Monday, January 24, 2011

Pinggir Jendela: Nilai atau Ilmu?

Minggu ini itu minggu yang sedikit menegangkan bagi gue dan temen-temen yang lain. Bukan karena minggu ini ditemukan Crop Circle di Sleman, tapi karena sesuatu hal sangat penting untuk masa depan kita semua, para mahasiswa: Pengumuman Nilai Akhir Semester.

Nilai-nilai dari hasil kuliah jungkir balik, kayang dan sikap lilin selama 6 bulan (satu semester) akan diumumkan pada minggu sekarang, dimulai dari senin kemarin. Gue gak bakalan cerita gimana hasil nilai-nilai gue, karena memang nilai gue bisa bikin seorang dengan IP dibawah 2 pun bangga karena merasa lebih pintar dari gue.

Eniwei, ada satu hal menarik yang dari jaman SD selalu terlihat secara jelas sama. Kenapa terlihat jelas? Karena gue tidak merasakan hal itu, tapi teman-teman gue tampak sangat merasakan hal itu: Pentingnya sebuah nilai.

Semua temen-temen gue selalu panik kalau ada nilai dia yang gak bagus. Banyak yang sirik bahkan jadi benci ke temen yang lain gara-gara nilai temennya itu lebih besar dari nilainya dia. Sampai ada yang tiap hari nyamperin dosen buat perbaikan nilai.

Sebenernya fenomena biar dapet nilai bagus itu bukan di akhir semester saja. Banyak yang udah jilat-jilat ke dosen dari awal semester, baca buku sampai dihapal kata perkata, bahkan begadang sampai malem dan ngantuk di kelas pagi cuma biar dapet nilai bagus.

Heboh, ya? Banget.

Gue sendiri gak terlalu heboh soal nilai. Buat gue, nilai itu cuma produk pengkotak-kotakan ilmu manusia. Bayangin aja, ilmu manusia yang tak terbatas ini dikotak-kotakkan dalam range sebuah nilai. Oke, nilai merupakan indikator kelulusan untuk apapun. Tapi menurut gue lebih penting pemahaman terhadap ilmu tersebut.

Ginih: Elu dapet berapa ilmu dari suatu mata kuliah? Berapa ilmu yang ditanyakan di soal ujian? Apa ditanya semua? Apa yang ditanya di ujian itu adalah hal yang lu pahami?

Misalkan ada 10 ilmu yang diajarkan di suatu mata kuliah: Ilmu A, B, C, D, E, F, G, H, I, J. Elu paham 5 ilmu: A, B, C, D, E. Sedangkan temen elu paham 5 ilmu juga: F, G, H, I, J. Waktu tes, yang diujikan cuma ilmu F, G, H, I, J. Apa ilmu A, B, C, D, E itu jadi percuma? Apa ilmu F, G, H, I, J itu jadi lebih penting? Apa yang perlu diistimewakan dari nilai yang hanya setengah ilmu: F, G, H, I, J padahal ada ilmu yang lain: A, B, C, D, E?

Iya, memang, suatu nilai, transkrip, dsb itu memang penting untuk cari kerja. Ya, cari kerja. Kalau orientasinya untuk nyari kerja ya memang nilai jadi penting. Tapi kadang pekerjaan itu juga gak pake semua ilmu yang telah kita pelajari. Elu kuliah di sastra, kerja di pariwisata. Apa ilmu Corpus linguistics kepake? Mungkin kepake, tapi gak banyak. Percuma? nggak. Tapi, IMO, terkesan sia-sia waktu kalau tujuannya nyari nilai gede. Nilai gede Corpus elu, misal, yang dicari dengan setengah mati, jadi lebar. Kalau elu sekedar cari pemahaman, gak ada yang rugi.

Sungguh naif orang yang melihat sesuatu hanya pada nilai akhirnya saja. Karena sebenarnya yang ia didapatkan lebih daripada itu. Ada ilmu yang lebih berharga daripada nilai tersebut, karena nilai tersebut hanya 10 soal dari 1000 ilmu yang kita dapat.

Ada kok orang sukses yang tidak mencari nilai. Mereka lebih memilih pemahaman ilmu daripada pengkotak-kotakan nilai.

Kenapa gue gak ikutin mereka dan DO aja dari kuliah? Karena niat gue untuk belajar banyak ilmu. Gue gak butuh jadi master suatu bidang tertentu. Gue cuma pengen tau. Tukang tambal ban di cerpen Tak ada Yang Tahu mungkin bisa menggambarkan karakter gue.

Ini cuman share aja. Gue ngerti kok kalau di negara berkembang ini sebuah nilai bisa menjadi sangat berharga. Dapet kerja memang susah di negeri ini. Tapi ya gue cuma mau cerita aja. Yang gak setuju monggo. Silaken komen di bawah. Malah ditunggu buat diskusi. Siapa tahu ada perspektif yang lebih oke daripada perspektif gue terhadap suatu nilai. :)

PS: Postingan ini sebenernya udah gue post bulan Juli. Tapi gue post lagi dengan sedikit editan dan tambahan. :)

Saturday, January 22, 2011

eightONEment: A Great Moment

"Gue kira, masa-masa paling indah itu masa SMA. Ternyata masa kuliah lebih indah." ~ Windy


Ada yang sepakat sama kata-kata di atas? Mungkin ada beberapa yang sepakat, ada juga yang nggak. Ada yang bilang kalau masa paling indah itu masa kanak-kanak saat kita belum tau apa-apa. Ada yang bilang masa yang paling indah itu masa saat kita SD, saat kita berbagi cerita selama 6 tahun bareng temen-temen. Ada yang bilang masa yang paling indah itu masa SMP saat kita baru tahu, ngerti dan paham tentang apa itu namanya saling suka. Ada yang bilang masa yang paling indah itu masa SMA saat kita sudah tahu, atau gak mau tahu, yang mana yang benar dan yang mana yang salah tanpa harus diberitahu orang lain.

Semua orang beda-beda. Jawaban satu orang pun bisa beda-beda. Mungkin saat SMA dia bilang masa SMA yang paling indah. Tapi saat Kuliah, bisa saja itu berubah. Pernyataan di atas mungkin ada tergantung dari situasi dan kondisi. Tidak benar. Juga tidak salah. Tapi semua menjadi benar bagi seseorang yang merasakannya.

***

Tanggal 18 Januari kemarin, Temen-temen gue bikin suatu pagelaran seni. Pagelarannya sebenarnya dibuat untuk tugas akhir mata kuliah Apresiasi Bahasa dan Seni (ABS). Yaaa... Harap maklum karena kita semua anak Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS). Jadi itu sebenernya mata kuliah fakultas yang berhubungan sama seni dan bahasa.

Eniwei.. acaranya sukses. Ada macem-macem bentuk seni di acara itu. Ada modern dance, traditional dance, choir, dan perkusi yang semuanya dikemas dalam satu drama: "The Story Under My Table."

Sebenernya percuma kalau gue cerita tentang heboh dan suksesnya acara eightONEment ini. Baiknya, harusnya, bagusnya, nonton sendiri buat tau betapa wah-nya pagelaran itu. Karena percuma kalau cerita soal hebohnya acara ini, gue mau cerita yang lain.

Buat gue yang gak terlalu berperan dalam pagelaran itu, to be honest, gak terlalu peduli betapa suksesnya acara itu. Seneng? Pasti. Senengnya kenapa? Ada 2 hal. Pertama, gue seneng karena acaranya mendobrak kebiasaan 'membosankan' ABS tahun-tahun sebelumnya. Gimana nggak? Tanpa bermaksud merendahkan acara ABS sebelumnya, acara ABS yang biasanya dibuat sederhana, menampilkan acara band, dan di tempat yang biasa, kemarin dibuat secara besar-besaran, ada tari tradisional, tari modern, choir, band dari dosen, drama, perkusi, dan diadakan ditempat yang besar.

Kedua, yang paling penting, acara ABS ini makin membuat anak-anak 2008 makin kompak. FYI, Tari-tarian, drama, perkusi, dan choir itu sebagian besar campuran antara anak Pendidikan dan Sastra. Bukan dibagi-bagi kelas ini bagian ini dan kelas itu bagian itu. Kita seakan-akan gak perduli akan label dik atau sastra. Yang kita peduli adalah label 2008. Kita saudara. Keluarga.

Gue pribadi banyak belajar dari mata kuliah ABS yang sebenernya gak terlalu 'wow' dibanding kuliah yang lain macem Pragmatics, Semiotics atau Corpus Linguistics ini. Disini gue belajar mengapresiasi bukan hanya bentuk seni, tapi juga bentuk suatu profesionalitas seseorang.

Lihat anak 2008 yang kebagian hanya sedikit peran dalam pagelaran itu, apa mereka tidak berseni atau berbakat? Tidak. Mereka juga berbakat. Bahkan mungkin jauh lebih berbakat. Apakah mereka malah ngedumel sendiri dan protes-protes yang tidak-tidak? A big NO. mereka mengapresiasi semua yang ada. Saling bantu, saling mengoreksi, saling berbagi pengalaman, saling memberi masukan, dan saling menyemangati. Yang kebagian peran pun menampilkan yang terbaik. Menampilkan seluruh kemampuannya. Tak lupa meminta dukungan dari yang lainnya.

Terlalu banyak hal yang gue pelajari dari eightONEment ini. Sampai speechless gue dibuatnya.

***

Gue bukan EO yang cuma puas akan suatu kesuksesan suatu acara yang dibuat. Gue adalah salah seorang anggota keluarga 2008 yang diajarkan banyak hal oleh anggota keluarga yang lain dan gue senang akan hal itu.

Kita saling bertukar ilmu. Saling menghargai. Kita mengerti kapasitas diri. Mengerti satu sama lain. Layaknya sebuah keluarga. Keluarga besar yang luarbiasa baiknya.

Kata-kata Windy di atas itu jadi benar. Seperti yang gue bilang di atas: Semua menjadi benar bagi seseorang yang merasakannya. Gue merasakannya.

***


Percussion


Tari Merak feat. Belle


Tari Ngarojeng

Max and The Wild Things (The Drama)

Tari Saman

The Choir





And finally...

The Family...


PS:
- Ini cuma curhat. Yang gak sepakat silakan. :D
- Itu yang nari, bukan anak seni tari. Itu anak eightish. Itu yang main perkusi bukan anak seni musik. Itu anak eightish. Itu yang main drama bukan anak Teater. Itu anak eightish. Itu yang choir bukan anak MRL. Itu anak eightish. *eh? =p

Tuesday, January 4, 2011

Pinggir Jendela: Positif Atau Negatif?

"buat kang Ranna subhan, tidak PANTAS anda bilang "The coward will eat his/her words soon" di post jika persatuan yang kita inginkan, karena akan lebih menyulut perselisihan ,, tolong gunakan kata yang lebih bijak....

saya ingin bertanya kepada penulis blog
saya ingin kejelasan lebih lanjut... segala sesuatu tu pasti ada dampak atau akibatnya, baik positif atau negatif...

1. dampak (positif & negatif) apa yang timbul apabila himpunan antara dik dan sastra dipisah?
2. Dampak (positif & negatif) apa yang timbul apabila himpunan tetap disatukan?

NB: bagi yang punya pemikiran baik dari pihak yg pro atau kontra silahkan menjawab? "


Kutipan di atas adalah komentar dari seseorang di posting saya sebelumnya Pinggir Jendela: Bukan Pendidikan. Bukan Sastra. Tapi ESA. Agak lucu karena beliau bertanya beberapa setelah Lokakarya 2010.

Kenapa lucu? Karena dampak-dampak tersebut sebenarnya sudah dijelaskan oleh Kang Yazid di Lokakarya. Logikanya, sesuatu yang sudah ada jawabannya seharusnya tak perlu dipertanyankan lagi. Yaaa.. mungkin sang penanya tidak hadir saat Lokakarya. Jadi beliau bertanya seperti itu. Yang jadi pertanyaanya adalah: Jika ia tak datang ke Lokakarya, apakah ia peduli terhadap ESA padahal ia memiliki suatu pertanyaan penting seperti di atas?

Eniwei.. Biar sudah dijawab oleh Kang Yazid di Lokakarya, baiknya saya jawab disini juga. Karena biasanya, sudah dianggap umum, bahwa diam adalah suatu bentuk pembenaran dan bentuk ketidakmampuan untuk menjawab. Jadi saya harus menjawab sekaligus klarifikasi lagi.


Prodi. Bukan Jurusan

Kang Yazid menjelaskan di Lokakarya bahwa Himpunan Mahasiswa Jurusan itu setingkat (sejajar) dengan Jurusan di Universitas tersebut. Bisa dikatakan bahwa posisi ketua jurusan dan posisi ketua himpunan jurusan itu setara. Jadi, Presiden ESA yang sekarang, Gelar, Sejajar dengan Ketua Jurusan saat ini, Pak Wachyu. Tapi kewenangannya berbeda. Yang satu untuk akademik, yang satu untuk kemahasiswaan.

Sekarang kalau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), ESA, dipecah jadi 2 (Dik dan Sastra), namanya bukan jadi HMJ tapi jadi Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP). Dan jujur aja, saya belum pernah denger istilah ini. Saya cuma ngarang aja pake logika.

Kalau begitu, Kedudukan masing-masing ketua himpunan sudah gak sejajar dengan ketua jurusan. Kalau ada kegiatan-kegiatan kemahasiswaan nantinya tidak akan bisa seperti sekarang karena keadaannya berbeda. Tidak akan ada kegiatan kemahasiswaan tingkat jurusan. Yang ada tingkat prodi.

Nantinya, jika ada kebijakan-kebijakan tingkat jurusan, akan sulit diaplikasikan untuk masing-masing Himpunan itu sendiri. Karena sudah bukan sejajar dengan jurusan lagi. Tapi prodi.


Gap

Masalah lain yang, mungkin, akan timbul jika prodi dipisah adalah munculnya 'gap'. Tak perlu ditanyakan lagi kalau nantinya akan timbul gap antar prodi. Sekarang pun, kenyataanya, masih ada beberapa pihak yang saling membedakan, meninggikan, merendahkan, satu sama lain walaupun hanya segelintir orang. Seperti, mungkin, orang yang ingin ESA dipecah saja itu. Jika jadi satu saja sudah ada gap seperti itu, bagaimana jika dipisah? Pasti akan makin besar masalah ini.

Itu kah yang diinginkan? Kan tidak.


Bagusan Ini Daripada Itu

Selain itu, mungkin nanti akan timbul pula masalah 'dibanding-bandingkan'. Saya ambil kemungkinan-contoh-kasus:

Dosen: *di kelas marah-marah* "Kenapa yah mengajar di prodi A lebih enak daripada di prodi B? Mungkin karena kaderisasinya himpunan prodi A lebih bagus dari B. Mungkin karena kegiatan kemahasiswaan prodi A lebih baik dari B. Mungkin karena prodi B terlalu banyak kegiatan kemahasiswaan yang tidak perlu, etc etc etc."

Hal itu kemungkinan besar terjadi jika ESA dipisah. Kenapa? Karena dosen sastra itu masih 'minjem' ke prodi pendidikan. (Bu Safrina, Stuban ke Sanata Dharma, 2010) Jadi kemungkinan besar akan ada dosen yang mengajar di dua prodi yang berbeda, sastra dan dik.

Pertanyaannya, apakah kita mau dibanding-bandingkan? Saya mah ogah.

***

Sebenernya banyak kekurangannya kalau himpunan ini dipisah. Tapi nanti kepanjangan. Ini aja belom jawab positifnya kalau himpunan dipisah. Tapi saya gak bisa liat dimana positifnya karena ya, mungkin, lebih banyak hal positifnya kalau disatukan seperti ini saja.

Saya malah melihat sisi positif kalau himpunan ini tetap seperti sekarang. Saling tukar ilmu. Saling tukar pengalaman. Saling tukar kesenangan. Gap bisa diminimalisir. Saling menyemangati. Saling bantu. Dan masih banyak hal-hal positif lainnya.

Lagipula, setelah klarifikasi, Pak Ruswan bilang:

"Kita harus ingat bahwa prodi non-dik UPI tidak sama dengan non-dik ditempat lain. Core business UPI adalah pendidikan. Jadi didirikannya program nondik adalah untuk memperkuat program dik, bukan sebaliknya. Esa lah yang dapat mengkonsolidasikan visi UPI dalam konteks yang mikro. Program Dik adalah kakak dan nondik adalah adiknya. Jadi adik jangan melawan sama kakak."

Hal Negatif

Kalau hal negatif dari himpunan yang disatukan seperti sekarang? Munculnya beberapa orang yang ingin memisahkan diri.

***

Sebenarnya, IMO, kalau mau bertanya di blog, pakai nama. Jangan anonymous. Soalnya saya gak bisa menjamin apakah jawaban saya ini nantinya bakal dibaca oleh yang bertanya. Kalau ada namanya kan bisa saya kasih tau kalau saya sudah jawab pertanyaanya. Saya orangnya terbuka.

Ini curhatan saya aja. Sekalian jawab dan klarifikasi lagi. Karena saya rasa ini perlu. Jadi ya saya tulis. Kalau mau ada yang bertanya lagi ya silakan. Kita diskusi lagi bareng-bareng disini, atau di tempat lain.



PS: Menurut gue omongan Maul ada benernya. Orang yang berani harusnya berani ngomong langsung ke ESA, crosscheck ke ESA, terbuka ke ESA, kalau ada apa-apa. Bukannya ngomong di belakang dan mau main pisah-pisahin aja. IMO, yang menyulut perselisihan itu adalah yang baik dibilang tidak baik dan menginginkan perubahan dengan menghancurkan sesuatu yang baik tersebut.