Wednesday, February 26, 2014

Ia yang Mencintaimu? Atau Ia yang Kamu Cintai?


Salah satu novel remaja, dengan kisah percintaan, favorit saya adalah "Gege Mengejar Cinta" karya Adhitya Mulya. Kenapa? Simple. Karena novel tersebut sungguh sederhana, namun disajikan dan diceritakan dengan sangat baik.

Walau sederhana, sejatinya, tema besar dari buku tersebut sangatlah mendalam: "mana yang akan kamu pilih: Ia yang mencintaimu, atau ia yang kamu cintai?". Yeaaah.. Not an easy question right?

Dan itulah yang belakangan saya pikirkan. Beruntunglah bagi mereka yang mencintai seseorang yang mencintainya. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak? Yang mana yang akan mereka kejar? Ia yang mencintaimu, atau ia yang kamu cintai?

Mungkin jawabannya akan berbeda bagi setiap orang. Namun, jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, tentunya saya akan menjawab ..... *koneksi terputus*


PS: Jadi, mana yang akan kamu kejar? Ia yang mencintaimu? Atau ia yang kamu cintai?

Thursday, February 13, 2014

Mimpi - Sebuah Cerpen

Dikelilingi dingin, diselimuti pekat. Aku berbaring di dalam kamarku, mencoba untuk memejamkan mata untuk beristirahat. Tapi tampaknya ada sesuatu dalam diriku yang melarangku untuk terlelap.

Takut. Rasa itu menyergap diriku belakangan ini. Ia selalu datang saat aku mencoba untuk mengakhiri hari dengan tidur dan mendatangi alam mimpi. Takut. Ia mencegahku mendatangi alam terindah itu.

Alam mimpiku indah. Setidaknya, selalu indah dalam beberapa malam ke belakang. Karena ada dirinya yang selalu hadir ke dalam mimpiku. Ia yang membuatnya indah. Tanpanya, mimpi-mimpiku hanya akan seperti mimpi-mimpi yang lain.

Nindi namanya. Saat aku melihatnya untuk pertama kali, aku tahu bahwa dengan dirinya lah aku ingin menghabiskan sisa hidupku. Dengannya. Wanita paling sempurna yang ada dalam hidupku.

Bagi orang lain, mungkin itu terdengar berlebihan. Tapi, setiap orang pasti ingin memiliki seseorang untuk berbagi waktu menghabiskan sisa hidup bersama. Bagiku, ia adalah orangnya.

Minggu lalu aku memberanikan diri mengajaknya makan siang. "Saya enggak bisa. Udah ada janji nih sama teman-teman," ujarnya saat itu.

Kecewa, rasa yang kurasakan saat itu. Aku berbalik pergi saat ia selesai mengatakan hal itu. Aku berbalik dengan salah tingkah, karena aku berharap terlalu tinggi.

"Gimana kalau minggu depan? Saya bakal senang banget kalau kamu mau makan siang bareng saya minggu depan," itu ucapnya saat aku sudah berbalik dan melangkahkan kaki. Aku menyetujuinya tanpa berpikir lagi.

Sejak itulah ia selalu datang ke mimpiku. Tiada satu malam pun ia tidak hadir dalam tidurku. Besok aku akan menghabiskan waktu dengannya. Berdua. Seperti dalam mimpi-mimpiku.

"Lalu kenapa kau tidak cepat tidur agar esok cepat datang, Adi?" tanyaku dalam hati kepada diri sendiri. Aku tak yakin aku memiliki jawabannya.

Saat ini aku meyakini jika aku takut. Aku takut bahwa pertemuan dengannya esok hari tidak berjalan sesuai rencana. Aku takut ia tidak memiliki rasa yang sama seperti rasa yang aku miliki terhadapnya. Aku takut untuk tidur. Aku takut ia tidak datang ke mimpiku malam ini.

Kalian pernah takut tidur karena takut sang pujaan hati tidak hadir dalam mimpimu? Mungkin kalian sedang jatuh cinta.

Takutku, bukan karena gelap. Diselimuti gelap bukanlah hal yang menakutkan; Ia memberikan kenyamanan. Dikelilingi harapan, itu yang menakutkan; Ia tidak memberi kepastian.