Tuesday, January 4, 2011

Pinggir Jendela: Positif Atau Negatif?

"buat kang Ranna subhan, tidak PANTAS anda bilang "The coward will eat his/her words soon" di post jika persatuan yang kita inginkan, karena akan lebih menyulut perselisihan ,, tolong gunakan kata yang lebih bijak....

saya ingin bertanya kepada penulis blog
saya ingin kejelasan lebih lanjut... segala sesuatu tu pasti ada dampak atau akibatnya, baik positif atau negatif...

1. dampak (positif & negatif) apa yang timbul apabila himpunan antara dik dan sastra dipisah?
2. Dampak (positif & negatif) apa yang timbul apabila himpunan tetap disatukan?

NB: bagi yang punya pemikiran baik dari pihak yg pro atau kontra silahkan menjawab? "


Kutipan di atas adalah komentar dari seseorang di posting saya sebelumnya Pinggir Jendela: Bukan Pendidikan. Bukan Sastra. Tapi ESA. Agak lucu karena beliau bertanya beberapa setelah Lokakarya 2010.

Kenapa lucu? Karena dampak-dampak tersebut sebenarnya sudah dijelaskan oleh Kang Yazid di Lokakarya. Logikanya, sesuatu yang sudah ada jawabannya seharusnya tak perlu dipertanyankan lagi. Yaaa.. mungkin sang penanya tidak hadir saat Lokakarya. Jadi beliau bertanya seperti itu. Yang jadi pertanyaanya adalah: Jika ia tak datang ke Lokakarya, apakah ia peduli terhadap ESA padahal ia memiliki suatu pertanyaan penting seperti di atas?

Eniwei.. Biar sudah dijawab oleh Kang Yazid di Lokakarya, baiknya saya jawab disini juga. Karena biasanya, sudah dianggap umum, bahwa diam adalah suatu bentuk pembenaran dan bentuk ketidakmampuan untuk menjawab. Jadi saya harus menjawab sekaligus klarifikasi lagi.


Prodi. Bukan Jurusan

Kang Yazid menjelaskan di Lokakarya bahwa Himpunan Mahasiswa Jurusan itu setingkat (sejajar) dengan Jurusan di Universitas tersebut. Bisa dikatakan bahwa posisi ketua jurusan dan posisi ketua himpunan jurusan itu setara. Jadi, Presiden ESA yang sekarang, Gelar, Sejajar dengan Ketua Jurusan saat ini, Pak Wachyu. Tapi kewenangannya berbeda. Yang satu untuk akademik, yang satu untuk kemahasiswaan.

Sekarang kalau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), ESA, dipecah jadi 2 (Dik dan Sastra), namanya bukan jadi HMJ tapi jadi Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP). Dan jujur aja, saya belum pernah denger istilah ini. Saya cuma ngarang aja pake logika.

Kalau begitu, Kedudukan masing-masing ketua himpunan sudah gak sejajar dengan ketua jurusan. Kalau ada kegiatan-kegiatan kemahasiswaan nantinya tidak akan bisa seperti sekarang karena keadaannya berbeda. Tidak akan ada kegiatan kemahasiswaan tingkat jurusan. Yang ada tingkat prodi.

Nantinya, jika ada kebijakan-kebijakan tingkat jurusan, akan sulit diaplikasikan untuk masing-masing Himpunan itu sendiri. Karena sudah bukan sejajar dengan jurusan lagi. Tapi prodi.


Gap

Masalah lain yang, mungkin, akan timbul jika prodi dipisah adalah munculnya 'gap'. Tak perlu ditanyakan lagi kalau nantinya akan timbul gap antar prodi. Sekarang pun, kenyataanya, masih ada beberapa pihak yang saling membedakan, meninggikan, merendahkan, satu sama lain walaupun hanya segelintir orang. Seperti, mungkin, orang yang ingin ESA dipecah saja itu. Jika jadi satu saja sudah ada gap seperti itu, bagaimana jika dipisah? Pasti akan makin besar masalah ini.

Itu kah yang diinginkan? Kan tidak.


Bagusan Ini Daripada Itu

Selain itu, mungkin nanti akan timbul pula masalah 'dibanding-bandingkan'. Saya ambil kemungkinan-contoh-kasus:

Dosen: *di kelas marah-marah* "Kenapa yah mengajar di prodi A lebih enak daripada di prodi B? Mungkin karena kaderisasinya himpunan prodi A lebih bagus dari B. Mungkin karena kegiatan kemahasiswaan prodi A lebih baik dari B. Mungkin karena prodi B terlalu banyak kegiatan kemahasiswaan yang tidak perlu, etc etc etc."

Hal itu kemungkinan besar terjadi jika ESA dipisah. Kenapa? Karena dosen sastra itu masih 'minjem' ke prodi pendidikan. (Bu Safrina, Stuban ke Sanata Dharma, 2010) Jadi kemungkinan besar akan ada dosen yang mengajar di dua prodi yang berbeda, sastra dan dik.

Pertanyaannya, apakah kita mau dibanding-bandingkan? Saya mah ogah.

***

Sebenernya banyak kekurangannya kalau himpunan ini dipisah. Tapi nanti kepanjangan. Ini aja belom jawab positifnya kalau himpunan dipisah. Tapi saya gak bisa liat dimana positifnya karena ya, mungkin, lebih banyak hal positifnya kalau disatukan seperti ini saja.

Saya malah melihat sisi positif kalau himpunan ini tetap seperti sekarang. Saling tukar ilmu. Saling tukar pengalaman. Saling tukar kesenangan. Gap bisa diminimalisir. Saling menyemangati. Saling bantu. Dan masih banyak hal-hal positif lainnya.

Lagipula, setelah klarifikasi, Pak Ruswan bilang:

"Kita harus ingat bahwa prodi non-dik UPI tidak sama dengan non-dik ditempat lain. Core business UPI adalah pendidikan. Jadi didirikannya program nondik adalah untuk memperkuat program dik, bukan sebaliknya. Esa lah yang dapat mengkonsolidasikan visi UPI dalam konteks yang mikro. Program Dik adalah kakak dan nondik adalah adiknya. Jadi adik jangan melawan sama kakak."

Hal Negatif

Kalau hal negatif dari himpunan yang disatukan seperti sekarang? Munculnya beberapa orang yang ingin memisahkan diri.

***

Sebenarnya, IMO, kalau mau bertanya di blog, pakai nama. Jangan anonymous. Soalnya saya gak bisa menjamin apakah jawaban saya ini nantinya bakal dibaca oleh yang bertanya. Kalau ada namanya kan bisa saya kasih tau kalau saya sudah jawab pertanyaanya. Saya orangnya terbuka.

Ini curhatan saya aja. Sekalian jawab dan klarifikasi lagi. Karena saya rasa ini perlu. Jadi ya saya tulis. Kalau mau ada yang bertanya lagi ya silakan. Kita diskusi lagi bareng-bareng disini, atau di tempat lain.



PS: Menurut gue omongan Maul ada benernya. Orang yang berani harusnya berani ngomong langsung ke ESA, crosscheck ke ESA, terbuka ke ESA, kalau ada apa-apa. Bukannya ngomong di belakang dan mau main pisah-pisahin aja. IMO, yang menyulut perselisihan itu adalah yang baik dibilang tidak baik dan menginginkan perubahan dengan menghancurkan sesuatu yang baik tersebut.

2 comments:

  1. Meskipun gue ngga terlalu aktif di himpunan, tapi gue ngedukung semua pendapat lu dalam post ini. :)

    Anyway, berbicara mengenai pengomentar anonim di blog, gue jadi inget sama blognya 37signals: orang yang ngasih komentar anonim settingan default namanya jadi "anonymous coward". haha :D

    ReplyDelete
  2. The anonymous should know with whom he deals with.

    well, maybe I ain't a gentleman. But, at least, I ain't a coward. I ain't wanna separate ESA become two or more either.

    Terbuka ajalah... saya mah orangnya santai kayak di pantai kok ;)

    ReplyDelete