Wednesday, June 19, 2013

Masih Ada Enam Pasang Calon Lain



Dalam beberapa hari lagi, Bandung akan mulai memilih pemimpin barunya. Ada delapan sosok yang harus warga Bandung lihat dengan seksama agar kota ini tidak kembali jatuh ke tangan pemimpin yang tidak bisa membawa Bandung ke arah yang lebih baik.

Berbeda dengan tulisan saya sebelumnya, tulisan ini tidak akan saya tulis menggunakan sarkasme. Saya akan menulis secara jelas dan langsung bahwa menurut saya, memilih Ayi-Nani (AYAN) dan kang Edi-Erwan Setiawan (kESET), meskipun pilihan tetap kembali saya serahkan sebebas-bebasnya kepada masing-masing pemilih, adalah sebuah kemunduran dan kebodohan.

Mengapa? Seperti tulisan saya sebelumnya (dalam sarkasme), mereka telah gagal membawa Bandung ke arah yang lebih baik. Hal ini dapat terlihat dari jalan berlubang yang tak kunjung diperbaiki, banjir di mana-mana, tidak pedulinya mereka dengan RTH di Bandung dan malah ingin mengubahnya menjadi sebuah restoran, sampah yang menggunung di pinggiran jalan-jalan dan tidak diurus, tidak adanya gorong-gorong yang menyebabkan banjir cileuncang, tidak adanya usaha dalam perbaikan sarana transportasi di Bandung yang menyebabkan pada meningkatnya volume kendaraan pribadi di Bandung, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa mereka selesaikan.

Hal-hal di atas belum termasuk dugaan korupsi dana bansos pada masa pemerintahannya yang saat ini sedang di proses oleh KPK. Pada kasus tersebut, "Edi Siswadi menyatakan dia pernah mendapatkan perintah dari Dada Rosada untuk mengumpulkan uang. Menurut Edi, saat itu Dada meminta kepadanya untuk melakukan koordinasi. Dia membenarkan koordinasi itu dilakukan dengan kepala dinas."

Menurut logika saya, hal di atas tidak bisa dibenarkan. Kalau Edi sudah tahu bahwa hal tersebut salah, maka Edi harusnya tidak melakukan apa yang diperintahkan Dada. Jika Edi adalah tipe orang yang melakukan apa yang diperintahkan atasan padahal tahu bahwa hal tersebut adalah salah, maka Edi bukanlah seorang pemimpin yang baik dan tidak pantas dipilih. Ia lebih cocok menjadi bawahan, kacung, yang bisa diperintah semaunya.

Sama juga seperti Erwan Setiawan, Ketua DPRD periode lalu. Dengan adanya kasus ini, fungsi pengawasan dari lembaga yang ia pimpin patut dipertanyakan. Lalu, dengan ketidakmampuan dirinya meng-handle lembaga legislatif, apa ia sanggup meng-handle lembaga eksekutif? Saya meragukannya.

Hal tersebut juga dapat diaplikasikan pada Ayi. Ayi, yang merupakan wakil walikota dari Dada Rosada, harusnya juga mengetahui apa yang sedang terjadi mengenai kasus ini. Dalam berita-berita yang ada, Ayi selalu menangkal bahwa ia tidak menggunakan sedikitpun dana Bansos. Saya sih mau berpikiran positif saja, mungkin memang benar Ayi tidak menggunakan dana tersebut. Tapi masa sih Ayi tidak mengetahui apapun soal penyimpangan dana ini?

Saya ambil positifnya lagi. Oke deh, Ayi memang sama sekali tidak tahu tentang penyimpangan dana bansos yang terjadi di bawah hidungnya. Tapi, pertanyaan saya sama seperti kasus Edi: jika memang itu faktanya, apakah Ayi seorang pemimpin yang baik? Karena setahu saya, seorang pemimpin yang baik harus awas dengan keadaan sekitarnya. Jika Ayi tidak bisa menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarannya, lalu apa bisa dirinya melihat apa yang sedang terjadi di seluruh Kota Bandung?

Lalu, istri dari Dada Rosada, Nani Rosada (Suryani), apa kah ia adalah sosok pemimpin yang baik? Mengawasi apa yang dilakukan suaminya saja ia pantas diragukan, apa ia sanggup mengawasi Kota Bandung dan seluruh isinya?

Silakan jawab sendiri.

***

Delapan pasang calon. Dua pasang calon incumbent terbukti gagal. Masih ada sisa enam calon lainnya yang harus diberi kesempatan untuk memperbaiki Bandung.

Silakan, pilihan saya berikan kepada para pemilih untuk memilih enam pasang calon lain selain calon incumbent. Para calon incumbent tersebut telah diberi kesempatan dan gagal, maka dari itu, saya tidak megharapkan mereka duduk lagi di Balai Kota sana. Ada enam pasang calon lain yang lebih pantas untuk diberi kesempatan untuk membawa Bandung ke arah yang lebih baik.

Disclaimer: Saya hanya seorang warga yang sudah jengah dengan keadaan Kota Bandung saat ini.

Tuesday, June 4, 2013

Soal Totem dan Ending Inception



Belakangan, profesi baru saya memaksa saya untuk harus banyak membaca tentang film. Baik itu berita film terbaru, film lama, review film, maupun diskusi-diskusi tentang film, dan lain sebagainya. Menyenangkan, karena profesi saya tersebut sebenarnya membahas hal yang saya sukai.

Karena banyak membaca artikel tentang film tersebut, saya sempat 'nyasar' dalam sebuah forum diskusi yang membahas tentang salah satu film fenomenal karya Christopher Nolan, Inception (2010). Memang film tersebut fenomenal, namun setelah membaca forum diskusi tersebut, tampaknya label kontroversial juga pantas disematkan untuk film tersebut karena ternyata film tersebut banyak memicu teori-teori yang diperdebatkan oleh para penikmat film. Salah satu hal yang diperdebatkan adalah mengenai totem yang digunakan oleh sang tokoh utama.

Inception production still 13 Inception Ending Explained
Cobb sedang melihat totem-nya yang sedang berputar

Dalam film tersebut, diceritakan seorang perampok ulung bernama Dom Cobb (DiCaprio) yang menggunakan mimpi sebagai mediumnya diminta oleh seorang pengusaha kaya raya, Saito (Watanabe), untuk melakukan 'inception' pada pewaris tahta Robert Fischer, Jr. (Murphy) agar bisnis yang dijalankan oleh Saito dapat berjalan dengan lancar. Cobb yang dijanjikan untuk dapat kembali ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan anak-anaknya setelah dirinya menjadi buronan di negara tersebut bersedia untuk melakukan hal itu.

Dalam film tersebut, Cobb dan rekan-rekannya yang sering 'keluar-masuk' mimpi orang lain maupun mimpinya sendiri memiliki sebuah benda kecil dengan bentuk khas yang dibuat oleh masing-masing dari mereka. Benda kecil yang mereka sebut totem tersebut berfungsi sebagai penanda apakah mereka sedang ada di dunia mimpi ataukah di dunia nyata. Totem bisa bermacam-macam bentuk, yang pasti berbentuk kecil. Sebagai contoh, totem milik Cobb adalah sebuah gasing kecil peninggalan istrinya yang tidak berhenti berputar jika ia berada di dalam mimpi. Ada juga yang berbentuk dadu seperti milik Arthur (Gordon-Levitt), ataupun berbentuk bidak catur seperti milik Ariadne (Page) yang tidak bisa jatuh jika ia sedang berada di dalam mimpi.

Sampai di sini, saya mau menahan pembaca yang belum pernah menonton filmnya agar tidak membaca lebih lanjut karena akan ada pembahasan tentang akhir cerita dari film ini. Kecuali jika memang tidak keberatan, ya silakan lanjutkan.

Di akhir cerita, Cobb akhirnya dapat kembali ke AS setelah Saito menepati janjinya agar Cobb dapat kembali ke negara tersebut dan menemui anak-anaknya setelah misi 'inception'-nya berhasil. Saat Cobb tiba di rumahnya, ia yang tidak percaya bahwa akhirnya ia dapat kembali bertemu dengan anak-anaknya dan mulai memutar totem yang dimilikinya untuk meyakini bahwa ia tidak berada di alam mimpi. Setelah melihat anak-anaknya, ia seakan langsung tidak peduli dengan totem tersebut dan meninggalkannya. Totem itu terus berputar dan akhirnya film itu berakhir.

Film tersebut seakan tidak memberikan jawaban apakah Cobb sedang berada di alam mimpi atau di dunia nyata. Banyak fans yang berpendapat bahwa Cobb masih berada di alam mimpi, karena totem tersebut tidak jatuh dan masih berputar. Namun ada juga yang bilang bahwa Cobb ada di dunia nyata karena mereka mendengar suara totem tersebut jatuh saat film berakhir walaupun hal tersebut tidak digambarkan.

Bagaimana tanggapan sang sutradara sendiri? Nolan menyerahkan hal tersebut kepada penonton. Ia berkata, bagi yang menyukai akhir film dengan Cobb berada di mimpi, silakan. Bagi yang berpikir sebaliknya, silakan. Namun, ia sendiri memilih untuk percaya bahwa Cobb telah ada di dunia nyata, bukan di alam mimpi walau totem tersebut tidak diperlihatkan jatuh.

Menarik untuk membahasnya lebih lanjut. Namun ada salah satu teori yang menurut saya membuat film ini luar biasa. Tentang totem orisinal milik Cobb. Dalam cerita tersebut, totem berbentuk gasing yang digunakan oleh Cobb adalah peninggalan dari istrinya yang bunuh diri setelah dirinya tidak bisa membedakan antara dunia nyata dan mimpi. Lalu, kemana totem asli milik Cobb?

Setelah saya membaca diskusi-diskusi yang dibuat oleh para penggemar Inception tersebut, saya cukup tercengang ketika ada yang mengatakan bahwa totem milik Cobb adalah cincin kawin miliknya. Teori tersebut mengatakan bahwa di dalam mimpi, Cobb selalu tampak menggunakan cincin tersebut. Sementara di dunia nyata, ia tidak pernah menggunakannya. Penasaran dengan kebenaran teori tersebut, saya langsung menonton kembali film tersebut untuk membuktikan hal tersebut. Hasilnya? Tepat. Cobb menggunakan cincin dalam mimpi namun tidak pada dunia nyata.

Namun bagi saya, hal tersebut bukanlah bukti bahwa cincin tersebut adalah totem milik Cobb. Melainkan, untuk penonton. Mengapa? Karena penonton pun, menurut saya, perlu untuk mengetahui apakah mereka sedang menonton scene  mimpi atau realita, dan Nolan adalah sutradara yang peduli akan hal detail semacam itu. Sedangkan, untuk totem milik Cobb bisa saja berbentuk lain yang tidak diceritakan oleh filmnya.

Satu pertanyaan tersisa, pada scene terakhir saat Cobb bertemu dengan anaknya, dan totem gasing tersebut tidak berhenti berputar, apakah Cobb menggunakan cincinnya? Tidak. Jadi, jika Anda percaya akan teori totem cincin tersebut, maka akhir dari film ini dapat terbaca dengan jelas.

Anda percaya yang mana? :)
***


(Warner Bros. Pictures) Directed by: Christopher Nolan Starring: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Cillian Murphy, Ellen Page, Joseph Gordon-Levitt, Tom Hardy, Sir Michael Caine, Marion Cotillard Running time: 148 minutes Budget: $160 million




PS: Jika saya disuruh membuat daftar 10 film terbaik sepanjang masa yang pernah saya tonton, maka film ini akan masuk dalam daftarnya. Setuju?