Monday, January 30, 2012

Sebuah Cerpen: Orange Float

"Orange float-nya satu ya, mas." ucapnya pada pelayan restoran steak murah meriah itu.

Hari itu hujan. Tapi udaranya bikin kita kepanasan. Gerah kalau orang bilang. Tidak seperti hujan kebanyakan yang sering membuat banyak anak manusia betah berlama-lama di bawah balutan selimut. Orang-orang banyak yang telah selesai makan. Mereka melanjutkan ngobrol dengan rekannya. Tidak 
langsung pulang, karena memang hujan masih lumayan deras.

Begitu pula aku dan wanita di depanku. Kami sudah selesai makan dan minum. Hanya saja kami menunggu hujan dengan kembali memesan minuman. Sambil ngobrol santai ngalor-ngidul melanjutkan obrolan saat makan tadi.

Ia yang mengajakku ke sini. Entah apa yang membuatnya mengajakku ke sini, padahal ia sendiri sudah memiliki kekasih. Mungkin ia sedang ada masalah, atau mungkin saja ia hanya ingin ditemani mengobrol. Baiknya aku tak berprasangka.

"Bikin dua deh, Mas." ucapku pada pelayan sambil menatap mata wanita di depanku.

Mata indahnya mengingatkanku bahwa Tuhan itu ada. Mata itu meyakinkanku bahwa takkan ada sesuatu apapun itu yang mampu membuat sesuatu seindah matanya, kecuali Tuhan.

"Suka orange float juga?" tanyanya curiga.

"Suka sejak dulu. Rasanya unik. Asem dari jeruk-nya klop sama manis dari es krim vanilla."

"Sepakat. Klop kayak jodoh. Kayak mereka itu memang diciptakan Tuhan buat saling melengkapi satu sama lain. Asem, manis, membuat kebahagiaan bagi orang yang meminumnya." Tambahnya diiringi senyum memesona-nya.

Senyumnya, takkan ada yg bisa memalingkan pandangannya saat seseorang melihat senyumnya. Senyumnya kembali mengingatkanku bahwa Tuhan itu ada. Bahwa hanya ia lah yang bisa mengukir senyum seindah itu pada wajah seseorang.

"Kalau gitu, apa ada minuman float yang diciptakan tapi gak melengkapi satu sama lain?" tanyaku menggoda.

"Hmmm.. Ada. Milkshake float." ucapnya sambil menunjuk menu minuman di restoran itu. Restoran itu memang menyediakan Milkshake float.

"Memangnya kenapa?"

"Ya karena minuman itu tidak saling melengkapi. Cuma nambah-nambahin," jelasnya. "Minuman itu cuma susu yg dikocok, sama susu yg dijadikan es krim. Susu sama susu barengan. Kalau di dunia, kayak gay atau lesbi. Cowok sama cowok atau cewek sama cewek. Cuma beda gimana bentuknya aja." ia menyelesaikan penjelasannya dengan tawa.

Mungkin ia menertawakan analisis sok tahu-nya. Tapi aku sama sekali tak peduli. Tawanya merdu. Ia tertawa semerdu nyanyiannya. Lagi-lagi, Tuhan bertanggung jawab akan hal ini. Ia yang menciptakannya.

"Sekarang giliran kamu. Menurut kamu, Cola float itu pasangan serasi bukan?" tanyanya masih sambil tertawa.

"Hmmm.. Mungkin mereka serasi. Sifat cola yang keras dan kadang menyakiti orang lain dapat tutupi sama manis dan lembut dari es krim." jawabku sekenanya.

"Kalau gitu, biarpun mereka serasi, mereka bukan pasangan yang baik."

"Kenapa?"

"Karena sang es krim tidak mau sang cola terlihat jelek dihadapan orang lain. Ia cuma menutup-nutupi. Bukan saling melengkapi."

Ia pintar. Untuk yang ini, aku masih bisa meragukan kalau ini tanggung jawab Tuhan. Bisa saja ia mendapatkannya dari orang lain.

"Tapi kenapa lebih banyak orang suka cola float dan milkshake float daripada orange float?"

"Mungkin karena banyak orang tidak suka sama pasangan yg sempurna. Mereka cemburu akan kehadiran kesempurnaan itu."

"Bukankah orang-orang mencari kesempurnaan?"

"Mencari kesempurnaan kayaknya memang sifat dasar mereka," jawabnya agak ragu. "Tapi apakah mereka benar-benar ingin merasakan kesempurnaan? Atau mereka hanya mencari, menemukan, dan cukup puas dengan tahu kesempurnaan itu ada?"

"Mereka seakan tak mau hidup dalam kesempurnaan, ..." kataku mulai paham.

"...Karena kesempurnaan itu berarti kebosanan bagi mereka." katanya menutup penjelasannya.

Aku hanya bisa tersenyum. Ia adalah kesempurnaan bagiku. Wanita yang selama ini kucari. Wanita impian selama hidupku yang, sayangnya, kutemukan saat ia sedang tak sendiri.
Diskusi ini telah menggiringku ke dalam keraguan. Apakah aku menginginkan kesempurnaan itu? Atau aku terlalu takut akan kebosanan yang akan datang nantinya?

"Aku sama cowokku sih kayaknya pasangan Cola float. Persis kayak yg tadi kamu jelasin. Kadang-kadang kita saling menutupi. Bukan melengkapi. Bukan menambahi."

"Ahh.." hanya itu yg bisa keluar dari mulutku. Tak menyangka ia akan membahas lelaki lain selain diriku saat itu. "Dan kamu bahagia?." tanyaku cepat-cepat. Ia tersenyum kemudian menjawab.

"Bahagia atau tidak, aku tetap menginginkan kesempurnaan bagai pasangan Orange float." jawabnya diplomatis.

"Jadi kamu berharap mengubah Cola float jadi Orange float?" tanyaku lagi.

"Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Aku yakin kalau suatu pasangan gak akan bisa berubah begitu saja. Saat mereka ditakdirkan berpasangan layaknya Cola float, mereka akan jadi pasangan Cola float selamanya. Gak bisa berubah."

"Terus, gimana caranya kamu mendapatkan kesempurnaan layaknya pasangan Orange float itu?" Tanyaku naif. Ia tersenyum dan kemudian menjawab.

"Kesempurnaan itu memang aku inginkan. Tapi seperti kebanyakan orang tadi, aku hanya menginginkannya. Aku hanya ingin mencari, menemukan, dan cukup puas dengan tahu kesempurnaan itu ada. Tak cukup berani untuk memilikinya."

Jawabannya selesai tepat saat pelayan datang dengan dua orange float. Ia langsung meminumnya. Tak sabar merasakan kesempurnaan itu.

"Apa kamu sudah menemukan kesempurnaan itu?"

"Sudah, ia ada di depanku."

Bandung, 28 Januari 2012
04:49 AM

Thursday, January 12, 2012

Vespa

(Vespa Super '79 punya kakak saya yang kadang-kadang saya pinjam)


"That (superbike) may be fast, but this (Vespa) is stylish." ~ Joe Bastianich, Masterchef US S02E08


Kalau kamu belum pernah naik Vespa, cobalah naik Vespa suatu waktu. Saat pertama naik Vespa, jangan kaget kalau banyak pengendara Vespa tidak dikenal yang akan menyapa kamu. Mereka menyapa bukan karena mereka kenal kamu, tapi mereka menyapa kamu karena kamu naik Vespa.

Ya, naik Vespa memang menyenangkan. Saya sendiri tidak pernah tiba-tiba disapa oleh banyak pengendara motor lain yang kalau saya naik motor selain Vespa. Sepertinya ada semacam hukum tak tertulis bagi para pengendara motor Vespa untuk saling menyapa.

Kamu tidak perlu menunggu untuk disapa terlebih dahulu saat naik Vespa. Saat naik Vespa, sapa saja siapapun pengendara Vespa. Jangan takut dicuekin, mereka pasti menyapa balik dengan memberikan klakson, melambaikan tangan, atau sekedar senyum. Kalau kamu disapa terlebih dahulu, pastikan kamu membalasnya dengan tanda-tanda yang tadi. Seriously, IMO, ini membuat naik motor menjadi menyenangkan.

***

Iseng, saat saya naik motor lain selain Vespa, saya coba menyapa pengendara motor denga merk yang sama dengan motor yang saya kendarai. Hasilnya? Mereka bengong, tak kenal, tak menyapa balik, ada yang cuek saja, bahkan ada yang melihat dengan pandangan 'sok kenal bener lo'. Well, tidak semenyenangkan naik Vespa ternyata.

Iseng lagi, saya coba menyapa pengendara Vespa saat saya naik motor bukan motor Vespa. Hasilnya? Pengendara Vespa menyapa balik, ada yang memberikan klakson, ada yang melambaikan salam, ada yang sekedar senyum.

Dari kejadian tersebut, saya berkesimpulan bahwa pengendara Vespa memang ramah di jalan. Sekali lagi, seakan-akan ada hukum tak tertulis lainnya bahwa pengendara Vespa harus ramah pada pengendara motor lain, khususnya sesama pengendara Vespa.

***

Well, begitulah pengalaman saya naik Vespa belakangan ini. Para pengendara Vespa memang ramah-ramah. Tak jarang saya melihat ada pengendara Vespa yang mogok dan dibantu oleh pengendara Vespa lainnya. Seperti ada semacam ikatan saudara diantara mereka.

Selain itu para pengendara Vespa, menurut saya, sopan-sopan. Mereka lebih sering mengambil jalur kiri, mepet, daripada ugal-ugalan ke tengah jalan. Tapi kemungkinan besar ini sih karena takut mogok. Hehehe

Ternyata, keunikan Vespa bukan hanya ada pada bentuknya. :)


PS: Kapan-kapan saya tulis pengalaman naik Vespa lainnya. Ummm.. biar lebih gaya, pakai kacamata hitam waktu naik Vespa. *beepbeep* :D