Saturday, July 24, 2010

Gitar Pengamen: Sweet Disposition - The Temper Trap (Live on KEXP)




sweet disposition
never too soon
oh reckless abandon
like no one's
watching you

a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs
a moment, a love
a dream, a laugh
a moment, a love
a dream, a laugh

just stay there
cause i'll be comin' over
and while our bloods still young
it's so young
it runs
and we won't stop til it's over
won't stop to surrender

songs of desperation
I played them for you
a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs
a moment, a love
a dream, a laugh
a moment, a love
a dream, a laugh

just stay there
cause i'll be comin over
and while our bloods still young
it's so young
it runs
and we won't stop til it's over
won't stop to surrender

a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs (won't stop til it's over)
a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs(won't stop til it's over)
a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs (won't stop til it's over)
a moment, a love
a dream, a laugh
a moment, a love
a moment, a love (won't stop to surrender)

Standing on Aisle: Love Will Find The Way

Ia menatapku tanpa berkedip. Itu bukan tatapan ngajak berantem. yang pasti aku pernah melihat tatapan semacam itu. tatapan papa ke mama atau sebaliknya. Ya, Itu tatapan cinta.

Sudah menjadi rahasia umum kalau dia menyukaiku. Sebenarnya, kemarin-kemarin sih aku juga menyukainya. Tapi rasa suka itu berubah sejak minggu kemarin. Kenapa? Karena ia menyatakan cintanya.

“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu sih?” Terlontarlah sebuah tanya dari rasa salah tingkahku.

“Pengen aja ngeliatin kamu. Abis kamu orangnya geer-an. Hehe” jawabnya dengan senyum jahil.

Sudah hampir 19 tahun aku hidup. Tapi belum ada yang melihatku dengan cara seperti itu. Banyak yang mengatakan cinta, sayang, suka padaku. Tapi tak ada yang melihatku dengan tulus seperti itu.

Minggu kemarin ia menyatakan cintanya setelah 7 bulan mengisi hari-hari ku dengan segala tingkah polahnya yang mengisyaratkan cinta. “Cinta pada pandangan pertama.” Katanya. Ia bilang kalau ia membutuhkan 7 bulan untuk membuktikan cintanya padaku. Setelah dirasa cukup, minggu kemarin ia nyatakan isi hatinya padaku.

“Kenapa ga diterima aja sih? Haha.” Tanyanya setengah bercanda. Tapi aku tahu. Ditengah canda itu ia mengharap sesuatu.

“Abis, kayaknya aku ga cocok sama kamu deh.” Jawabku sekenanya. Sedetik kemudian aku sadar kalau aku telah menyakiti hatinya.

Aku menyukainya. Menyukainya lebih dari yang ia tahu. Bahkan mungkin lebih besar dari cintanya padaku. Tapi tampaknya ego dan gengsiku lebih besar daripada cintaku padanya.

“Ga terlalu penting sih mau diterima apa ngga. Kalo ditolak sih itu resiko yang nembak. Yang penting itu kamu udah tau perasaan aku ke kamu itu gimana.” Jawabnya disertai senyum tulus.

Aku menyesal telah menjawab seperti itu. Ia mencintaiku seakan aku adalah orang yang paling berarti untuknya. Ia mencintaiku melebihi cintanya akan dirinya sendiri. Sedangkan aku, mendobrak gengsiku dengan cinta yang besar ini pun aku tak bisa.

“Dulu aku percaya sama orang yang bilang ‘cinta tak harus selalu memiliki’, tapi sekarang aku mikir lagi. Kalau ga merasa saling memiliki gimana bisa mencintai? Makanya aku ungkapin semua isi hati aku ke kamu minggu lalu. Biar aku merasa memiliki kamu. Biar aku bisa mencintai kamu.” Ungkapnya.

Aku menangis dalam hati. Ingin aku memberitahunya bahwa aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku merasa memilikinya, karena ia memang mencintaiku.

Sampai kapan kamu mau terus bohongin diri kamu sendiri? Sampai kapan kamu selalu kalah sama gengsi kamu sendiri? Mau nyesel terus karena ga bisa jujur buat diri kamu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam kepalaku. Ohh please! Kasih tau aku caranya buat bilang itu semua ke kamu!

“Sekarang aku percaya sama orang yang bilang ‘love will find the way’. Jadi apapun jawaban kamu, aku bakalan terima apa adanya. Toh aku seneng udah ngebuat tempat khusus untuk kamu di hati aku, meskipun gak akan pernah kamu isi.”

Air mataku mengalir. Love will find the way. Apakah itu jawaban yang dia kasih untuk kebimbanganku? Beruntunglah aku dicintainya. Berucap terimakasih pun takkan cukup untuk membalas cintanya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau dia menyukaiku. Sebenarnya, kemarin-kemarin sih aku juga menyukainya. Tapi rasa suka itu berubah sejak minggu kemarin. kenapa? karena ia menyatakan cintanya.

sekarang aku bukan menyukainya. aku mencintainya.


Bandung, 13092009. 11.36 pm

Thursday, July 22, 2010

Pinggir Jendela: 10 Soal Atau 1000 Ilmu?

Minggu ini itu minggu yang sedikit menegangkan bagi gue dan temen-temen yang lain. Bukan karena minggu ini katanya Pak Tifatul Sembiring mau blok situs-situs porno, tapi karena sesuatu hal sangat penting untuk masa depan kita semua, para mahasiswa: Pengumuman Nilai Akhir Semester.

Nilai-nilai dari hasil kuliah jungkir balik, kayang dan sikap lilin selama 6 bulan (satu semester) akan diumumkan pada minggu sekarang, dimulai dari senin kemarin. Gue gak bakalan cerita gimana hasil nilai-nilai gue, karena memang nilai gue bisa bikin seorang dengan IP dibawah 2 pun bangga karena merasa lebih pintar dari gue.

Eniwei, ada satu hal menarik yang dari jaman SD selalu terlihat secara jelas sama. Kenapa terlihat jelas? Karena gue tidak merasakan hal itu, tapi teman-teman gue tampak sangat merasakan hal itu: Pentingnya sebuah nilai.

Semua temen-temen gue selalu panik kalau ada nilai dia yang gak bagus. Banyak yang sirik bahkan jadi benci ke temen yang lain gara-gara nilai temennya itu lebih besar dari nilainya dia. Sampai ada yang tiap hari nyamperin dosen buat perbaikan nilai.

Sebenernya fenomena biar dapet nilai bagus itu bukan di akhir semester saja. Banyak yang udah jilat-jilat ke dosen dari awal semester, baca buku sampai dihapal kata perkata, bahkan begadang sampai malem dan ngantuk di kelas pagi cuma biar dapet nilai bagus.

Heboh, ya? Banget.

Gue sendiri gak terlalu heboh soal nilai. Buat gue, nilai itu cuma produk pengkotak-kotakan ilmu manusia. Bayangin aja, ilmu manusia yang tak terbatas ini dikotak-kotakkan dalam range sebuah nilai. Oke, nilai merupakan indikator kelulusan untuk apapun. Tapi menurut gue lebih penting pemahaman terhadap ilmu tersebut.

Sungguh naif orang yang melihat sesuatu hanya pada nilai akhirnya saja. Karena sebenarnya yang ia didapatkan lebih daripada itu. Ada ilmu yang lebih berharga daripada nilai tersebut, karena nilai tersebut hanya 10 soal dari 1000 ilmu yang kita dapat.

Jadi inget suatu film yang sangat bagus. Film tahun 2010. Dari India tapi mendunia: 3 Idiots. Salah satu ide film ini adalah kita itu belajar bukan untuk berkompetisi, tapi untuk mencari ilmu. Kayaknya gue mau nonton film itu lagi malem ini. :)

Sunday, July 18, 2010

Pinggir Jendela: 3 Berita 3 Idola

Bulan Mei lalu, ada berita rame-rame soal SMI yang memilih pergi ke World Bank. Sebelumnya, Ada pula rame-rame berita soal Setgab/Sekber/Setber (atau apalah) antara partai-partai koalisi. Sebelum itu lagi, ada berita rame-rame yang sampai berbulan-bulan dan gak selesai sampai sekarang: Kasus Bank Century.

Ada banyak kesamaan dari ketiga berita itu. Salah satunya mereka-mereka yang disalahkan: Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sri Mulyani Indrawati (SMI), Boediono, Pemerintahan 2004-2009, dll. Tapi apakah dari ketiga berita itu ada hubungannya? Pasti.

Kalau urut dari awal, gue (pendapat pribadi) bisa lihat hubungan antar kejadian-kejadian itu. Diawali dengan berita tentang perselisihan antara Aburizal Bakrie (ARB) dengan SMI karena ternyata perusahaan Bakrie banyak yang ngemplang pajak. SMI akhirnya berani angkat bicara karena ARB sudah tidak di pemerintahan 2009-2014.

Dari situ, ujug-ujug muncul masalah soal 'Skandal Bank Century'. Sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan secara biasa, tapi ternyata semua orang mengangkat berita ini dengan lebay. DPR bikin pansus yang dengan pedenya dibilang bakal berhasil. Beritanya sendiri diangkat sampai 3 bulan lebih.

Dari kasus tersebut, DPR (dengan dibantu media cetak dan elektronik), berhasil memojokkan beberapa pihak. Mereka adalah SMI dan Boediono. Padahal kalau melihat para ekonom-ekonom ahli yang beneran ahli (bukan yg suka tampil di TV), SMI dan Boediono harusnya tidak disalahkan. Tapi tampaknya DPR dan media ditunggangi oleh orang yang dendam pada mereka berdua. Jadi media (Bossnya itu yang punya masalah sama SMI dan Boediono) pun menyalahkan SMI dan Boediono secara berlebihan.

Pertanyaanya, kemana SBY? SBY aman karena dia Presiden dan kebetulan tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan yang merupakan awal kasus ini. Apa Presiden diem saja? Gue kira tidak.

SMI dan Boediono sedang terpojok. Sebagai pemimpin yang baik, SBY pasti ingin melindungi mentri-mentri terbaiknya. SMI yang pernah ditawari jadi Managing Director di World Bank akhirnya dilepas ke World Bank. Melepas aset paling berharga? Betul, sayang sekali SMI dikirim ke World Bank saat Indonesia masih membutuhkannya. Tapi kalau gue jadi SBY, gue juga bakalan ngelepas SMI. Kasian orang baik-baik malah dihujat sana sini di negaranya sendiri.

Kalau Boediono gak mungkin dikirim juga ke luar negeri soalnya dia Wapres. Jadi SBY mengalihkan isu dengan bikin Sekber. Semua media langsung soroti soal ini. Lupa soal Century, lupa soal SMI, lupa soal Boediono. SBY seakan-akan bunuh diri dengan bermain bersama ARB yg merupakan ketum Golkar.

Tapi gue punya pandangan lain. SBY itu berusaha melindungi Wapres dan SMI. Terus kok kayak yang makin deket sama ARB? Itu masalah lain. SBY tunjuk Agus Martowardoyo (AM) dan Anny Ratnawati (AR) buat menjinakkan ARB.

AM ini dulu pernah ditunjuk oleh SBY untuk jadi Gubernur BI kerja bareng SMI dan Boediono waktu masa pemerintahan 2006-2009. Keliatan banget kalau DPR gak suka AM. Buktinya, baru jadi calon, DPR langsung nolak AM untuk jadi Gubernur BI. Akhirnya Gubernur BI diisi oleh Boediono. Sedangkan AR ini titipan pribadi SMI. Jadi gue rasa Integritasnya AR ini tidak perlu diragukan lagi.

Kenapa SMI bilang kalau dia korban kartel politik? Kalau menurut gue, SBY gak kasih tau soal ini ke SMI. Biar SMI bisa fokus ke World Bank dan bekerja dengan baik disana. Yaaah.. Dengan kata lain. SBY bunuh diri sendiri buat SMI dan Boediono.

Jadi menurut gue semua itu berhubungan. Untuk menyelamatkan SMI, SBY kirim ke World Bank. Untuk menyelamatkan Boediono, SBY bikin Sekber untuk alihkan isu. Biar ARB ga ngelunjak, SBY tunjuk AM dan AR di kemenkeu.

Hasilnya? SMI kerja tenang gak dihujat-hujat lagi di World Bank, Boediono kerja tenang jadi Wapres tanpa dicekcokin sana sini di negaranya sendiri. ARB tetap diusut kasus pajaknya oleh AM dan AR.

Yaaahh... Itu semua memang pikiran gue doang. Pikiran waktu lagi di bis waktu mau pulang. Kenapa gue bisa mikir kayak gitu? Karena gue sendiri mengidolakan SBY, SMI dan Boediono. Mereka itu orang-orang baik yang bisa bekerja bersama. Mereka para pemikir pembangun bangsa. Mereka idola gue.

Buat gue, gak bisa idola sama SBY doang. Gak bisa idola sama SMI doang. Gak bisa sama Boediono doang. Gue idola sama mereka bertiga. Bisa gak sih idola sepaket? Kalau iya, gue idolain mereka. Satu paket.

Saturday, July 17, 2010

#kumahamaneh: Bioskop

Cewek: "Nanti kita turun dimana?"
Cowok: "Nanti kita turun di PVJ aja. Mau nonton di Blitzmegapixel, kan?"

Bandung, Damri Leuwi Panjang - Ledeng, November 2009

Friday, July 16, 2010

Standing on Aisle: Tak Ada Yang Tahu

Motor bebek warna hitam itu berhenti di depan sebuah bengkel. Ada yang salah dengan ban luar motor itu. Ban itu tidak kempes. Tapi benjol-benjol seperti kepala pencuri yang dihakimi masa.

"Ganti ban luar, mas." Kata sang pengendara motor bebek itu.

Usianya tak lebih dari 20 tahun. mungkin masih sekolah. Tak tahulah. Sulit melihat orang masih sekolah atau tidak di jaman edan yang disebut 'globalisasi' ini.

"Simpan dulu saja disana, bang. aku selesaikan yang ini dulu." Sang montir berkata sambil menunjuk motor sport hijau bermerek nama pendekar jepang.

Sang montir dari sumatra. mungkin dia orang batak. Tak tahulah. Susah menentukan orang berasal darimana di jaman gila yang disebut 'modern' ini.

"Duduklah dulu, bang. atau pilihlah ban luar yang mau kau ganti. Daftar harganya mintalah ke gadis di belakang meja itu." Sang montir menyarankan.

Sang pengendara motor pun mulai memilih ban luar baru untuk menggantikan ban 'benjol' miliknya.

"Sudah dapat barangnya, bang? aku bisa kerjakan sekarang." Tanya sang montir.

"Yang ini aja deh, mas." Sambil memegang ban luar bermerek.

Montir itu pun langsung mengambil ban yang dipegang anak sekolahan itu. Ia langsung bekerja mengganti ban luar tersebut. Takut ada pekerjaan yang tidak beres, anak sekolahan itu pun duduk di dekat sang montir.

"Dimana rumah, bang?" Sang montir mulai percakapan.

"Di komplek seberang, mas." Jawabnya sambil memperhatikan sang montir.

"Tak sekolah?" Sang montir mulai mencari jawaban dari pertanyaannya.

"Nggak lah. sabtu kan libur, mas."

"Sekolah dimana memang?"

"Saya kuliah"

"Oh, saya kira masih sekolah. Dimana kuliah? Jurusan apa?"

"Di UPI. Ambil bahasa inggris."

Anak kuliahan itu menyebutkan jurusannya sambil menyumpahi diri sendiri. Ia tidak pernah suka akan jurusan yang dia ambil. Orang tuanya yang menginginkan dia untuk memilih jurusan bahasa inggris. Biar bisa menghadapi tantangan global, katanya. Padahal menghitung 1 sampai 100 dalam bahasa inggris saja belum lancar. Ia tidak bisa bahasa inggris. Kalau boleh memilih, ia akan memilih masuk jurusan seni musik. Dia sudah pintar main setidaknya 4 alat musik pada umur 10 tahun. Yah, ia ingin menjadi ahli di kehidupannya.

"Wah pintar cakap bahasa inggris kau, bang. aku pun kuliah." Sang montir takjub. Anak kuliahan itu tersenyum.

"Semoga saja begitu, mas." Pikirnya dalam hati.

"Aku pun kuliah. di ITB." Lanjut sang montir.

Butuh 2 detik untuk mencerna kata-kata yang baru dikeluarkan sang montir. Detik pertama ia tidak percaya. Seorang montir, belepotan oli, kotor, dan bahkan (mungkin) tidak mandi adalah seorang mahasiswa ITB? Bagaimana bisa?

Detik kedua ia melihat mata sang montir, semua teorinya runtuh. Sang montir jujur. Itu terlihat dari matanya.

"Ambil apa, mas?" Kata-kata sang anak kuliahan itu keluar begitu saja menerjang keterkejutannya. Mencari jawaban atas ketidak percayaannya.

"Matematika. aku yang paling nakal disana, bang. Aku tak heran abang kaget. Banyak yang tak percaya." Jawab sang montir menjelaskan sambil tersenyum.

Ahh.. anak ITB hampir DO mungkin. Pikir sang anak kuliahan dalam hatinya.

"Tak pernah suka aku kuliah di bidang itu. Lebih baik aku bekerja jadi montir saja daripada berkutat dengan si 'x' yang tak kunjung ketemu itu." Sang montir mulai bercerita.

"Kenapa, mas? Kan sayang, susah masuk ITB." Tanya anak komplek itu heran.

"Aku sudah pintar matematika sejak SD. Aku lahap pelajaran kelas 3 SMP saat aku kelas 6 SD. Aku telan bulat-bulat pelajaran kelas 3 SMA saat aku kelas 3 SMP. Aku sudah mahir matematika sejak dulu. Untuk apa aku belajar lagi? Tak ada guna. Aku inginnya belajar musik atau otomotif seperti ini. Soalnya aku belum mahir dalam bidang ini." Jawab sang montir panjang. Sang anak komplek itu pun takjub.

"Kalau aku belajar apa yang aku sudah bisa, aku tak bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang hidup, bang. Makanya aku kepingin belajar otomotif dan musik. Karena aku belum mahir." Lanjut sang montir sambil mengencangkan baut roda. pekerjaannya hampir selesai.

Sang anak komplek itu tidak menyangka jawaban sang montir. Mereka bertolak belakang. Sang montir ingin mencari dan mempelajari segala macam bidang agar bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang hidup. Sedangkan ia ingin menjadi ahli di kehidupannya dengan mempelajari apa yang ia telah kuasai.

"Selesai, bang. Pembayarannya langsung ke gadis di belakang meja tadi."

Mana yang lebih baik? Tak ada yang tahu.

Bandung, 04102009. 01.56 am

Bus: Kotak Besar Miniatur Dunia

Saya tidak mengada-ada dengan judul diatas. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Selamat datang di blog "Catch Your BUS!!!". Sebuah blog buatan mahasiswa penumpang setia Bus Damri jurusan Leuwi Panjang - Ledeng Bandung. Blog berisi buah pikiran banyak perjalanan panjang dari selatan menuju utara Bandung atau sebaliknya.

Jangan terlalu berharap banyak dari blog ini. Karena hanya berisi suatu hiburan dari sebuah miniatur kehidupan dalam kotak besar: BUS.

Catch your bus. Catch your world.

Regards.