Friday, September 24, 2010

Standing on Aisle: Bangku Taman

Di depanku ada sebuah kolam besar. Airnya tak jernih. Tak pula kotor. Baru dibersihkan beberapa hari yang lalu. Sekarang, air kolam yang biasanya hitam itu menjadi bersih. Setidaknya, tak sehitam biasanya.

Aku sudah lama ada di taman ini. Berdiri, duduk, berbaring atau apapun kau ingin menyebutnya, aku sudah lama ada disini. Kau ingin tahu berapa lama aku berdiri? Jika kau kuberi tahu pun, kau takkan percaya.

Pagi ini aku hanya ingin 2 hal. 2 hal yang selalu kutunggu disetiap minggu. 2 hal yang tak pernah berubah sejak tahun lalu. 2 hal yang keindahannya takkan tergantikan oleh apapun di dunia ini. 2 hal yang selalu mengisi Sabtu pagiku.

Kicau burung di atas pohon besar di seberang kolam itu adalah hal pertama kutunggu. Biasanya kicau pertama akan terdengar saat pucuk pohon itu mulai disinari sang mentari pagi. Mungkin yang mengicau pertama adalah ayah si burung. Tapi aku pun tak tahu. Bisa jadi yang mencicit pertama adalah ibu si burung yang kemudian diikuti oleh anak-anaknya.

Tak peduli siapa mengicau pertama, mereka adalah yang terindah di pagi hari.

5 menit lagi ia datang, hal terindah selain kicau burung di pagi hari. apa yang ia bawa hari ini? Semoga saja itu bisa membuatnya berlama-lama di tempat ini. Hanya dialah penyejuk pagi menuju siangku di hari Sabtu. Sebelum sang mentari muncul sempurna, tepat diatasku.

Ia membawa buku tebal dan berjalan menujuku. Wajahnya cantik tak bercela. Melihatnya meyakinkanku bahwa Tuhan benar-benar ada. Meskipun aku tak terlalu percaya bahwa ia itu adil, tapi jelas Tuhan itu ada dan menciptakan ia yang selalu kutunggu setiap Sabtu pagi.

Aku melihatnya duduk. Merasakan tiap hembusan nafasnya. Mendengar senandung disela ia membaca bukunya.

"Melihatmu pun aku tak mau.
Tak ingin ku merusakmu
Dengan mata berdosaku.

Kau terlalu indah untuk dilihat,
terlalu merdu untuk didengar,
terlalu manis untuk dirasa,
terlalu harum untuk dicium,

Kau, Sabtu pagiku."


Itu bukan aku yang berkata atau berucap. Tapi aku dengan jelas melihat mulutnya menggumamkan kata-kata indah itu. Bagiku, ia menggumamkan sesuatu yang menggambarkan dirinya. Sesuatu yang indah di Sabtu pagiku.

Mentari meninggi angkuh. Tak peduli akan bahagiaku. Tak peduli sesuatu yang selalu kurindu pergi meninggalkanku untuk kembali setelah seminggu berlalu.

Melihatnya pergi meninggalkanku untuk kembali Sabtu lainnya, aku terpaku. Tak bisa aku memintanya kembali untuk sekedar duduk beberapa saat lagi. Aku membisu. Diam tak berucap menyaksikan perginya keindahan Sabtu pagi itu.

Seekor semut berjalan di kakiku. Seorang ibu duduk di atasku. Kelelahan mengejar anak-anaknya yang asyik bermain. Mereka mengisi siangku. mengisi penantian Sabtu pagiku berikutnya saat burung-burung berhenti berkicau.

Tak peduli siapa mengicau terakhir, mereka adalah yang terindah di pagi hari.


Self-Access Bahasa Inggris, 22 September 2010. 01.07 pm.

Wednesday, September 15, 2010

Pinggir Jendela: Penistaan Agama

Kaget itu cuma salah satu kata yang bisa menggambarkan suasana hati saya waktu mendengar bahwa ada jemaat (atau pendeta atau penatua, maaf sayakurang paham) HKBP - Huria Kristen Batak Protestan - yang tiba-tiba ditusuk oleh beberapa orang tak dikenal di Ciketing, Kab. Bekasi. Kata-kata lainnya mungkin adalah: Marah, Kesal, Emosi, dll.

Ini bukan masalah baru. Antara mereka, pelaku penusukkan (FPI) dan jemaat HKBP, memang sering terjadi bentrokan. Dan setiap kali ada bentrokan, pasti membuat para pengguna Twitter heboh, memaki-maki, marah, kesal, kepada FPI yang menghalang-halangi para jemaat HKBP untuk beribadah.

Jangan tanya saya soal sejarah konflik ini. Ini konflik sensitif. Kalau saya komentar, nanti bisa-bisa malah memperkeruh suasana. Jadi saya mau curhat (biar dibilang kayak presiden) yang lain aja.

Tadi, muncul berita baru. Pengikut pastor Terry Jones, yang berencana membakar Al-Qur'an pada tanggal 11 September, akhirnya benar-benar membakar Al-Qur'an. Respon saya sama seperti kejadian diatas: marah, kaget, kesal, emosi, dll. Tapi pengguna Twitter umumnya? Tidak.

Presiden SBY dianggap lebay dalam menyikapi soal pembakaran Al-Qur'an ini. Ia mengadakan konferensi pers yg disiarkan stasiun TV berita setelah shalat ied untuk mengecam rencana pembakaran Al-Quran tersebut. Padahal, untuk soal Ciketing, presiden hanya menugaskan menteri-menteri, polisi, dll. tanpa langsung memberikan statement.

Sikap presiden dinilai aneh. Terlalu reaktif untuk masalah Terry Jones, tapi terlalu kalem untuk masalah Ciketing.

Tweeps, pengguna Twitter, tidak dianggap lebay dalam menyikapi soal Ciketing. Karena, memang, kebebasan beragama harus diperjuangkan. Tindakan menghalang-halangi orang-orang untuk beribadah adalah penistaan agama dan itu adalah sesuatu yang salah. Maka dari itu, tweeps tidak lebay.

Tapi ada yg aneh, tweeps tidak menganggap masalah pembakaran Al-Qur'an sebagai sesuatu yang patut diperlakukan seperti menanggapi FPI dan persoalan Ciketing. Padahal, menurut saya (Orang yang ilmunya hanya seujung rambut), hal ini sama-sama soal penistaan agama.

Tapi Ciketing itu masalah nyawa, mereka sudah berani main tikam.

Ia betul, ini masalah yang sangat besar. Berani menghilangkan nyawa orang. Tapi coba anggap bahwa kasus penikaman ini tidak terjadi, artinya kita lihat kasus Ciketing sebelum terjadi kasus penusukan tersebut. Respon tweeps masih sama. Heboh, marah, kaget, emosi, dll. Apa beda? Tak ada. Lantas kenapa sekarang kalem-kalem aja?

Menurut saya, ini timpang. Tweeps biasanya meminta presiden untuk tegas dalam soal Ciketing ini, karena ini penistaan agama. Presiden diminta pula agar tidak lebay dalam menanggapi rencana pembakaran Al-Qur'an. Tapi tweeps, In-my-most-humble-opinion, kebalikannya.

Lalu bolehkah saya berpendapat bahwa Sikap tweeps aneh? Karena tweeps terlalu reaktif untuk masalah Ciketing, tapi terlalu kalem untuk masalah Terry Jones.

Impas?

Kalau lihat aspek yang lain sih tidak impas karena beberapa orang berpandangan bahwa 2 kasus ini pada dasarnya berbeda. Tapi saya melihat bahwa dasar persoalan ini sama: Penistaan agama. Saya hanya aneh aja melihatnya. Tampaknya presiden dan tweeps saling menutup mata.

Monday, September 6, 2010

Pinggir Jendela: Maaf

Ada berita yang bikin heboh dunia per-twitter-an hari Senin, 6 September 2010. Setidaknya heboh di Timeline saya pribadi. Saya gak tau apakah rame-rame ini ada juga di Timeline anak 4L4Y. Apakah yang sesuatu yang menghebohkan itu? Itu adalah sikap Indonesia yang meminta maaf kepada Malaysia atas insiden pelemparan kotoran ke Kedubes Malaysia di Jakarta dan aksi pembakaran bendera Malaysia.

Kenapa heboh? karena ternyata tweeps yang saya follow menunjukkan reaksi yang berbeda. Sebagian ada yang mendukung sikap meminta maaf Indonesia dan yang lain mengecam sikap tersebut.

Mereka yang mendukung sikap tersebut menanggapi dengan wajar hal tersebut. Menurut mereka, kita telah menunjukkan bahwa kita adalah sebuah bangsa yang besar, sebuah bangsa yang mau mengakui kesalahan bangsa ini dan berani meminta maaf atas kesalahannya.

Mereka yang mengecam, memiliki pandangan yang beragam. Beberapa orang mengecam karena mereka berpikir bahwa kita tidak perlu meminta maaf karena insiden tersebut adalah suatu perbuatan pribadi seseorang, bukan negara.

Orang yang lain berpendapat bahwa kita tidak perlu meminta maaf karena Malaysia pun tidak meminta maaf atas perbuatan tidak menyenangkan atas para TKI yang bekerja di Malaysia. ada pula yang berpendapat bahwa dengan kita meminta maaf pada Malaysia, berarti kita tidak tegas. Lainnya bahkan berpikir bahwa dengan meminta maaf, kita telah kalah terlebih dahulu sebelum kita melakukan sesuatu.

Here are my opinions.

Saya dengan sepenuh hati mendukung sikap Indonesia yang meminta maaf atas insiden tersebut. Kenapa? 1) Karena kita hanya meminta maaf atas 2 kejadian yang memang seharusnya tidak kita lakukan: Pelemparan kotoran ke Kedubes Malaysia dan Pembakaran bendera Malaysia.

2) Karena meminta maaf bukanlah suatau bentuk kelemahan, ketidaktegasan, kebodohan, atau bahkan kegagalan diplomasi Indonesia. 3) Walaupun hal tersebut dilakukan oleh beberapa Individu (baca: LSM) saja, tetap kita bertanggung jawab atas kejadian tersebut, karena itu terjadi di Indonesia. 4) Perbuatan tercela atas lambang negara orang lain adalah suatu penghinaan serius.


Lalu, kenapa tidak kita hukum saja LSM tersebut? Jadi tidak perlu minta maaf.

Menurut saya memang harusnya Indonesia tidak menghukum LSM tersebut disaat-saat seperti ini. Harus menunggu dulu sampai situasi mereda. Kenapa? Karena dengan kita menghukum LSM saat ini, Malaysia akan tahu bahwa kita sedang lemah karena malah bertengkar sendiri. Lagi pula, saya yakin, beberapa orang akan berteriak "Untuk apa menghukum LSM ini?! Lebih baik urus saja masalah dengan Malaysia!"

Saya harap, setelah masalah ini mereda (atau lebih baik lagi, selesai) akan ada penindakan atas LSM yang melakukan itu semua.

Lantas kenapa kita harus minta maaf saat Malaysia gak minta maaf atas perlakuannya terhadap TKI?

Karena kita tidak mau seperti mereka. Kita tidak boleh seperti mereka. Kalau kita tidak meminta maaf karena Malaysia tidak meminta maaf, apa beda kita dengan mereka? Tak lebih baik sedikit pun daripada mereka jika kita melakukan itu.



Itu hanya pendapat saya pribadi, kalau tidak suka ya silakan. Kalau punya pendapat sendiri ya monggo. Kalau gak nyambung , ya wajar. Mungkin suatu waktu kita bisa ngobrol di bis dalam perjalanan ke kampus. Karena, yah, ilmu saya memang sepanjang jalan itu.

Ada quotes menarik dari untuk menyikapi hal terakhir, tentang TKI, itu.

"An eye for an eye makes the whole world blind." ~ Gandhi