Saturday, March 31, 2012

Gedung Sate, 30 Maret 2012


Tanggal 30 Maret kemarin, saya iseng datang ke Gedung Sate Bandung untuk melihat demonstran yang berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM.

Ini beberapa gambar yang saya ambil, sambil senyum-senyum geli menertawakan argumen para demonstran yang kurang logis bagi otak saya. Mungkin saya yang salah, bisa jadi juga mereka. :)



Gambar di bawah adalah gambar saat masa dari Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Barat memaksa masuk Gedung Sate untuk bertemu perwakilan pejabat, bahkan mereka minta ketemu gubernur langsung. :)





Karena tidak diijinkan, mereka malah memprovokasi para aparat kepolisian. Mulai dari menyebut aparat tidak melayani rakyat malah jadi jongos pemerintah, menyebut polisi pengkhianat bangsa, menyebut polisi sebagai pelindung kapitalis, sampai memberikan (maaf) pantat pada para polisi yang berjaga. Untungnya, polisinya tidak terprovokasi. Ditanggapi dengan senyuman saja. :)

Berikut gambar-gambar kegiatan dari masa HMI lainnya





Selain dari HMI, ada juga masa dari HIMA Persis, tapi jumlah mereka lebih sedikit dari masa HMI. Kalau masa HMI ngasih pantat dan pulang begitu saja, tidak dengan HIMA Persis. Setelah melakukan orasi, mereka mengucapkan terimakasih dan bersalaman dengan aparat kepolisian.



 


Ada juga beberapa aksi teatrikal dari sesorang yang mengaku lulusan ITB. Saya gak tau beneran ini siapa orangnya. 






Ada pula aksi dari.. err.. gak tahu dari mana, yang pasti aksi mereka tanpa orasi. Aksi mereka hanya berupa merokok di depan para aparat kepolisian sama pura-pura mau melempar botol air minum ke dalam gedung tapi gak jadi dan langsung meminumnya, dilakukan di depan aparat kepolisian juga. Saya ga paham apa maksudnya. :))



Setelah keadaan agak tenang, para aparat kepolisian tiba-tiba duduk bersila. Masa HMI yang sebelumnya sudah mundur mendekati Gasibu, sempat pura-pura akan mendekat lagi ke gerbang Gedung Sate. Polisi kembali berdiri. Mungkin, ini menurut saya pribadi, masa HMI mengira aparat kepolisian mengejek mereka. :)

Saat masa HMI tidak mendekat kembali, para aparat kepolisisan duduk bersila kembali. Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar suara lantunan lagu dzikir dan asmaul husna. Bersama-sama, para aparat kepolisian tersebut mulai melantunkan dzikir dan asmaul husna.






Para demonstran sontak terdiam dan kaget dengan apa yang dilakukan aparat kepolisian. Salah tingkah (salting) gitu deh. Beberapa dari mereka ada yang seakan (saya sendiri gak tau kenapa) tidak terima para aparat kepolisian melakukan hal tersebut. Malahan ada yang berteriak, "Ngaji mah di imah weh atuh, euy!". Kalau menurut saya sih, harusnya masa tersebut malu sama nama organisasi mereka. 

Dalam hati, saya sangat salut kepada para aparat kepolisian tersebut yang tidak termakan provokasi dan malah membalasnya dengan dzikir. Dalam hati pula saya berkata "In your face, dude!" pada para demonstran. :))


***

Itulah pengalaman iseng saya melihat demonstrasi secara langsung. Syukurlah demonstrasi berjalan lancar dan tertib. Sekali lagi, saya mengangkat topi bagi para aparat kepolisian.

PS: Disclaimer: Saya bukan demonstran anti kenaikan harga BBM. Saya malah pengen subsidi BBM dicabut semua. :)

Thursday, March 29, 2012

Header Baru


Catch Your BUS!!! sekarang punya header baru. Header baru yang keren ini adalah karya dari Citra Dewi Saraswati aka kachiew. Beneran keren bukan? :)

Silakan kunjungi blog-nya kachiew di pencitraan dan silakan baca tulisan penuh kegalauannya.

Thanks, chiew! :D

Tuesday, March 27, 2012

Politik dan Anak Muda



Ada anggapan bahwa anak muda jaman sekarang itu anti terhadap politik. Saya sedikit banyak sependapat dengan anggapan tersebut. Anak muda, teman-teman di sekitar saya, seakan-akan menjaga jarak dengan hal-hal yang berkaitan dengan hal tesebut.

Banyak anak muda yang menolak untuk paham tentang hal satu ini. Bahkan, sampai ada yang anti terhadap politik. Ada yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan  kata politik itu busuk dan tidak ada baiknya sama sekali. Seakan-akan kata 'politik' itu adalah kata yang kotor dan berkaitan langsung dengan kata 'dosa'.

Rekan-rekan saya berpikiran seperti itu bukan tanpa alasan. Hampir setiap hari, koran-koran atau berita di TV selalu berisi berita tentang kotornya dunia politik, baik itu luar maupun dalam negeri. Mulai dari caci maki antar politisi (tunggal: politikus) sampai korupsi hasil mark-up anggaran yg dilakukan para pelaku politik. Nampaknya, bagi rekan-rekan saya tersebut, kata 'politik' sudah rusak artinya.

Padahal, secara etimologis, kata politik berasal dari bahasa Yunani politikos yang memiliki arti kurang lebih 'berhubungan dengan masyarakat (warga negara)'. Aristoteles pernah bilang bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), dengan begitu, sebenarnya manusia tidak mungkin terlepas dari kegiatan berpolitik, kecuali hidup sendirian.

Saya kadang suka merinding jika ada teman yang bilang bahwa 'politik itu kotor', 'politik itu busuk', 'tidak ada hal yang bagus dalam politik', dll. Bukan karena kata-kata tersebut benar, justru karena saya menganggap kalimat-kalimat tersebut tidak tepat.

Jika benar politik adalah hal yang busuk atau kotor, apakah kampus-kampus besar seperti UI, UGM, UNPAR, UNAIR, UNDIP, dll. yang memiliki fakultas ilmu politik mengajarkan ilmu yang busuk? Tidak. Apakah kampus-kampus tersebut mengajarkan ilmu yang kotor? Tidak. Apakah para dosen ilmu politik adalah orang yang mengajarkan cara kotor dan busuk dalam bermasyarakat? Tidak.

Jadi, bagi saya pribadi, politik bukanlah kata atau hal yang kotor. Pelaku politik yang kotorlah yang membuat politik menjadi kotor.

Menurut kamu?

Tuesday, March 20, 2012

BBM Bagi Saya



Tadi pagi, saat saya baru saja sampai kampus, tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan selebaran tentang kenaikan BBM kepada saya. Isi selebaran tersebut berupa propaganda agar masyarakat (khususnya mahasiswa seperti saya) ikut menyerukan penolakan akan kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi. Saya baca sekilas, saya senyum geli.

Selebaran berisi 4 paragraf tersebut tidak bisa mengubah pendapat saya tentang kebijakan pemerintah ini. Ajakan dalam selebaran tersebut, menurut saya, hanya berdasar pada alasan emosional, bukan alasan logis. Selebaran ini kebanyakan berisi tentang luapan curahan hati si penulis, contohnya:

"Begitu sederhananya pemerintah menghitung oret-oretan matematika, tanpa mengkaji lebih dalam dampak dari kenaikan harga BBM ini. Bisa dipastikan kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat ini akan menyengsarakan rakyat. Pemerintah harusnya sadar dampaknya akan menyengsarakan rakyat, tetapi rupanya pemerintah sudah tipis nuraninya (atau tidak punya sama sekali) sehingga tetap ngotot untuk menaikkan harga BBM." ~ FKMC se-Bandung Raya

Satu-satunya solusi yang ditawarkan oleh selebaran ini, selain tidak menaikkan harga BBM, adalah menstop ekspor minyak mentah Indonesia ke negara lain. Saya rasa penulisnya mau menjadi orang yang memulai Perang Dunia III.

***

Sebetulnya, saya tidak pernah melihat kebijakan ini sebagai kebijakan 'menaikkan harga BBM' seperti para pendemo itu. Saya dari awal melihat bahwa ini adalah kebijakan 'mengurangi subsidi BBM'. Harga normal BBM jenis Premium itu bukan Rp. 4500,- per liter, harga semurah itu adalah harga yang telah dibayari sebagian oleh pemerintah. Jadi jika sekarang sebagian subsidi BBM akan dicabut, berarti harga BBM bukan dinaikkan, tapi 'dinormalkan' mengikuti harga pasar.

Dalam APBN-P 2011, pemerintah menganggarkan Rp. 195,723 triliun untuk subsidi energi (BBM dan Listrik). Dengan asumsi total APBN adalah Rp. 1000 triliun, maka sekitar 20% APBN habis hanya untuk subsidi. 

Subsidi tersebut lebih banyak dinikmati oleh golongan menengah, bukan golongan bawah. Subsidi tersebut telah memakan anggaran yang sebenarnya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur dan sarana kesejahteraan rakyat. Jika sekarang pembangunan infrastruktur dan sarana kesejahteraan rakyat di Indonesia sangat lambat, hal ini diakibatkan, baik langsung maupun tidak langsung, oleh besarnya anggaran untuk subsidi BBM tersebut.

BBM itu barang yang langka, tidak dapat diperbaharui, dan seharusnya mahal. Kebijakan pemerintah jaman dahulu untuk mensubsidi BBM telah membuat kebanyakan masyarakat terlena (mungkin karena memang itu tujuan pemerintah dahulu). Padahal, sekali lagi, untuk barang yang selangka dan sepenting itu, IMO, BBM seharusnya mahal.

***

Setelah saya disodorkan dan saya baca sekilas, saya kembalikan selebarannya dan bilang "Oh, maaf, Mas. Saya pro kenaikan harga BBM." Orang itu cuma bisa bengong, seakan-akan tidak menyangka bahwa ada mahasiswa yang tidak sepemikiran dengan dia.

"Gak apa-apa, mas. Ambil aja." jawabnya dengan gagap gara-gara kaget.

Saya terima saja.

True story.

PS: Sebagai tambahan aja, dalam jangka waktu kurang dari 6 minggu, China sudah 2 kali menaikkan harga BBM. :)

Thursday, March 8, 2012

Makanan Paling Indonesia Banget


Kalau Amerika Serikat punya Burger, Italia punya Pizza atau Pasta, Mexico punya Taco atau Burrito, Jepang punya Sushi atau Ramen, dan lain-lain, pasti Indonesia juga punya makanan paling Indonesia banget.

Beberapa waktu yang lalu saya melempar pertanyaan di Twitter "Menurut kalian makanan paling Indonesia banget itu apa, tuips?" dan ternyata yang merespon banyak banget. Jawabannya pun macam-macam. Dari mulai Rendang, Soto, Coto, Sate, Nasi Goreng, Nasi kuning, Nasi uduk, Gudeg, sampai ada yg jawab Lotek. --"

Well, kesotoyan saya langsung bereaksi (seperti biasa :p). menurut saya, jawaban-jawaban tersebut kurang Indonesia banget. Kita ambil contoh Rendang. Rendang itu gak terlalu Indonesia. Memang namanya terkenal banget, tapi itu mah masakan khas Sumatra Barat. Hal ini juga berlaku buat makanan-makanan lainnya kayak Soto (lamongan, betawi, Bandung, dll.) atau Coto (Makassar), Sate (Padang, Madura, Maranggi, dll.), Gudeg (Yogyakarta), atau Lotek (Jawa Barat). Jadi, IMO, itu mah kurang Indonesia banget. Kalau disebut sebagai makanan khas daerah, oke laaah.

Sedangkan untuk makanan yang pakai nasi seperti nasi kuning, uduk, atau goreng, kayaknya cuma populer di Indonesia bagian barat. Karena di Indonesia timur, mereka jarang makan nasi dan lebih memilih sagu sebagai makanan pokok mereka. Jadi yaaa, kurang Indonesia banget juga. :p

***

Tapi, di samping jawaban yang ada di atas, @bangpoltak, punya jawaban lain dari yang lain dan hampir mirip dengan jawaban saya pribadi. Dia menjawab "Indomie Kari Ayam" hampir sama dengan jawaban saya "Indomie Ayam Bawang". Cuma beda rasa.

Ya, menurut saya, makanan paling Indonesia banget itu ya Indomie. Kayaknya hampir semua daerah di Indonesia merasakan kehadiran Indomie dan mereka sering memakannya. Jadi, itulah mengapa saya menjawab Indomie sebagai Makanan Paling Indonesia Banget. :p

Bayangin aja coba, siapa sih yang gak tau Indomie di Indonesia ini? Siapa yang belum pernah nyobain Indomie ditambah irisan cengek waktu hujan? Apa coba makanan setia pendamping anak kost yang lagi ngerjain tugas? Apa sih yang dikangenin oleh orang Indonesia di luar negeri? Ke Belanda buat beli Indomie aja mah dijabanin. XD

***

Ini sebenernya cuma sotoy aja sih. Saya gak tau juga apa Indomie nyampe ke Papua sana. Tapi kayaknya sih nyampe. :p

Tulisan saya ini, baiknya jangan ditanggapi serius. Soalnya saya juga sebenernya gak serius mencari apasih makanan paling Indonesia banget itu, toh dengan keragaman budaya yang kita punya, susah nampaknya punya satu atau dua makanan yang Indonesia banget.

Jangan ditanggapi serius juga karena memang awalnya saya cuma iseng nanya begitu di Twitter. hehehe

Kalau menurut kalian, makanan paling Indonesia banget itu apa, guys? :D

PS: Bukan promosi. Udah itu doang. :p