Monday, June 23, 2014

Islam, Pilpres, dan Pendukungnya

Ada sekelompok orang duduk di pinggir jalan. Di depannya ada dua mobil mogok.

Salah satu mobil menjanjikan sekelompok orang itu, "kalau kamu bisa mendorong hingga mobil ini jalan, saya akan bawa kamu ke tempat terindah seindah surga, di sana akan ada banyak kebaikan. Karena saya yang terbaik, tersholeh. Jangan kamu dorong mobil sebelah, karena dia akan membawa kamu ke tempat yang buruk dan penuh dosa,"

Mobil satunya juga tidak mau kalah. Ia juga menjanjikan hal serupa, "bahkan lebih baik," ujarnya.
Percaya, orang yg duduk di pinggir jalan pun mengajak lebih banyak orang lainnya untuk mendorong dengan janji yang sama, "ayo kita dorong mobil ini. Kalau kita bisa mendorong hingga mobil ini jalan, kita akan dibawa ke tempat terindah seindah surga, di sana akan ada banyak kebaikan. Karena dia yang terbaik. Jangan kamu dorong mobil sebelah, karena dia akan membawa kamu ke tempat yang buruk dan penuh dosa,"

Mereka memilih. Beberapa mendorong mobil yang satu. Beberapa mendorong mobil lainnya. Para pendorong saling memaki pendorong lainnya. Pendorong mobil satu menilai pendorong mobil lainnya adalah orang bodoh, pendukung kesesatan, dll. Pendorong mobil lainnya pun ikut balas melontarkan caci yang sama kepada para pendorong mobil satunya.

Dengan semangat, mereka kemudian mendorong. Mobil tersebut lalu berhasil menyala. Tak ayal semua gembira. Tapi kemudian mereka hanya bisa menganga. Mobil tersebut langsung pergi, kabur meninggalkan mereka. Melupakan mereka. Tidak memenuhi janji yang sudah diucapkannya tadi.

---

Orang-orang itu adalah umat Islam di Indonesia. Dua mobil itu adalah capres.

---


Politik, dalam hal ini capres, kadang mengandalkan banyak cara; salah satunya adalah lewat menjual agama, citra kesholehan, dan janji-janji surgawinya agar para pengikutnya mau mendukung dirinya.

Sudah berapa kali pilpres di Indonesia? dan sudah berapa kali pula kalian mengkafirkan atau menilai rendah kadar keislaman seseorang hanya karena berbeda pilihan politik? Jika jawaban dari kedua pertanyaan itu sama, mungkin memang kalian adalah sekelompok orang bodoh yang tertipu dalam cerita di atas.

---

Saya lebih memilih untuk menentukan baik buruknya seseorang, dalam hal ini capres, lewat rekam jejak, program, dan prestasinya. Bukan dari jualan agamanya.

Dan saya lebih menghargai mereka yang memilih dan menentukan baik buruknya seseorang, capres, lewat rekam jejak, program, dan prestasinya. Bukan dari jualan agamanya. Walaupun mereka memiliki pilihan yg berbeda.

Silakan jika memang kalian tetap ingin memilih dan menentukan pencitraan agamanya. Mungkin memang kalian senang dibodohi dan dibuai janji surgawi palsu
PS: itu bukan cerita buatan saya sendiri, saya pernah dengar kisah itu di radio waktu kecil.