Wednesday, April 9, 2014

Gelagat Jokowi


 (Joko Widodo ketika meninjau pembangunan Waduk Rawa Kendal)

"Nanti saja ya.." ujar Joko Widodo ketika awak media menghalangi jalannya untuk door stop* di Balai Kota Jakarta 8 April 2014 lalu. Bagi para rekan wartawan yang biasa meliput kegiatan Jokowi di Balai Kota, hal ini merupakan sesuatu yang tidak biasa. Pasalnya, mantan Wali Kota Solo ini dikenal selalu ramah menjawab pertanyaan wartawan sebelum ia melakukan kegiatan blusukan.

Bukan hanya tidak sikap tersebut yang tidak biasa, pakaian yang dikenakannya pun terlihat diluar pakaian kebesarannya sehari-hari: kemeja putih plus celana kain hitam. Ketika keluar dari kantornya, ia mengenakan baju batik hitam. Terlihat mewah, jika dibandingkan dengan pakaian sehari-harinya.

Setelah memasuki mobil, awak wartawan pun langsung berlari menuju mobil operasionalnya masing-masing untuk mengikuti agenda blusukannya. "Katanya sih mau ke KBN (Kawasan Berikat Nusantara). Mungkin mau ngebahas pabrik Foxconn." celetuk salah satu wartawan media online. Dan benar saja, ternyata rombongan gubernur dan wartawan ini memang menuju kawasan industri tersebut.

Namun ternyata, ia bukan datang untuk membahas pabrik Foxconn, pabrikan smartphone yang berencana buka pabrik di Jakarta. Jokowi datang ke KBN untuk ikut dalam acara peresmian Rumah Sakit Pekerja di KBN. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, dan juga... Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Mati deh. Kagak bisa ngeliput kalau ada SBY kita mah." salah satu wartawan media cetak yang ikut menumpang di mobil operasional kami. Memang, untuk meliput suatu kegiatan yang di hadiri oleh Presiden RI, biasanya hanya wartawan pemilik kartu pers Istana Negara lah yang memiliki akses. Sementara wartawan lain yang tidak punya ID pers karena namanya tidak didaftarkan kantor ke Istana Negara, hanya bisa gigit jari.

Saya, dan camera person tidak memiliki ID pers tersebut, jadi ya kami hanya diperbolehkan menunggu di luar. "Gak apalah. Toh kita memang cuma mau ngejar Jokowi-nya aja." ujar rekan TV lain, yang juga tidak bisa masuk. "Nanti aja abis dari sini kita kejar. Paling doi blusukan."

Benar saja, setelah acara tersebut, Jokowi langsung menuju Rawa Kendal. Sebuah waduk yang sedang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta. Di sanalah, akhirnya para awak media dapat menanyakan hal-hal yang ingin ditanya ketika di Balai Kota. "Ini awalnya wilayah pesawahan," ujar Jokowi yang kali ini telah mengganti kostum batiknya dengan pakaian kebesarannya: kemeja putih dan celana hitam. "Nanti kan ada Waduk Marunda, yang akan dihubungkan dengan Rawa Kendal ini, dengan kali penghubung." tambahnya.

Mengingat ini adalah H-1 Pemilu Legislatif, tentu saja ada rekan media yang bertanya tentang kans PDI-P dalam pemilu tersebut. Lelaki yang menjadi calon presiden partai berlambang banteng tersebut pun dengan santai menjawab, "Dilihat besok. Prediksinya menang tebal."

Keyakinannya tersebut sontak mendapat sorakan dari para wartawan dan juga masyarakat yang ikut menyaksikan kegiatan tanya jawab tersebut. Ia kemudian menghampiri warga sekitar yang antusias menyambutnya, sekadar ingin bersalaman.

(Warga antusias bersalaman dengan Jokowi)

Melihat hal tersebut, saya kagum sekaligus miris. Saya kagum akan sosok Jokowi karena lelaki tersebut tidak perlu repot mencuri rasa cinta masyarakat akan pemimpin. Masyarakat dengan mudahnya, mencintai dan mengagumi dirinya karena ia memiliki gestur politik santun dan sikap berani terjun langsung ke masyarakat.

Saya pun miris melihat masyarakat yang dengan sangat mudahnya mencintai sosok calon pemimpin hanya lewat sikap santun yang tampak, namun seakan lupa bahwa sosok santun tersebut adalah seorang politisi, seseorang yang memiliki ambisi, dan dipenuhi agenda pribadi maupun partai dan golongan.

Masyarakat yang dengan mudahnya mencintai sosok pemimpin santun, pernah patah hati ketika Presiden SBY terpilih lagi sebagai presiden diperiodenya yang ke-2. Sikap santunnya ternyata hanya dinilai masyarakat sebagai pencitraan. Padahal, jika menilik tahun 2004, di mana SBY pertama kali terpilih sebagai presiden, masyarakat mencintainya juga karena gestur santun tersebut, serupa Jokowi.

Lalu, bukankah gejala dan gelagat yang "dibuat" oleh Jokowi ini serupa dengan yang "dibuat" oleh SBY di 2004 dan 2009? Lalu, apakah masyarakat tidak takut untuk kembali kecewa akan yang namanya pencitraan?

Selasa, 08 April 2014

PS: *) Door Stop: Kegiatan yang dilakukan wartawan dengan cara menghalangi jalan masuk/keluar narasumber untuk meminta keterangan terkait suatu hal. Biasanya door stop tidak memerlukan janji wawancara sebelumnya. *yaiyalah

(Door stop bersama Jokowi) 

Monday, April 7, 2014

Ismanto: "Manusia Lupa Akan Sifat Alam"

"Halo, saya Ismanto." sapanya ramah ketika menyambut kami di depan sanggarnya. Senyum terkembang di wajahnya. Tampak bahwa ia memang telah beberapa kali menyambut awak media.
Ketika terdiam, awalnya saya mengira ia orang yang menyeramkan. Badan bulat gempal, ditambah dengan brewoknya yang garang. Tapi ketika ia berbicara dan mengobrol, ia ternyata adalah sosok yang bersahabat.

Kami mendatanginya untuk keperluan liputan. Di rumahnya di Desa Sengi, Kabupaten Magelang, ia memiliki sanggar sebagai tempat kerjanya untuk memahat batu Merapi.
Batu-batu itu dipahatnya bersama para beberapa murid dan anggota sanggar miliknya, dan diubah menjadi bentuk patung-patung yang penuh akan nilai seni.

Sejak gunung Merapi meletus beberapa tahun lalu, ia sibuk memahat batu-batu dari letusan gunung berapi tersebut. "batu ini saya jadikan sebuah karya, karena selain saya memang orang seni rupa, batu ini juga bisa berbahaya jika dibiarkan begitu saja di sungai-sungai," ujarnya.

Memang, batu-batu besar yang keluar ketika Merapi meletus itu ikut hanyut ke sungai-sungai bersama aliran lahar dingin. Dan batu-batu tersebut dapat membuat aliran sungai meluap, sehingga mengakibatkan banjir di desa-desa sekitarnya.

Liputan kami memang ditujukan untuk mengangkat hal yang menarik di Provinsi Yogya. Baik itu kesenian, makanan, maupun sosok inspiratif seperti beliau.

Di setelah melakukan wawancara dengannya, pria yang akrab disapa Pak Is tersebut mengeluhkan situasi saat ini tentang alam dan manusia, sudut pandangnya dalam berkarya. "Kamu tahu kenapa Jakarta selalu banjir terus?" tanyanya sederhana. "Itu akibat dari manusia yang lupa akan sifat-sifat alam. Kalau di Jakarta, ya mereka lupa sifat air yang selalu mencari daerah rendah." ujarnya.

Ia kemudian menyebut bahwa dirinya heran dengan jalan pikiran dari para pemimpin di Jakarta, yang seakan melupakan sifat air yang sederhana sehingga mereka mendesain tata kota yang berantakan.
"Itulah masalah kita saat ini, kita itu sekarang seakan tidak mau berinteraksi dengan alam. Satu persatu sifat alam dilupakan, jadi jangan heran kalau alam sekarang juga ikut melupakan sifat kita, sehingga muncul bencana-bencana yang seharusnya bisa dihindari." katanya dengan raut muka kesal sekaligus miris.

"Ya sudah, kita ke rumah yuk, kita ngobrol sambil ngopi." ajaknya.

Hmmm.. Mungkin apa yang diucapkan Pak Is ada benarnya.


Senin, 31 Maret 2014.

(ki-ka: Denny (camera person), Pak Ismanto, Pak Rahmat (rekan Pak Is), Saya)