Thursday, September 25, 2014

Sebuah Cerpen: Inersia

"Kamu serius?" Tanya dirinya sambil tersenyum kepadaku sesaat setelah aku memberikan jawaban atas permintaannya.

"Serius," jawabku meyakinkannya. Walau sebenarnya masih ada sedikit ragu, tapi bayangan untuk aku menjadi kekasihnya mendominasi diriku. Hingga jawaban itu lah yang keluar dari mulutku.

Aku menerima cintanya.

***

Aku sedang berada di sebuah restoran. Suasananya romantis. Indah bagi mereka yang datang kemari bersama pasangan. Dan tentu saja ini akan menjadi indah ketika nanti kekasihku datang. Untuk merayakan hari jadi hubungan yang telah ada sejak ia menerima cintaku dua tahun lalu.

"Sorry, udah lama nunggu ya?" Tanya dirinya ketika datang.

Aku segera berdiri dan menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat dan ciuman di pipinya. Kebiasaan yang sulit dihilangkan jika kita bertemu. Dahulu, di awal pacaran, hal itu menjadi sesuatu yang aku nanti setiap harinya.

Mencium dan memeluk seseorang yang kalian cintai, siapa yang ingin melewatkannya? Lagi pula, aku melakukannya untuk menunjukkan rasa sayangku padanya. Setidaknya dahulu. Tapi belakangan, hal itu hanya menjadi sebuah rutinitas.

"Enggak kok, baru sepuluh menit. Macet ya?"

"Iya, macet. Maaf ya jadi buat kamu nunggu,"

"Kamu sih enggak mau dijemput. Kalau dijemput kan lebih enak. Sampai bareng-bareng,"

"Kalau kamu jemput aku ke tempat kerja, kamu muter-muter nanti. Kasihan kamunya," ia menjawabnya dengan tersenyum. Senyumnya tulus. Ia seakan tidak tega jika aku melakukan hal yang tidak mengenakkan diriku hanya untuk dirinya.

Aku sedikit merasa tersinggung, bukankah itu memang menjadi resiko diriku sendiri harus berkorban untuk kekasihnya? Tapi terus terang, aku senang juga.

Aku membalas senyumnya. "Ya sudah, ayo sekarang pesan makannya,"

Ia kemudian memanggil pelayan.

Ada hal yang janggal dalam hubungan ini, aku tidak tahu apa.

***

Aku bergegas turun dari taksi dan masuk ke restoran all-you-can-eat bertema jepang. Aku terlambat 15 menit. Padahal ini perayaan hari jadiku yang kelima dengan kekasihku.

Walau sebenarnya aku dan dirinya sudah jarang bertemu muka, tapi komunikasi dengannya tidak pernah putus. Dalam sebulan, mungkin kita hanya bertemu dua kali di akhir minggu. Itu pun jika aku atau dia tidak ada lembur di hari libur tersebut.

Jadi, bisa dibayangkan, aku terlambat, dan aku menyesalinya sangat.

"Sayang, maaf aku terlambat," ketika aku disambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman di pipi. Seperti biasa. Ciuman dan pelukan yang dahulu, aku senang sekali menerimanya.

"Enggak apa-apa kok. Yang penting kamu sampai," jawabnya dengan tersenyum. Senyumnya yang selalu aku rindukan. Yang mampu menghilangkan keraguanku dulu, ketika ia memberikan cintanya padaku. "Yuk makan. Laper nih,"

Aku masih merasa bersalah. Sejak dulu, jika aku janji bertemu dengannya, aku selalu saja datang terlambat. Entah mengapa. Jika pun aku telah bersiap agar tidak terlambat, tetap saja, akan ada sesuatu di jalan yang akan membuatku terlambat.

Entahlah. Entah ini aku yang masih ragu untuk menjalani sisa hidup dengannya. Atau memang semesta tidak mengharapkan aku bersamanya.

"Yuk!" aku menanggapi semangat.

Ada sesuatu hal yang janggal dalam hubungan ini, yang aku tidak tahu apa.

***

Dikelilingi banyak orang teman, tetap saja hatiku tidak karuan. Tentu saja, Aku datang ke sebuah reuni di mana di sana akan datang juga mantan kekasihku. Kekasihku selama lima tahun ke belakang. Yang baru saja pergi memutuskanku tepat dua bulan setelah kita merayakan hari jadi yang kelima.

Aku sendiri tidak terlalu heran ia memutuskan diriku tanpa alasan yang jelas. Kalau mau jujur, aku sebenarnya lega. Ada yang janggal dari hubungan itu, dan mungkin berpisah memang jalan yang terbaik.

Tapi tetap saja, bertemu mantan di tempat yang semua orangnya tahu bahwa kita pernah menjadi sepasang kekasih, pasti tidak mengenakkan. Situasi itu akan melahirkan banyak pertanyaan menyebalkan, bahkan juga menelurkan tebakkan usil dari mereka tentang siapa yang lebih 'menang' setelah kami berpisah.

Aku berjalan memasuki rumah seorang teman kuliahku dulu, tempat reuni itu diadakan. "Tepat waktu," pikirku setelah melihat jam tangan. Masih akan ada waktu untuk berbincang dengan beberapa teman, bertukan cerita lama, sebelum mantanku itu datang. Ia selalu datang terlambat.

Ketika aku memasuki ruang tengah, sudah ada belasan temanku yang lain. Aku menyapa mereka semua lalu berjalan ke dapur untuk mengambil sebotol bir.

Langkahku terhenti di muka dapur. Ada seorang perempuan yang melihatku di sana. Cantik. Ia tersenyum. Senyumnya mengingatkanku ke suatu malam lima tahun lalu. Senyum yang ia tunjukkan ketika menerima cintaku.

"Hi," sapanya.

"Hei," balasku.

Ia tidak terlambat.

***

"You wanna talk about it?" Ia bertanya tiba-tiba.

Aku bingung menjawabnya. Setelah berbasa-basi dengannya di dapur ini, kita akhirnya bicara dan menertawakan kelakuan teman-teman kita ketika kuliah dulu. Tidak ada teman yang berjalan ke dapur ini, mereka seakan tahu kita tidak ingin diganggu.

Sebenarnya, aku tahu bahwa cepat atau lambat, masalah hubungan yang hanya bertahan lima tahun ini akan muncul juga. Aku hanya kaget, pertanyaan itu muncul secepat ini. Seketika setelah kita menertawakan kekonyolan di masa kuliah dahulu. Mendinginkan derajat ruangan ini secara tiba-tiba.

"Kamu?" Tanyaku balik. Mengelak. Karena aku sendiri tidak yakin ingin menjawab apa.

Ia mengangkat bahunya. Tampaknya ia juga tidak yakin atas pertanyaannya sendiri.

"Kalau ditanya alasan saya ingin pisah sama kamu, saya ragu bisa kasih kamu alasan yang jujur," seketika ia menatapku. Tapi tidak mengatakan apapun. "Karena saya juga enggak yakin kenapa,"
Ia mengangkat botol birnya. Meneguk isinya. Lalu diam sesaat. Sebelum ia melihatku lagi dan tersenyum.

"Enggak apa. Saya juga enggak akan bilang bahwa saya tahu alasannya," kali ini ia melihat botol yang dipegangnya. Ia mengelupasi stempel di botol itu. "Setidaknya saya bisa mengerti,"

"Tetap aja saya masih merasa bersalah," air mata mulai menggengi mataku. "Kita enggak pernah berantem, kita selalu senang, kita bahagia, kita enggak pernah putus komunikasi, kita selalu saling percaya. Enggak ada yang salah sama hubungan kita. Tapi saya enggak tahu kenapa saya merasa saya perlu ninggalin kamu,"

Ia berjalan ke arah kulkas, mengambil sebuah botol lain, lalu mengambil tisu di atas kulkas. Ia kemudian menyodorkan tisu itu padaku. "Kamu tahu inersia?"

Aku menggeleng. Tidak tahu.

"Inersia itu kita. Sejak kira-kira tiga tahun ke belakang," aku mengusap mataku. Tidak ingin terlihat menangis jika ada yang masuk ke tempat ini. "Pada awalnya, mungkin kita bahagia dengan hubungan kita. Tahun pertama, siapa yang tidak bahagia dengan status barunya. Honeymoon phase. Kamu ngerti sendiri, kan?"
 
Aku mengangguk.

Ia melanjutkan, "Tapi setelah menginjak tahun kedua, semuanya jadi biasa saja. Ciuman saya ketika itu, tidak seperti ciuman saya di tahun pertama. Pelukan kamu di tahun itu, tidak seperti pelukan kamu setelah kita jadian. Pertanyaan 'sudah makan belum?' di tahun awal kita pacaran, berbeda dengan pertanyaan serupa di tahun setelahnya. Semua hal di awal hubungan kita yang punya nilai tersendiri, hilang maknanya seiring waktu,"

"Kamu bosan? Ehh.. Maksudku, aku bosan?" Mencoba mencari pengertian.

"Enggak. Kamu enggak bosan, saya juga enggak bosan," jelasnya setelah kembali meneguk minuman dari botol itu.

"Lalu apa?" tanyaku mencari penjelasan.

"Ya itu tadi. Inersia."

Aku hanya menatapnya tidak mengerti.

***

"Kita punya kecenderungan untuk menolak perubahan akan hubungan kita," aku menatapnya. Matanya kini sudah tidak berlinang air mata. Setidaknya tidak akan telalu terlihat bahwa ia baru saja menangis jika ada teman yang tiba-tiba masuk. "Kita tahu, bahwa kita sama-sama ragu akan hubungan yang dijalani. Tapi kita enggak mau berbuat sesuatu akan hal itu. Kita tidak mau mengubahnya. Entah karena kita yang terlalu nyaman dengan keadaan, atau memang karena keadaan yang terlalu sempurna, hingga kita bosan dan malas melakukan apapun."

"Tapi, kalau memang keadaannya sempurna, kenapa saya malah pergi ninggalin kamu?"

"Sempurna itu enggak ada. Sempurna itu hanya lahir dari ketidaksempurnaan," kali ini ia yang balas menatapku. Heran. "Buktinya, kamu pergi ninggalin hubungan kita. Kamu sendiri yang pergi mencari ketidaksempurnaan. Padahal jika kamu mencari sempurna, semuanya ada di situ,"

Ia menangis lagi. Aku kembali menyodorkan tisu padanya.

"Maka dari itu, saya lega ketika kamu lebih memilih untuk pergi. Karena cepat atau lambat, jika kamu bertahan, saya yang akan pergi ninggalin kamu," Ia mencoba menahan isaknya agar tidak terlalu keras. "Kamu dan saya sama. Cari kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Jadi, suatu saat saya juga pasti ninggalin kamu, dan kamu akan ninggalin saya. Hubungan kita terlalu sempurna,"

"Maafin saya,"

"Enggak, maafin saya,"

"Saya harusnya bertahan di kesempurnaan yang sudah ada," aku melihatnya, menahan keinginan untuk memeluknya. Tidak tega melihatnya menangis. "Saya harusnya bisa ngeyakinin kamu bahwa hubungan kita itu indah dan kesempurnaan yang kita punya itu cukup,"

"Enggak apa. Maafin saya enggak bisa ngasih kamu hubungan yang indah. Malah membosankan," kali ini aku mengakhiri kalimat dengan tersenyum. Berharap senyum ini dapat membantunya.

Ia ikut tersenyum sebelum berkata, "lucu ya, kenapa ada orang menghindari kesempurnaan kayak saya?"

"Kamu mencari keindahan," jawabku serius.

"Ahh.. Harusnya sesuatu yang indah itu adalah sesuatu yang sempurna, kan?" kali ini ia bertanya sambil menatap dalam-dalam ke mataku.

"Enggak juga, even the most beautiful fireworks create the most disturbing sound, dear. Jadi, apa yang kamu lakukan, wajar kok. Kamu mencari keindahan. Dan kamu mencarinya di luar kesempurnaan,"

Ia kini tersenyum sepenuhnya. Menunjukkan senyum yang diperlihatkannya ketika menerima cintaku, lima tahun yang lalu.

"Terima kasih atas segalanya,"

"Terima kasih juga.. atas kesempurnaannya," aku meneguk isi botol hingga habis.

***

Jakarta, Rabu 24 September 2014
16:17 WIB

NB: Inersia: sebuah istilah dalam ilmu fisika di mana suatu benda fisik memiliki kecenderungan untuk menolak perubahan akan geraknya. Inersia berasal dari bahasa Latin "iners" yang berarti lembam, atau malas.