Monday, February 27, 2012

Film Sedih

Kalau banyak orang nulis tentang film di blog-nya dimulai lewat tulisan 'daftar film favorit', saya malah pengen nulis tentang film yang menurut saya punya ending yang oke. Ending yang oke ini, menurut saya, adalah ending yang tidak sepenuhnya happy ending, malah cenderung sad ending.

So, here they are (not in order):




Producer : Michael Bay, Jerry Bruckheimer, Gale Anne Hurd
Director : Michael Bay
Cast : Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler,




Producer : David Heyman
Director : Mark Herman
Cast : Asa Butterfield, Jack Scanlon, David Thewlis, Vera Varmiga




Producer : Spike Lee, Marvin Worth
director : Spike Lee
Cast : Denzel Washington, Spike Lee, Angela Basset, Al Freeman, Jr.



Producer : Clint Eastwood, Robert Lorenz, Judie G. Hoyt
Director : Clint Eastwood
Cast : Sean Penn, Tim Robbins, Kevin Bacon



Producer : Arnold Kopelson, Phyllis Carlyle
Director : David Fincher
Cast : Brad Pitt, Morgan Freeman, Kevin Spacey, Gwyneth Paltrow



Producer : Frank Darabont, David Valdes
Director : Frank Darabont
Cast : Tom Hanks, Michael Clarke Duncan, David Morse, James Cromwell



Producer : John Davis, Joseph M. Singer, David T. Friendly
Director : Edward Zwick
Cast : Denzel Washington, Meg Ryan, Lou Diamond Phillips, Matt Damon


A man wearing leather clothes and holding a rifle walks alongside a dog on an empty street. A destroyed bridge is seen in the background. Atop the image is "Will Smith" and the tagline "The last man on Earth is not alone". Below is the film's title and credits.

Producer : David Heyman, Akiva Goldsman, James Lassiter
Director : Francis Lawrence
Cast : Will Smith


Kalau film dengan ending yang oke menurut kalian apa?

Sunday, February 19, 2012

Hobi

Salah satu hasil masakan saya belakangan ini
"Mayo sauce chicken breast with potato wedges and chicken sausage and carrots"


"I hid myself in food" ~ Gordon Ramsay

Setiap orang pasti memiliki setidaknya satu jenis kegiatan yang jika dikerjakan akan membawa kesenangan bagi dirinya. Banyak orang menyebutnya hobi.

Jika ditanya soal hobi, setiap orang memiliki hobi yang berbeda-beda. Beberapa dari kalian mungkin hobi membaca, lainnya mungkin hobi bermusik. Ada pula yang hobi dansa, atau bahkan hobi berolahraga. Ya, setiap orang memiliki hobi yang berbeda.

Saya pribadi memiliki beberapa hobi, mulai dari baca buku, main Twitter, menulis cerpen, sampai yang paling aneh (menurut orang-orang sekitar saya); memasak.

Ya, saya memang punya hobi masak. Dari kecil saya memang sudah diajari masak oleh keluarga. Banyak orang yang tidak percaya saya bisa masak. Saya sih tidak heran kalau mereka tidak percaya, karena memang saya gak punya tampang dapur. hehehe

Tapi percayalah bahwa saya memang hobi masak dan bisa masak. Dari SD saya sudah mulai sering merecoki dapur dan mencoba beberapa resep keluarga, terutama dari nenek saya. Belakangan, setelah beliau wafat, saya sering mengunduh video masak chef Gordon Ramsay ataupun chef Jamie Oliver yang kemudian saya coba buat sendiri di rumah. Jadi, sekarang-sekarang, saya jadi lumayan sering sok-sok-an masak a la western food. :p

Kalau soal rasa, saya tidak terlalu memikirkan karena saya terkadang masak lebih untuk saya sendiri. Jadi kalau menurut saya enak, berarti masakan saya enak. Sampai sekarang sih, orang-orang belum ada yang protes soal masakan saya. Berarti ya memang enak, karena saya tidak akan makan/menyajikan makanan yang menurut saya tidak enak. fufufu *ketawa jumawa*

Well, itulah hobi 'aneh' saya, masak. Kalau hobimu apa? :)



PS: Gambar di atas itu salah satu hasil masakan saya. Percayalah, tampilannya tak seenak rasanya. hehehe

Thursday, February 9, 2012

Revolusi, seriously?

Suasana MOKAKU 2011

Barusan saya iseng menengok halaman Facebook Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM REMA) kampus saya dan menyadari betapa militannya teman-teman di sana. Sayangnya, saya melihat militanisme rekan-rekan di sana dalam beberapa hal sebenarnya tidak terlalu perlu.

Saya ingat dulu saya pernah ikutan rame diskusi di comment Facebook BEM REMA tentang parkir berbayar yang akan diterapkan pihak kampus. Rame, karena saya termasuk yang pro parkir berbayar selain errr... satu orang lainnya. Sisanya, sekitar puluhan rekan mahasiswa militan lain, kontra. Seru. Rame. Saya sampai pusing lihat kolom comment itu. :)

Sebenarnya saat itu saya kecewa pada rekan-rekan BEM REMA yang hanya mengeluarkan propaganda-propaganda terhadap mahasiswa agar menolak keras kebijakan tersebut. Bukannya memikirkan sisi positif atau solusi dari masalah ini, saya pikir BEM REMA malah memperkeruh suasana.

***

Urusan penolakan parkir berbayar itu hanya salah satu dari beberapa kekecewaan saya pada BEM REMA, tumpuan penyalur aspirasi mahasiswa ini. Saya pernah kecewa saat Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) 2011. Salah satu rekan saya menemukan ribuan tugas mahasiswa baru berupa surat untuk Presiden RI diterlantarkan begitu saja.

Kembali, saya memperlihatkan kekecewaan saya. Kali ini melalui Twitter. Ternyata banyak pihak panitia MOKAKU yang menyangkal hal tersebut. Menurut mereka, mereka mengirimkan surat tersebut kepada presiden melalui Bapak Denny Indrayana (saat itu menjabat stafsus presiden bidang Hukum dan HAM). Padahal, surat yang terlantar itu ditemukan rekan saya sehari setelah Bapak Denny Indrayana memberikan pidato. Ditambah, lewat twitter, Bapak Denny Indrayana bilang: "Masa? Saya tidak membawa apa-apa tuh dari UPI. :)"

Bukan hanya di situ, saya kembali kecewa saat ternyata dengan mudahnya para rekan saya yang kritis di BEM REMA mengeluarkan ikut menyemarakkan Deklarasi Siliwangi. Terlihat mereka mengecam para pejabat, tapi mereka mengingatkan saya akan rekan-rekan mahasiswa senior yang dulu merengek meminta reformasi dan sekarang bersendawa kekenyangan di gedung-gedung pemerintahan.

Belum habis rasa kecewa saya, baru saja saya melihat ajakan untuk revolusi di halaman Facebook BEM REMA. Errr.. iya, revolusi. Saya saja mendengarnya merinding. Ngeri. Kata itu seakan menjadi jarum yang memecahkan gelembung kekecewaan saya pada lembaga ini dan menumpahkan isinya pada tulisan ini.

Sesuatu hal yang tidak mendesak, sesuatu yang seharusnya bisa dipikirkan dengan baik, sesuatu yang hanya merupakan nafsu sesaat, malah dibesar-besarkan seakan akan menjadi penyebab kehancuran dunia esok hari.

***

Beberapa hari mendatang akan diadakan pemilihan Presiden dan Waki Presiden BEM REMA yang baru. Pemerintahan BEM REMA terdahulu, yang membuat saya sedikit bayak kecewa, akan digantikan oleh pemerintahan yang baru.

Sebenarnya, besar harapan saya pada BEM REMA ini. Lembaga ini bisa menjadi suatu ruang mahasiswa untuk memikirkan solusi bagi bangsa, bukan tempat untuk menggelorakan nafsu militanisme yang tak perlu. Juga dapat menjadi tempat untuk mencerdaskan mahasiswa, bukan tempat mengadu domba rektorat, pemerintah, dan mahasiswa. Juga sebagai media diskusi, bukan sebagai media propaganda pihak tertentu.

Soal revolusi tadi, saya melihat itu hanya sebuah mimpi rekan-rekan mahasiswa di sana. Mimpi untuk menjadi para agen perubahan. Agen perubahan secara instant karena sebenarnya mimpi itu hanyalah nafsu mereka yang ingin menjadi seperti senior mahasiswa mereka terdahulu. Padahal, senior-senior mahasiswa pun adalah mereka yang rekan-rekan BEM REMA bilang gagal dalan Deklarasi Siliwangi.

Seriously, revolusi?

George Orwell pernah bilang "One does not establish a dictatorship in order to safeguard a revolution; one makes the revolution in order to establish the dictatorship."

I kinda agree with that old man. :)

***

Sebenarnya ada beberapa hal lain yang membuat saya kecewa dengan BEM REMA. UPI Expo, publikasi-publikasi acara yang tidak maksimal, dan yang baru-baru ini soal debat CAPRES & CAWAPRES yang tak begitu meyakinkan.
Mungkin banyak yang berpikir bahwa saya ini hanya bisa omdo (ngomong doang). Tidak tahu bagaimana sebenarnya keadaan di dalam BEM REMA itu sendiri. Tidak ikut berkontribusi langsung bagi BEM REMA. Errr.. Saya setuju atas semua pikiran tersebut.

Well, seseorang tidak harus bisa memasak untuk bilang bahwa suatu makanan tidak enak. Seseorang tidak harus masuk kedalam BEM REMA untuk bilang bahwa beberapa kebijakan mereka mengecewakan. Seseorang tak harus ada di pemerintahan untuk bilang pemerintah gagal. Yang terakhir mengingatkan saya akan rekan-rekan BEM sendiri. :)

Sekali lagi: Revolusi, seriously?