Thursday, September 25, 2014

Sebuah Cerpen: Inersia

"Kamu serius?" Tanya dirinya sambil tersenyum kepadaku sesaat setelah aku memberikan jawaban atas permintaannya.

"Serius," jawabku meyakinkannya. Walau sebenarnya masih ada sedikit ragu, tapi bayangan untuk aku menjadi kekasihnya mendominasi diriku. Hingga jawaban itu lah yang keluar dari mulutku.

Aku menerima cintanya.

***

Aku sedang berada di sebuah restoran. Suasananya romantis. Indah bagi mereka yang datang kemari bersama pasangan. Dan tentu saja ini akan menjadi indah ketika nanti kekasihku datang. Untuk merayakan hari jadi hubungan yang telah ada sejak ia menerima cintaku dua tahun lalu.

"Sorry, udah lama nunggu ya?" Tanya dirinya ketika datang.

Aku segera berdiri dan menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat dan ciuman di pipinya. Kebiasaan yang sulit dihilangkan jika kita bertemu. Dahulu, di awal pacaran, hal itu menjadi sesuatu yang aku nanti setiap harinya.

Mencium dan memeluk seseorang yang kalian cintai, siapa yang ingin melewatkannya? Lagi pula, aku melakukannya untuk menunjukkan rasa sayangku padanya. Setidaknya dahulu. Tapi belakangan, hal itu hanya menjadi sebuah rutinitas.

"Enggak kok, baru sepuluh menit. Macet ya?"

"Iya, macet. Maaf ya jadi buat kamu nunggu,"

"Kamu sih enggak mau dijemput. Kalau dijemput kan lebih enak. Sampai bareng-bareng,"

"Kalau kamu jemput aku ke tempat kerja, kamu muter-muter nanti. Kasihan kamunya," ia menjawabnya dengan tersenyum. Senyumnya tulus. Ia seakan tidak tega jika aku melakukan hal yang tidak mengenakkan diriku hanya untuk dirinya.

Aku sedikit merasa tersinggung, bukankah itu memang menjadi resiko diriku sendiri harus berkorban untuk kekasihnya? Tapi terus terang, aku senang juga.

Aku membalas senyumnya. "Ya sudah, ayo sekarang pesan makannya,"

Ia kemudian memanggil pelayan.

Ada hal yang janggal dalam hubungan ini, aku tidak tahu apa.

***

Aku bergegas turun dari taksi dan masuk ke restoran all-you-can-eat bertema jepang. Aku terlambat 15 menit. Padahal ini perayaan hari jadiku yang kelima dengan kekasihku.

Walau sebenarnya aku dan dirinya sudah jarang bertemu muka, tapi komunikasi dengannya tidak pernah putus. Dalam sebulan, mungkin kita hanya bertemu dua kali di akhir minggu. Itu pun jika aku atau dia tidak ada lembur di hari libur tersebut.

Jadi, bisa dibayangkan, aku terlambat, dan aku menyesalinya sangat.

"Sayang, maaf aku terlambat," ketika aku disambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman di pipi. Seperti biasa. Ciuman dan pelukan yang dahulu, aku senang sekali menerimanya.

"Enggak apa-apa kok. Yang penting kamu sampai," jawabnya dengan tersenyum. Senyumnya yang selalu aku rindukan. Yang mampu menghilangkan keraguanku dulu, ketika ia memberikan cintanya padaku. "Yuk makan. Laper nih,"

Aku masih merasa bersalah. Sejak dulu, jika aku janji bertemu dengannya, aku selalu saja datang terlambat. Entah mengapa. Jika pun aku telah bersiap agar tidak terlambat, tetap saja, akan ada sesuatu di jalan yang akan membuatku terlambat.

Entahlah. Entah ini aku yang masih ragu untuk menjalani sisa hidup dengannya. Atau memang semesta tidak mengharapkan aku bersamanya.

"Yuk!" aku menanggapi semangat.

Ada sesuatu hal yang janggal dalam hubungan ini, yang aku tidak tahu apa.

***

Dikelilingi banyak orang teman, tetap saja hatiku tidak karuan. Tentu saja, Aku datang ke sebuah reuni di mana di sana akan datang juga mantan kekasihku. Kekasihku selama lima tahun ke belakang. Yang baru saja pergi memutuskanku tepat dua bulan setelah kita merayakan hari jadi yang kelima.

Aku sendiri tidak terlalu heran ia memutuskan diriku tanpa alasan yang jelas. Kalau mau jujur, aku sebenarnya lega. Ada yang janggal dari hubungan itu, dan mungkin berpisah memang jalan yang terbaik.

Tapi tetap saja, bertemu mantan di tempat yang semua orangnya tahu bahwa kita pernah menjadi sepasang kekasih, pasti tidak mengenakkan. Situasi itu akan melahirkan banyak pertanyaan menyebalkan, bahkan juga menelurkan tebakkan usil dari mereka tentang siapa yang lebih 'menang' setelah kami berpisah.

Aku berjalan memasuki rumah seorang teman kuliahku dulu, tempat reuni itu diadakan. "Tepat waktu," pikirku setelah melihat jam tangan. Masih akan ada waktu untuk berbincang dengan beberapa teman, bertukan cerita lama, sebelum mantanku itu datang. Ia selalu datang terlambat.

Ketika aku memasuki ruang tengah, sudah ada belasan temanku yang lain. Aku menyapa mereka semua lalu berjalan ke dapur untuk mengambil sebotol bir.

Langkahku terhenti di muka dapur. Ada seorang perempuan yang melihatku di sana. Cantik. Ia tersenyum. Senyumnya mengingatkanku ke suatu malam lima tahun lalu. Senyum yang ia tunjukkan ketika menerima cintaku.

"Hi," sapanya.

"Hei," balasku.

Ia tidak terlambat.

***

"You wanna talk about it?" Ia bertanya tiba-tiba.

Aku bingung menjawabnya. Setelah berbasa-basi dengannya di dapur ini, kita akhirnya bicara dan menertawakan kelakuan teman-teman kita ketika kuliah dulu. Tidak ada teman yang berjalan ke dapur ini, mereka seakan tahu kita tidak ingin diganggu.

Sebenarnya, aku tahu bahwa cepat atau lambat, masalah hubungan yang hanya bertahan lima tahun ini akan muncul juga. Aku hanya kaget, pertanyaan itu muncul secepat ini. Seketika setelah kita menertawakan kekonyolan di masa kuliah dahulu. Mendinginkan derajat ruangan ini secara tiba-tiba.

"Kamu?" Tanyaku balik. Mengelak. Karena aku sendiri tidak yakin ingin menjawab apa.

Ia mengangkat bahunya. Tampaknya ia juga tidak yakin atas pertanyaannya sendiri.

"Kalau ditanya alasan saya ingin pisah sama kamu, saya ragu bisa kasih kamu alasan yang jujur," seketika ia menatapku. Tapi tidak mengatakan apapun. "Karena saya juga enggak yakin kenapa,"
Ia mengangkat botol birnya. Meneguk isinya. Lalu diam sesaat. Sebelum ia melihatku lagi dan tersenyum.

"Enggak apa. Saya juga enggak akan bilang bahwa saya tahu alasannya," kali ini ia melihat botol yang dipegangnya. Ia mengelupasi stempel di botol itu. "Setidaknya saya bisa mengerti,"

"Tetap aja saya masih merasa bersalah," air mata mulai menggengi mataku. "Kita enggak pernah berantem, kita selalu senang, kita bahagia, kita enggak pernah putus komunikasi, kita selalu saling percaya. Enggak ada yang salah sama hubungan kita. Tapi saya enggak tahu kenapa saya merasa saya perlu ninggalin kamu,"

Ia berjalan ke arah kulkas, mengambil sebuah botol lain, lalu mengambil tisu di atas kulkas. Ia kemudian menyodorkan tisu itu padaku. "Kamu tahu inersia?"

Aku menggeleng. Tidak tahu.

"Inersia itu kita. Sejak kira-kira tiga tahun ke belakang," aku mengusap mataku. Tidak ingin terlihat menangis jika ada yang masuk ke tempat ini. "Pada awalnya, mungkin kita bahagia dengan hubungan kita. Tahun pertama, siapa yang tidak bahagia dengan status barunya. Honeymoon phase. Kamu ngerti sendiri, kan?"
 
Aku mengangguk.

Ia melanjutkan, "Tapi setelah menginjak tahun kedua, semuanya jadi biasa saja. Ciuman saya ketika itu, tidak seperti ciuman saya di tahun pertama. Pelukan kamu di tahun itu, tidak seperti pelukan kamu setelah kita jadian. Pertanyaan 'sudah makan belum?' di tahun awal kita pacaran, berbeda dengan pertanyaan serupa di tahun setelahnya. Semua hal di awal hubungan kita yang punya nilai tersendiri, hilang maknanya seiring waktu,"

"Kamu bosan? Ehh.. Maksudku, aku bosan?" Mencoba mencari pengertian.

"Enggak. Kamu enggak bosan, saya juga enggak bosan," jelasnya setelah kembali meneguk minuman dari botol itu.

"Lalu apa?" tanyaku mencari penjelasan.

"Ya itu tadi. Inersia."

Aku hanya menatapnya tidak mengerti.

***

"Kita punya kecenderungan untuk menolak perubahan akan hubungan kita," aku menatapnya. Matanya kini sudah tidak berlinang air mata. Setidaknya tidak akan telalu terlihat bahwa ia baru saja menangis jika ada teman yang tiba-tiba masuk. "Kita tahu, bahwa kita sama-sama ragu akan hubungan yang dijalani. Tapi kita enggak mau berbuat sesuatu akan hal itu. Kita tidak mau mengubahnya. Entah karena kita yang terlalu nyaman dengan keadaan, atau memang karena keadaan yang terlalu sempurna, hingga kita bosan dan malas melakukan apapun."

"Tapi, kalau memang keadaannya sempurna, kenapa saya malah pergi ninggalin kamu?"

"Sempurna itu enggak ada. Sempurna itu hanya lahir dari ketidaksempurnaan," kali ini ia yang balas menatapku. Heran. "Buktinya, kamu pergi ninggalin hubungan kita. Kamu sendiri yang pergi mencari ketidaksempurnaan. Padahal jika kamu mencari sempurna, semuanya ada di situ,"

Ia menangis lagi. Aku kembali menyodorkan tisu padanya.

"Maka dari itu, saya lega ketika kamu lebih memilih untuk pergi. Karena cepat atau lambat, jika kamu bertahan, saya yang akan pergi ninggalin kamu," Ia mencoba menahan isaknya agar tidak terlalu keras. "Kamu dan saya sama. Cari kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Jadi, suatu saat saya juga pasti ninggalin kamu, dan kamu akan ninggalin saya. Hubungan kita terlalu sempurna,"

"Maafin saya,"

"Enggak, maafin saya,"

"Saya harusnya bertahan di kesempurnaan yang sudah ada," aku melihatnya, menahan keinginan untuk memeluknya. Tidak tega melihatnya menangis. "Saya harusnya bisa ngeyakinin kamu bahwa hubungan kita itu indah dan kesempurnaan yang kita punya itu cukup,"

"Enggak apa. Maafin saya enggak bisa ngasih kamu hubungan yang indah. Malah membosankan," kali ini aku mengakhiri kalimat dengan tersenyum. Berharap senyum ini dapat membantunya.

Ia ikut tersenyum sebelum berkata, "lucu ya, kenapa ada orang menghindari kesempurnaan kayak saya?"

"Kamu mencari keindahan," jawabku serius.

"Ahh.. Harusnya sesuatu yang indah itu adalah sesuatu yang sempurna, kan?" kali ini ia bertanya sambil menatap dalam-dalam ke mataku.

"Enggak juga, even the most beautiful fireworks create the most disturbing sound, dear. Jadi, apa yang kamu lakukan, wajar kok. Kamu mencari keindahan. Dan kamu mencarinya di luar kesempurnaan,"

Ia kini tersenyum sepenuhnya. Menunjukkan senyum yang diperlihatkannya ketika menerima cintaku, lima tahun yang lalu.

"Terima kasih atas segalanya,"

"Terima kasih juga.. atas kesempurnaannya," aku meneguk isi botol hingga habis.

***

Jakarta, Rabu 24 September 2014
16:17 WIB

NB: Inersia: sebuah istilah dalam ilmu fisika di mana suatu benda fisik memiliki kecenderungan untuk menolak perubahan akan geraknya. Inersia berasal dari bahasa Latin "iners" yang berarti lembam, atau malas.

Monday, June 23, 2014

Islam, Pilpres, dan Pendukungnya

Ada sekelompok orang duduk di pinggir jalan. Di depannya ada dua mobil mogok.

Salah satu mobil menjanjikan sekelompok orang itu, "kalau kamu bisa mendorong hingga mobil ini jalan, saya akan bawa kamu ke tempat terindah seindah surga, di sana akan ada banyak kebaikan. Karena saya yang terbaik, tersholeh. Jangan kamu dorong mobil sebelah, karena dia akan membawa kamu ke tempat yang buruk dan penuh dosa,"

Mobil satunya juga tidak mau kalah. Ia juga menjanjikan hal serupa, "bahkan lebih baik," ujarnya.
Percaya, orang yg duduk di pinggir jalan pun mengajak lebih banyak orang lainnya untuk mendorong dengan janji yang sama, "ayo kita dorong mobil ini. Kalau kita bisa mendorong hingga mobil ini jalan, kita akan dibawa ke tempat terindah seindah surga, di sana akan ada banyak kebaikan. Karena dia yang terbaik. Jangan kamu dorong mobil sebelah, karena dia akan membawa kamu ke tempat yang buruk dan penuh dosa,"

Mereka memilih. Beberapa mendorong mobil yang satu. Beberapa mendorong mobil lainnya. Para pendorong saling memaki pendorong lainnya. Pendorong mobil satu menilai pendorong mobil lainnya adalah orang bodoh, pendukung kesesatan, dll. Pendorong mobil lainnya pun ikut balas melontarkan caci yang sama kepada para pendorong mobil satunya.

Dengan semangat, mereka kemudian mendorong. Mobil tersebut lalu berhasil menyala. Tak ayal semua gembira. Tapi kemudian mereka hanya bisa menganga. Mobil tersebut langsung pergi, kabur meninggalkan mereka. Melupakan mereka. Tidak memenuhi janji yang sudah diucapkannya tadi.

---

Orang-orang itu adalah umat Islam di Indonesia. Dua mobil itu adalah capres.

---


Politik, dalam hal ini capres, kadang mengandalkan banyak cara; salah satunya adalah lewat menjual agama, citra kesholehan, dan janji-janji surgawinya agar para pengikutnya mau mendukung dirinya.

Sudah berapa kali pilpres di Indonesia? dan sudah berapa kali pula kalian mengkafirkan atau menilai rendah kadar keislaman seseorang hanya karena berbeda pilihan politik? Jika jawaban dari kedua pertanyaan itu sama, mungkin memang kalian adalah sekelompok orang bodoh yang tertipu dalam cerita di atas.

---

Saya lebih memilih untuk menentukan baik buruknya seseorang, dalam hal ini capres, lewat rekam jejak, program, dan prestasinya. Bukan dari jualan agamanya.

Dan saya lebih menghargai mereka yang memilih dan menentukan baik buruknya seseorang, capres, lewat rekam jejak, program, dan prestasinya. Bukan dari jualan agamanya. Walaupun mereka memiliki pilihan yg berbeda.

Silakan jika memang kalian tetap ingin memilih dan menentukan pencitraan agamanya. Mungkin memang kalian senang dibodohi dan dibuai janji surgawi palsu
PS: itu bukan cerita buatan saya sendiri, saya pernah dengar kisah itu di radio waktu kecil.

Wednesday, April 9, 2014

Gelagat Jokowi


 (Joko Widodo ketika meninjau pembangunan Waduk Rawa Kendal)

"Nanti saja ya.." ujar Joko Widodo ketika awak media menghalangi jalannya untuk door stop* di Balai Kota Jakarta 8 April 2014 lalu. Bagi para rekan wartawan yang biasa meliput kegiatan Jokowi di Balai Kota, hal ini merupakan sesuatu yang tidak biasa. Pasalnya, mantan Wali Kota Solo ini dikenal selalu ramah menjawab pertanyaan wartawan sebelum ia melakukan kegiatan blusukan.

Bukan hanya tidak sikap tersebut yang tidak biasa, pakaian yang dikenakannya pun terlihat diluar pakaian kebesarannya sehari-hari: kemeja putih plus celana kain hitam. Ketika keluar dari kantornya, ia mengenakan baju batik hitam. Terlihat mewah, jika dibandingkan dengan pakaian sehari-harinya.

Setelah memasuki mobil, awak wartawan pun langsung berlari menuju mobil operasionalnya masing-masing untuk mengikuti agenda blusukannya. "Katanya sih mau ke KBN (Kawasan Berikat Nusantara). Mungkin mau ngebahas pabrik Foxconn." celetuk salah satu wartawan media online. Dan benar saja, ternyata rombongan gubernur dan wartawan ini memang menuju kawasan industri tersebut.

Namun ternyata, ia bukan datang untuk membahas pabrik Foxconn, pabrikan smartphone yang berencana buka pabrik di Jakarta. Jokowi datang ke KBN untuk ikut dalam acara peresmian Rumah Sakit Pekerja di KBN. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, dan juga... Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Mati deh. Kagak bisa ngeliput kalau ada SBY kita mah." salah satu wartawan media cetak yang ikut menumpang di mobil operasional kami. Memang, untuk meliput suatu kegiatan yang di hadiri oleh Presiden RI, biasanya hanya wartawan pemilik kartu pers Istana Negara lah yang memiliki akses. Sementara wartawan lain yang tidak punya ID pers karena namanya tidak didaftarkan kantor ke Istana Negara, hanya bisa gigit jari.

Saya, dan camera person tidak memiliki ID pers tersebut, jadi ya kami hanya diperbolehkan menunggu di luar. "Gak apalah. Toh kita memang cuma mau ngejar Jokowi-nya aja." ujar rekan TV lain, yang juga tidak bisa masuk. "Nanti aja abis dari sini kita kejar. Paling doi blusukan."

Benar saja, setelah acara tersebut, Jokowi langsung menuju Rawa Kendal. Sebuah waduk yang sedang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta. Di sanalah, akhirnya para awak media dapat menanyakan hal-hal yang ingin ditanya ketika di Balai Kota. "Ini awalnya wilayah pesawahan," ujar Jokowi yang kali ini telah mengganti kostum batiknya dengan pakaian kebesarannya: kemeja putih dan celana hitam. "Nanti kan ada Waduk Marunda, yang akan dihubungkan dengan Rawa Kendal ini, dengan kali penghubung." tambahnya.

Mengingat ini adalah H-1 Pemilu Legislatif, tentu saja ada rekan media yang bertanya tentang kans PDI-P dalam pemilu tersebut. Lelaki yang menjadi calon presiden partai berlambang banteng tersebut pun dengan santai menjawab, "Dilihat besok. Prediksinya menang tebal."

Keyakinannya tersebut sontak mendapat sorakan dari para wartawan dan juga masyarakat yang ikut menyaksikan kegiatan tanya jawab tersebut. Ia kemudian menghampiri warga sekitar yang antusias menyambutnya, sekadar ingin bersalaman.

(Warga antusias bersalaman dengan Jokowi)

Melihat hal tersebut, saya kagum sekaligus miris. Saya kagum akan sosok Jokowi karena lelaki tersebut tidak perlu repot mencuri rasa cinta masyarakat akan pemimpin. Masyarakat dengan mudahnya, mencintai dan mengagumi dirinya karena ia memiliki gestur politik santun dan sikap berani terjun langsung ke masyarakat.

Saya pun miris melihat masyarakat yang dengan sangat mudahnya mencintai sosok calon pemimpin hanya lewat sikap santun yang tampak, namun seakan lupa bahwa sosok santun tersebut adalah seorang politisi, seseorang yang memiliki ambisi, dan dipenuhi agenda pribadi maupun partai dan golongan.

Masyarakat yang dengan mudahnya mencintai sosok pemimpin santun, pernah patah hati ketika Presiden SBY terpilih lagi sebagai presiden diperiodenya yang ke-2. Sikap santunnya ternyata hanya dinilai masyarakat sebagai pencitraan. Padahal, jika menilik tahun 2004, di mana SBY pertama kali terpilih sebagai presiden, masyarakat mencintainya juga karena gestur santun tersebut, serupa Jokowi.

Lalu, bukankah gejala dan gelagat yang "dibuat" oleh Jokowi ini serupa dengan yang "dibuat" oleh SBY di 2004 dan 2009? Lalu, apakah masyarakat tidak takut untuk kembali kecewa akan yang namanya pencitraan?

Selasa, 08 April 2014

PS: *) Door Stop: Kegiatan yang dilakukan wartawan dengan cara menghalangi jalan masuk/keluar narasumber untuk meminta keterangan terkait suatu hal. Biasanya door stop tidak memerlukan janji wawancara sebelumnya. *yaiyalah

(Door stop bersama Jokowi) 

Monday, April 7, 2014

Ismanto: "Manusia Lupa Akan Sifat Alam"

"Halo, saya Ismanto." sapanya ramah ketika menyambut kami di depan sanggarnya. Senyum terkembang di wajahnya. Tampak bahwa ia memang telah beberapa kali menyambut awak media.
Ketika terdiam, awalnya saya mengira ia orang yang menyeramkan. Badan bulat gempal, ditambah dengan brewoknya yang garang. Tapi ketika ia berbicara dan mengobrol, ia ternyata adalah sosok yang bersahabat.

Kami mendatanginya untuk keperluan liputan. Di rumahnya di Desa Sengi, Kabupaten Magelang, ia memiliki sanggar sebagai tempat kerjanya untuk memahat batu Merapi.
Batu-batu itu dipahatnya bersama para beberapa murid dan anggota sanggar miliknya, dan diubah menjadi bentuk patung-patung yang penuh akan nilai seni.

Sejak gunung Merapi meletus beberapa tahun lalu, ia sibuk memahat batu-batu dari letusan gunung berapi tersebut. "batu ini saya jadikan sebuah karya, karena selain saya memang orang seni rupa, batu ini juga bisa berbahaya jika dibiarkan begitu saja di sungai-sungai," ujarnya.

Memang, batu-batu besar yang keluar ketika Merapi meletus itu ikut hanyut ke sungai-sungai bersama aliran lahar dingin. Dan batu-batu tersebut dapat membuat aliran sungai meluap, sehingga mengakibatkan banjir di desa-desa sekitarnya.

Liputan kami memang ditujukan untuk mengangkat hal yang menarik di Provinsi Yogya. Baik itu kesenian, makanan, maupun sosok inspiratif seperti beliau.

Di setelah melakukan wawancara dengannya, pria yang akrab disapa Pak Is tersebut mengeluhkan situasi saat ini tentang alam dan manusia, sudut pandangnya dalam berkarya. "Kamu tahu kenapa Jakarta selalu banjir terus?" tanyanya sederhana. "Itu akibat dari manusia yang lupa akan sifat-sifat alam. Kalau di Jakarta, ya mereka lupa sifat air yang selalu mencari daerah rendah." ujarnya.

Ia kemudian menyebut bahwa dirinya heran dengan jalan pikiran dari para pemimpin di Jakarta, yang seakan melupakan sifat air yang sederhana sehingga mereka mendesain tata kota yang berantakan.
"Itulah masalah kita saat ini, kita itu sekarang seakan tidak mau berinteraksi dengan alam. Satu persatu sifat alam dilupakan, jadi jangan heran kalau alam sekarang juga ikut melupakan sifat kita, sehingga muncul bencana-bencana yang seharusnya bisa dihindari." katanya dengan raut muka kesal sekaligus miris.

"Ya sudah, kita ke rumah yuk, kita ngobrol sambil ngopi." ajaknya.

Hmmm.. Mungkin apa yang diucapkan Pak Is ada benarnya.


Senin, 31 Maret 2014.

(ki-ka: Denny (camera person), Pak Ismanto, Pak Rahmat (rekan Pak Is), Saya) 

Wednesday, February 26, 2014

Ia yang Mencintaimu? Atau Ia yang Kamu Cintai?


Salah satu novel remaja, dengan kisah percintaan, favorit saya adalah "Gege Mengejar Cinta" karya Adhitya Mulya. Kenapa? Simple. Karena novel tersebut sungguh sederhana, namun disajikan dan diceritakan dengan sangat baik.

Walau sederhana, sejatinya, tema besar dari buku tersebut sangatlah mendalam: "mana yang akan kamu pilih: Ia yang mencintaimu, atau ia yang kamu cintai?". Yeaaah.. Not an easy question right?

Dan itulah yang belakangan saya pikirkan. Beruntunglah bagi mereka yang mencintai seseorang yang mencintainya. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak? Yang mana yang akan mereka kejar? Ia yang mencintaimu, atau ia yang kamu cintai?

Mungkin jawabannya akan berbeda bagi setiap orang. Namun, jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, tentunya saya akan menjawab ..... *koneksi terputus*


PS: Jadi, mana yang akan kamu kejar? Ia yang mencintaimu? Atau ia yang kamu cintai?

Thursday, February 13, 2014

Mimpi - Sebuah Cerpen

Dikelilingi dingin, diselimuti pekat. Aku berbaring di dalam kamarku, mencoba untuk memejamkan mata untuk beristirahat. Tapi tampaknya ada sesuatu dalam diriku yang melarangku untuk terlelap.

Takut. Rasa itu menyergap diriku belakangan ini. Ia selalu datang saat aku mencoba untuk mengakhiri hari dengan tidur dan mendatangi alam mimpi. Takut. Ia mencegahku mendatangi alam terindah itu.

Alam mimpiku indah. Setidaknya, selalu indah dalam beberapa malam ke belakang. Karena ada dirinya yang selalu hadir ke dalam mimpiku. Ia yang membuatnya indah. Tanpanya, mimpi-mimpiku hanya akan seperti mimpi-mimpi yang lain.

Nindi namanya. Saat aku melihatnya untuk pertama kali, aku tahu bahwa dengan dirinya lah aku ingin menghabiskan sisa hidupku. Dengannya. Wanita paling sempurna yang ada dalam hidupku.

Bagi orang lain, mungkin itu terdengar berlebihan. Tapi, setiap orang pasti ingin memiliki seseorang untuk berbagi waktu menghabiskan sisa hidup bersama. Bagiku, ia adalah orangnya.

Minggu lalu aku memberanikan diri mengajaknya makan siang. "Saya enggak bisa. Udah ada janji nih sama teman-teman," ujarnya saat itu.

Kecewa, rasa yang kurasakan saat itu. Aku berbalik pergi saat ia selesai mengatakan hal itu. Aku berbalik dengan salah tingkah, karena aku berharap terlalu tinggi.

"Gimana kalau minggu depan? Saya bakal senang banget kalau kamu mau makan siang bareng saya minggu depan," itu ucapnya saat aku sudah berbalik dan melangkahkan kaki. Aku menyetujuinya tanpa berpikir lagi.

Sejak itulah ia selalu datang ke mimpiku. Tiada satu malam pun ia tidak hadir dalam tidurku. Besok aku akan menghabiskan waktu dengannya. Berdua. Seperti dalam mimpi-mimpiku.

"Lalu kenapa kau tidak cepat tidur agar esok cepat datang, Adi?" tanyaku dalam hati kepada diri sendiri. Aku tak yakin aku memiliki jawabannya.

Saat ini aku meyakini jika aku takut. Aku takut bahwa pertemuan dengannya esok hari tidak berjalan sesuai rencana. Aku takut ia tidak memiliki rasa yang sama seperti rasa yang aku miliki terhadapnya. Aku takut untuk tidur. Aku takut ia tidak datang ke mimpiku malam ini.

Kalian pernah takut tidur karena takut sang pujaan hati tidak hadir dalam mimpimu? Mungkin kalian sedang jatuh cinta.

Takutku, bukan karena gelap. Diselimuti gelap bukanlah hal yang menakutkan; Ia memberikan kenyamanan. Dikelilingi harapan, itu yang menakutkan; Ia tidak memberi kepastian.