Saturday, June 25, 2011

Bus day (3): The Messenger


Kalau melihat gambar di atas, kita pasti bingung siapa dia. Penampilannya sungguh sangat tidak bersahabat. Ya, memang penampilannya sangat menyeramkan. Mirip preman. Baju hitam, pakai kacamata, jenggot lebat, raut muka menyeramkan, dsb.

Padahal, kalau kalian pernah melihat orang itu secara langsung, kalian bakal memiliki impression yang berbeda. Tidak, dia bukan preman sama sekali. Dan dia sebenarnya sangat bersahabat. Senyum selalu ada di wajahnya.

Dia adalah seorang penceramah. Kalau penceramah biasa disebut ustadz, saya tidak tahu pekerjaannya disebut apa. Makanya saya memilih judul The Messenger; pembawa pesan.

Profesinya sama seperti Aa gym, Yusuf Mansur, Uje, dll, tetapi dia berbeda. Dia tidak bergelimang harta. Dia hanya berceramah di dalam bus, bukan di TV atau majelis yang besar.

Tema ceramahnya macam-macam. Mulai dari soal sedekah sampai soal ibadah. Dari soal sabar sampai keistimewaan hari Jum'at. Temanya sebenarnya banyak, tapi saya bosan. Karena, mungkin saya yang terlalu sering naik bus, saya kadang mendengar ceramahnya yang diulang.

Setelah berceramah, dia biasanya meminta sedekah seridhonya dari para penumpang. Dan menurut pengamatan saya sepanjang saya naik bus, banyak yang memberinya. Kenapa? Jangan tanya saya.



Pernah saya curiga (wajar dong curiga, orang ganteng kan juga manusia) apakah dia benar-benar baik sebaik apa yang dia bicarakan. Karena banyak pengamen atau siapapun itu yang bekerja di bus hanya bermanis muka di hadapan para penumpang agar diberi uang. Mungkin saja dia hanya ceramah yang baik-baik hanya untuk mendapatkan uang padahal dia tidak melakukan yang baik-baik di luaran sana. Ternyata dia tidak seperti itu.

Suatu hari saya mencuri dengar dia berbicara dengan kondektur. Bahasanya tetap bersahabat, puji-pujian terhadap Allah terdengar dari tiap kalimatnya. Tapi saya masih sedikit curiga. Sampai pada suatu hari saya harus sholat Maghrib di masjid dekat Leuwi Panjang dan dia menjadi khotib di sana. Akhirnya saya percaya bahwa dia benar-benar ustadz.

Yang penasaran dengan sosoknya, bisa dicoba naik bus jurusan Leuwi panjang-Ledeng atau Leuwi Panjang-Dago pada siang hari. Biasanya dia naik dari daerah Gardujati atau Pasir Kaliki.


PS: Yang membuat wajahnya terlihat menyeramkan itu saya yang mengambil gambar. Sebenarnya dia selalu terlihat bersahabat. :)

Wednesday, June 15, 2011

5 Hal Paling Menyebalkan Saat Ujian


Juni telah tiba. Dan asal tahu saja, Juni itu bulannya ujian. Karena kalau tidak ada Juni, maka gak akan ada ujian. Yang ada cuma a. #apeu

Eniwei.. Semua orang yang pernah sekolah, pasti pernah ujian, ulangan, test, atau apapun namanya. Banyak orang menganggap serius ujian, tapi tak sedikit juga santai saja saat menghadapi ujian. Yang serius bisa sangat fokus saat ujian, sedangkan yang tidak terlalu serius bisa saja melakukan hal aneh saat ujian. Atau bisa saja sebaliknya. Yaaah.. namanya juga manusia.

Biarpun saya orang yang tidak terlalu menganggap penting sebuah nilai seperti yang sudah pernah saya tuliskan sebelumnya, saya termasuk orang yang serius saat ujian. Fokus. Bukan apa-apa, hal ini lebih karena saya sebenarnya ingin mengukur diri apakah saya bisa menjawab pertanyaan ujian atau tidak.

However, sefokus-fokusnya orang, pasti ada hal yang membuatnya terganggu. Saya pun sering terganggu saat ujian. Saat ujian saya menemukan beberapa hal mengganggu yang dilakukan teman-teman saya. Baik itu saat SD, SMP, SMA, bahkan ketika kuliah. Percayalah, hal-hal ini sangat menyebalkan.

Berikut ini 5 hal paling menyebalkan saat ujian waktu kuliah.


Hal menyebalkan no. 1:

Dosen/pengawas: "Kalian diberi waktu 60 menit untuk ujian."
Mahasiswa: "HAH?!"
Bagi saya, ini adalah hal paling menyebalkan saat ujian. Ujian baru akan dimulai. Saat harus mulai konsentrasi menghadapi soal, ehh.. anak-anak malah heran dan mengeluarkan suara bertanya paling ganggu di dunia; "HAH?!". Seriously, bagaimana mungkin orang-orang yang ada di kelas itu tidak tahu durasi ujian padahal mereka melihat jadwal ujian? Masihkah mereka harus bertanya, "HAH?!", saat mereka sudah tahu berapa lama waktu ujiannya? Ngarep ditambahin durasinya? Dengan "HAH?!", hah? Kasian.


Hal menyebalkan no. 2:

Pengawas yang mondar-mandir
Pengawas mondar-mandir waktu ujian SD/SMP/SMA sih nggak masalah. Ruang kelas besar. Dan ada jalur buat jalannya juga. Lah kalo kuliah? FYI, ruangan kelas di kampus saya kecil. Saat kuliah biasa, mungkin dosen bisa mondar-mandir karena kursi rapat. Tapi saat ujian, antar kursi diberi jarak jadi mobilitas pengawas berkurang. Bagi saya, pengawas yang mondar-mandir saat UAS itu kurang kerjaan. Karena desek-desekan jalannya. Mending kalau tenang, ini mah kadang langkahnya gak sante. Pletak! Pletok! Pletak! Pletok! Ganggu abis.


Hal menyebalkan no. 3:

"ngik nguk ngik nguk ngik nguk ngik nguk" atau "tik tik tik tik tik tik" atau "mmm.. hmmm.. eeemm... oooo..."
Suara-suara saat ujian itu ganggu abis. Kalau suaranya memang dari luar kayak patahan ranting, cicit burung, atau desau angin (tsaaah..) sih nggak masalah. Ini mah suaranya dibuat sama orang yang lagi ujian juga. Bayangkan: lagi fokus-fokus ngerjain soal ujian, mikir jawaban, pas udah dapet jawabannya tiba-tiba ada suara "ngik nguk ngik nguk" dari orang di depan yang duduknya gak bisa diem, terus "tik tik tik tik tik" dari orang sebelah yang gak tau kenapa mukul-mukulin pulpen ke kursi, lalu suara gumaman "mmm.. hmmm.. eeemm... oooo..." dari belakang. Kita pasti cari tahu suara itu dateng dari mana. Serius itu ganggu. Dan saat kita mau isi jawaban yang tadi, udah lupa karena malah nyari sumber suara. Terpaksa baca soalnya lagi.


Hal menyebalkan no. 4:

Dosen/pengawas: "Waktunya tinggal 15 menit lagi."
Mahasiswa: "HAH?!"
Lagi-lagi si "HAH?!" keluar. Memang itu paling menyebalkan. Dengan dengar si dosen/pengawas bilang "tinggal 15 menit lagi" aja saya udah keganggu fokusnya. Apalagi ditambah sama "HAH?!". Jujur aja, buat saya, daripada "HAH?!" mending kita manfaatin sisa waktu sebaik-baiknya buat selesaikan soal ujian. Buat apa coba mengeluarkan itu kata "HAH?!" lagi? Ngarep dikasih tambahan waktu? Dengan "HAH?!", hah? Kasian lagi.


Hal menyebalkan no. 5:

Mahasiswa1: *selesai duluan* *ngumpulin duluan* *keluar kelas duluan*
Mahasiswa lainnya: *serempak* "Cieeee.. Adeuuuh.."
Sumpah daripada adeuh-adeuh atau cieee-cieee, mendingan lanjutin ngerjain ujian biar bener ngerjainnya. Biar cepet selesai juga kayak mahasiswa1. Sumpah deh.


***

Itu semua adalah 5 hal paling menyebalkan di kelas saat ujian. Mungkin masih ada lagi hal-hal menyebalkan lainnya. Tapi saya cukupkan lima saja karena mungkin saja tulisan saya juga cukup menyebalkan para pembaca. :p

Menurut kamu, hal paling menyebalkan saat ujian itu apa?


PS: Doaken saya, ya. Semoga ujian saya lancar jaya. :D

Monday, June 13, 2011

Pilih-Pilih Teman?


"Berteman sama siapa saja. Jangan pilih-pilih teman."
Pesan di atas adalah pesan dari beberapa saudara saya saat saya masih kecil. Saya yakin itu adalah hal yang baik. Tapi, setelah hidup selama 17 21 tahun, saya baru menyadari bahwa saya tidak pernah melakukan hal itu. Ya, saya selalu memilih-milih teman.

Mungkin kalian tidak memilih-milih dalam berteman. Tapi, saya yakin, semua orang pasti punya yang namanya first impression kepada seseorang dan, saya rasa, first impression itu adalah awal dari memilih-milih teman. Jadi sebenarnya kalian pilih-pilih.

Coba lihat gambar di atas. Sekarang, kita asumsikan kita hanya mengenal seseorang lewat gambar itu. Apa yang ada di benak kalian saat pertama kali melihat gambar tersebut?

Mungkin yang ada di benak kalian adalah dia seorang peminum berat soda karena ada sebotol besar soda ditambah satu gelas soda. Bisa jadi dia adalah seorang yang senang belanja karena jika kalian lihat ke monitor netbook kalian bisa melihat tulisan salah satu departement store terkenal dan di samping gelas soda terdapat plastik belanjaan besar. Atau dia adalah seorang yang senang nonton film karena pada netbook tersebut sedang dimainkan sebuah film. Bisa saja dia adalah seorang geek karena dibelakang botol soda ada buku teks Functional Grammar. Atau mungkin dia bukan orang yang rapi karena meja itu sangat berantakan. Dan lain-lain.

First impression di atas memacu seseorang untuk memilih-milih teman. Seseorang yang senang junkfood akan senang kepadanya karena dia, di gambar itu, terlihat senang meminum soda. Tapi seorang yang dengan gaya hidup sehat mungkin akan pikir-pikir untuk hangout dengan dia karena tidak mau hangout ke tempat yang menjual makanan/minuman yang tidak sehat.

Seseorang yang senang belanja akan senang bergaul dengan dia karena dia terlihat senang belanja. Tapi bagi seseorang yang senang mengirit uang, bergaul dengan dia adalah suatu dosa besar.

Seseorang yang sama-sama geek akan mau bergaul dengan dia karena dia akan nyambung saat diajak bicara tentang functional grammar. Sedangkan seseorang yang tidak peduli akan hal itu akan pikir-pikir lagi untuk bergaul dengannya.

Seseorang yang senang dengan serial-yang-sedang-dimainkan-di-netbook akan mau berteman dengan dia karena sama-sama suka. Tapi bagi yang membenci serial itu, tidak.

Seseorang yang rapi tidak akan mau berteman dengannya. Seseorang yang tidak peduli, mungkin mau.

First impression itu adalah awal dari memilih-milih teman.

***

Satu hal lagi yang saya pahami, first impression itu tidak selalu salah dan juga tidak selalu benar.

Sekarang coba kita asumsikan bahwa gambar di atas adalah gambaran dari diri saya.

Untuk kasus di atas, first impression tidak selalu salah. Ya, terkadang saya memang tidak rapih. Ya, saya senang nonton film dan film yang sedang diputar di netbook itu adalah salah satu film series favorit saya (it is awesome! No, more than that, it is awe-a-lot-of!).

Juga untuk kasus di atas, first impression tidak selalu benar. Tidak, saya bukan peminum berat soda tapi saya kadang-kadang meminum soda. Tidak, saya tidak suka belanja. Dan Tidak, saya bukan geek. Itu buku teman saya dan salah satu film series favorit saya adalah How I Met Your Mother. So, I'm not a geek. (What up?)

So, first impression itu tidak selalu salah dan juga tidak selalu benar.

***

Eniwei, anggap saja tulisan saya di atas ini cuma biografi singkat tentang saya. Sesungguhnya berteman memang tidak perlu pilih-pilih. Karena yang terpenting bukanlah bagaimana kita mencari atau memilih teman yang baik, tapi bagaimana kita menjadi seorang teman yang baik bagi orang lain.



PS: It's really really awesome. You know what I mean.