liburan di Bandung gitu. Ke Jakarta kek gitu misalnya. Kan kalau long weekend Jakarta sepi,”

“Iya sih. Tapi untuk kali ini kayaknya momennya lebih enak buat santai di rumah. Istirahat,” kali ini Nindi menjawabnya sambil mengerling ke arah Adi. Masih keren seperti dulu, waktu dia jadi kakak kelasnya. Tapi Adi tampaknya memang benar-benar tidak mengenal Nindi sama sekali. Adi mengangguk-angguk.

“Lagian heran gak sih? Bandung itu setiap long weekend pasti macet, orang-orang udah tau itu. Tapi kenapa ya mereka masih tetep aja ngotot liburan ke sini?”

Well, memang Bandung asik buat liburan sih. Mau makan enak, ada di sini. Mau udara sejuk, ada di sini. Mau baju murah, ada di sini. Mau ke tempat-tempat seni bagus, ada juga di sini. Jadi gak aneh sih banyak yang tetep ngotot liburan ke sini,”

“Itu bener sih, tapi kan ada tempat lain kayak Jogja, Malang, Semarang, gitu yang kurang lebih sama lah kalau mau cari makanan atau tempat bersejarah atau baju doang,”

“Ada faktor lainnya yang enggak ada di tempat lain itu, Bandung jaraknya deket dari Jakarta. Jadi banyak yang lebih milih ke sini. Perginya cepat sampe, pulangnya cepat pulang.”
Mobil yang mereka kendarai telah sampai di perempatan jalan Laswi – Gatot Soebroto. Lampu merah menyala. Para pengamen mendatangi mereka mobil-mobil yang berhenti. Adi memberikan sejumlah receh ke salah satu pengamen.

“Kamu sendiri, kenapa gak liburan? Biasanya kan cowok kalau Jum’at malam keluyuran,” tanya Nindi iseng. Adi tersenyum sebelum menjawab.

“Biasanya sih emang begitu. Tapi anak-anak pada punya rencana sendiri-sendiri. Jadi ya kayak kamu. Milih pulang, terus istirahat.”

“Apa enggak ngerasa aneh biasanya Jum’at malam jalan-jalan keluyuran bareng teman-teman, tapi sekarang enggak?”

“Well, aneh sih. Tapi keluyuran atau nongkrong sendiri kan juga bakalan aneh. Atau kamu mau saya ajak keluyuran Bandung malem ini?” goda Adi sambil melihat dalam-dalam ke mata Nindi.

“Wow, are you asking me out?” jawab Nindi sambil tetawa. Sedikit membuatnya tidak nyaman karena digoda secara langsung seperti itu. Tapi, dalam hati kecilnya, ia senang. Dulu, kala SMA, hal seperti ini cuma ada dalam mimpi.

“Ha ha ha.. Bercanda. Baru juga kenal. Masa udah mau ngajak jalan lagi. Yang ada nanti kamu malah kabur, ketakutan.”

“Kamu bukan psikopat yang suka ngikutin terus nyulik cewek gitu kan?” tanya Nindi sambil senyum dan membuat gerakan menjauhi Adi. Memepet ke pintu mobil. Menanggapi candaan Adi.

“Bukan dong. Cuma kan gak setiap hari ngajak nebeng orang random di Twitter tapi ternyata yang nyahut cewek cantik,” jawabnya, kembali menggoda. Nindi salah tingkah, semburat merah muncul di wajahnya.

Lampu berubah menjadi hijau. Kendaraan mulai maju melanjutan perjalanan, walau hanya sekitar 10-20 km/jam. Nindi masih salah tingkah.
Jangan salah kira, ia senang dipuji seperti itu. Sekali lagi ia mengingat masa SMA. Ketika itu, kalimat yang diucapkan Adi tidaklah mungkin terucap kecuali di mimpi. Kali ini ia senang bukan kepalang. Walau sebenarnya, masih menyisakan sedikit keragu-raguan. Bagaimanapun juga, Adi terlalu agresif, dan Nindi tidak tahu kehidupan Adi setelah lulus dari SMA.

What about a little music?” tanya Adi sambil menyalakan CD player di mobilnya. Mencoba mencairkan kekakuan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. “Because you know, ‘without music, life would be a mistake,’ right?” ujar Adi mengutip Nietzsche.

Yup, and ‘I would only believe in a God who knew how to dance,’” ucap Nindi melanjutkan kutipan itu.

“Wow, I’m amaze. Mungkin saya yang kurang bergaul, tapi gak banyak cewek yang bisa ngutip Nietzsche kayak kamu,” ada rasa terkesan yang teramat di sana. Nindi berhasil mencuri perhatiannya.

“Ha ha ha.. Saya enggak begitu paham juga kok sama Nietzsche. Kebetulan aja kemarin saya baca kutipan itu di blog orang,” Nindi membalas tatapan Adi yang masih terkesan. “Banyak orang memang sebegitu cintanya sama musik. Sampai-sampai gak bisa lepas satu kali pun,”

“Terang lah. Pernah membayangkan gak hidup tanpa musik? It would be boring as hell, not that I was there. Tapi, tentu saja bakalan membosankan banget. Apalagi di tengah macet begini. Iya, kan?”

“Saya mikirnya malah sedikit beda. Bayangin deh, kalau enggak ada musik, hidup tentunya bakal penuh akan obrolan orang-orang yang kebosanan. Saling tukar pikiran, saling memberi ide, saling mengungkapkan perasaan,” ujar Nindi sambil menerawang melihat langit yang mulai tampak kekuningan. “Akan ada banyak orang yang terbuka pikirannya, idenya, bahkan emosinya; karena mereka akan mendengar hal yang berbeda dari setiap orangnya, bukan ide yang diulang-ulang seperti musik.
Hidup bakal lebih menyenangkan, bukan? Tidak hanya mendengar musik yang bisa diputar setiap kali, padahal isi dari musik itu sendiri sama. Diulang-ulang.”

“Wow, saya enggak pernah mikir sampai ke sana,” Adi masih menyisakan rasa kagumnya.

“Ya, saya malah gak bisa mikir sependek kamu,” kali ini sambil kembali mengerling Adi lagi. Adi yang kaget mendengarnya juga langsung mendengarnya. “I’m kidding,” tawa Nindi. Adi pun ikut tertawa.

“Kamu bener-bener sudah menghancurkan gambaran musik di hidup saya,” Adi menginjak rem, memberi jalan mobil yang ingin belok ke jalan Burangrang . “Sekarang, setiap saya dengar lagu, saya pasti Cuma mikir kalau itu adalah ide yang diulang-ulang,”

Scary, huh?”

“Yap. Sekarang saya baru sadar kenapa musik bisa jadi salah satu alat propaganda paling ampuh. Idenya diulang-ulang...,”

“Sampai kamu sendiri akan menganggap ide itu adalah suatu hal yang benar,”

“Yeah, sedikit menakutkan memang,”

But it’s fine. Musik dan lagu memang kan ampuh untuk propaganda, tapi memang mendengarkan musik, asal tidak termakan propagandanya itu, memang menyenangkan. Musik memang hal paling indah yang pernah ada di dunia.”

How so?”

Think about it, musik itu lahir dari perbedaan nada, tapi bisa menjadi harmoni dan simfoni yang bisa menghibur banyak orang. Enak didengar, dan menyenangkan. It’s life is all about. Hidup dalam perbedaan memang harus harmonis sehingga bisa menjadi simfoni yang menyenangkan bagi banyak orang,” jelas Nindi panjang lebar sambil mencoba memutar volume CD Player di mobil Adi. Ia tampaknya sudah merasa kerasan dan tidak canggung lagi.

“Wow. Kamu benar-benar mikir jauh soal musik ini,” Adi geleng-geleng sambil terus mengemudi. “Apa kamu memang selalu memikirkan banyak hal secara jauh seperti ini?”

Nindi menjawabnya dengan senyuman. Adi memperlambat laju kendaraannya. Beberapa mobil dan motor pun sama. Jalan di depannya sudah dipenuhi oleh beberapa kendaraan yang mengantri di lampu merah Simpang Lima Bandung.

Adi memperhatikan Nindi. Nindi balas memperhatikannya. Keduanya tersenyum. “Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”
Mobil mereka akhirnya berhenti di simpang lima. Lagi-lagi, menunggu si lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.(A)

Bersambung...

Sejalan Bandung: Prolog

PROLOG

Tidak banyak yang menyadari, bahwa sesungguhnya mencari kebahagiaan itu bisa dimulai dengan melihat ke belakang, ke masa sebelumnya, melihat teman-teman lama yang sudah lama tidak saling berhubungan kembali dengan kita; menjemput masa lalu untuk menciptakan masa depan. Hal ini kerap dilupakan karena kebanyakan orang disibukkan dengan hidupnya saat ini dan lebih memikirkan masa depan.

Adi seketika melihat seorang perempuan sedang berdiri di pinggir jalan, di depan sebuah SD Negeri, di seberang salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bandung. Cantik. Blazer dan rok span hitam, tas jinjing putih. Itu dia.
Segera Adi menepikan mobilnya. Agak sulit untuk menepikan mobilnya mengingat banyak motor yang enggan mengalah untuk memberikan jalan dan menyalip lewat sisi kiri. Ia membuka jendela samping mobilnya dan memanggil perempuan itu.

“Nindi? Saya Adi. Ayo.” ajak Adi sambil setengah berteriak dari dalam mobilnya. Nindi yang awalnya terlihat bingung, langsung mengangguk dan berlari kecil ke mobil yang Adi tumpangi. Tampaknya ia sadar bahwa Adi adalah lelaki yang sebelumnya menghubungi dan janji akan memberikan tumpangan pulang.

“Sudah lama nunggunya?” tanya Adi membuka obrolan sambil terus melihat Nindi ketika perempuan berambut pendek itu duduk dan menutup pintu di sampingnya. Ia terlihat agak canggung.

“Enggak begitu lama kok. Barusan abis beres kerja, langsung ke sini. Baru aja nyeberang, kamu sudah manggil dari dalem mobil. Pas banget,” jawab Nindi. Adi mengangguk-angguk. Keduanya kemudian terdiam. Awkward silence.

Adi memperhatikan Nindi. Nindi melihat lurus ke arah jalan. Tidak lama, Nindi seakan menyadari bahwa ia tengah diperhatikan, Nindi melihat ke arah Adi. Seketika itu pula Adi mengalihkan padangannya ke depan. Mereka saling mencuri pandang.

Adi dan Nindi sebelumnya saling berhubungan lewat Twitter; tepatnya lewat akun salah satu gerakan saling memberikan tumpangan agar mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Saling nebeng. Adi terkadang jenuh ketika harus pulang kerja membelah jalanan kota Bandung sendirian. Makanya ia mengajak orang untuk ikut pulang dengannya. Apes baginya, teman sekantornya tidak ada yang pulang searah, jadi ia menawarkan tumpangan ke akun nebeng tersebut. Gayung bersambut, Nindi, karyawati di hotel yang terhubung dengan mall besar di depan SD Negeri tadi itu, ternyata merespon twit Adi.

Perjalanan Adi ke rumahnya di daerah Dago akan panjang seperti biasa. Namun, kali ini, mungkin, tidak akan terasa membosankan seperti biasanya. Karena sekarang ia memiliki teman ngobrol. Cantik pula. Siapa tahu bisa menambah teman, atau bahkan malah jodoh; walau sebenarnya ia tidak berharap banyak dan hanya minta ditemani dalam perjalanan pulang.

Adi merasa sangat beruntung. “She came to me wholly herself. I was just lucky enough to be there to catch her.” Ucapnya dalam hati mengutip kalimat yang diucapkan Calvin dalam Ruby Sparks, salah satu film favoritnya.

It’s gonna be a long ride. So buckle up..” ujar Adi. Jalan di depannya tersendat kemacetan sore hari ketika banyak anak manusia ingin pulang setelah lelah seharian bekerja.(A)

Bersambung...

Friday, June 12, 2015

Umat Preman

Menjelang Ramadhan, yang saya lihat di sosial media, umat beragama malah saling serang satu sama lain. Eerrrm.. koreksi, umat suatu agama saling serang satu sama lain.

Perkaranya? Komentar Wakil Presiden soal mengaji pakai kaset dan speaker. Juga komentar Menteri Agama soal warung makan boleh buka saat puasa.

***

Senin (8/6), Wapres Jusuf Kalla, yang ketika kalah Pilpres 2009 berencana pulang kampung dan jadi marbot ini, menyarankan masjid-masjid untuk menghentikan rekaman pengajian di masjid melalui speaker. Alasannya, suara mengaji suatu masjid dan masjid yang lain saling bersahutan tidak karuan sehingga menimbulkan polusi suara.

Tujuannya menurut saya baik. Kenapa? Karena jujur saja, saya tidak bisa menikmati keindahan lantunan ayat suci Al-Quran yang saling bersahutan dan speakernya tidak disetel standar broadcast. Dan tampaknya Pak Wapres juga merasakan hal yang serupa.

Saya juga yakin, tujuan dari memasang rekaman pengajian keras-keras melalui speaker juga baik. Toh orang yang mendengarnya juga mendapat pahala, paling tidak itu klaim orang yang tidak setuju pendapat JK. Jadi ya sama-sama baik.

Saya tidak mau bicara lewat sudut pandang agama. Karena toh saya juga bukan umat beragama yang baik. Maka saya hanya akan melihat dari sudut pandang berkemasyarakatan, atau berkehidupan sosial saja.

Suara kencang pengajian dari speaker masjid itu jelas menggangu. Ya. Menggangu orang beraktifitas (mengajar, belajar, rapat, berdagang, dll), menggangu orang yang sakit dan butuh istirahat, menggangu si adik bayi yang baru lahir dan perlu tidur panjang, menggangu individu dengan autistik yang sensitif terhadap suara lantang, dan tentu saja menggangu pemeluk agama selain Islam (juga agnostik dan atheis) yang tidak perlu-perlu amat mendengarkan pengajian.

***

Jum'at (5/6) lalu, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin membuat tweet yang intinya warung-warung tidak perlu dipaksa tutup ketika Ramadhan.

Tujuannya baik, karena yang berpuasa juga harus menghormati yang tidak puasa. Banyak juga yang tidak puasa dan mencari tempat makan. Maka dari itu, tempat makan ya jangan dipaksa tutup.

Hal ini diprotes oleh banyak orang. Mereka menyebut bahwa harusnya, yang tidak berpuasalah yang menghormati orang berpuasa sehingga harus menutup warung.

Kedua tujuannya baik. Sama-sama soal hormat. Hanya saja, yang pertama itu menghormati. Yang satu lagi minta dihormati.

***

Dari dua komentar pejabat itu muncul banyak argumen-argumen dari umat Islam sendiri. Sangat banyak yang menentang dua pernyataan tersebut lalu mengungkit-ungkit ini terjadi karena pemilu kemarin kita salah pilih Presiden (Bro, move on, bro..). Ada juga yang setuju akan pernyataan dua pejabat ini. Saya termasuk yang setuju.

***

Allah mahapenyayang. Allah mahapengasih. Jikapun benar mendengarkan ayat suci Al-Quran benar mendapat pahala, tentunya tidak melalui suara speaker cempreng yang bersahutan dari satu masjid ke masjid yang lain sehingga menggangu masyarakat sekitar.

Jika Islam adalah agama yang besar, tentu umatnya akan menghormati baik yang berpuasa maupun yang tidak. Mereka akan minta dihormati ibadahnya, tapi tidak dengan menutup rejeki orang lewat menutup paksa warung makan.

Ungkapan seperti, "Kalau mayoritas penduduk sini Islam, ya gak apa-apa dong pasang pengajian seharian di speaker masjid?!", atau "lebih banyak muslim yang berpuasa di Indonesia daripada yang tidak, jadi warung harus tutup untuk menghormati yang berpuasa," adalah ungkapan yang seharusnya tidak keluar dari mulut siapapun. Kecuali preman.

Sayangnya, alasan itu yang sering saya dengar di sosial media sekarang. Bahkan ada yang mempertanyakan, dua komentar pejabat di atas itu; toleransi untuk apa dan untuk siapa, hanya karena merasa dirinya adalah bagian dari kaum so-called mayoritas. Ya, mirip preman.

Apa iya Islam ini umatnya banyak yang berjiwa preman? Semoga saya salah.

NB: By the way, menjadi terhormat adalah dengan menghormati. Bukan ingin dihormati. Kecuali memang berjiwa preman atau diktator.

Betewe, kalai benar Pak JK jadi marbot, pasti masjidnya juara. Gak berisik. :)

Lagi-lagi, penulis akan dicap kafir pada 5... 4... 3... 2... 1...

Monday, June 1, 2015

Lia Eden dan Orang Beragama Lainnya

Kamu tahu Lia Eden?

Beberapa tahun lalu, dia bikin heboh karena dia mengaku bahwa dirinya mendapat wahyu dari Tuhan. Dia pernah dipenjara karena melakukan penistaan agama. Sebenarnya, mengklaim dapat wahyu dari Tuhan itu ya enggak apa-apa. Enggak dosa lah. Lha orang urusan dirinya sendiri. Hihi
Nah, Lia Eden ini beberapa hari ke belakang bikin heboh lagi. Dia ngirim surat ke Presiden Jokowi. Katanya, dia minta izin untuk mendaratkan UFO  (Unidentified Flying Object) di Monas.

"Untuk itu, kami mengharapkan perkenan Presiden Jokowi bersedia memberi izin pendaratan UFO kami. Adapun pendaratan UFO Jibril sudah pernah kami sinyalkan melalui penampakan UFO kami itu di atas Monas dan terekam oleh ponsel 2 pemuda di Monas," (selengkapnya: http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/94767-lia-eden-izin-ufo-pada-jokowi )

Bukan hanya itu, kabarnya dia juga mengklaim surati Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Direktur NASA, Polri, KPK, DPR, Menteri Agama RI, MUI, dan juga Ahok, Gubernur DKI Jakarta soal UFO dan ramalannya tentang kiamat yang datang tak lama lagi; well, setidaknya, menurut kepercayaannya.

***

Banyak orang berkomentar miring soal Lia Eden terkait hal ini. Lia Eden disebut orang gila yang punya halusinasi. Kepercayaan (atau agamanya?) tentu jadi bahan olok-olok banyak orang. Menurut mereka, kelakuan Lia Eden ini lucu.

Nah, orang-orang ini, yang menurut saya malah lucu. :))

***

Dalam sejarahnya, perkembangan agama-agama besar di dunia ini dimulai oleh orang yang (bagi masyarakat pada zamannya) disebut gila. Muhammad atau panggilan lainnya, Isa atau panggilan lainnya, Musa atau panggilan lainnya, Ibrahim atau panggilan lainnya, semuanya disebut orang gila ketika menyebarkan kepercayaannya.

Mereka diejek. Kepercayaan mereka disebut menyesatkan dan menistakan agama/kepercayaan yang telah ada lebih dulu.

Sounds familiar? Yak.. mirip apa yang dialami Lia Eden dan kepercayaannya sekarang.

Lalu, apa sih hal yang ditertawakan orang-orang terhadap Lia Eden dan agamanya? Apa karena dia percaya dia utusan Tuhan? Semua nabi mengklaim hal yang sama. Apa karena dia percaya bahwa ia dapat berkomunikasi dengan Djibril? Semua nabi juga mengklaim hal yang sama. Apa karena dia pecaya punya mukjizat bisa meramal? Semua nabi juga mengklaim punya mukjizat sendiri-sendiri.
Sama, kan? Hihihi

***

Mungkin terlambat, tapi saya mau pasang disclaimer di tulisan ini. Saya bukan pendukung/pengikut Lia Eden. Saya diajarkan salah satu agama oleh orang tua saya yang sampai saat sekarang saya percayai. Tapi gak usah disebut, gak relevan.

Lewat tulisan ini sebenarnya cuma mempertanyakan apa sih yang ditertawakan oleh pemeluk agama yang menertawakan Lia Eden dan kepercayaannya? Karena saya melihat mereka mentertawakan agama mereka sendiri.

***

Andai saja Lia Eden hidup dan menyebarkan kepercayaannya 6000 tahun lebih awal, mungkin kalian akan jadi pengikutnya sekarang.


NB: penulis akan dicap kafir pada 5... 4... 3... 2... ...

Thursday, May 28, 2015

Bacaan di Media Sosial

Sudah lama saya tidak menulis. Salah saya sendiri. Padahal, sebenarnya ada saja hal yang bisa jadi bahan tulisan.

Well, setidaknya, saya tetap membaca walau tidak menulis. Dulu, Eyang saya berpesan, "percuma kamu baca kalau kamu tidak menulis. Hanya menikmati buah pikiran orang lain, padahal kamu sendiri pasti punya itu,"

Terang saja saya yang waktu itu masih SD bengong. Tidak ngerti. Ya namanya juga anak-anak. Mungkin karena melihat muka saya yang cuma bisa bengong, Eyang saya melanjutkan, "tapi ya baguslah, daripada enggak nulis dan mbaca sama sekali," katanya.

***

Ngomong-ngomong soal baca, kini saya bukan baca buku saja. Saya juga baca dan ikuti media sosial. Baca di media sosial itu gampang. Karena tiap media sosial punya tulisan yang beda-beda. Padahal, orangnya mungkin ya itu-itu juga.

Jika sedang ingin belajar sok tahu, saya baca Twitter. Di sana banyak yang sok tahu, termasuk saya. Ya ndak apa-apa lah. Yang nulis mungkin memang banyak tahu, yang baca mungkin senang di-sok-tahu-i.

Kalau sedang ingin membaca kebahagiaan orang, saya biasanya buka Instagram. Di sana banyak yang saling pamer kebahagiaan. Termasuk saya. Makan di tempat mewah itu, pergi ke tempat indah sana, beli barang meriah ini. Plus, bukan cuma tulisan, tapi juga ada gambarnya.

Path juga punya fungsi yang hampir serupa. Hanya saja kadang-kadang ditambah curhatan pemilik akun; terutama yang jomblo.

Nah, bagi kalian semua yang butuh diarahkan ke jalan yang lurus, silakan membuka Facebook. Di sana, banyak yang menulis ceramah, dan berdakwah. Mereka berbeda dengan ustad-ustad  tenar yang ada. Mereka tidak mengharapkan pamrih. Tidak minta buku "Yang Penting Nikah Walau Masih Miskin" dibeli. Like  yang banyak cukup bagi mereka; dan kadang pujian di kolom komen.

Baca saja cukup, yang penting ceramahnya jangan disanggah, nanti dicap kafir.

***

Ya begitulah keseharian saya sekarang. Baca-baca media sosial. Kadang bingungin, kadang seruin. Yah, tergantung suasana hati dan kondisi saldo ATM lah.

Semoga tulisan ini bisa membantu pembaca untuk dapat memilih media sosial sebagai bahan bacaan yang tepat. Salam.

NB: Dicap kafir ketika menyanggah ceramah di Facebook itu lumayan spesial. Karena biasanya yang menyanggah ceramah di Facebook langsung dicap fanboy Jokowi.
.
.
.
Bro, move on, bro..