Wednesday, September 12, 2012

Sebuah Cerpen: Berbalik dan Pergi

"Hai.." sapanya dengan senyum menawannya.

"Hai.." balasku gugup sambil memasukkan tangan kananku ke dalam saku celana. Aku tak mengira ia akan menyapaku.

Biasanya, jika aku dan dirinya berada dalam satu lokasi yang sama, ia akan pura-pura tidak melihatku. Ia akan terlihat seperti orang lain yang tak pernah mengenalku. Padahal aku ingin sekali bisa menyapanya, walau hanya bertukar sepatah kata.

Aku mengenalnya kurang lebih setahun yang lalu. Aku mengenalnya saat aku menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru. Saat itu, entah takdir atau kebetulan semata, aku lah petugas panitia yang memandunya  mengisi data-data mahasiswa baru yang harus ia isi. Sejak itu, aku diam-diam menyimpan rasa padanya.

"Aku ke lobby duluan ya. Nanti aku sms." ujar temannya. Ia seakan tak ingin menggangu dan memberikan kami waktu berduaan.

"Errr.. Oke." jawabnya dengan disertai pandangan penuh arti kepada temannya. Entahlah, hanya mereka yang tahu artinya.

Aku tak tahu dengannya, yang aku tahu, jantungku berdetak kencang jika aku melihatnya dari kejauhan. Saat ini, ia menyapaku. Aku takut ia dapat mendengar detak kencang jantungku.

"Beres kelasnya?" tanyaku membuka percakapan. Basi memang. Dalam gugup, apa yang kau harapkan?

"Sebenarnya masih ada. Tapi kelas berikutnya, dosennya gak bisa dateng." jawabnya sambil melakukan gerakan merapikan rambut ke belakang telinganya, padahal ia memakai kerudung. "Kamu sendiri?" mata indahnya menatap lurus ke mataku.

"Saya sih kelasnya udah selesai dari jam 10 tadi." jawabku, masih gugup.

Sejak pertemuan pertama itu, aku selalu memikirkan dirinya. Hanya saja, aku tak pernah berani untuk menyapanya setelah pertemuan pertama itu.

"Sekarang mau ke mana?" tanyanya lagi. Sedikit tersenyum setelah ia bertanya. Tampaknya aku tahu apa makna di balik senyumnya itu. Tapi aku tak ingin melambungkan harapku sendiri.

Ada hening panjang setelahnya. Pikiranku kembali melayang pada hari terakhir aku berbicara dengannya.  Saat aku mengajaknya sedikit bercanda saat ia sedang mengisi form data mahasiswa baru. Aku ingat melihatnya pertama kali tersenyum saat aku sedikit menggodanya dengan mengajak makan siang saat aku melihat ia mengisi 'makan' pada kolom hobby. Ajakan itu hanya canda dengan sedikit harap. Sayang ajakan itu tak pernah terwujud menjadi kenyataan.

"Saya mau makan siang nih. Mau makan siang bareng?" tanyaku sambil sedikit tersenyum. Kembali menitip harap di sana.

"Kayaknya gak bisa. Saya udah janji mau makan siang sama temen saya yang barusan." jawabnya menolak sedikit harapku.

"Too bad.. Oke kalau gitu." ucapku menanggapi tolakkannya sambil memasang wajah maklum. Padahal,  ia bisa menyarankan hari lain untuk makan siang jika ia memang ingin makan siang denganku. Tapi, tampaknya ia tak ingin.

"Oke." jawabnya, kali ini ia tak menatap langsung mataku. "bye.." ucapnya sambil tersenyum dan berbalik meninggalkanku.

"Bye.." balasku ikut tersenyum sambil melihatnya berlalu. Aku melihatnya pergi meninggalkanku. Melihat punggungnya menjauh. Kali ini aku berharap ia menengok ke arahku. Berharap ia menginginkan aku mengejarnya dan mengajaknya lagi. Memastikan apakah ia benar-benar tak ingin melewatkan waktu bersamaku.

Aku tertawa geli. Menertawakan diriku sendiri. Aku lupa bahwa ini bukanlah adegan di film romantis di mana sang wanita yang pergi, menengok ke arah lelaki yang ia tinggalkan untuk memberikan pesan bahwa ia ingin dikejar dan dihentikan.

Ia tak menengok kembali. Aku mencoba menarik harapanku dan menyadaran diriku sendiri bahwa ia memang tak menyimpan rasa seperti yang kurasakan.

Aku berbalik dan pergi. Aku mengubur harapku.

* * *


"Hai.." sapaku salah tingkah. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku saat aku melihatnya. Tak tahu kenapa.

"Hai.." balasnya sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Ia terlihat menawan.

Biasanya, jika aku dan dirinya berada dalam satu lokasi yang sama, ia akan menjauh. Ia akan terlihat seperti orang lain yang tak pernah mengenalku. Padahal aku ingin sekali bisa menyapanya, walau hanya bertukar sepatah kata.

Aku mengenalnya kurang lebih setahun yang lalu. Saat itu aku baru saja mendaftar menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Entah takdir atau kebetulan semata, ia lah kakak panitia yang memanduku mengisi data-data mahasiswa baru yang harus aku isi. Sejak itu, aku diam-diam menyimpan rasa padanya.

Temanku tiba-tiba bilang bahwa ia ingin pergi ke lobby lebih dulu, sambil memberiku tatapan penuh arti. Sebenarnya ia tahu bahwa aku menyimpan rasa pada kakak tingkatku ini. Makanya ia seakan mengerti dan tak ingin menggangu. Ia hanya memcoba memberiku waktu untuk berduaan dengan kakak tingkatku.

"Errr.. Oke." jawabku sambil balas menatapnya dengan tatapan 'jangan tinggalin gue berduaan sama dia'. Tatapan yang sebenarnya juga disertai rasa terima kasih pada temanku karena mengerti situasi yg sudah lama aku harapkan. Berduaan dengan ia yang ada di hadapanku.

Aku tak tahu dengannya, yang aku tahu, jantungku berdetak kencang jika aku melihatnya dari kejauhan. Saat ini, ia ada di hadapanku. Aku takut ia dapat mendengar detak kencang jantungku.

"Beres kelasnya?" tanyanya membuka percakapan.

"Sebenarnya masih ada. Tapi kelas berikutnya, dosennya gak bisa dateng." jawabku salah tingkah sambil melakukan gerakan merapikan rambut ke belakang telinga, padahal aku memakai kerudung. Aku gugup. "Kamu sendiri?" kali ini aku beranikan diri menatap langsung mata indahnya.

"Saya sih kelasnya udah selesai dari jam 10 tadi." jawabnya datar.

Sejak pertemuan pertama itu, aku selalu memikirkan dirinya. Hanya saja, aku tak pernah berani untuk bicara padanya setelah pertemuan pertama itu. Baru kali ini aku berani menyapanya.

"Sekarang mau ke mana?" tanyaku kemudian. Terselip harap pada pertanyaanku itu. Harapanku untuk dapat berlama-lama dengannya. Berdua saja. Bertukar cerita. Bertukar tawa.

Ada hening panjang setelahnya.

"Saya mau makan siang nih. Mau makan siang bareng?" tanyanya sambil sedikit tersenyum.

Tampaknya aku mengerti arti senyumnya. Pikiranku kembali melayang pada hari terakhir aku berbicara dengannya. Ia mengajakku bercanda saat aku sedang mengisi form data mahasiswa baru. Aku ingat melihatnya pertama kali tersenyum saat ia menggodaku dengan mengajakku makan siang saat ia melihat aku mengisi 'makan' pada kolom hobby. Ajakan itu adalah canda yang memberi harap. Sayang ajakan itu tak pernah terwujud menjadi kenyataan.

"Kayaknya gak bisa. Saya udah janji mau makan siang sama temen saya yang barusan." jawabku sambil mengutuki diriku sendiri. Entah apa yang membuatku menolak ajakan itu. Dalam gugup, apa yang kau harapkan?

"Too bad.. Oke kalau gitu." ucapnya sambil sedikit tersenyum. Tampak memaklumi jawaban bodohku.

"Oke." jawabku, kali ini aku tak menatap langsung matanya. Malu pada dirinya, malu pada diriku sendiri yang dengan bodohnya membuang kesempatan untuk makan siang bersama kakak tingkat idamanku sejak setahun yang lalu. "bye.." ucapku sambil tersenyum dan berbalik meninggalkannya.

"Bye.." balasnya tersenyum.

Dengan langkah agak cepat aku pergi meninggalkan tempat itu. Saat itu aku ingin sekali meninggalkan kesan bahwa sebenarnya aku ingin menerima ajakannya. Bahwa jika ia memintanya kembali, aku akan menerima ajakannya.

Aku mencoba menengok ke belakang, melihat ke arahnya. Mencoba memberi kesan bahwa aku ingin ia mengejarku. Aku ingin ia masih di sana saat aku menengoknya. Melihatku pergi, berharap aku kembali.

Terlambat. Ia tak peduli.

Ia telah berbalik dan pergi. Aku mengubur harapku.

Ngopi Doeloe Punawarman, Bandung, 12 September 2012
06:47 PM