Wednesday, December 22, 2010

Pinggir Jendela: Bukan Pendidikan. Bukan Sastra. Tapi ESA.

Minggu lalu, saya dipusingkan oleh wacana dibentuknya Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Kenapa saya pusing? Karena saya adalah salah satu pengurus ESA. Masih bingung? Apa itu ESA? Sedikit-sedikit saya coba jelaskan.

English Students' Association (ESA) adalah salah satu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di UPI. ESA berada di bawah naungan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI tersebut dibagi menjadi 2 Program Studi (prodi). Yaitu Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Dik) dan Prodi Bahasa dan Sastra Inggris (Sastra). Oh yaa.. Jurusan ini dipimpin oleh, pastinya, Kepala Jurusan, saat ini dijabat oleh Pak Wachyu Sundayana.

Sedangkan ESA adalah himpunan kemahasiswaan atau biasa disebut HMJ. Anggota ESA adalah seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (baik itu mahasiswa dik atau sastra). Jadi, berbeda dengan prodi yang 'dipisah', kegiatan kemahasiswaanya tidak dipisah. ESA dipimpin oleh seorang Presiden setiap masa kepengurusan (1 tahun). Saat ini dijabat oleh Gelar Ramadhan (dik 2008).

Pusingnya dimana, yan?

Saya pusing karena ternyata ada keresahan dari beberapa belah pihak, terutama dari anak sastra 2009 (Pak Ruswan, Semiotics Class), karena, menurut-mereka-yang-disampaikan-pak-Ruswan, kegiatan di ESA hanya untuk kalangan anak dik saja. Sebenarnya sampai sana saya tidak begitu pusing. Yang bikin pusing adalah wacana pembentukan himpunan khusus anak sastra saja. Dengan kata lain, anak sastra berpisah dari ESA, yang katanya kegiatannya hanya untuk anak dik, dan membuat himpunan baru.

Ada beberapa poin bentuk keresahan dari Pak Ruswan, atau mungkin beberapa anak sastra 2009, yang sampaikan di kelas Semiotics. Akan saya berikan poin-poin tersebut dan saya sanggah satu persatu:

1). "Kegiatan ESA kebanyakan untuk anak dik saja."

Menurut saya ini tidak benar. Kegiatan-kegiatan di ESA itu dibuat sedemikian rupa agar dapat memfasilitasi kedua prodi. Sejujurnya, kegiatan-kegiatan di ESA itu terbuka untuk umum baik untuk anak dik, sastra, bahkan dari luar Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pun boleh ikut bergabung.

2). "Anak sastra termarjinalkan oleh anak dik di ESA."

Salah besar. Anak sastra sama sekali tidak dimarjinalkan di ESA. Dari segi kegiatan, yang terbuka untuk umum, saja sudah terlihat bahwa ESA tidak memarjinalkan siapapun. Karena salah satu tujuan didirikannya ESA adalah untuk belajar bersosialisasi dengan siapapun. Kalau tidak percaya, silakan tanya anak sastra yang sering mengikuti kegiatan ESA. Apa mereka merasa termarjinalkan? Jawabanya pasti tidak. Kecuali, mungkin, yang memarjinalkan diri sendiri.

3). "Kegiatan ESA kurang aplikatif untuk anak sastra."

Ini bisa jadi benar. Kegiatan ESA bisa jadi tidak aplikatif untuk anak sastra. Tapi kegiatan ESA pun bisa jadi pula tidak aplikatif untuk anak dik. Kenapa demikian? Ini dikarenakan oleh banyak dan bervariasinya kegiatan ESA. Kegiatan di bawah Departemen Penalaran (Deplar) ESA aplikatif untuk kedua prodi. Disana ada English Debating Club (EDC), English Writing Community (EWC), English Speaking Community (ESC), dan English Publising House (EPH).

EDC bisa aplikatif bagi anak sastra yang ingin melanjutkan karier, misal, di Departemen Luar Negeri. EWC bisa aplikatif bagi yang menyukai menulis karya-karya sastra. ESC sangat aplikatif bagi anak sastra yang bercita-cita jadi tour guide, news anchor, PR, dll. EPH untuk mereka yang ingin kerja di dunia media.

Itu baru dari kegiatan rutin di bawah Deplar saja. Departemen-departemen yang lain masih memiliki banyak kegiatan rutin yang lain. Belum lagi jika dilihat dari kegiatan Insidental di ESA. Ada P2M, ESA-FG, KAB, AECS, dan ESCW.

P2M memang, dari luar, terlihat sangat 'pendidikan' karena bentuk pengabdiannya adalah mengajar. Tapi apakah kita melupakan ada sebuah bentuk 'sastra' dari memonton film bersama disana?

ESA-FG aplikatif untuk seluruh dunia kerja. Karena didalamnya kita mendata orang-orang baru yang akan bergabung. Dan itu bisa terjadi dimana saja.

Di dalam KAB, Kegiatannya tidak bisa dibilang sangat 'pendidikan' karena yang terjadi sebenarnya adalah sangat 'sastra'. Salah satu kegiatan malam di PAB adalah pentas seni, bukan mengajar. Saat RECAMP KAB 2010 kemarin, anak-anak sie. Dekorasi., Lalitya, Citra, Dimas, Maulana, Widya, Dossy (anak sastra), Hikmah (anak dik), membuat welcoming video yang rapi. Dengan script, dialog, dsb. Belum lagi anak-anak sie. Dokumentasi, Dhea, Ghidac (anak satra), Risky (anak dik), yang juga membuat video untuk perkenalan pengurus ESA. Bikin video itu kurang aplikatif gimana buat anak sastra?

AECS dan ESCW sudah sangat sastra. Di dalam AECS ada kegiatan: Drama Festival, Story Telling, News Casting, etc. Masih kurang aplikatif? Lihat ke kegiatan ESCW. Disana ada: News Casting, Akustik, Video Contest, Singing Contest, Dance Competition, dll. Dan setelah tahu itu semua, saya kira keterlaluan jika dikatakan kegiatan ESA tidak aplikatif untuk anak sastra.

4). "Petinggi ESA lebih banyak anak dik, jadi anak dik seakan-akan memonopoli kegiatan ESA."

Periode 2010 ini, petinggi ESA ada 9 Orang yang terdiri dari mulai Presiden sampai Kadep. Baiknya saya sebutkan saja mereka satu-satu.
  • Presiden: Gelar (dik)
  • Sekjen: Meizar (sastra)
  • Kabir Keuangan: Windy (sastra)
  • Kabir Administrasi: Pratiwi (dik)
  • Kadep Kerohanian: M. Alif (dik)
  • Kadep Pengembangan Organisasi: Saya sendiri
  • Kadep Penalaran: Ajeng (dik)
  • Kadep Minat dan Bakat: Reni (dik)
  • Kadep Humas dan Advokasi: Astri (dik)
Jika dilihat kesana, memang anak dik lebih banyak yang menjabat sebagai petinggi ESA. Memonopoli kegiatan ESA? Tidak. Bisa dilihat dari acara-acara yang sudah dijabarkan di no. 3. Apa masih terlihat bahwa anak dik memonopoli kegiatan anak ESA?

5). "Anak sastra sulit mendapatkan ijin untuk PLA/ mendapatkan kerja karena kurang aplikatifnya kegiatan di ESA untuk anak sastra."

Ini masalah reputasi Prodi Bahasa dan Sastra Inggris. Reputasi prodi sastra memang tidak sebaik reputasi prodi pendidikan. reputasi ini sedang dibangun baik itu oleh himpunan maupun jurusan itu sendiri.

Himpunan membangun reputasi tersebut dengan kegiata-kegiatan di atas. Sedangkan jurusan membangun reputasi dengan melakukan banyak studi banding, promosi prodi melalui brosur seperti saat kegiatan English Day, dll.

6). "Prodi Bahasa dan Sastra Inggris UPI tidak dikenal karena kegiatan ESA hanya berkutat di dunia pendidikan. Bukan sastra."

Benarkah? Coba lihat lagi poin 3.

7). "Baiknya, anak sastra memiliki himpunan sendiri yang aplikatif."

Jika melihat ke kegiatan-kegiatan di atas, seluruh kegiatan tersebut aplikatif adanya. Hanya tergantung dari para individunya apakah mau mengikuti kegiatan di atas atau hanya menonton dari luar dan berteriak-teriak tidak aplikatif.

8). "Aspirasi mahasiswa sastra tidak didengar."

Salah besar. ESA tidak mungkin mengadakan Dance competition, Video contest, atau Singing competition jika aspirasinya tidak didengar. Dan apakah membuat Video untuk Recamp itu bukan suatu aspirasi dari anak sastra?

Mungkin beberapa orang yang bilang ini ke Pak Ruswan adalah orang-orang yang memiliki ide luar biasa tapi takut memberikan aspirasi pada ESA.

***

Saya pikir tak ada lagi hal yang lain selain poin-poin yang disampaikan Pak Ruswan di kelas. Ternyata selain itu ada beberapa selentingan lain yang menyebar di kalangan mahasiswa Bahasa Inggris. Saya sanggah juga deh satu-satu.

1). "Presiden ESA selalu dari anak dik."

Yakk.. Setau saya juga begitu (Kalau mau ada yang koreksi silakan). Saya gak bilang itu salah. Karena faktanya memang begitu. Tapi apakah yang berbicara seperti itu tahu bagaimana cara pemillihan seorang Presiden ESA?

Presiden ESA dipilih saat MUMAS ESA. Biasanya, MUMAS ESA terdiri dari fraksi-fraksi. Melihat MUMAS terakhir, ada 5 fraksi dari fraksi angkatan 2009, 2008, 2007, 2006, dan 2005+. Perlu diketahui, bahwa anggota fraksi tersebut terdiri dari anak sastra dan anak dik.

Tiap fraksi mencalonkan 3 nama dari 2 angkatan termuda, saat itu 2008 dan 2009. Tiap fraksi boleh memilih siapa saja aik itu anak dik maupun sastra. Dari sana, dilakukan verifikasi dari beberapa hal yang telah disepakati sebelumnya, seperti sanggup atau tidak, IP-nya berapa, lulus kaderisasi atau tidak, dll.

Dari sana baru calon presiden berkampanye dan kemudian dipilih oleh fraksi-fraksi hingga mencapai mufakat. Jika masih sulit terpilih, maka dilakukan voting.

Dari tata cara seperti itu, sangat besar kemungkinan Presiden dari sastra terpilih. Karena fraksi, yang terdiri dari anak dik dan sastra, berhak memilih 3 calon siapapun itu dan darimanapun dia berasal.

Maka jika ada pernyataan: "Presiden ESA selalu dari anak dik." Saya mau bertanya: "Waktu MUMAS kemana aja?"

2). "Anak sastra politiknya gak kuat."

Kalau gitu mah liat pembahasan yang pertama deh yang poin no 3, 4, 8.

3). "Anak sastra dikasih posisi penting di ESA kan cuma buat 'menyenangkan' anak sastra aja."

Saya mau bilang bahwa yang bilang ini sangat jahat dan hatinya sudah sulit diluruskan. Padahal, beberapa anak sastra yang mendapat posisi penting tidak pernah berpikir seperti ini. Anak sastra seperti Meizar (Ijey), misalnya, tidak pernah berpikir sepicik ini terhadap anak dik. Karena kami, anak sastra yang yang selalu mengikuti kegiatan ESA dan tahu ESA dari dalam, saling berbagi ilmu dengan anak dik.

***

Sebenarnya masih banyak selentingan-selentingan lain yang beredar di kalangan mahasiswa. Tapi baiknya saya sudahi karena posting blog terlalu panjang itu tidak nyaman bagi pembaca. :D

Tulisan di atas adalah kegundahan hati saya. Mungkin juga termasuk beberapa sanggahan atau bantahan dari saya. Karena saya, sebagai Ketua Departemen Pengembangan Organisasi ESA, merasa perlu untuk meluruskan beberapa selentingan atau beberapa hal yang tidak benar tentang ESA.

Jika mau dibantah, silakan. Jika mau diterima, alhamdulillah. Saya hanya ingin klarifikasi dan berdiskusi. Karena setelah saya dan Gelar klarifikasi dan diskusi dengan Pak Ruswan, terbukti membuahkan beberapa ide yang luar biasa bagi kemajuan ESA. Bukan hanya dik. Bukan hanya Sastra. Tapi ESA.

Sastra dan Pendidikan itu saling mengisi dan tidak saling mengucilkan. Dengan bersatu seperti ini, kita saling bertukar ilmu.

PS: Saya anak Sastra Inggris. Bukan pendidikan. Dan kebanyakan anak Sastra yang mengikuti kegiatan ESA berpendapat sama sama saya. Jadi siapa yg mengajukan poin-poin di atas? Orang luar yang gak tahu ESA, mungkin. :)

Monday, December 13, 2010

Pinggir Jendela: Istimewa Karena Memberi. Bukan Meminta.

Minggu kemarin saya bareng temen-temen satu angkatan, dosen, dan anak-anak pendidikan tingkat 4 pergi ke Jogja dalam rangka, katanya, studi banding. Kita memang studi banding. Studi banding ke Universitas Sanata Dharma. Gak rugi studi banding kesana. Kalau dari segi kurikulum, emang kayaknya kita lebih praktis. Tapi segi fasilitas? Kalah jauh.

Etapi saya bukan mau cerita soal studi bandingnya. Kalau cerita itu mah mending sekalian saya bikin laporan. Biar gak dua kali. Sekarang saya mau cerita soal kota Jogja itu sendiri. Kota yang ramah dan makanannya murah meriah.

Yogyakarta

Sampai sekarang, media-media masih rame soal polemik monarki Vs. demokrasi di Jogja. Saking ramenya, sampai ada yg ngibarin bendera Merah-Putih setengah tiang segala. Serem ya? iya. Lebay ya? Banget.

Waktu kesana, di persimpangan-persimpangan jalan banyak spanduk yang isinya seperti 'RAKYAT YOGYA SIAP REFERENDUM' atau 'PENETAPAN HARGA MATI'. Terdengar sedikit provokatif dan sedikit, IMO, aneh karena gak ada spanduk tandingan.

Itu aneh menurut saya, tapi mungkin memang seluruh rakyat Jogja memang sebegitu cintanya sama Sultan, jadi mereka mendukung Sultan. Jadi gak ada spanduk tandingan.

Ada kesempatan kesana waktu sedang rame kayak gini, saya senang. Soalnya bisa langsung tanya-tanya. Kebetulan saya ke Keraton. Disana saya nanya beberapa Abdi dalem (atau siapa saya gak begitu tau. Yang jelas mereka seperti pengurus keraton) soal hal ini. Jawaban mereka? Itu gimana Sultan.

Itu dari orang dalem Keraton. Kalau orang luar keraton? Saya ahirnya tanya ke beberapa pedagang di Malioboro. Sambil belanja, saya sempatkan tanya ke beberapa (kalau gak salah 3 orang) pedagang disana. Ternyata semua jawaban mereka sama: Itu gimana Sultan.

Okay.. Semuanya gimana Sultan. Tapi aneh juga mengingat statement Sultan yang menyuruh bertanya ke rakyat Jogja soal ini. Jadinya tanya kemana? Gak tau deh. Kayaknya yang serius (tapi gak tau juga) sama hal ini cuma pemerintah pusat yang, katanya, lagi menggodok Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY.

Pemerintah memang masih nyimpan rapat-rapat draf RUUK ini. Tapi, beberapa waktu lalu ada beberapa poin yang sempat beredar ke publik. Rancangannya lumayan oke kalau menurut saya yang bukan orang Jogja dan gak punya Sultan. Monarki gak dihapuskan semuanya tapi di jadikan simbol budaya, yang membuat nilai keistimewaanya gak berkurang. Berikut beberapa Poin tersebut:
  1. PEMILIHAN GUBERNUR
    Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung; pemisahan kekuasaan antara lembaga penyelenggara politik dan pemerintahan dengan Kesultanan dan Pakualaman (Pasal 3 ayat 2).
  2. PENGAGENG
    Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas Pengageng, Pemerintah Daerah Provinsi, dan DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (Pasal 11):
  3. SIAPA PENGAGENG
    Pengageng adalah Sri Sultan Hamengku Buwono dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Adipati Paku Alam dari Kadipaten Pakualaman (Pasal 12 ayat 1).
  4. HAK VETO PENGAGENG
    Pasal 13 memberikan persetujuan atau penolakan terhadap rancangan Perdais yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur;
    memberikan persetujuan atau penolakan terhadap perorangan bakal calon atau bakal-bakal calon Gubernur dan/atau Wakil Gubernur yang dinyatakan telah memenuhi syarat kesehatan dan administratif oleh Komisi Pemilihan Umum Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;
    memberikan saran dan pertimbangan terhadap rencana perjanjian kerja sama yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Provinsi dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat.
  5. HAK PENGAGENG
    Pada Pasal 18 ayat 1 dijelaskan bahwa haknya adalah:
    - mendapatkan seluruh informasi mengenai kebijakan dan/atau informasi yang diperlukan untuk perumusan kebijakan;
    - mengusulkan pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur;
    - imunitas;
    - protokoler setingkat menteri.
  6. LARANGAN BAGI PENGAGENG
    Pasal 20 menyebutkan larangan menjadi pengurus dan anggota partai politik.
Sumber: Tempointeraktif

Silakan dipikir sendiri deh bagus apa nggaknya. Tapi yah kalau saya boleh mengeluarkan pendapat, saya setuju sama banyak poin di atas. Tapi ya tetep aja harus lihat semua draf UUnya. Biar gak sepotong-sepotong.

Sultan: Sekarang ini. Dulu itu.


Sultan itu salah satu contoh pemimpin yang dicintai rakyat. Alasannya? Kalau boleh pinjem kalimat Sultan, saya bakal jawab: Tanya rakyat Jogja.

Kalau rakyat Jogja sebegitu cintanya, saya mah nggak. Saya cuma orang awam, bukan rakyat Jogja, Berpendidikan rendah yang kebetulan menemukan beberapa kejanggalan soal Sultan.

Sultan memepertanyakan sistem Monarki a la Presiden SBY. Pertanyaan itu muncul setelah Presiden SBY memberikan pernyataan soal keistimewaan DIY, bahwa tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan dengan sistem kosntitusi dan nilai demokratis. Itu saya gak aneh. Saya juga sebenarnya bertanya-tanya.

Yang bikin aneh itu karena saya tahu bahwa dulu Sultan pernah bilang bahwa ia tidak mau jadi Gubernur DIY. Anehnya karena bisa-bisanya Sultan bertanya: 'Sistem monarki a la SBY itu seperti apa?'. Pertanyaan saya: Apakah Sultan bertanya pada dirinya sendiri dengan pertanyaan yang sama waktu ia bilang bahwa ia tidak lagi bersedia jadi Gubernur DIY? Menurut saya, Sultan tampak seperti menjilat ludah sendiri.

Yang seperti ini memang banyak di Indonesia. Politikus paling sering 'nunun' sama pernyataan yang pernah dia keluarkan. Contohnya banyak. Waktu drama pansus BOBC, hampir semua inisiator pansus kayak begini.

Pertanyaanya sekarang, masihkah kita mempercayai pemimpin yang lupa pada pernyataannya sendiri dan bahkan menyangkalnya?

***

Saya memang bukan orang Jogja. Saya cuman orang jauh yang lihat beberapa hal dan memberikan beberapa pendapat saya. Saya tetap setuju dengan keistimewaan Yogyakarta. Tapi, IMO, memang perlu untuk mengatur mekanisme soal pemimpin di Yogyakarta sendiri.

Bagaimana kalau ternyata Sultan tiba-tiba (amit-amit) meninggal dunia? Siapa yang gantikan sebagai Gubernur? Anak laki-lakinya? Apakah sekarang punya anak-laki-laki? Katakanlah beliau punya anak laki-laki, apakah anak tersebut siap diberi tanggung jawab sebesar itu? Bagaimana kalau anak tersebut ternyata masih berumur 17 tahun dan tak paham apa-apa?

Kalau Sultan itu menjabat sebagai gubernur selama hidupnya, bagaimana jika beliau sudah sepuh, sulit untuk fokus mengatur wilayahnya, sulit untuk berbicara, daya ingat yang menurun, dll? Apakah masih dipertahankan sebagai pemimpin? Apa rakyatnya tega membiarkan beliau yang sudah sepuh terus bekerja untuk rakyat?

Memang katanya ada yang siap mengganti Sultan sebagai gubernur DIY, tapi itu laki-laki. Bagaimana dengan para wanita-wanita Jogja yang cerdasnya bukan main? Apa tidak diberi kesempatan untuk itu? Sayang sekali bila para perempuan Jogja yang pintar-pintar tersebut tidak diberikan kesempatan dan hak yang sama dengan yang lain.

Maka dari itu, saya berpendapat kalau perlu diatur mekanisme yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Sulit memang, tapi baiknya tidak disikapi dengan emosi yang berlebihan sampai mau referendum segala.

Kalau kata @ranabaja di Twitter: "Sambil merayakan perbedaan pendapat, saya mau bilang: Jogja jadi istimewa dalam sejarah RI karena ia memberi. Bukan meminta."

***

Tulisan diatas ini memang pendapat pribadi. Kalau gak setuju silaken. SBY aja boleh punya pendapat kok. Sultan juga boleh. Pedagang-pedagang Malioboro juga boleh berpendapat. Semua orang boleh berpendapat. Tapi ada yang setuju ada pula yang tidak.

Saya senang Jogja. Kota ramah. Makanannya murah meriah.

Wednesday, December 1, 2010

Just Wanna Say Hi! :D

Hi, guys!

Apa kabar? Semoga baik-baik aja. Sebenernya gue bingung mau nulis apa setelah lama gak nulis. Tulisan di notes gue udah banyak sih. Tinggal disalin. Tapi ada beberapa kendala aja yang bikin gue gak bisa posting lagi beberapa waktu ini. Pertama, gue gak ada koneksi internet di rumah. Error gak tau kenapa. Untungnya (tetep ada untungnya orang Indonesia mah) gak kena biaya biar gak bisa pake internet. Yang mungkin dicabut secara sepihak dari providernya. Mau diurusin tapi gak ada waktu.

Yang kedua itu karena gue lagi sibuk kuliah dan hal-hal diluar kuliahnya. DAri bikin laporan pertanggungjawaban KAB (Kaderisasi Anggota Baru), ikut heboh buat pagelaran ABS (Apresisasi Bahasa dan Seni), tugas-tugas paper, dll.

Rindu tulisan gue? gue juga rindu buat nulis baik itu daily, weekly ataupun mothly. Ahh ya sudalah. semoga gue bisa cepet nulis lagi. Terutama isu-isu yang lagi asik dibahas. Soalnya kalau cerpen mah banyak yang tinggal disalin.

Wish me luck, guys! :D