Sunday, March 31, 2013

Every Movie Is Propaganda

Setiap film adalah suatu propaganda. Setiap film pasti bias. Setiap film pasti memiliki tujuan tertentu.

Itu menurut saya sendiri. Soal ada orang yang pernah mengatakan hal-hal di atas, saya tidak tahu. Karena setelah saya cari di Google, saya tidak menemukan ada orang yang berkata seperti itu. Paling hanya beberapa orang yang menyebut suatu film merupakan propaganda akan sesuatu.

Maka dari itu, saya tidak begitu suka jika ada orang yang bercuap-cuap "film A adalah propaganda blablabla.. ceritanya bias blablabla.." lalu menjelek-jelekkan sutradara/produser, dan negara asal film tersebut. Sebenarnya letak ketidaksukaan saya lebih terletak pada hal kedua; menjelek-jelekkan film tersebut. Membeberkan analisis yang membeberkan sebuah film adalah propaganda, saya masih bisa baca dan terima. Namun menjelek-jelekkan filmnya? Menurut saya orang tersebut, meminjam istilah anak Twitter, kurang piknik.

Film adalah propaganda. Menjelek-jelekkan film, yang jelas-jelas memiliki maksud tertentu, adalah sesuatu yang tidak perlu. Apalagi film tersebut dibuat dan dibiayai oleh negara yang menguasai media dan mengendalikan arus informasi seperti AS. Jadi, sekali lagi, menjelek-jelekkan film hanya karena kita bisa melihat propaganda pada film tersebut adalah sesuatu yang tidak perlu.

Sebuah film dikatakan buruk karena teknis eksekusinya buruk atau ceritanya yang kurang menarik. Bukan karena kita dapat melihat propaganda di balik film tersebut.

Tuesday, March 26, 2013

#ImagineBDG: Lingkung Bandung

Belakangan ini, di lini masa akun Twitter pribadi saya, saya kerap menemukan sebuah tagar #ImagineBDG. Awalnya saya tidak mengetahui apa makna dari tagar tersebut. Namun minggu lalu, setelah saya akhirnya menemukan akun Twitter @ImagineBDG, saya menyadari kegunaan dari tagar tersebut. Tagar tersebut biasanya digunakan untuk menyampaikan harapan dan ide-ide kreatif orang Bandung untuk kotanya.

Setelah saya baca, saya merasa bahwa sebenarnya, banyak anak-anak muda Bandung yang memiliki ide-ide kreatif untuk membuat Bandung menjadi lebih baik. Setelah membaca ide dan harapan penduduk Bandung (yang punya akun Twitter), saya jadi ingin ikut menyampaikan ide juga untuk kebaikan kota yang dilingkung gunung ini.

Ide saya bukanlah ide yang orisinal. Namun, Bandung, sebagai kota yang konon diisi oleh orang-orang yang kreatif, belum memiliki hal ini: Film mengenai kehidupan sehari-hari kota Bandung.

Paris punya Paris, je t'aime. New York punya New York, I Love You. Rio de Janiero punya Rio, Eu Te Amo. Saya tidak bilang bahwa film tentang Bandung dalam pikiran saya harus bertemakan cinta seperti ketiga film di atas, karena Jakarta membuat film Jakarta Maghrib yang menggambarkan keadaan Jakarta pada waktu maghrib, tidak melulu tentang cinta.

Namun, film tentang Bandung ini, baiknya mengambil konsep seperti ketiga film pertama, yaitu disutradarai oleh banyak sutradara, sehingga memiliki banyak film-film pendek dengan cerita berbeda dari berbagai sudut pandang. Tidak seperti Jakarta Maghrib yang disutradarai oleh satu sutradara, meskipun dibagi menjadi beberapa segmen cerita.

Dalam bayangan saya, pembuatan film tentang Bandung ini nantinya akan dijadikan sebuah sayembara. Produser (yang dalam bayangan saya adalah salah satu sutradara/produser kawakan Indonesia dan pemerintah terkait) nanti akan meminta anak-anak muda Bandung untuk mengirimkan naskah cerita mengenai kota Bandung berdurasi 5-7 menit. Naskah dengan cerita yang menarik akan dipilih kemudian dibantu proses pembuatan film-nya. Para sineas muda kota Bandung tersebut dapat dicari di kampus-kampus negeri dan swasta kota Bandung yang banyak memiliki komunitas film.

Para sineas muda tersebut mendapatkan porsi sebesar 70 persen pada film tersebut, 30 persen sisanya akan lebih baik jika diisi oleh karya dari sutradara dan penulis naskah asal Indonesia (akan lebih baik jika berasal dari Bandung) yang sudah ternama. Selain untuk "menjual" film tersebut, sutradara-sutradara yang sudah terkenal dan berpengalaman tersebut juga akan membantu menjaga kualitas film para sineas muda kota Bandung di film tersebut.

Banyak ide cerita yang bisa diangkat dari kota Bandung. Misalnya, mulai dari kisah percintaan antar kampus, kehidupan keras anak jalanan, kehidupan religius, rutinitas kantoran, pergerakan komunitas kreatif, sampai kisah kehidupan glamor kota Bandung di malam hari, dll. Dari pagi hari ketika warga Bandung memulai aktivitasnya, hingga malam hari saat mereka pulang ke rumah masing-masing.

Tujuan dari dibuatnya film ini bisa bermacam-macam, salah satunya adalah "pamer" kreatifitas orang Bandung. Selain itu, film tersebut juga bisa dijadikan satir mengenai kehidupan orang-orang Bandung yang sekarang sudah mulai mengarah ke arah kehidupan yang individualistis. Dan tentunya, film ini bisa mengangkat kembali nama Bandung di kancah nasional, atau bahkan internasional.

Well.. itu hanya ide saja. Semoga saja nantinya Bandung bisa membuat salah satu film seperti apa yang saya bayangkan. Semoga.

PS: Kalau benar film seperti ini akan dibuat, saya ingin film ini diberi judul Lingkung Bandung. Ada masukan judul lainnya? :D

Monday, March 25, 2013

Nostalgie à Paris

Membuat tulisan tentang film tidak melulu harus up-to-date, kan? Karena saya ingin sekali menulis sesuatu tentang sebuah film tahun 2011 lalu yang menurut saya sangat indah, Midnight in Paris.


Midnight in Paris merupakan film komedi romantis fantasi karya sutradara kawakan Hollywood, Woody Allen. Film karya Woody Allen ke-41 tersebut bercerita tentang seorang penulis asal Amerika Serikat yang sedang berlibur di ibu kota Perancis, Paris. Saat ia berjalan sendirian tengah malam, ia mendapati dirinya pergi ke tahun 1920an, era yang ia kagumi. Di sana, ia bertemu dengan banyak tokoh-tokoh idolanya seperti Zelda dan F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Salvador Dali, Cole Porter, dan lain-lain.

Film ini mendapat tiga nominasi dan memenangkan satu Piala Oscar. Maka dari itu, saya tidak akan mengomentari segi teknis film seperti sinematografi, tata musik atau kualitas akting para pemainnya, karena menurut saya, seluruhnya brilian. Terutama sinematografinya yang menggambarkan kota Paris dengan sangat indahnya. Saya hanya ingin sedikit menulis tentang kekaguman saya akan cara Woody Allen bercerita akan pemikirannya. 

Woody Allen, seperti kita kenal dari film-film sebelumnya, senang menggelitik pikiran kita akan suatu ide. Kali ini, yang saya rasakan saat menonton film ini, ia menggelitik kita tentang ide mengenai "nostalgia". Dalam film tersebut, ia mengatakan (melalui salah seorang karakter) bahwa konsep nostalgia sebenarnya adalah sebuah penolakan atas keadaan yang tidak menyenangkan di masa sekarang. Nostalgia akan timbul saat kita merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar kita saat ini, dan kita akan mulai mengingat-ingat hal indah pada masa lalu.

Yang menarik adalah, dalam film ini, nostalgia tidak hanya tentang melihat sebuah kenangan indah masa lalu milik seseorang. Namun juga tentang bagaimana seseorang membayangkan indahnya masa lalu jika dapat hidup di era tersebut. Inilah yang terjadi pada Gil Pender, tokoh utama film tersebut.

Bayangkan, betapa menyenangkannya dapat beradu pendapat dengan Hemingway tentang bagaimanakah seorang penulis yang hebat. Berargumen dengan Man Ray mengenai surrealisme. Bertukar pikiran mengenai tulisan dengan seorang Gertrude Stein. Betapa beruntungnya seorang Gil Pender, yang seorang penulis, dapat betukar pikiran dengan tokoh-tokoh tersebut. Benar-benar nostalgia yang sangat indah.

Saya sendiri jadi membayangkan bagaimana jika saya atau anda bernostalgia bertemu dengan tokoh idola masing-masing (setidaknya sampai pertemuan tersebut). Saya membayangkan mengobrol dan bertukar pendapat dengan Herman Melville, Sjuman Djaja, Pramoedya Ananta Toer, Jane Austen, Steve Jobs, M. Hatta, Shakespeare, Fujiko F. Fujio, dan lain-lain. Atau bahkan dengan tokoh-tokoh idola saya yang masih hidup seperti Christoper Nolan, Spike Lee, Chris Martin, J.K. Rowling, Goenawan Mohammad, Noam Chomsky, Harper Lee, dan bahkan Woody Allen sendiri. Tentu saja, akan sangat menyenangkan.

Menurut pandangan sinis saya, sebenarnya film ini hanyalah suatu film buah dari liarnya pemikiran Woody Allen yang mengharapkan dapat bernostalgia bertemu dengan idola-idolanya sendiri. Dan, Woody Allen memang seorang sutradara dan penulis yang sering menggunakan referensi mengenai psikoanalisis dalam filmnya. Hanya saja dalam film ini, ia bercerita dengan indahnya sampai-sampai saya sendiri membayangkan bernostalgia dengan idola saya sendiri.

***

Judul Film: Midnight in Paris
Genre: Komedi, Drama, Fantasi
Tanggal Rilis Perdana: 20 Mei 2011
Durasi: 94 mins.
Produser: Letty Aronson, Stephen Tenebaum, Jaume Roures

Sutradara: Woody Allen
Penulis: Woody Allen
Pemain Utama: Owen Wilson (Gil Pender), Rachel McAdams (Inez), Marion Cotillard (Adriana), Kathy Bates (Gertrude Stein), Adrien Brody (Salvador Dali), Corey Stoll (Ernest Hemingway), Tom Hiddleston (F. Scott Fitzgerald), Allison Pill (Zelda Fitzgerald)




PS: Kalau nostalgia dalam pikiran saya di-filmkan, kira-kira judul yang tepat apa ya? :)

Sunday, March 24, 2013

Siapa Menang?

Morgan Freeman @ 69th Annual Golden Globes Awards 01 crop.jpg Liam Neeson Deauville 2012.jpg Ian McKellen.jpg
(ki-ka: Morgan Freeman, Liam Neeson, Sir Ian McKellen)

Singkat saja.

Akan menjadi suatu hal yang menarik kalau saja seorang aktor bisa mendapatkan kemampuan karakter yang pernah ia perankan. Jika itu benar terjadi, pasti akan ada akor-aktor super, dan tiga aktor berikut pasti akan menjadi aktor-aktor terhebat: Sir Ian McKellen, Morgan Freeman, dan Liam Neeson. Tapi, dari ketiga aktor tersebut, siapa yang menang menjadi yang paling kuat?

Sir Ian McKellen pasti menjadi salah satu yang terkuat. Ia adalah Magneto dalam X-Men saga, dan Gandalf dalam trilogi The Lord of The Rings. Ia bisa mengendalikan benda-benda yang mengandung metal, dan ia jelas memiliki ilmu sihir yang tinggi.

Tapi jangan lupakan Liam Neeson. Ia adalah Oskar Schindler yang pernah menyelamatkan ribuan Yahudi dari kekejaman Nazi di Schindler's List. Ia adalah Qui-Gon Jinn mentor bagi Obi-Wan Kenobi, salah satu jedi terbaik di jagat Star Wars. Ia adalah Ra's al Ghul, guru bela diri Batman di Batman Begins. Ia adalah sang singa penguasa Narnia. Tidak ketinggalan, ia adalah Zeus.

Bagaimana dengan Morgan Freeman? Well.. Selain menjadi Nelson Mandela di film Invictus, jangan lupa bahwa ia adalah Tuhan di Bruce dan Evan Almighty!

Jadi, siapa akan menang?

Magneto pasti tidak akan lebih hebat daripada Gandalf, so Sir Ian McKellen akan lebih hebat saat menjadi Gandalf. Tapi dibanding Tuhan dan Zeus, nampaknya Gandalf tidak ada apa-apanya. Nampaknya, sulit untuk menentukan siapa pemenang antara Morgan Freeman dan Liam Neeson. Yang satu Tuhan, yang lainnya Zeus. Sepertinya, hasilnya imbang.

...
...
...
...
...

Nope.. Liam Neeson is Qui-Gon Jinn and he has a light saber. So, Liam Neeson wins.


PS: yeaaa.. May the force be with us. :p