Sunday, December 30, 2012

5cm: Sebenarnya Bukan Film Biasa Saja

Biasanya saya jarang membuat resensi mengenai film. Hampir tak pernah. Paling hanya menyebutkan daftar film-film yang blablabla saja, tidak pernah sampai menulis resensi khusus untuk satu film. Namun, karena di twitter pak @equshay mengingatkan saya bahwa blog saya sudah jarang diisi, maka saya coba isi lagi blog saya dengan sebuah tulisan saya mengenai film 5cm.

Berkas:5CMPOSTERFILM.jpg 
(ki-ka: Poster film dan sampul novel 5cm)

Film 5cm merupakan sebuah film adaptasi dari novel bestseller Indonesia berjudul sama karya Donny Dhirgantoro Film ini, menurut saya, merupakan film Indonesia paling ambisius tahun 2012. Film tersebut telah ditunggu-tunggu oleh para penggemar novel-nya yang sabar menunggu sejak lama untuk film ini. Namun saya, yang menempatkan novel 5cm dalam daftar novel Indonesia yang harus dibaca sebelum mati, awalnya tidak terlalu tertarik dengan film 5cm. 

Mengapa? Jawabannya sederhana. Saya kurang puas dengan poster film 5cm. Poster film tersebut seakan tidak menggambarkan kesederhanaan seperti sampul novel-nya. Melihat poster tersebut, nampaknya, terlalu banyak orang yang ingin namanya ditulis di sana. Saya mungkin akan suka posternya jika nama-nama pada poster film tersebut ditulis mengikuti poster-poster film lainnya, ditulis di bagian bawah poster film dengan ukuran tulisan tidak terlalu besar seperti tulisan di atas. Apalagi dengan menggunakan font yang terlalu biasa untuk sebuah film ambisius, hanya karena jenis font tersebut merupakan nama salah satu tokoh di film tersebut, Arial.

Selain itu, saya kerap kecewa akan film Indonesia yang diadaptasi dari sebuah novel. Film adaptasi novel seperti  Dealova, Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-ayat Cinta, Negeri 5 Menara, Perahu Kertas, Sang Pemimpi, dll. menurut saya mengecewakan. Hanya film Jomblo (2006) dan Laskar Pelangi (2008) lah film adaptasi novel yang tidak mengecewakan saya.

Tapi, ternyata film 5cm tidak terlalu mengecewakan.

Film ini bercerita mengenai lima orang anak muda yang telah saling bersahabat selama 10 tahun lamanya. Karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama selama 10 tahun, Genta, Zafran, Ian, Riani, dan Arial merasa jenuh dan akhirnya memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga bulan. Kerinduan selama tiga bulan mereka 'bayar' dengan melakukan perjalanan bersama mendaki gunung Mahameru, puncak tertinggi di Jawa, pada hari kemerdekaan Indonesia. Saat itulah kisah mengenai persahabatan, cinta, cita-cita, dan nasionalisme, yang merupakan ide dari kisah ini, di mulai. 

Film ini memanjakan kita dengan sinematografi yang indah. Saya awalnya sempat mengira bahwa sinematografi yang indah hanya akan dapat saya nikmati saat adegan-adegan di Mahameru, namun saya salah. Gambar-gambar saat kelima sahabat tersebut di kota pun juga tidak kalah baiknya. Bahkan, menurut saya, gambar-gambar tersebut di atas rata-rata film Indonesia lainnya. Sedangkan gambar-gambar yang bersetting di Mahameru sungguh menghapuskan dahaga saya akan film Indonesia dengan gambar yang luar biasa.

Musik di film ini menurut saya sangat baik menutup kekurangan film 5cm yang terletak pada kelemahan akting para pemainnya. Kualitas scoring musik di film tersebut berhasil membangun suasana yang sebenarnya bisa dibangun oleh akting para pemainnya, namun gagal. Aktor dan aktris dengan nama-nama beken seperti Fedi Nuril, Igor Saykoji, Pevita Pearce, Denny Sumargo, Herjunot Ali, dan Raline Shah jelaslah merupakan titik terlemah dari film ini. Kemampuan akting mereka di film tersebut nampaknya bisa disaingi kualitas akting para pemain di film sekelas FTV.

Saya tidak melihat kualitas akting yang baik dari Fedi Nuril dan Herjunot Ali yang tampil apik di film Mengejar Matahari dan Realita, Cinta dan Rock'n Roll, respectively. Mungkin banyak orang di luar sana yang memuji penampilan Pevita Pearce yang tampil cantik di film tersebut. Namun saya memberikan pujian kepada Raline Shah yang berakting sangat baik dibandingkan pemain lainnya. Sementara itu, untuk kualitas akting Denny Sumargo dan Igor Saykoji, saya hanya bisa bilang - maaf - awful.

Lemahnya kualitas akting para pemain tersebut sedikit banyak menggangu indahnya naskah yang ditulis oleh Donny Dhirgantoro, sang penulis novel sendiri. Hal ini menjadikan setiap kalimat-kalimat puitis yang harusnya membangkitkan semangat atau menjadi inti cerita film ini, menjadi kaku dan kurang maksimal tersampaikan pesannya.

Walaupun begitu, menurut saya film ini sangat layak untuk ditonton. Ide cerita yang sangat luar biasa (walaupun kurang dieksekusi dengan baik oleh para pemainnya) sangat dibutuhkan oleh para pemuda Indonesia masa kini yang seakan-akan tidak lagi mencintai negaranya sendiri.

Secara keseluruhan, menurut saya, film 5cm adalah film Indonesia dengan kualitas di atas rata-rata. Hanya saja, terlalu banyak puja-puji berlebihan dari para penggemar novel dan para aktornya akan film tersebut membuat keseluruhan filmnya jadi terlihat overrated.

Sinematografi: 9/10
Naskah: 6,5/10
Musik: 7,5/10
Suntingan: 6/10
Plot dan Cerita: 7,5/10
Pemain: 4/10
Poster film: 2,5/10
Overall: 3,5/5

***

Judul Film: 5cm
Genre: Drama, Petualangan
Tanggal Rilis Perdana: 12 Desember 2012
Durasi: 126 min.
Produser: Sunil Soraya
Produksi: Soraya Intercine

Sutradara: Rizal Mantovani
Penulis: Donny Dhirgantoro
Pemain Utama: Herjunot Ali (Zafran), Raline Shah (Riani), Fedi Nuril (Genta), Pevita Pearce (Dinda), Igor Saykoji (Ian), Denny Sumargo (Arial)

Teaser



NB: Kalau nonton, usahakan jangan duduk di sebelah anak-anak perempuan SMA yang setiap ada scene Fedi Nuril atau Junot teriak "Aaaaaaak! Ganteng banget!". Tips aja. 

Wednesday, September 12, 2012

Sebuah Cerpen: Berbalik dan Pergi

"Hai.." sapanya dengan senyum menawannya.

"Hai.." balasku gugup sambil memasukkan tangan kananku ke dalam saku celana. Aku tak mengira ia akan menyapaku.

Biasanya, jika aku dan dirinya berada dalam satu lokasi yang sama, ia akan pura-pura tidak melihatku. Ia akan terlihat seperti orang lain yang tak pernah mengenalku. Padahal aku ingin sekali bisa menyapanya, walau hanya bertukar sepatah kata.

Aku mengenalnya kurang lebih setahun yang lalu. Aku mengenalnya saat aku menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru. Saat itu, entah takdir atau kebetulan semata, aku lah petugas panitia yang memandunya  mengisi data-data mahasiswa baru yang harus ia isi. Sejak itu, aku diam-diam menyimpan rasa padanya.

"Aku ke lobby duluan ya. Nanti aku sms." ujar temannya. Ia seakan tak ingin menggangu dan memberikan kami waktu berduaan.

"Errr.. Oke." jawabnya dengan disertai pandangan penuh arti kepada temannya. Entahlah, hanya mereka yang tahu artinya.

Aku tak tahu dengannya, yang aku tahu, jantungku berdetak kencang jika aku melihatnya dari kejauhan. Saat ini, ia menyapaku. Aku takut ia dapat mendengar detak kencang jantungku.

"Beres kelasnya?" tanyaku membuka percakapan. Basi memang. Dalam gugup, apa yang kau harapkan?

"Sebenarnya masih ada. Tapi kelas berikutnya, dosennya gak bisa dateng." jawabnya sambil melakukan gerakan merapikan rambut ke belakang telinganya, padahal ia memakai kerudung. "Kamu sendiri?" mata indahnya menatap lurus ke mataku.

"Saya sih kelasnya udah selesai dari jam 10 tadi." jawabku, masih gugup.

Sejak pertemuan pertama itu, aku selalu memikirkan dirinya. Hanya saja, aku tak pernah berani untuk menyapanya setelah pertemuan pertama itu.

"Sekarang mau ke mana?" tanyanya lagi. Sedikit tersenyum setelah ia bertanya. Tampaknya aku tahu apa makna di balik senyumnya itu. Tapi aku tak ingin melambungkan harapku sendiri.

Ada hening panjang setelahnya. Pikiranku kembali melayang pada hari terakhir aku berbicara dengannya.  Saat aku mengajaknya sedikit bercanda saat ia sedang mengisi form data mahasiswa baru. Aku ingat melihatnya pertama kali tersenyum saat aku sedikit menggodanya dengan mengajak makan siang saat aku melihat ia mengisi 'makan' pada kolom hobby. Ajakan itu hanya canda dengan sedikit harap. Sayang ajakan itu tak pernah terwujud menjadi kenyataan.

"Saya mau makan siang nih. Mau makan siang bareng?" tanyaku sambil sedikit tersenyum. Kembali menitip harap di sana.

"Kayaknya gak bisa. Saya udah janji mau makan siang sama temen saya yang barusan." jawabnya menolak sedikit harapku.

"Too bad.. Oke kalau gitu." ucapku menanggapi tolakkannya sambil memasang wajah maklum. Padahal,  ia bisa menyarankan hari lain untuk makan siang jika ia memang ingin makan siang denganku. Tapi, tampaknya ia tak ingin.

"Oke." jawabnya, kali ini ia tak menatap langsung mataku. "bye.." ucapnya sambil tersenyum dan berbalik meninggalkanku.

"Bye.." balasku ikut tersenyum sambil melihatnya berlalu. Aku melihatnya pergi meninggalkanku. Melihat punggungnya menjauh. Kali ini aku berharap ia menengok ke arahku. Berharap ia menginginkan aku mengejarnya dan mengajaknya lagi. Memastikan apakah ia benar-benar tak ingin melewatkan waktu bersamaku.

Aku tertawa geli. Menertawakan diriku sendiri. Aku lupa bahwa ini bukanlah adegan di film romantis di mana sang wanita yang pergi, menengok ke arah lelaki yang ia tinggalkan untuk memberikan pesan bahwa ia ingin dikejar dan dihentikan.

Ia tak menengok kembali. Aku mencoba menarik harapanku dan menyadaran diriku sendiri bahwa ia memang tak menyimpan rasa seperti yang kurasakan.

Aku berbalik dan pergi. Aku mengubur harapku.

* * *


"Hai.." sapaku salah tingkah. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku saat aku melihatnya. Tak tahu kenapa.

"Hai.." balasnya sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Ia terlihat menawan.

Biasanya, jika aku dan dirinya berada dalam satu lokasi yang sama, ia akan menjauh. Ia akan terlihat seperti orang lain yang tak pernah mengenalku. Padahal aku ingin sekali bisa menyapanya, walau hanya bertukar sepatah kata.

Aku mengenalnya kurang lebih setahun yang lalu. Saat itu aku baru saja mendaftar menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Entah takdir atau kebetulan semata, ia lah kakak panitia yang memanduku mengisi data-data mahasiswa baru yang harus aku isi. Sejak itu, aku diam-diam menyimpan rasa padanya.

Temanku tiba-tiba bilang bahwa ia ingin pergi ke lobby lebih dulu, sambil memberiku tatapan penuh arti. Sebenarnya ia tahu bahwa aku menyimpan rasa pada kakak tingkatku ini. Makanya ia seakan mengerti dan tak ingin menggangu. Ia hanya memcoba memberiku waktu untuk berduaan dengan kakak tingkatku.

"Errr.. Oke." jawabku sambil balas menatapnya dengan tatapan 'jangan tinggalin gue berduaan sama dia'. Tatapan yang sebenarnya juga disertai rasa terima kasih pada temanku karena mengerti situasi yg sudah lama aku harapkan. Berduaan dengan ia yang ada di hadapanku.

Aku tak tahu dengannya, yang aku tahu, jantungku berdetak kencang jika aku melihatnya dari kejauhan. Saat ini, ia ada di hadapanku. Aku takut ia dapat mendengar detak kencang jantungku.

"Beres kelasnya?" tanyanya membuka percakapan.

"Sebenarnya masih ada. Tapi kelas berikutnya, dosennya gak bisa dateng." jawabku salah tingkah sambil melakukan gerakan merapikan rambut ke belakang telinga, padahal aku memakai kerudung. Aku gugup. "Kamu sendiri?" kali ini aku beranikan diri menatap langsung mata indahnya.

"Saya sih kelasnya udah selesai dari jam 10 tadi." jawabnya datar.

Sejak pertemuan pertama itu, aku selalu memikirkan dirinya. Hanya saja, aku tak pernah berani untuk bicara padanya setelah pertemuan pertama itu. Baru kali ini aku berani menyapanya.

"Sekarang mau ke mana?" tanyaku kemudian. Terselip harap pada pertanyaanku itu. Harapanku untuk dapat berlama-lama dengannya. Berdua saja. Bertukar cerita. Bertukar tawa.

Ada hening panjang setelahnya.

"Saya mau makan siang nih. Mau makan siang bareng?" tanyanya sambil sedikit tersenyum.

Tampaknya aku mengerti arti senyumnya. Pikiranku kembali melayang pada hari terakhir aku berbicara dengannya. Ia mengajakku bercanda saat aku sedang mengisi form data mahasiswa baru. Aku ingat melihatnya pertama kali tersenyum saat ia menggodaku dengan mengajakku makan siang saat ia melihat aku mengisi 'makan' pada kolom hobby. Ajakan itu adalah canda yang memberi harap. Sayang ajakan itu tak pernah terwujud menjadi kenyataan.

"Kayaknya gak bisa. Saya udah janji mau makan siang sama temen saya yang barusan." jawabku sambil mengutuki diriku sendiri. Entah apa yang membuatku menolak ajakan itu. Dalam gugup, apa yang kau harapkan?

"Too bad.. Oke kalau gitu." ucapnya sambil sedikit tersenyum. Tampak memaklumi jawaban bodohku.

"Oke." jawabku, kali ini aku tak menatap langsung matanya. Malu pada dirinya, malu pada diriku sendiri yang dengan bodohnya membuang kesempatan untuk makan siang bersama kakak tingkat idamanku sejak setahun yang lalu. "bye.." ucapku sambil tersenyum dan berbalik meninggalkannya.

"Bye.." balasnya tersenyum.

Dengan langkah agak cepat aku pergi meninggalkan tempat itu. Saat itu aku ingin sekali meninggalkan kesan bahwa sebenarnya aku ingin menerima ajakannya. Bahwa jika ia memintanya kembali, aku akan menerima ajakannya.

Aku mencoba menengok ke belakang, melihat ke arahnya. Mencoba memberi kesan bahwa aku ingin ia mengejarku. Aku ingin ia masih di sana saat aku menengoknya. Melihatku pergi, berharap aku kembali.

Terlambat. Ia tak peduli.

Ia telah berbalik dan pergi. Aku mengubur harapku.

Ngopi Doeloe Punawarman, Bandung, 12 September 2012
06:47 PM

Saturday, March 31, 2012

Gedung Sate, 30 Maret 2012


Tanggal 30 Maret kemarin, saya iseng datang ke Gedung Sate Bandung untuk melihat demonstran yang berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM.

Ini beberapa gambar yang saya ambil, sambil senyum-senyum geli menertawakan argumen para demonstran yang kurang logis bagi otak saya. Mungkin saya yang salah, bisa jadi juga mereka. :)



Gambar di bawah adalah gambar saat masa dari Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Barat memaksa masuk Gedung Sate untuk bertemu perwakilan pejabat, bahkan mereka minta ketemu gubernur langsung. :)





Karena tidak diijinkan, mereka malah memprovokasi para aparat kepolisian. Mulai dari menyebut aparat tidak melayani rakyat malah jadi jongos pemerintah, menyebut polisi pengkhianat bangsa, menyebut polisi sebagai pelindung kapitalis, sampai memberikan (maaf) pantat pada para polisi yang berjaga. Untungnya, polisinya tidak terprovokasi. Ditanggapi dengan senyuman saja. :)

Berikut gambar-gambar kegiatan dari masa HMI lainnya





Selain dari HMI, ada juga masa dari HIMA Persis, tapi jumlah mereka lebih sedikit dari masa HMI. Kalau masa HMI ngasih pantat dan pulang begitu saja, tidak dengan HIMA Persis. Setelah melakukan orasi, mereka mengucapkan terimakasih dan bersalaman dengan aparat kepolisian.



 


Ada juga beberapa aksi teatrikal dari sesorang yang mengaku lulusan ITB. Saya gak tau beneran ini siapa orangnya. 






Ada pula aksi dari.. err.. gak tahu dari mana, yang pasti aksi mereka tanpa orasi. Aksi mereka hanya berupa merokok di depan para aparat kepolisian sama pura-pura mau melempar botol air minum ke dalam gedung tapi gak jadi dan langsung meminumnya, dilakukan di depan aparat kepolisian juga. Saya ga paham apa maksudnya. :))



Setelah keadaan agak tenang, para aparat kepolisian tiba-tiba duduk bersila. Masa HMI yang sebelumnya sudah mundur mendekati Gasibu, sempat pura-pura akan mendekat lagi ke gerbang Gedung Sate. Polisi kembali berdiri. Mungkin, ini menurut saya pribadi, masa HMI mengira aparat kepolisian mengejek mereka. :)

Saat masa HMI tidak mendekat kembali, para aparat kepolisisan duduk bersila kembali. Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar suara lantunan lagu dzikir dan asmaul husna. Bersama-sama, para aparat kepolisian tersebut mulai melantunkan dzikir dan asmaul husna.






Para demonstran sontak terdiam dan kaget dengan apa yang dilakukan aparat kepolisian. Salah tingkah (salting) gitu deh. Beberapa dari mereka ada yang seakan (saya sendiri gak tau kenapa) tidak terima para aparat kepolisian melakukan hal tersebut. Malahan ada yang berteriak, "Ngaji mah di imah weh atuh, euy!". Kalau menurut saya sih, harusnya masa tersebut malu sama nama organisasi mereka. 

Dalam hati, saya sangat salut kepada para aparat kepolisian tersebut yang tidak termakan provokasi dan malah membalasnya dengan dzikir. Dalam hati pula saya berkata "In your face, dude!" pada para demonstran. :))


***

Itulah pengalaman iseng saya melihat demonstrasi secara langsung. Syukurlah demonstrasi berjalan lancar dan tertib. Sekali lagi, saya mengangkat topi bagi para aparat kepolisian.

PS: Disclaimer: Saya bukan demonstran anti kenaikan harga BBM. Saya malah pengen subsidi BBM dicabut semua. :)

Thursday, March 29, 2012

Header Baru


Catch Your BUS!!! sekarang punya header baru. Header baru yang keren ini adalah karya dari Citra Dewi Saraswati aka kachiew. Beneran keren bukan? :)

Silakan kunjungi blog-nya kachiew di pencitraan dan silakan baca tulisan penuh kegalauannya.

Thanks, chiew! :D

Tuesday, March 27, 2012

Politik dan Anak Muda



Ada anggapan bahwa anak muda jaman sekarang itu anti terhadap politik. Saya sedikit banyak sependapat dengan anggapan tersebut. Anak muda, teman-teman di sekitar saya, seakan-akan menjaga jarak dengan hal-hal yang berkaitan dengan hal tesebut.

Banyak anak muda yang menolak untuk paham tentang hal satu ini. Bahkan, sampai ada yang anti terhadap politik. Ada yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan  kata politik itu busuk dan tidak ada baiknya sama sekali. Seakan-akan kata 'politik' itu adalah kata yang kotor dan berkaitan langsung dengan kata 'dosa'.

Rekan-rekan saya berpikiran seperti itu bukan tanpa alasan. Hampir setiap hari, koran-koran atau berita di TV selalu berisi berita tentang kotornya dunia politik, baik itu luar maupun dalam negeri. Mulai dari caci maki antar politisi (tunggal: politikus) sampai korupsi hasil mark-up anggaran yg dilakukan para pelaku politik. Nampaknya, bagi rekan-rekan saya tersebut, kata 'politik' sudah rusak artinya.

Padahal, secara etimologis, kata politik berasal dari bahasa Yunani politikos yang memiliki arti kurang lebih 'berhubungan dengan masyarakat (warga negara)'. Aristoteles pernah bilang bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), dengan begitu, sebenarnya manusia tidak mungkin terlepas dari kegiatan berpolitik, kecuali hidup sendirian.

Saya kadang suka merinding jika ada teman yang bilang bahwa 'politik itu kotor', 'politik itu busuk', 'tidak ada hal yang bagus dalam politik', dll. Bukan karena kata-kata tersebut benar, justru karena saya menganggap kalimat-kalimat tersebut tidak tepat.

Jika benar politik adalah hal yang busuk atau kotor, apakah kampus-kampus besar seperti UI, UGM, UNPAR, UNAIR, UNDIP, dll. yang memiliki fakultas ilmu politik mengajarkan ilmu yang busuk? Tidak. Apakah kampus-kampus tersebut mengajarkan ilmu yang kotor? Tidak. Apakah para dosen ilmu politik adalah orang yang mengajarkan cara kotor dan busuk dalam bermasyarakat? Tidak.

Jadi, bagi saya pribadi, politik bukanlah kata atau hal yang kotor. Pelaku politik yang kotorlah yang membuat politik menjadi kotor.

Menurut kamu?

Tuesday, March 20, 2012

BBM Bagi Saya



Tadi pagi, saat saya baru saja sampai kampus, tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan selebaran tentang kenaikan BBM kepada saya. Isi selebaran tersebut berupa propaganda agar masyarakat (khususnya mahasiswa seperti saya) ikut menyerukan penolakan akan kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi. Saya baca sekilas, saya senyum geli.

Selebaran berisi 4 paragraf tersebut tidak bisa mengubah pendapat saya tentang kebijakan pemerintah ini. Ajakan dalam selebaran tersebut, menurut saya, hanya berdasar pada alasan emosional, bukan alasan logis. Selebaran ini kebanyakan berisi tentang luapan curahan hati si penulis, contohnya:

"Begitu sederhananya pemerintah menghitung oret-oretan matematika, tanpa mengkaji lebih dalam dampak dari kenaikan harga BBM ini. Bisa dipastikan kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat ini akan menyengsarakan rakyat. Pemerintah harusnya sadar dampaknya akan menyengsarakan rakyat, tetapi rupanya pemerintah sudah tipis nuraninya (atau tidak punya sama sekali) sehingga tetap ngotot untuk menaikkan harga BBM." ~ FKMC se-Bandung Raya

Satu-satunya solusi yang ditawarkan oleh selebaran ini, selain tidak menaikkan harga BBM, adalah menstop ekspor minyak mentah Indonesia ke negara lain. Saya rasa penulisnya mau menjadi orang yang memulai Perang Dunia III.

***

Sebetulnya, saya tidak pernah melihat kebijakan ini sebagai kebijakan 'menaikkan harga BBM' seperti para pendemo itu. Saya dari awal melihat bahwa ini adalah kebijakan 'mengurangi subsidi BBM'. Harga normal BBM jenis Premium itu bukan Rp. 4500,- per liter, harga semurah itu adalah harga yang telah dibayari sebagian oleh pemerintah. Jadi jika sekarang sebagian subsidi BBM akan dicabut, berarti harga BBM bukan dinaikkan, tapi 'dinormalkan' mengikuti harga pasar.

Dalam APBN-P 2011, pemerintah menganggarkan Rp. 195,723 triliun untuk subsidi energi (BBM dan Listrik). Dengan asumsi total APBN adalah Rp. 1000 triliun, maka sekitar 20% APBN habis hanya untuk subsidi. 

Subsidi tersebut lebih banyak dinikmati oleh golongan menengah, bukan golongan bawah. Subsidi tersebut telah memakan anggaran yang sebenarnya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur dan sarana kesejahteraan rakyat. Jika sekarang pembangunan infrastruktur dan sarana kesejahteraan rakyat di Indonesia sangat lambat, hal ini diakibatkan, baik langsung maupun tidak langsung, oleh besarnya anggaran untuk subsidi BBM tersebut.

BBM itu barang yang langka, tidak dapat diperbaharui, dan seharusnya mahal. Kebijakan pemerintah jaman dahulu untuk mensubsidi BBM telah membuat kebanyakan masyarakat terlena (mungkin karena memang itu tujuan pemerintah dahulu). Padahal, sekali lagi, untuk barang yang selangka dan sepenting itu, IMO, BBM seharusnya mahal.

***

Setelah saya disodorkan dan saya baca sekilas, saya kembalikan selebarannya dan bilang "Oh, maaf, Mas. Saya pro kenaikan harga BBM." Orang itu cuma bisa bengong, seakan-akan tidak menyangka bahwa ada mahasiswa yang tidak sepemikiran dengan dia.

"Gak apa-apa, mas. Ambil aja." jawabnya dengan gagap gara-gara kaget.

Saya terima saja.

True story.

PS: Sebagai tambahan aja, dalam jangka waktu kurang dari 6 minggu, China sudah 2 kali menaikkan harga BBM. :)

Thursday, March 8, 2012

Makanan Paling Indonesia Banget


Kalau Amerika Serikat punya Burger, Italia punya Pizza atau Pasta, Mexico punya Taco atau Burrito, Jepang punya Sushi atau Ramen, dan lain-lain, pasti Indonesia juga punya makanan paling Indonesia banget.

Beberapa waktu yang lalu saya melempar pertanyaan di Twitter "Menurut kalian makanan paling Indonesia banget itu apa, tuips?" dan ternyata yang merespon banyak banget. Jawabannya pun macam-macam. Dari mulai Rendang, Soto, Coto, Sate, Nasi Goreng, Nasi kuning, Nasi uduk, Gudeg, sampai ada yg jawab Lotek. --"

Well, kesotoyan saya langsung bereaksi (seperti biasa :p). menurut saya, jawaban-jawaban tersebut kurang Indonesia banget. Kita ambil contoh Rendang. Rendang itu gak terlalu Indonesia. Memang namanya terkenal banget, tapi itu mah masakan khas Sumatra Barat. Hal ini juga berlaku buat makanan-makanan lainnya kayak Soto (lamongan, betawi, Bandung, dll.) atau Coto (Makassar), Sate (Padang, Madura, Maranggi, dll.), Gudeg (Yogyakarta), atau Lotek (Jawa Barat). Jadi, IMO, itu mah kurang Indonesia banget. Kalau disebut sebagai makanan khas daerah, oke laaah.

Sedangkan untuk makanan yang pakai nasi seperti nasi kuning, uduk, atau goreng, kayaknya cuma populer di Indonesia bagian barat. Karena di Indonesia timur, mereka jarang makan nasi dan lebih memilih sagu sebagai makanan pokok mereka. Jadi yaaa, kurang Indonesia banget juga. :p

***

Tapi, di samping jawaban yang ada di atas, @bangpoltak, punya jawaban lain dari yang lain dan hampir mirip dengan jawaban saya pribadi. Dia menjawab "Indomie Kari Ayam" hampir sama dengan jawaban saya "Indomie Ayam Bawang". Cuma beda rasa.

Ya, menurut saya, makanan paling Indonesia banget itu ya Indomie. Kayaknya hampir semua daerah di Indonesia merasakan kehadiran Indomie dan mereka sering memakannya. Jadi, itulah mengapa saya menjawab Indomie sebagai Makanan Paling Indonesia Banget. :p

Bayangin aja coba, siapa sih yang gak tau Indomie di Indonesia ini? Siapa yang belum pernah nyobain Indomie ditambah irisan cengek waktu hujan? Apa coba makanan setia pendamping anak kost yang lagi ngerjain tugas? Apa sih yang dikangenin oleh orang Indonesia di luar negeri? Ke Belanda buat beli Indomie aja mah dijabanin. XD

***

Ini sebenernya cuma sotoy aja sih. Saya gak tau juga apa Indomie nyampe ke Papua sana. Tapi kayaknya sih nyampe. :p

Tulisan saya ini, baiknya jangan ditanggapi serius. Soalnya saya juga sebenernya gak serius mencari apasih makanan paling Indonesia banget itu, toh dengan keragaman budaya yang kita punya, susah nampaknya punya satu atau dua makanan yang Indonesia banget.

Jangan ditanggapi serius juga karena memang awalnya saya cuma iseng nanya begitu di Twitter. hehehe

Kalau menurut kalian, makanan paling Indonesia banget itu apa, guys? :D

PS: Bukan promosi. Udah itu doang. :p

Monday, February 27, 2012

Film Sedih

Kalau banyak orang nulis tentang film di blog-nya dimulai lewat tulisan 'daftar film favorit', saya malah pengen nulis tentang film yang menurut saya punya ending yang oke. Ending yang oke ini, menurut saya, adalah ending yang tidak sepenuhnya happy ending, malah cenderung sad ending.

So, here they are (not in order):




Producer : Michael Bay, Jerry Bruckheimer, Gale Anne Hurd
Director : Michael Bay
Cast : Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler,




Producer : David Heyman
Director : Mark Herman
Cast : Asa Butterfield, Jack Scanlon, David Thewlis, Vera Varmiga




Producer : Spike Lee, Marvin Worth
director : Spike Lee
Cast : Denzel Washington, Spike Lee, Angela Basset, Al Freeman, Jr.



Producer : Clint Eastwood, Robert Lorenz, Judie G. Hoyt
Director : Clint Eastwood
Cast : Sean Penn, Tim Robbins, Kevin Bacon



Producer : Arnold Kopelson, Phyllis Carlyle
Director : David Fincher
Cast : Brad Pitt, Morgan Freeman, Kevin Spacey, Gwyneth Paltrow



Producer : Frank Darabont, David Valdes
Director : Frank Darabont
Cast : Tom Hanks, Michael Clarke Duncan, David Morse, James Cromwell



Producer : John Davis, Joseph M. Singer, David T. Friendly
Director : Edward Zwick
Cast : Denzel Washington, Meg Ryan, Lou Diamond Phillips, Matt Damon


A man wearing leather clothes and holding a rifle walks alongside a dog on an empty street. A destroyed bridge is seen in the background. Atop the image is "Will Smith" and the tagline "The last man on Earth is not alone". Below is the film's title and credits.

Producer : David Heyman, Akiva Goldsman, James Lassiter
Director : Francis Lawrence
Cast : Will Smith


Kalau film dengan ending yang oke menurut kalian apa?

Sunday, February 19, 2012

Hobi

Salah satu hasil masakan saya belakangan ini
"Mayo sauce chicken breast with potato wedges and chicken sausage and carrots"


"I hid myself in food" ~ Gordon Ramsay

Setiap orang pasti memiliki setidaknya satu jenis kegiatan yang jika dikerjakan akan membawa kesenangan bagi dirinya. Banyak orang menyebutnya hobi.

Jika ditanya soal hobi, setiap orang memiliki hobi yang berbeda-beda. Beberapa dari kalian mungkin hobi membaca, lainnya mungkin hobi bermusik. Ada pula yang hobi dansa, atau bahkan hobi berolahraga. Ya, setiap orang memiliki hobi yang berbeda.

Saya pribadi memiliki beberapa hobi, mulai dari baca buku, main Twitter, menulis cerpen, sampai yang paling aneh (menurut orang-orang sekitar saya); memasak.

Ya, saya memang punya hobi masak. Dari kecil saya memang sudah diajari masak oleh keluarga. Banyak orang yang tidak percaya saya bisa masak. Saya sih tidak heran kalau mereka tidak percaya, karena memang saya gak punya tampang dapur. hehehe

Tapi percayalah bahwa saya memang hobi masak dan bisa masak. Dari SD saya sudah mulai sering merecoki dapur dan mencoba beberapa resep keluarga, terutama dari nenek saya. Belakangan, setelah beliau wafat, saya sering mengunduh video masak chef Gordon Ramsay ataupun chef Jamie Oliver yang kemudian saya coba buat sendiri di rumah. Jadi, sekarang-sekarang, saya jadi lumayan sering sok-sok-an masak a la western food. :p

Kalau soal rasa, saya tidak terlalu memikirkan karena saya terkadang masak lebih untuk saya sendiri. Jadi kalau menurut saya enak, berarti masakan saya enak. Sampai sekarang sih, orang-orang belum ada yang protes soal masakan saya. Berarti ya memang enak, karena saya tidak akan makan/menyajikan makanan yang menurut saya tidak enak. fufufu *ketawa jumawa*

Well, itulah hobi 'aneh' saya, masak. Kalau hobimu apa? :)



PS: Gambar di atas itu salah satu hasil masakan saya. Percayalah, tampilannya tak seenak rasanya. hehehe

Thursday, February 9, 2012

Revolusi, seriously?

Suasana MOKAKU 2011

Barusan saya iseng menengok halaman Facebook Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM REMA) kampus saya dan menyadari betapa militannya teman-teman di sana. Sayangnya, saya melihat militanisme rekan-rekan di sana dalam beberapa hal sebenarnya tidak terlalu perlu.

Saya ingat dulu saya pernah ikutan rame diskusi di comment Facebook BEM REMA tentang parkir berbayar yang akan diterapkan pihak kampus. Rame, karena saya termasuk yang pro parkir berbayar selain errr... satu orang lainnya. Sisanya, sekitar puluhan rekan mahasiswa militan lain, kontra. Seru. Rame. Saya sampai pusing lihat kolom comment itu. :)

Sebenarnya saat itu saya kecewa pada rekan-rekan BEM REMA yang hanya mengeluarkan propaganda-propaganda terhadap mahasiswa agar menolak keras kebijakan tersebut. Bukannya memikirkan sisi positif atau solusi dari masalah ini, saya pikir BEM REMA malah memperkeruh suasana.

***

Urusan penolakan parkir berbayar itu hanya salah satu dari beberapa kekecewaan saya pada BEM REMA, tumpuan penyalur aspirasi mahasiswa ini. Saya pernah kecewa saat Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) 2011. Salah satu rekan saya menemukan ribuan tugas mahasiswa baru berupa surat untuk Presiden RI diterlantarkan begitu saja.

Kembali, saya memperlihatkan kekecewaan saya. Kali ini melalui Twitter. Ternyata banyak pihak panitia MOKAKU yang menyangkal hal tersebut. Menurut mereka, mereka mengirimkan surat tersebut kepada presiden melalui Bapak Denny Indrayana (saat itu menjabat stafsus presiden bidang Hukum dan HAM). Padahal, surat yang terlantar itu ditemukan rekan saya sehari setelah Bapak Denny Indrayana memberikan pidato. Ditambah, lewat twitter, Bapak Denny Indrayana bilang: "Masa? Saya tidak membawa apa-apa tuh dari UPI. :)"

Bukan hanya di situ, saya kembali kecewa saat ternyata dengan mudahnya para rekan saya yang kritis di BEM REMA mengeluarkan ikut menyemarakkan Deklarasi Siliwangi. Terlihat mereka mengecam para pejabat, tapi mereka mengingatkan saya akan rekan-rekan mahasiswa senior yang dulu merengek meminta reformasi dan sekarang bersendawa kekenyangan di gedung-gedung pemerintahan.

Belum habis rasa kecewa saya, baru saja saya melihat ajakan untuk revolusi di halaman Facebook BEM REMA. Errr.. iya, revolusi. Saya saja mendengarnya merinding. Ngeri. Kata itu seakan menjadi jarum yang memecahkan gelembung kekecewaan saya pada lembaga ini dan menumpahkan isinya pada tulisan ini.

Sesuatu hal yang tidak mendesak, sesuatu yang seharusnya bisa dipikirkan dengan baik, sesuatu yang hanya merupakan nafsu sesaat, malah dibesar-besarkan seakan akan menjadi penyebab kehancuran dunia esok hari.

***

Beberapa hari mendatang akan diadakan pemilihan Presiden dan Waki Presiden BEM REMA yang baru. Pemerintahan BEM REMA terdahulu, yang membuat saya sedikit bayak kecewa, akan digantikan oleh pemerintahan yang baru.

Sebenarnya, besar harapan saya pada BEM REMA ini. Lembaga ini bisa menjadi suatu ruang mahasiswa untuk memikirkan solusi bagi bangsa, bukan tempat untuk menggelorakan nafsu militanisme yang tak perlu. Juga dapat menjadi tempat untuk mencerdaskan mahasiswa, bukan tempat mengadu domba rektorat, pemerintah, dan mahasiswa. Juga sebagai media diskusi, bukan sebagai media propaganda pihak tertentu.

Soal revolusi tadi, saya melihat itu hanya sebuah mimpi rekan-rekan mahasiswa di sana. Mimpi untuk menjadi para agen perubahan. Agen perubahan secara instant karena sebenarnya mimpi itu hanyalah nafsu mereka yang ingin menjadi seperti senior mahasiswa mereka terdahulu. Padahal, senior-senior mahasiswa pun adalah mereka yang rekan-rekan BEM REMA bilang gagal dalan Deklarasi Siliwangi.

Seriously, revolusi?

George Orwell pernah bilang "One does not establish a dictatorship in order to safeguard a revolution; one makes the revolution in order to establish the dictatorship."

I kinda agree with that old man. :)

***

Sebenarnya ada beberapa hal lain yang membuat saya kecewa dengan BEM REMA. UPI Expo, publikasi-publikasi acara yang tidak maksimal, dan yang baru-baru ini soal debat CAPRES & CAWAPRES yang tak begitu meyakinkan.
Mungkin banyak yang berpikir bahwa saya ini hanya bisa omdo (ngomong doang). Tidak tahu bagaimana sebenarnya keadaan di dalam BEM REMA itu sendiri. Tidak ikut berkontribusi langsung bagi BEM REMA. Errr.. Saya setuju atas semua pikiran tersebut.

Well, seseorang tidak harus bisa memasak untuk bilang bahwa suatu makanan tidak enak. Seseorang tidak harus masuk kedalam BEM REMA untuk bilang bahwa beberapa kebijakan mereka mengecewakan. Seseorang tak harus ada di pemerintahan untuk bilang pemerintah gagal. Yang terakhir mengingatkan saya akan rekan-rekan BEM sendiri. :)

Sekali lagi: Revolusi, seriously?

Monday, January 30, 2012

Sebuah Cerpen: Orange Float

"Orange float-nya satu ya, mas." ucapnya pada pelayan restoran steak murah meriah itu.

Hari itu hujan. Tapi udaranya bikin kita kepanasan. Gerah kalau orang bilang. Tidak seperti hujan kebanyakan yang sering membuat banyak anak manusia betah berlama-lama di bawah balutan selimut. Orang-orang banyak yang telah selesai makan. Mereka melanjutkan ngobrol dengan rekannya. Tidak 
langsung pulang, karena memang hujan masih lumayan deras.

Begitu pula aku dan wanita di depanku. Kami sudah selesai makan dan minum. Hanya saja kami menunggu hujan dengan kembali memesan minuman. Sambil ngobrol santai ngalor-ngidul melanjutkan obrolan saat makan tadi.

Ia yang mengajakku ke sini. Entah apa yang membuatnya mengajakku ke sini, padahal ia sendiri sudah memiliki kekasih. Mungkin ia sedang ada masalah, atau mungkin saja ia hanya ingin ditemani mengobrol. Baiknya aku tak berprasangka.

"Bikin dua deh, Mas." ucapku pada pelayan sambil menatap mata wanita di depanku.

Mata indahnya mengingatkanku bahwa Tuhan itu ada. Mata itu meyakinkanku bahwa takkan ada sesuatu apapun itu yang mampu membuat sesuatu seindah matanya, kecuali Tuhan.

"Suka orange float juga?" tanyanya curiga.

"Suka sejak dulu. Rasanya unik. Asem dari jeruk-nya klop sama manis dari es krim vanilla."

"Sepakat. Klop kayak jodoh. Kayak mereka itu memang diciptakan Tuhan buat saling melengkapi satu sama lain. Asem, manis, membuat kebahagiaan bagi orang yang meminumnya." Tambahnya diiringi senyum memesona-nya.

Senyumnya, takkan ada yg bisa memalingkan pandangannya saat seseorang melihat senyumnya. Senyumnya kembali mengingatkanku bahwa Tuhan itu ada. Bahwa hanya ia lah yang bisa mengukir senyum seindah itu pada wajah seseorang.

"Kalau gitu, apa ada minuman float yang diciptakan tapi gak melengkapi satu sama lain?" tanyaku menggoda.

"Hmmm.. Ada. Milkshake float." ucapnya sambil menunjuk menu minuman di restoran itu. Restoran itu memang menyediakan Milkshake float.

"Memangnya kenapa?"

"Ya karena minuman itu tidak saling melengkapi. Cuma nambah-nambahin," jelasnya. "Minuman itu cuma susu yg dikocok, sama susu yg dijadikan es krim. Susu sama susu barengan. Kalau di dunia, kayak gay atau lesbi. Cowok sama cowok atau cewek sama cewek. Cuma beda gimana bentuknya aja." ia menyelesaikan penjelasannya dengan tawa.

Mungkin ia menertawakan analisis sok tahu-nya. Tapi aku sama sekali tak peduli. Tawanya merdu. Ia tertawa semerdu nyanyiannya. Lagi-lagi, Tuhan bertanggung jawab akan hal ini. Ia yang menciptakannya.

"Sekarang giliran kamu. Menurut kamu, Cola float itu pasangan serasi bukan?" tanyanya masih sambil tertawa.

"Hmmm.. Mungkin mereka serasi. Sifat cola yang keras dan kadang menyakiti orang lain dapat tutupi sama manis dan lembut dari es krim." jawabku sekenanya.

"Kalau gitu, biarpun mereka serasi, mereka bukan pasangan yang baik."

"Kenapa?"

"Karena sang es krim tidak mau sang cola terlihat jelek dihadapan orang lain. Ia cuma menutup-nutupi. Bukan saling melengkapi."

Ia pintar. Untuk yang ini, aku masih bisa meragukan kalau ini tanggung jawab Tuhan. Bisa saja ia mendapatkannya dari orang lain.

"Tapi kenapa lebih banyak orang suka cola float dan milkshake float daripada orange float?"

"Mungkin karena banyak orang tidak suka sama pasangan yg sempurna. Mereka cemburu akan kehadiran kesempurnaan itu."

"Bukankah orang-orang mencari kesempurnaan?"

"Mencari kesempurnaan kayaknya memang sifat dasar mereka," jawabnya agak ragu. "Tapi apakah mereka benar-benar ingin merasakan kesempurnaan? Atau mereka hanya mencari, menemukan, dan cukup puas dengan tahu kesempurnaan itu ada?"

"Mereka seakan tak mau hidup dalam kesempurnaan, ..." kataku mulai paham.

"...Karena kesempurnaan itu berarti kebosanan bagi mereka." katanya menutup penjelasannya.

Aku hanya bisa tersenyum. Ia adalah kesempurnaan bagiku. Wanita yang selama ini kucari. Wanita impian selama hidupku yang, sayangnya, kutemukan saat ia sedang tak sendiri.
Diskusi ini telah menggiringku ke dalam keraguan. Apakah aku menginginkan kesempurnaan itu? Atau aku terlalu takut akan kebosanan yang akan datang nantinya?

"Aku sama cowokku sih kayaknya pasangan Cola float. Persis kayak yg tadi kamu jelasin. Kadang-kadang kita saling menutupi. Bukan melengkapi. Bukan menambahi."

"Ahh.." hanya itu yg bisa keluar dari mulutku. Tak menyangka ia akan membahas lelaki lain selain diriku saat itu. "Dan kamu bahagia?." tanyaku cepat-cepat. Ia tersenyum kemudian menjawab.

"Bahagia atau tidak, aku tetap menginginkan kesempurnaan bagai pasangan Orange float." jawabnya diplomatis.

"Jadi kamu berharap mengubah Cola float jadi Orange float?" tanyaku lagi.

"Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Aku yakin kalau suatu pasangan gak akan bisa berubah begitu saja. Saat mereka ditakdirkan berpasangan layaknya Cola float, mereka akan jadi pasangan Cola float selamanya. Gak bisa berubah."

"Terus, gimana caranya kamu mendapatkan kesempurnaan layaknya pasangan Orange float itu?" Tanyaku naif. Ia tersenyum dan kemudian menjawab.

"Kesempurnaan itu memang aku inginkan. Tapi seperti kebanyakan orang tadi, aku hanya menginginkannya. Aku hanya ingin mencari, menemukan, dan cukup puas dengan tahu kesempurnaan itu ada. Tak cukup berani untuk memilikinya."

Jawabannya selesai tepat saat pelayan datang dengan dua orange float. Ia langsung meminumnya. Tak sabar merasakan kesempurnaan itu.

"Apa kamu sudah menemukan kesempurnaan itu?"

"Sudah, ia ada di depanku."

Bandung, 28 Januari 2012
04:49 AM

Thursday, January 12, 2012

Vespa

(Vespa Super '79 punya kakak saya yang kadang-kadang saya pinjam)


"That (superbike) may be fast, but this (Vespa) is stylish." ~ Joe Bastianich, Masterchef US S02E08


Kalau kamu belum pernah naik Vespa, cobalah naik Vespa suatu waktu. Saat pertama naik Vespa, jangan kaget kalau banyak pengendara Vespa tidak dikenal yang akan menyapa kamu. Mereka menyapa bukan karena mereka kenal kamu, tapi mereka menyapa kamu karena kamu naik Vespa.

Ya, naik Vespa memang menyenangkan. Saya sendiri tidak pernah tiba-tiba disapa oleh banyak pengendara motor lain yang kalau saya naik motor selain Vespa. Sepertinya ada semacam hukum tak tertulis bagi para pengendara motor Vespa untuk saling menyapa.

Kamu tidak perlu menunggu untuk disapa terlebih dahulu saat naik Vespa. Saat naik Vespa, sapa saja siapapun pengendara Vespa. Jangan takut dicuekin, mereka pasti menyapa balik dengan memberikan klakson, melambaikan tangan, atau sekedar senyum. Kalau kamu disapa terlebih dahulu, pastikan kamu membalasnya dengan tanda-tanda yang tadi. Seriously, IMO, ini membuat naik motor menjadi menyenangkan.

***

Iseng, saat saya naik motor lain selain Vespa, saya coba menyapa pengendara motor denga merk yang sama dengan motor yang saya kendarai. Hasilnya? Mereka bengong, tak kenal, tak menyapa balik, ada yang cuek saja, bahkan ada yang melihat dengan pandangan 'sok kenal bener lo'. Well, tidak semenyenangkan naik Vespa ternyata.

Iseng lagi, saya coba menyapa pengendara Vespa saat saya naik motor bukan motor Vespa. Hasilnya? Pengendara Vespa menyapa balik, ada yang memberikan klakson, ada yang melambaikan salam, ada yang sekedar senyum.

Dari kejadian tersebut, saya berkesimpulan bahwa pengendara Vespa memang ramah di jalan. Sekali lagi, seakan-akan ada hukum tak tertulis lainnya bahwa pengendara Vespa harus ramah pada pengendara motor lain, khususnya sesama pengendara Vespa.

***

Well, begitulah pengalaman saya naik Vespa belakangan ini. Para pengendara Vespa memang ramah-ramah. Tak jarang saya melihat ada pengendara Vespa yang mogok dan dibantu oleh pengendara Vespa lainnya. Seperti ada semacam ikatan saudara diantara mereka.

Selain itu para pengendara Vespa, menurut saya, sopan-sopan. Mereka lebih sering mengambil jalur kiri, mepet, daripada ugal-ugalan ke tengah jalan. Tapi kemungkinan besar ini sih karena takut mogok. Hehehe

Ternyata, keunikan Vespa bukan hanya ada pada bentuknya. :)


PS: Kapan-kapan saya tulis pengalaman naik Vespa lainnya. Ummm.. biar lebih gaya, pakai kacamata hitam waktu naik Vespa. *beepbeep* :D