Wednesday, December 22, 2010

Pinggir Jendela: Bukan Pendidikan. Bukan Sastra. Tapi ESA.

Minggu lalu, saya dipusingkan oleh wacana dibentuknya Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Kenapa saya pusing? Karena saya adalah salah satu pengurus ESA. Masih bingung? Apa itu ESA? Sedikit-sedikit saya coba jelaskan.

English Students' Association (ESA) adalah salah satu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di UPI. ESA berada di bawah naungan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI tersebut dibagi menjadi 2 Program Studi (prodi). Yaitu Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (Dik) dan Prodi Bahasa dan Sastra Inggris (Sastra). Oh yaa.. Jurusan ini dipimpin oleh, pastinya, Kepala Jurusan, saat ini dijabat oleh Pak Wachyu Sundayana.

Sedangkan ESA adalah himpunan kemahasiswaan atau biasa disebut HMJ. Anggota ESA adalah seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (baik itu mahasiswa dik atau sastra). Jadi, berbeda dengan prodi yang 'dipisah', kegiatan kemahasiswaanya tidak dipisah. ESA dipimpin oleh seorang Presiden setiap masa kepengurusan (1 tahun). Saat ini dijabat oleh Gelar Ramadhan (dik 2008).

Pusingnya dimana, yan?

Saya pusing karena ternyata ada keresahan dari beberapa belah pihak, terutama dari anak sastra 2009 (Pak Ruswan, Semiotics Class), karena, menurut-mereka-yang-disampaikan-pak-Ruswan, kegiatan di ESA hanya untuk kalangan anak dik saja. Sebenarnya sampai sana saya tidak begitu pusing. Yang bikin pusing adalah wacana pembentukan himpunan khusus anak sastra saja. Dengan kata lain, anak sastra berpisah dari ESA, yang katanya kegiatannya hanya untuk anak dik, dan membuat himpunan baru.

Ada beberapa poin bentuk keresahan dari Pak Ruswan, atau mungkin beberapa anak sastra 2009, yang sampaikan di kelas Semiotics. Akan saya berikan poin-poin tersebut dan saya sanggah satu persatu:

1). "Kegiatan ESA kebanyakan untuk anak dik saja."

Menurut saya ini tidak benar. Kegiatan-kegiatan di ESA itu dibuat sedemikian rupa agar dapat memfasilitasi kedua prodi. Sejujurnya, kegiatan-kegiatan di ESA itu terbuka untuk umum baik untuk anak dik, sastra, bahkan dari luar Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pun boleh ikut bergabung.

2). "Anak sastra termarjinalkan oleh anak dik di ESA."

Salah besar. Anak sastra sama sekali tidak dimarjinalkan di ESA. Dari segi kegiatan, yang terbuka untuk umum, saja sudah terlihat bahwa ESA tidak memarjinalkan siapapun. Karena salah satu tujuan didirikannya ESA adalah untuk belajar bersosialisasi dengan siapapun. Kalau tidak percaya, silakan tanya anak sastra yang sering mengikuti kegiatan ESA. Apa mereka merasa termarjinalkan? Jawabanya pasti tidak. Kecuali, mungkin, yang memarjinalkan diri sendiri.

3). "Kegiatan ESA kurang aplikatif untuk anak sastra."

Ini bisa jadi benar. Kegiatan ESA bisa jadi tidak aplikatif untuk anak sastra. Tapi kegiatan ESA pun bisa jadi pula tidak aplikatif untuk anak dik. Kenapa demikian? Ini dikarenakan oleh banyak dan bervariasinya kegiatan ESA. Kegiatan di bawah Departemen Penalaran (Deplar) ESA aplikatif untuk kedua prodi. Disana ada English Debating Club (EDC), English Writing Community (EWC), English Speaking Community (ESC), dan English Publising House (EPH).

EDC bisa aplikatif bagi anak sastra yang ingin melanjutkan karier, misal, di Departemen Luar Negeri. EWC bisa aplikatif bagi yang menyukai menulis karya-karya sastra. ESC sangat aplikatif bagi anak sastra yang bercita-cita jadi tour guide, news anchor, PR, dll. EPH untuk mereka yang ingin kerja di dunia media.

Itu baru dari kegiatan rutin di bawah Deplar saja. Departemen-departemen yang lain masih memiliki banyak kegiatan rutin yang lain. Belum lagi jika dilihat dari kegiatan Insidental di ESA. Ada P2M, ESA-FG, KAB, AECS, dan ESCW.

P2M memang, dari luar, terlihat sangat 'pendidikan' karena bentuk pengabdiannya adalah mengajar. Tapi apakah kita melupakan ada sebuah bentuk 'sastra' dari memonton film bersama disana?

ESA-FG aplikatif untuk seluruh dunia kerja. Karena didalamnya kita mendata orang-orang baru yang akan bergabung. Dan itu bisa terjadi dimana saja.

Di dalam KAB, Kegiatannya tidak bisa dibilang sangat 'pendidikan' karena yang terjadi sebenarnya adalah sangat 'sastra'. Salah satu kegiatan malam di PAB adalah pentas seni, bukan mengajar. Saat RECAMP KAB 2010 kemarin, anak-anak sie. Dekorasi., Lalitya, Citra, Dimas, Maulana, Widya, Dossy (anak sastra), Hikmah (anak dik), membuat welcoming video yang rapi. Dengan script, dialog, dsb. Belum lagi anak-anak sie. Dokumentasi, Dhea, Ghidac (anak satra), Risky (anak dik), yang juga membuat video untuk perkenalan pengurus ESA. Bikin video itu kurang aplikatif gimana buat anak sastra?

AECS dan ESCW sudah sangat sastra. Di dalam AECS ada kegiatan: Drama Festival, Story Telling, News Casting, etc. Masih kurang aplikatif? Lihat ke kegiatan ESCW. Disana ada: News Casting, Akustik, Video Contest, Singing Contest, Dance Competition, dll. Dan setelah tahu itu semua, saya kira keterlaluan jika dikatakan kegiatan ESA tidak aplikatif untuk anak sastra.

4). "Petinggi ESA lebih banyak anak dik, jadi anak dik seakan-akan memonopoli kegiatan ESA."

Periode 2010 ini, petinggi ESA ada 9 Orang yang terdiri dari mulai Presiden sampai Kadep. Baiknya saya sebutkan saja mereka satu-satu.
  • Presiden: Gelar (dik)
  • Sekjen: Meizar (sastra)
  • Kabir Keuangan: Windy (sastra)
  • Kabir Administrasi: Pratiwi (dik)
  • Kadep Kerohanian: M. Alif (dik)
  • Kadep Pengembangan Organisasi: Saya sendiri
  • Kadep Penalaran: Ajeng (dik)
  • Kadep Minat dan Bakat: Reni (dik)
  • Kadep Humas dan Advokasi: Astri (dik)
Jika dilihat kesana, memang anak dik lebih banyak yang menjabat sebagai petinggi ESA. Memonopoli kegiatan ESA? Tidak. Bisa dilihat dari acara-acara yang sudah dijabarkan di no. 3. Apa masih terlihat bahwa anak dik memonopoli kegiatan anak ESA?

5). "Anak sastra sulit mendapatkan ijin untuk PLA/ mendapatkan kerja karena kurang aplikatifnya kegiatan di ESA untuk anak sastra."

Ini masalah reputasi Prodi Bahasa dan Sastra Inggris. Reputasi prodi sastra memang tidak sebaik reputasi prodi pendidikan. reputasi ini sedang dibangun baik itu oleh himpunan maupun jurusan itu sendiri.

Himpunan membangun reputasi tersebut dengan kegiata-kegiatan di atas. Sedangkan jurusan membangun reputasi dengan melakukan banyak studi banding, promosi prodi melalui brosur seperti saat kegiatan English Day, dll.

6). "Prodi Bahasa dan Sastra Inggris UPI tidak dikenal karena kegiatan ESA hanya berkutat di dunia pendidikan. Bukan sastra."

Benarkah? Coba lihat lagi poin 3.

7). "Baiknya, anak sastra memiliki himpunan sendiri yang aplikatif."

Jika melihat ke kegiatan-kegiatan di atas, seluruh kegiatan tersebut aplikatif adanya. Hanya tergantung dari para individunya apakah mau mengikuti kegiatan di atas atau hanya menonton dari luar dan berteriak-teriak tidak aplikatif.

8). "Aspirasi mahasiswa sastra tidak didengar."

Salah besar. ESA tidak mungkin mengadakan Dance competition, Video contest, atau Singing competition jika aspirasinya tidak didengar. Dan apakah membuat Video untuk Recamp itu bukan suatu aspirasi dari anak sastra?

Mungkin beberapa orang yang bilang ini ke Pak Ruswan adalah orang-orang yang memiliki ide luar biasa tapi takut memberikan aspirasi pada ESA.

***

Saya pikir tak ada lagi hal yang lain selain poin-poin yang disampaikan Pak Ruswan di kelas. Ternyata selain itu ada beberapa selentingan lain yang menyebar di kalangan mahasiswa Bahasa Inggris. Saya sanggah juga deh satu-satu.

1). "Presiden ESA selalu dari anak dik."

Yakk.. Setau saya juga begitu (Kalau mau ada yang koreksi silakan). Saya gak bilang itu salah. Karena faktanya memang begitu. Tapi apakah yang berbicara seperti itu tahu bagaimana cara pemillihan seorang Presiden ESA?

Presiden ESA dipilih saat MUMAS ESA. Biasanya, MUMAS ESA terdiri dari fraksi-fraksi. Melihat MUMAS terakhir, ada 5 fraksi dari fraksi angkatan 2009, 2008, 2007, 2006, dan 2005+. Perlu diketahui, bahwa anggota fraksi tersebut terdiri dari anak sastra dan anak dik.

Tiap fraksi mencalonkan 3 nama dari 2 angkatan termuda, saat itu 2008 dan 2009. Tiap fraksi boleh memilih siapa saja aik itu anak dik maupun sastra. Dari sana, dilakukan verifikasi dari beberapa hal yang telah disepakati sebelumnya, seperti sanggup atau tidak, IP-nya berapa, lulus kaderisasi atau tidak, dll.

Dari sana baru calon presiden berkampanye dan kemudian dipilih oleh fraksi-fraksi hingga mencapai mufakat. Jika masih sulit terpilih, maka dilakukan voting.

Dari tata cara seperti itu, sangat besar kemungkinan Presiden dari sastra terpilih. Karena fraksi, yang terdiri dari anak dik dan sastra, berhak memilih 3 calon siapapun itu dan darimanapun dia berasal.

Maka jika ada pernyataan: "Presiden ESA selalu dari anak dik." Saya mau bertanya: "Waktu MUMAS kemana aja?"

2). "Anak sastra politiknya gak kuat."

Kalau gitu mah liat pembahasan yang pertama deh yang poin no 3, 4, 8.

3). "Anak sastra dikasih posisi penting di ESA kan cuma buat 'menyenangkan' anak sastra aja."

Saya mau bilang bahwa yang bilang ini sangat jahat dan hatinya sudah sulit diluruskan. Padahal, beberapa anak sastra yang mendapat posisi penting tidak pernah berpikir seperti ini. Anak sastra seperti Meizar (Ijey), misalnya, tidak pernah berpikir sepicik ini terhadap anak dik. Karena kami, anak sastra yang yang selalu mengikuti kegiatan ESA dan tahu ESA dari dalam, saling berbagi ilmu dengan anak dik.

***

Sebenarnya masih banyak selentingan-selentingan lain yang beredar di kalangan mahasiswa. Tapi baiknya saya sudahi karena posting blog terlalu panjang itu tidak nyaman bagi pembaca. :D

Tulisan di atas adalah kegundahan hati saya. Mungkin juga termasuk beberapa sanggahan atau bantahan dari saya. Karena saya, sebagai Ketua Departemen Pengembangan Organisasi ESA, merasa perlu untuk meluruskan beberapa selentingan atau beberapa hal yang tidak benar tentang ESA.

Jika mau dibantah, silakan. Jika mau diterima, alhamdulillah. Saya hanya ingin klarifikasi dan berdiskusi. Karena setelah saya dan Gelar klarifikasi dan diskusi dengan Pak Ruswan, terbukti membuahkan beberapa ide yang luar biasa bagi kemajuan ESA. Bukan hanya dik. Bukan hanya Sastra. Tapi ESA.

Sastra dan Pendidikan itu saling mengisi dan tidak saling mengucilkan. Dengan bersatu seperti ini, kita saling bertukar ilmu.

PS: Saya anak Sastra Inggris. Bukan pendidikan. Dan kebanyakan anak Sastra yang mengikuti kegiatan ESA berpendapat sama sama saya. Jadi siapa yg mengajukan poin-poin di atas? Orang luar yang gak tahu ESA, mungkin. :)

Monday, December 13, 2010

Pinggir Jendela: Istimewa Karena Memberi. Bukan Meminta.

Minggu kemarin saya bareng temen-temen satu angkatan, dosen, dan anak-anak pendidikan tingkat 4 pergi ke Jogja dalam rangka, katanya, studi banding. Kita memang studi banding. Studi banding ke Universitas Sanata Dharma. Gak rugi studi banding kesana. Kalau dari segi kurikulum, emang kayaknya kita lebih praktis. Tapi segi fasilitas? Kalah jauh.

Etapi saya bukan mau cerita soal studi bandingnya. Kalau cerita itu mah mending sekalian saya bikin laporan. Biar gak dua kali. Sekarang saya mau cerita soal kota Jogja itu sendiri. Kota yang ramah dan makanannya murah meriah.

Yogyakarta

Sampai sekarang, media-media masih rame soal polemik monarki Vs. demokrasi di Jogja. Saking ramenya, sampai ada yg ngibarin bendera Merah-Putih setengah tiang segala. Serem ya? iya. Lebay ya? Banget.

Waktu kesana, di persimpangan-persimpangan jalan banyak spanduk yang isinya seperti 'RAKYAT YOGYA SIAP REFERENDUM' atau 'PENETAPAN HARGA MATI'. Terdengar sedikit provokatif dan sedikit, IMO, aneh karena gak ada spanduk tandingan.

Itu aneh menurut saya, tapi mungkin memang seluruh rakyat Jogja memang sebegitu cintanya sama Sultan, jadi mereka mendukung Sultan. Jadi gak ada spanduk tandingan.

Ada kesempatan kesana waktu sedang rame kayak gini, saya senang. Soalnya bisa langsung tanya-tanya. Kebetulan saya ke Keraton. Disana saya nanya beberapa Abdi dalem (atau siapa saya gak begitu tau. Yang jelas mereka seperti pengurus keraton) soal hal ini. Jawaban mereka? Itu gimana Sultan.

Itu dari orang dalem Keraton. Kalau orang luar keraton? Saya ahirnya tanya ke beberapa pedagang di Malioboro. Sambil belanja, saya sempatkan tanya ke beberapa (kalau gak salah 3 orang) pedagang disana. Ternyata semua jawaban mereka sama: Itu gimana Sultan.

Okay.. Semuanya gimana Sultan. Tapi aneh juga mengingat statement Sultan yang menyuruh bertanya ke rakyat Jogja soal ini. Jadinya tanya kemana? Gak tau deh. Kayaknya yang serius (tapi gak tau juga) sama hal ini cuma pemerintah pusat yang, katanya, lagi menggodok Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY.

Pemerintah memang masih nyimpan rapat-rapat draf RUUK ini. Tapi, beberapa waktu lalu ada beberapa poin yang sempat beredar ke publik. Rancangannya lumayan oke kalau menurut saya yang bukan orang Jogja dan gak punya Sultan. Monarki gak dihapuskan semuanya tapi di jadikan simbol budaya, yang membuat nilai keistimewaanya gak berkurang. Berikut beberapa Poin tersebut:
  1. PEMILIHAN GUBERNUR
    Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung; pemisahan kekuasaan antara lembaga penyelenggara politik dan pemerintahan dengan Kesultanan dan Pakualaman (Pasal 3 ayat 2).
  2. PENGAGENG
    Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas Pengageng, Pemerintah Daerah Provinsi, dan DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (Pasal 11):
  3. SIAPA PENGAGENG
    Pengageng adalah Sri Sultan Hamengku Buwono dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Adipati Paku Alam dari Kadipaten Pakualaman (Pasal 12 ayat 1).
  4. HAK VETO PENGAGENG
    Pasal 13 memberikan persetujuan atau penolakan terhadap rancangan Perdais yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur;
    memberikan persetujuan atau penolakan terhadap perorangan bakal calon atau bakal-bakal calon Gubernur dan/atau Wakil Gubernur yang dinyatakan telah memenuhi syarat kesehatan dan administratif oleh Komisi Pemilihan Umum Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;
    memberikan saran dan pertimbangan terhadap rencana perjanjian kerja sama yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Provinsi dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat.
  5. HAK PENGAGENG
    Pada Pasal 18 ayat 1 dijelaskan bahwa haknya adalah:
    - mendapatkan seluruh informasi mengenai kebijakan dan/atau informasi yang diperlukan untuk perumusan kebijakan;
    - mengusulkan pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur;
    - imunitas;
    - protokoler setingkat menteri.
  6. LARANGAN BAGI PENGAGENG
    Pasal 20 menyebutkan larangan menjadi pengurus dan anggota partai politik.
Sumber: Tempointeraktif

Silakan dipikir sendiri deh bagus apa nggaknya. Tapi yah kalau saya boleh mengeluarkan pendapat, saya setuju sama banyak poin di atas. Tapi ya tetep aja harus lihat semua draf UUnya. Biar gak sepotong-sepotong.

Sultan: Sekarang ini. Dulu itu.


Sultan itu salah satu contoh pemimpin yang dicintai rakyat. Alasannya? Kalau boleh pinjem kalimat Sultan, saya bakal jawab: Tanya rakyat Jogja.

Kalau rakyat Jogja sebegitu cintanya, saya mah nggak. Saya cuma orang awam, bukan rakyat Jogja, Berpendidikan rendah yang kebetulan menemukan beberapa kejanggalan soal Sultan.

Sultan memepertanyakan sistem Monarki a la Presiden SBY. Pertanyaan itu muncul setelah Presiden SBY memberikan pernyataan soal keistimewaan DIY, bahwa tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan dengan sistem kosntitusi dan nilai demokratis. Itu saya gak aneh. Saya juga sebenarnya bertanya-tanya.

Yang bikin aneh itu karena saya tahu bahwa dulu Sultan pernah bilang bahwa ia tidak mau jadi Gubernur DIY. Anehnya karena bisa-bisanya Sultan bertanya: 'Sistem monarki a la SBY itu seperti apa?'. Pertanyaan saya: Apakah Sultan bertanya pada dirinya sendiri dengan pertanyaan yang sama waktu ia bilang bahwa ia tidak lagi bersedia jadi Gubernur DIY? Menurut saya, Sultan tampak seperti menjilat ludah sendiri.

Yang seperti ini memang banyak di Indonesia. Politikus paling sering 'nunun' sama pernyataan yang pernah dia keluarkan. Contohnya banyak. Waktu drama pansus BOBC, hampir semua inisiator pansus kayak begini.

Pertanyaanya sekarang, masihkah kita mempercayai pemimpin yang lupa pada pernyataannya sendiri dan bahkan menyangkalnya?

***

Saya memang bukan orang Jogja. Saya cuman orang jauh yang lihat beberapa hal dan memberikan beberapa pendapat saya. Saya tetap setuju dengan keistimewaan Yogyakarta. Tapi, IMO, memang perlu untuk mengatur mekanisme soal pemimpin di Yogyakarta sendiri.

Bagaimana kalau ternyata Sultan tiba-tiba (amit-amit) meninggal dunia? Siapa yang gantikan sebagai Gubernur? Anak laki-lakinya? Apakah sekarang punya anak-laki-laki? Katakanlah beliau punya anak laki-laki, apakah anak tersebut siap diberi tanggung jawab sebesar itu? Bagaimana kalau anak tersebut ternyata masih berumur 17 tahun dan tak paham apa-apa?

Kalau Sultan itu menjabat sebagai gubernur selama hidupnya, bagaimana jika beliau sudah sepuh, sulit untuk fokus mengatur wilayahnya, sulit untuk berbicara, daya ingat yang menurun, dll? Apakah masih dipertahankan sebagai pemimpin? Apa rakyatnya tega membiarkan beliau yang sudah sepuh terus bekerja untuk rakyat?

Memang katanya ada yang siap mengganti Sultan sebagai gubernur DIY, tapi itu laki-laki. Bagaimana dengan para wanita-wanita Jogja yang cerdasnya bukan main? Apa tidak diberi kesempatan untuk itu? Sayang sekali bila para perempuan Jogja yang pintar-pintar tersebut tidak diberikan kesempatan dan hak yang sama dengan yang lain.

Maka dari itu, saya berpendapat kalau perlu diatur mekanisme yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Sulit memang, tapi baiknya tidak disikapi dengan emosi yang berlebihan sampai mau referendum segala.

Kalau kata @ranabaja di Twitter: "Sambil merayakan perbedaan pendapat, saya mau bilang: Jogja jadi istimewa dalam sejarah RI karena ia memberi. Bukan meminta."

***

Tulisan diatas ini memang pendapat pribadi. Kalau gak setuju silaken. SBY aja boleh punya pendapat kok. Sultan juga boleh. Pedagang-pedagang Malioboro juga boleh berpendapat. Semua orang boleh berpendapat. Tapi ada yang setuju ada pula yang tidak.

Saya senang Jogja. Kota ramah. Makanannya murah meriah.

Wednesday, December 1, 2010

Just Wanna Say Hi! :D

Hi, guys!

Apa kabar? Semoga baik-baik aja. Sebenernya gue bingung mau nulis apa setelah lama gak nulis. Tulisan di notes gue udah banyak sih. Tinggal disalin. Tapi ada beberapa kendala aja yang bikin gue gak bisa posting lagi beberapa waktu ini. Pertama, gue gak ada koneksi internet di rumah. Error gak tau kenapa. Untungnya (tetep ada untungnya orang Indonesia mah) gak kena biaya biar gak bisa pake internet. Yang mungkin dicabut secara sepihak dari providernya. Mau diurusin tapi gak ada waktu.

Yang kedua itu karena gue lagi sibuk kuliah dan hal-hal diluar kuliahnya. DAri bikin laporan pertanggungjawaban KAB (Kaderisasi Anggota Baru), ikut heboh buat pagelaran ABS (Apresisasi Bahasa dan Seni), tugas-tugas paper, dll.

Rindu tulisan gue? gue juga rindu buat nulis baik itu daily, weekly ataupun mothly. Ahh ya sudalah. semoga gue bisa cepet nulis lagi. Terutama isu-isu yang lagi asik dibahas. Soalnya kalau cerpen mah banyak yang tinggal disalin.

Wish me luck, guys! :D

Thursday, October 14, 2010

Pinggir Jendela: Cinta = Masuk Jurang

Udah pada baca novel Jomblo nya Adhitya Mulya? Gue udah baca nih novel berkali-kali. Tapi udah selama setaun setengah kemaren suasana (baca: status) tidak sesuai dengan judul novel, jadi udah lama ga baca (ga enak aja baca jomblo tapi ga jomblo, susah ketawa, yang ada malah ke sindir sendiri ntarnya). Tapi sekarang situasinya udah sama dengan judul novel (baca: jomblo). Jadi gue memutuskan untuk baca buku ini lagi.

Novel yang bagus dari penulis yang bagus pula. Kental akan komedi, tapi sarat akan romansa.


Cuman mau berbagi aja sama kalian semua, bagian ini bukan gue tulis dari bagian ceritanya, tapi dari prakata sang penulis.



"Cinta, salah satu kata yang penuh makna.Cinta adalah satu-satunya yang dapat memberikan rasa paling beragam dalam kosa kata bahasa Indonesia. Cinta dapat menghasilkan perasaan 'ingin masuk jurang' atau perasaan 'ingin memasukkan seseorang kedalam jurang'. Cinta, abstraksi yang mampu membuat orang 'berlari menggapainya' atau 'berlari darinya'."



Di buku ini juga, ada dialog yang mau gak mau emang harus diakui kebenarannya.



Agus melanjutkan analisisnya akan wanita yang lebih rumit dari thesis ilmuwan pembuat roket.
"Wanita punya absolutisme menyeleksi. Dari alasan yang solid seperti: 'Agamanya kurang kuat' sampai alasan yang paling pikaseubeuleun (meyebalkan), 'Orangnya sih baik, tapi sayang bau kelek', mereka punya hak atas ituh. Setelah ituh sang wanita melanjutkan kehidupannya dengan tralala-lala sementara si pria hancur berkeping-keping di pinggir dunianya yang porak poranda. Wanitalah yang memutuskan,
'Oke, elu boleh kenalan sama guah' ketika kitah berkenalan dengan mereka. Wanitalah yang memutuskan,
'Oke, elu boleh jadi pacar guah' ketika kitah menyatakan cinta pada mereka."




Masih banyak dialog-dialog kayak diatas. Sebenernya miris juga buat di ketawain. Soalnya waktu ketawa otomatis ngetawain diri sendiri. Tapi bisa jadi bahan introspeksi lah.

notes Facebook, June 10, 2009 at 2:40pm

Friday, September 24, 2010

Standing on Aisle: Bangku Taman

Di depanku ada sebuah kolam besar. Airnya tak jernih. Tak pula kotor. Baru dibersihkan beberapa hari yang lalu. Sekarang, air kolam yang biasanya hitam itu menjadi bersih. Setidaknya, tak sehitam biasanya.

Aku sudah lama ada di taman ini. Berdiri, duduk, berbaring atau apapun kau ingin menyebutnya, aku sudah lama ada disini. Kau ingin tahu berapa lama aku berdiri? Jika kau kuberi tahu pun, kau takkan percaya.

Pagi ini aku hanya ingin 2 hal. 2 hal yang selalu kutunggu disetiap minggu. 2 hal yang tak pernah berubah sejak tahun lalu. 2 hal yang keindahannya takkan tergantikan oleh apapun di dunia ini. 2 hal yang selalu mengisi Sabtu pagiku.

Kicau burung di atas pohon besar di seberang kolam itu adalah hal pertama kutunggu. Biasanya kicau pertama akan terdengar saat pucuk pohon itu mulai disinari sang mentari pagi. Mungkin yang mengicau pertama adalah ayah si burung. Tapi aku pun tak tahu. Bisa jadi yang mencicit pertama adalah ibu si burung yang kemudian diikuti oleh anak-anaknya.

Tak peduli siapa mengicau pertama, mereka adalah yang terindah di pagi hari.

5 menit lagi ia datang, hal terindah selain kicau burung di pagi hari. apa yang ia bawa hari ini? Semoga saja itu bisa membuatnya berlama-lama di tempat ini. Hanya dialah penyejuk pagi menuju siangku di hari Sabtu. Sebelum sang mentari muncul sempurna, tepat diatasku.

Ia membawa buku tebal dan berjalan menujuku. Wajahnya cantik tak bercela. Melihatnya meyakinkanku bahwa Tuhan benar-benar ada. Meskipun aku tak terlalu percaya bahwa ia itu adil, tapi jelas Tuhan itu ada dan menciptakan ia yang selalu kutunggu setiap Sabtu pagi.

Aku melihatnya duduk. Merasakan tiap hembusan nafasnya. Mendengar senandung disela ia membaca bukunya.

"Melihatmu pun aku tak mau.
Tak ingin ku merusakmu
Dengan mata berdosaku.

Kau terlalu indah untuk dilihat,
terlalu merdu untuk didengar,
terlalu manis untuk dirasa,
terlalu harum untuk dicium,

Kau, Sabtu pagiku."


Itu bukan aku yang berkata atau berucap. Tapi aku dengan jelas melihat mulutnya menggumamkan kata-kata indah itu. Bagiku, ia menggumamkan sesuatu yang menggambarkan dirinya. Sesuatu yang indah di Sabtu pagiku.

Mentari meninggi angkuh. Tak peduli akan bahagiaku. Tak peduli sesuatu yang selalu kurindu pergi meninggalkanku untuk kembali setelah seminggu berlalu.

Melihatnya pergi meninggalkanku untuk kembali Sabtu lainnya, aku terpaku. Tak bisa aku memintanya kembali untuk sekedar duduk beberapa saat lagi. Aku membisu. Diam tak berucap menyaksikan perginya keindahan Sabtu pagi itu.

Seekor semut berjalan di kakiku. Seorang ibu duduk di atasku. Kelelahan mengejar anak-anaknya yang asyik bermain. Mereka mengisi siangku. mengisi penantian Sabtu pagiku berikutnya saat burung-burung berhenti berkicau.

Tak peduli siapa mengicau terakhir, mereka adalah yang terindah di pagi hari.


Self-Access Bahasa Inggris, 22 September 2010. 01.07 pm.

Wednesday, September 15, 2010

Pinggir Jendela: Penistaan Agama

Kaget itu cuma salah satu kata yang bisa menggambarkan suasana hati saya waktu mendengar bahwa ada jemaat (atau pendeta atau penatua, maaf sayakurang paham) HKBP - Huria Kristen Batak Protestan - yang tiba-tiba ditusuk oleh beberapa orang tak dikenal di Ciketing, Kab. Bekasi. Kata-kata lainnya mungkin adalah: Marah, Kesal, Emosi, dll.

Ini bukan masalah baru. Antara mereka, pelaku penusukkan (FPI) dan jemaat HKBP, memang sering terjadi bentrokan. Dan setiap kali ada bentrokan, pasti membuat para pengguna Twitter heboh, memaki-maki, marah, kesal, kepada FPI yang menghalang-halangi para jemaat HKBP untuk beribadah.

Jangan tanya saya soal sejarah konflik ini. Ini konflik sensitif. Kalau saya komentar, nanti bisa-bisa malah memperkeruh suasana. Jadi saya mau curhat (biar dibilang kayak presiden) yang lain aja.

Tadi, muncul berita baru. Pengikut pastor Terry Jones, yang berencana membakar Al-Qur'an pada tanggal 11 September, akhirnya benar-benar membakar Al-Qur'an. Respon saya sama seperti kejadian diatas: marah, kaget, kesal, emosi, dll. Tapi pengguna Twitter umumnya? Tidak.

Presiden SBY dianggap lebay dalam menyikapi soal pembakaran Al-Qur'an ini. Ia mengadakan konferensi pers yg disiarkan stasiun TV berita setelah shalat ied untuk mengecam rencana pembakaran Al-Quran tersebut. Padahal, untuk soal Ciketing, presiden hanya menugaskan menteri-menteri, polisi, dll. tanpa langsung memberikan statement.

Sikap presiden dinilai aneh. Terlalu reaktif untuk masalah Terry Jones, tapi terlalu kalem untuk masalah Ciketing.

Tweeps, pengguna Twitter, tidak dianggap lebay dalam menyikapi soal Ciketing. Karena, memang, kebebasan beragama harus diperjuangkan. Tindakan menghalang-halangi orang-orang untuk beribadah adalah penistaan agama dan itu adalah sesuatu yang salah. Maka dari itu, tweeps tidak lebay.

Tapi ada yg aneh, tweeps tidak menganggap masalah pembakaran Al-Qur'an sebagai sesuatu yang patut diperlakukan seperti menanggapi FPI dan persoalan Ciketing. Padahal, menurut saya (Orang yang ilmunya hanya seujung rambut), hal ini sama-sama soal penistaan agama.

Tapi Ciketing itu masalah nyawa, mereka sudah berani main tikam.

Ia betul, ini masalah yang sangat besar. Berani menghilangkan nyawa orang. Tapi coba anggap bahwa kasus penikaman ini tidak terjadi, artinya kita lihat kasus Ciketing sebelum terjadi kasus penusukan tersebut. Respon tweeps masih sama. Heboh, marah, kaget, emosi, dll. Apa beda? Tak ada. Lantas kenapa sekarang kalem-kalem aja?

Menurut saya, ini timpang. Tweeps biasanya meminta presiden untuk tegas dalam soal Ciketing ini, karena ini penistaan agama. Presiden diminta pula agar tidak lebay dalam menanggapi rencana pembakaran Al-Qur'an. Tapi tweeps, In-my-most-humble-opinion, kebalikannya.

Lalu bolehkah saya berpendapat bahwa Sikap tweeps aneh? Karena tweeps terlalu reaktif untuk masalah Ciketing, tapi terlalu kalem untuk masalah Terry Jones.

Impas?

Kalau lihat aspek yang lain sih tidak impas karena beberapa orang berpandangan bahwa 2 kasus ini pada dasarnya berbeda. Tapi saya melihat bahwa dasar persoalan ini sama: Penistaan agama. Saya hanya aneh aja melihatnya. Tampaknya presiden dan tweeps saling menutup mata.

Monday, September 6, 2010

Pinggir Jendela: Maaf

Ada berita yang bikin heboh dunia per-twitter-an hari Senin, 6 September 2010. Setidaknya heboh di Timeline saya pribadi. Saya gak tau apakah rame-rame ini ada juga di Timeline anak 4L4Y. Apakah yang sesuatu yang menghebohkan itu? Itu adalah sikap Indonesia yang meminta maaf kepada Malaysia atas insiden pelemparan kotoran ke Kedubes Malaysia di Jakarta dan aksi pembakaran bendera Malaysia.

Kenapa heboh? karena ternyata tweeps yang saya follow menunjukkan reaksi yang berbeda. Sebagian ada yang mendukung sikap meminta maaf Indonesia dan yang lain mengecam sikap tersebut.

Mereka yang mendukung sikap tersebut menanggapi dengan wajar hal tersebut. Menurut mereka, kita telah menunjukkan bahwa kita adalah sebuah bangsa yang besar, sebuah bangsa yang mau mengakui kesalahan bangsa ini dan berani meminta maaf atas kesalahannya.

Mereka yang mengecam, memiliki pandangan yang beragam. Beberapa orang mengecam karena mereka berpikir bahwa kita tidak perlu meminta maaf karena insiden tersebut adalah suatu perbuatan pribadi seseorang, bukan negara.

Orang yang lain berpendapat bahwa kita tidak perlu meminta maaf karena Malaysia pun tidak meminta maaf atas perbuatan tidak menyenangkan atas para TKI yang bekerja di Malaysia. ada pula yang berpendapat bahwa dengan kita meminta maaf pada Malaysia, berarti kita tidak tegas. Lainnya bahkan berpikir bahwa dengan meminta maaf, kita telah kalah terlebih dahulu sebelum kita melakukan sesuatu.

Here are my opinions.

Saya dengan sepenuh hati mendukung sikap Indonesia yang meminta maaf atas insiden tersebut. Kenapa? 1) Karena kita hanya meminta maaf atas 2 kejadian yang memang seharusnya tidak kita lakukan: Pelemparan kotoran ke Kedubes Malaysia dan Pembakaran bendera Malaysia.

2) Karena meminta maaf bukanlah suatau bentuk kelemahan, ketidaktegasan, kebodohan, atau bahkan kegagalan diplomasi Indonesia. 3) Walaupun hal tersebut dilakukan oleh beberapa Individu (baca: LSM) saja, tetap kita bertanggung jawab atas kejadian tersebut, karena itu terjadi di Indonesia. 4) Perbuatan tercela atas lambang negara orang lain adalah suatu penghinaan serius.


Lalu, kenapa tidak kita hukum saja LSM tersebut? Jadi tidak perlu minta maaf.

Menurut saya memang harusnya Indonesia tidak menghukum LSM tersebut disaat-saat seperti ini. Harus menunggu dulu sampai situasi mereda. Kenapa? Karena dengan kita menghukum LSM saat ini, Malaysia akan tahu bahwa kita sedang lemah karena malah bertengkar sendiri. Lagi pula, saya yakin, beberapa orang akan berteriak "Untuk apa menghukum LSM ini?! Lebih baik urus saja masalah dengan Malaysia!"

Saya harap, setelah masalah ini mereda (atau lebih baik lagi, selesai) akan ada penindakan atas LSM yang melakukan itu semua.

Lantas kenapa kita harus minta maaf saat Malaysia gak minta maaf atas perlakuannya terhadap TKI?

Karena kita tidak mau seperti mereka. Kita tidak boleh seperti mereka. Kalau kita tidak meminta maaf karena Malaysia tidak meminta maaf, apa beda kita dengan mereka? Tak lebih baik sedikit pun daripada mereka jika kita melakukan itu.



Itu hanya pendapat saya pribadi, kalau tidak suka ya silakan. Kalau punya pendapat sendiri ya monggo. Kalau gak nyambung , ya wajar. Mungkin suatu waktu kita bisa ngobrol di bis dalam perjalanan ke kampus. Karena, yah, ilmu saya memang sepanjang jalan itu.

Ada quotes menarik dari untuk menyikapi hal terakhir, tentang TKI, itu.

"An eye for an eye makes the whole world blind." ~ Gandhi



Saturday, August 21, 2010

Standing on Aisle: Saksi Bisu

Aku berada di jalanan besar. Ini Ibu Kota. Jalanan besar ini hanya Ibu Kota yang punya. Anehnya, aku berada di tengah jalan. Tak ada satupun kendaraan yang melewati jalan ini. Satu-satunya kendaraan di jalan ini hanya mobil minibus di seberang jalan yang sekarang sedang terbakar dilalap api yang berkobar.

Yang berkobar bukan hanya kendaraan itu, tapi juga para anak Adam yang sedang saling lempar teriakan, cacian, serapah, bahkan batu, botol dan tongkat-tongkat kayu. Mereka melempari anak Adam lainnya, yang sedang berlindung di balik tameng plastik dan pelindung kepala fiber.

Termakan kobaran semangat. Aku mengambil batu yang ada di dekatku. Ku lempar batu itu jauh menuju para anak Adam yang menggunakan pelindung. Entah kepada siapa aku melempar. Tak peduli siapa yang kena, yang penting aku mengenai salah satu dari mereka. Ya! Aku sudah termakan amarah rekan-rekan di dekatku yang meneriakan para pengguna pelindung itu.

Siapa yang salah? Aku tak tahu. Dari sudutku melihat, kelompokku yang benar. Orang-orang di dekatku meneriakkan bahwa para pengguna pelindung itu telah berlaku semena-mena. Polisi itu sudah melukai perasaan orang-orang ini, rekan-rekanku.

Ku ambil lagi batu yang lain. Belum sempat aku mengambil ancang-ancang untuk melempar, aku jatuh. Sebelum aku jatuh, aku hanya melihat sebuah batu seukuran kepalan tangan meluncur tepat menuju kepalaku.

Sebelum aku tak sadarkan diri, aku mengenali batu itu. Itu batu yang tadi ku lempar.

***

Ini aku, memakai pelindung sebuah tameng plastik dan helm fiber. Aku berada di Ibu Kota, tepatnya di salah satu jalan protokol ini. Tak ada kendaraan yang melintas, yang ada hanya sebuah mobil yang sedang berkobar di dekat gerombolan kami.

Di seberang sana ada ratusan mahasiswa yang terus menerus menyerang kami. Mereka meneriakkan cacian, makian, serapah, dan melemparkan botol, batu, bahkan balok-balok besar kayu pada kami.

Aku baru saja melemparkan sebongkah batu seukuran kepalan tangan kearah mereka. Aku khilaf. Itu hanya bentuk perlindungan diriku. Sebelumnya batu itu hampir mengenai diriku.

Beberapa menit sebelum ini, sebuaha batu meluncur tepat mengarah ke arah kepalaku. Aku tak bisa menghindar. Batu itu sudah sangat dekat denganku. Aku hanya dapat berlindung di bawah tameng plastik ini.

Aku marah. Tak tahukah mereka bahwa aku adalah seorang ayah dari 4 orang anak yang bercita-cita tinggi, yang tak mungkin ku tinggalkan saat ini karena itu bisa merusak seluruh cita-cita mereka? Anakku mungkin akan menjadi seperti mereka, barbar, jika hidup tanpa bimbingan seorang ayah.

Kulempar kembali batu itu. Entah kepada siapa aku melempar. Tak peduli siapa yang kena, yang penting lemparanku mengenai salah satu dari mereka. Ya! Aku sudah termakan amarah dari lemparan batu itu.

Kulihat di seberang sana. Mereka memanas. Salah satu dari mereka roboh terkena lemparan batu. Kurasa itu batu dari lemparan dariku. Aku merasa bersalah. Sulit untuk bergerak.

Kulihat disana seseorang melemparkan batu dari samping tubuh rekannya yang roboh. Batu itu menuju kearahku. Aku tak sanggup bergerak. Tak lama aku jatuh. Helmku pecah.

Sebelum aku tak sadarkan diri, aku mengenali batu itu. Itu batu yang tadi ku lempar.


Bandung, 21 Agustus 2010. 22.46.

Monday, August 16, 2010

Karcis Bus: Perlengkapan MOKA FIX (Katanya)

PETUNJUK TEKNIS

MASA ORIENTASI KAMPUS (MOKA)

REMA UPI 2010

I. TEMA KEGIATAN

Tema dari MOKA REMA UPI 2010 adalah Tingkatkan Prestasi Akademik, Tumbuhkan Mental Aktivis, Guna Membangun Almamater UPI”.

II. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Kegiatan ini dilaksanakan pada:

Hari, Tanggal : Selasa s.d. Jum’at, 24 – 27 Agustus 2010

Waktu : 06.30 – 15.30 WIB

Tempat : Kampus UPI Bumi Siliwangi dan Kampus Daerah.

III. PESERTA

Peserta MOKA REMA UPI 2010 adalah mahasiswa lama dan atau mahasiswa baru 2010 yang telah diterima secara sah di UPI.

IV. TATA TERTIB PESERTA

1. Hadir paling lambat 10 menit sebelum kegiatan dimulai

2. Penampilan secara keseluruhan sopan dan rapi, dengan ketentuan :

  1. Laki-laki
    1. Rambut rapi dan tidak dicat.
    2. Kemeja warna putih polos lengan panjang (dimasukkan ke dalam celana) dan memakai kaos dalam (untuk hari ke 1,2 dan 4).
    3. Atasan kaos putih (untuk hari ke 3)
    4. Celana panjang warna hitam bahan formal bukan jeans dan bukan PDL.
    5. Mengenakan ikat pinggang warna hitam
    6. Mengenakan dasi warna hitam (untuk hari ke 1, 2, dan 4), seperti dasi paskibra
    7. Sepatu tertutup warna hitam dan mengenakan kaos kaki
  2. Perempuan
    1. Rambut tidak dicat, bagi yang berambut panjang wajib diikat
    2. Kemeja lengan panjang warna putih polos (panjangnya minimal satu jengkal di bawah pinggul, tidak dimasukkan ke dalam rok) dan memakai kaos dalam
    3. Atasan kaos putih polos lengan panjang (untuk hari ke 3), tidak transparan dan tidak ketat, panjangnya minimal satu jengkal di bawah pinggul.
    4. Rok panjang warna hitam bukan jeans, tidak berbelah, tidak ketat dan memakai dalaman celana panjang (boleh lagging/celana kain/celana olahraga).
    5. Bagi yang berkerudung mengenakan kerudung warna putih, tidak diikat ke leher dan panjangnya menutupi dada.
    6. Bagi yang tidak berkerudung, mengenakan dasi warna hitam (untuk hari ke 1, 2, dan 4)
    7. Sepatu tertutup warna hitam dan mengenakan kaos kaki
  3. Memakai Atribut sebagai berikut:
      a. Name Tag, dengan ketentuan:
      1) Bahan : Kertas Spotlight berwarna
      2) Bentuk : Lingkaran berdiameter 17 cm untuk semua sektor.
      3) Tali : pita kecil warna hitam.
      4) Warna :
      – Sektor 1 : Warna Putih
      – Sektor 2 : Warna Hijau Muda
      – Sektor 3 : Warna Biru Muda
      – Sektor 4 : Warna Kuning
      – Sektor 5 : Merah Muda
      5) Sisi Depan : Berisi Nama, NIM, Jurusan, Fakultas, Sektor, Kelompok, Motto hidup, pas foto terkini 4 x 6 yang ditempel di bagian tengah atas.

6) Sisi Belakang : Catatan kesalahan, dengan format sebagai berikut

b. Alas duduk dari kertas karton hitam dengan ukuran 50 x 50 cm dilapisi plastik.

c. Buku MOKA, dengan ketentuan :

1) Buku dibuat sendiri dari buku catatan biasa (buku tulis, ex: mirage/sidu), tidak boleh ukuran bigboss.

2) Sampul buku

a) Terbuat dari kertas spotlight, warna sesuai dengan warna name tag sektor

b) Bertuliskan nama kegiatan {Masa Orientasi Kampus (MOKA) REMA UPI 2010} dengan tulisan menggunakan Spidol warna hitam.

3) Buku MOKA berisi :

Halaman 1:

a) Biodata peserta, mencakup : Nama, NIM, Fakultas,Sektor,Jurusan, program studi, tempat tanggal lahir, alamat asal, alamat di Bandung, No.Telp/HP, e-mail, kegemaran, keterampilan yang dimiliki, sifat, motto hidup.

b) Pas foto pemilik ukuran 3 x 4 ditempel disudut kiri bawah

c) Tanda tangan pemilik disudut kanan bawah

Halaman 2 : Alasan dan harapan masuk UPI

Halaman 3 :Target pribadi pada 5 tahun ke depan

Halaman 4: Lembar perkenalan (peserta dan panitia)

d) Halaman 4-8 untuk data perkenalan dengan Peserta: Nomor, nama, jurusan, alamat, kelompok, sektor dan tanda tangan.

NO NAMA JRSN KLMPK SEKTOR ALMT TTD





















e) Halaman 9-13 untuk perkenalan dengan Panitia : Nomor, nama, jurusan, jabatan, alamat, pesan, tanda tangan

NO NAMA JRSN JBTN ALMT PSN TTD





















f) Halaman 14-17 untuk kunjungan stand UKM (minimal setiap MARU mengunjungi 10 UKM) : Nomor, Nama UKM, jabatan, alamat sekre, tanda tangan

NO NAMA UKM JABATAN ALAMAT SEKRE TTD















d. Alat tulis
e. Membawa tugas yang telah ditentukan oleh panitia.
f. Berlaku sopan, dan disiplin selama kegiatan berlangsung.

TUGAS PESERTA

1. Individu

  • Alat Sholat+sajadah
  • Alquran
  • Air Mentah 1,5 L ( Untuk Wudhu )
  • Obat-obatan pribadi
  • Alas untuk solat ( koran, atau apa saja yang bisa dipakai untuk dijadikan alas)

Ket: Semua perlengkapan yang tercantum di atas, dibawa setiap hari

2. Kelompok

  • Setiap satu kelompok harus mengumpulkan buku bacaan layak pakai sebanyak minimal 5 buah, standar bacaan Sekolah Dasar (dikumpulkan pada pemandu kelompok masing-masing)

V. HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA

  1. Hak
    1. mendapatkan fasilitas dan perlakuan yang adil antar sesama peserta
    2. menyampaikan pendapat dan pendirian
    3. menyampaikan saran dan masukan dalam pengambilan keputusan yang melibatkan peserta
    4. melakukan pembelaan sebelum diberi sanksi
  2. Kewajiban
    1. mengikuti seluruh rangkaian acara MOKA REMA UPI 2010. bila berhalangan hadir atau sakit, maka peserta wajib memberikan keterangan kepada ketua pelaksana.
    2. menaati aturan yang berlaku
    3. menjaga nama baik almamater
    4. melaksanakan setiap keputusan dan peraturan panitia
    5. disiplin.

VI. LARANGAN PESERTA

  1. Membawa alat hiburan elektronik di lokasi kegiatan seperti gamewatch, walkman, dan sebagainya.
  2. Memakai perhiasan berlebihan
  3. Mengaktifkan nada dering alat komunikasi seperti HP, PDA, dan sebagainya selama kegitan berlangsung
  4. Pulang sebelum kegiatan selesai tanpa izin dari ketua pelaksana MOKA, Penanggungjawab kegiatan kejurusanan/Program studi, dan SC
  5. Membawa benda tajam (termasuk gunting dan cutter)
  6. Membawa rokok dan atau merokok di lokasi kegiatan (kampus UPI)
  7. Membawa dan atau dalam pengaruh narkotika, obat-obatan terlarang, zat adiktif, dan psikotropika lainnya.
  8. Membawa VCD, buku, atau gambar porno dan barang lainnya yang dapat merusak akhlak.

VII. PELANGGARAN DAN SANKSI PESERTA

VII.1 Pelanggaran

Jenis pelanggaran Peserta dikategorikan dalam 2 hal, yaitu:

a. Ringan, yang termasuk pelanggaran ringan adalah:

1) Terlambat kurang dari 15 menit, keterlambatan dihitung dari waktu yang sudah ditentukan, misal pukul 06.00 WIB, maka pukul 06.01 -06.15 WIB termasuk pelanggaran ringan.

2) Tidak membawa tugas 1 macam

3) Penampilan tidak sesuai dengan ketentuan

4) Atribut atau tugas tidak sesuai dengan ketentuan

5) Melakukan pelanggaran terhadap larangan point a, b, dan c.

b. Berat, yang termasuk pelanggaran berat adalah:

1) Terlambat lebih dari 15 menit, dengan pejelasan sama seperti pada pelanggaran ringan.

2) Tidak membawa tugas lebih dari 1 macam

3) Atribut tidak lengkap

4) Membuat kekacauan ketika acara berlangsung

5) Menghina, melecehkan dan melakukan tindakan represif ketika acara berlangsung.

6) Melakukan pelanggaran terhadap larangan point d, e, f, g, dan h

VII.2 Sanksi

Bagi Peserta yang melanggar ketentuan akan diberikan sanksi berupa :

a. Ringan :

1) Permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan.

2) Diberi teguran atau peringatan atas kesalahan yang dilakukan

3) Memungut sampah minimal 5 buah di sekitar tempat acara berlangsung dan atau mencabut pamflet yang telah habis masa berlaku sebanyak 5 lembar disekitar acara berlangsung.

4) Barang-barang yang seharusnya tidak boleh dibawa diamankan oleh panitia untuk sementara waktu

5) Sanksi atas kesalahan atribut yang tidak sesuai dengan ketentuan disertai perbaikan atribut hingga sesuai dengan ketentuan yang dimaksud.

b. Berat

1) Permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan

2) Diberi teguran atau peringatan atas kesalahan yang dilakukan

3) Barang-barang yang seharusnya tidak boleh dibawa (larangan point e, f, g, h) akan diamankan oleh panitia untuk diadukan kepada mahkamah.

4) Memungut sampah minimal 15 buah di sekitar tempat acara berlangsung dan atau mencabut pamflet yang telah habis masa berlaku sebanyak 15 lembar disekitar acara berlangsung.

5) Membuat resume acara Editorial berita malam.

Tuesday, August 10, 2010

Karcis Bus: Perlengkapan MOKA

PETUNJUK TEKNIS
MASA ORIENTASI KAMPUS (MOKA)
REMA UPI 2010


I. KETENTUAN UMUM
Petunjuk teknis ini dibuat oleh SC sebagai pedoman bagi OC dalam merealisasikan kegiatan MOKA REMA UPI 2010 dan merupakan penjabaran dari Petunjuk Umum dan Petunjuk Pelaksanaan MOKA REMA UPI 2010.

II. TEMA KEGIATAN
Tema dari MOKA REMA UPI 2010 adalah ” Tingkatkan Prestasi Akademik, Tumbuhkan Mental Aktivis, Guna Membangun Almamater UPI”.

III. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Kegiatan ini dilaksanakan pada:
Hari , Tanggal : Selasa s.d. Jum’at, 24 - 27 Agustus 2010
Waktu : 07.00 – 15.30 WIB
Tempat : Kampus UPI Bumi Siliwangi dan Kampus Daerah.

IV. PESERTA
Peserta MOKA REMA UPI 2010 adalah mahasiswa lama dan atau mahasiswa baru 2010 yang telah diterima secara sah di UPI.

V. TATA TERTIB
Peserta
1. Hadir paling lambat 10 menit sebelum kegiatan dimulai
2. Penampilan secara keseluruhan sopan dan rapi, dengan ketentuan :

a. Laki-laki
1. Rambut tidak dicat.
2. Kemeja warna putih (boleh lengan panjang atau pun pendek, dimasukkan ke dalam celana) dan memakai kaos dalam (untuk hari ke 1,2 dan 4).
3. Atasan kaos putih polos (untuk hari ke 3)
4. Celana panjang warna gelap bahan formal bukan jeans dan bukan PDL. (untuk hari ke 1,2,3 dan 4).
5. Mengenakan ikat pinggang warna gelap
6. Sepatu tertutup warna gelap dan mengenakan kaos kaki

b. Perempuan
1. Rambut tidak dicat, bagi yang berambut panjang wajib diikat
2. Kemeja lengan panjang warna putih (tidak dimasukkan ke dalam rok) dan memakai kaos dalam (untuk hari ke 1,2 dan 4).
3. Atasan kaos putih polos lengan panjang (untuk hari ke 3), tidak transparan dan tidak membentuk tubuh.
4. Rok panjang warna gelap bukan jeans, polos, dan tidak berbelah dan bukan model span, boleh yang jenis rempel atau menggunakan lipitan asalkan tidak ketat, (untuk hari ke 1,2,3 dan 4).
5. Bagi yang berkerudung mengenakan kerudung warna putih, tidak diikat ke leher dan panjangnya menutupi dada.
6. Memakai rangkap celana panjang (boleh dari bahan apa pun, yang penting menutup aurat)
7. Sepatu tertutup warna gelap dan mengenakan kaos kaki (boleh menggunakan model apapun)

1. Memakai Atribut sebagai berikut:
a. Name Tag, dengan ketentuan:
1) Bahan : Kertas Spotlight berwarna
2) Bentuk : Lingkaran berdiameter 17 cm untuk semua sektor.
3) Tali : pita kecil warna hitam.
4) Warna :
- Sektor 1 : Warna Putih
- Sektor 2 : Warna Hijau Muda
- Sektor 3 : Warna Biru Muda
- Sektor 4 : Warna Kuning
- Sektor 5 : Merah Muda
5) Sisi Depan : 5) Sisi Depan : Berisi pas foto terkini 4 x 6 yang ditempel ditengah atas, Nama, NIM, jurusan, Fakultas,Sektor, Kelompok, Motto hidup.

Gambar 1



6) Sisi Belakang : Catatan kesalahan, dengan format sebagai berikut
HARI, KESALAHAN, RINGAN, BERAT

Gambar 2


b. Alas duduk dari kertas karton hitam dengan ukuran 50 x 50 cm dilapisi plastik
c. Buku MOKA, dengan ketentuan :
1) Buku dibuat sendiri dari buku catatan biasa
2) Sampul buku
a) Terbuat dari kertas spotlight, warna sesuai dengan warna name tag sektor
b) Bertuliskan nama kegiatan {Masa Orientasi Kampus (MOKA) REMA UPI 2010} dengan tulisan menggunakan Spidol warna hitam.

Gambar 3



3) Buku MOKA berisi :
Halaman 1:
a) Biodata peserta, mencakup : Nama, NIM, Fakultas,Sektor,Jurusan, program, kelas, tempat tanggal lahir, alamat asal, alamat di Bandung, No.Telp/HP, e-mail, kegemaran, keterampilan yang dimiliki, sifat, motto hidup.
b) Pas foto pemilik ukuran 3 x 4 ditempel disudut kiri bawah
c) Tanda tangan pemilik disudut kanan bawah

Gambar 4


Halaman 2 : Alasan dan harapan masuk UPI
Halaman 3 :Target pribadi pada 5 tahun ke depan
Halaman 4: Lembar perkenalan (peserta dan panitia)
d) Halaman 4-8 untuk data perkenalan dengan Peserta: Nomor, nama, jurusan, alamat, kelompok, sektor dan tanda tangan.
NO NAMA JRSN KLMPK SEKTOR ALMT TTD

Gambar 5


e) Halaman 9-13 untuk perkenalan dengan Panitia : Nomor, nama, jurusan, jabatan, alamat, pesan, tanda tangan
NO NAMA JRSN JBTN ALMT PSN TTD

Gambar 6


f) Halaman 14-17 untuk kunjungan stand UKM: Nomor, nama UKM, jabatan, alamat kesekretariatan, tanda tangan
NO NAMA UKM JBTN ALMT SEKRE TTD

Gambar 7


d. Alat tulis
e. Membawa tugas yang telah ditentukan oleh OC.
f. Berlaku sopan, dan disiplin selama kegiatan berlangsung

VI. HAK DAN KEWAJIBAN
Peserta
a. Hak
1. mendapatkan fasilitas dan perlakuan yang adil antar sesama peserta
2. menyampaikan pendapat dan pendirian
3. menyampaikan saran dan masukan dalam pengambilan keputusan yang melibatkan peserta
4. melakukan pembelaan sebelum diberi sanksi
b. Kewajiban
1. mengikuti seluruh rangkaian acara MOKA REMA UPI 2010. bila berhalangan hadir atau sakit, maka peserta wajib memberikan keterangan kepada ketua pelaksana.
2. menaati aturan yang berlaku
3. menjaga nama baik almamater
4. melaksanakan setiap keputusan dan peraturan panitia
5. disiplin.


VII. LARANGAN
Peserta
a. Membawa alat hiburan elektronik di lokasi kegiatan seperti gamewatch, walkman, dan sebagainya.
b. Memakai perhiasan berlebihan
c. Mengaktifkan nada dering alat komunikasi seperti HP, PDA, dan sebagainya selama kegitan berlangsung
d. Pulang sebelum kegiatan selesai tanpa izin dari ketua pelaksana MOKA, Penanggungjawab kegiatan kejurusanan/Program studi, dan SC
e. Membawa benda tajam (termasuk gunting dan cutter)
f. Membawa rokok dan atau merokok di lokasi kegiatan (kampus UPI)
g. Membawa dan atau dalam pengaruh narkotika, obat-obatan terlarang, zat adiktif, dan psikotropika lainnya.
h. Membawa VCD, buku, atau gambar porno dan barang lainnya yang dapat merusak akhlak.

VIII. PELANGGARAN DAN SANKSI
IX.1 Pelanggaran
1. Jenis pelanggaran Peserta dikategorikan dalam 2 hal, yaitu:
o Ringan, yang termasuk pelanggaran ringan adalah:
1) Terlambat kurang dari 15 menit, keterlambatan dihitung dari waktu yang sudah ditentukan, misal pukul 06.00 WIB, maka pukul 06.01 -06.15 WIB termasuk pelanggaran ringan.
2) Tidak membawa tugas 1 macam
3) Penampilan tidak sesuai dengan ketentuan
4) Atribut atau tugas tidak sesuai dengan ketentuan
5) Melakukan pelanggaran terhadap larangan point a, b, dan c.
b. Berat, yang termasuk pelanggaran berat adalah:
1) Terlambat lebih dari 15 menit, dengan pejelasan sama seperti pada pelanggaran ringan.
2) Tidak membawa tugas lebih dari 1 macam
3) Atribut tidak lengkap
4) Membuat kekacauan ketika acara berlangsung
5) Menghina, melecehkan dan melakukan tindakan represif ketika acara berlangsung.
6) Melakukan pelanggaran terhadap larangan point d, e, f, g, dan h

IX.2 Sanksi
1. Bagi Peserta yang melanggar ketentuan akan diberikan sanksi berupa :
a. Ringan :
1) Permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan.
2) Diberi teguran atau peringatan atas kesalahan yang dilakukan
3) Memungut sampah minimal 5 buah di sekitar tempat acara berlangsung dan atau mencabut pamflet yang telah habis masa berlaku sebanyak 5 lembar disekitar acara berlangsung.
4) Barang-barang yang seharusnya tidak boleh dibawa diamankan oleh panitia untuk sementara waktu
5) Sanksi atas kesalahan atribut yang tidak sesuai dengan ketentuan disertai perbaikan atribut hingga sesuai dengan ketentuan yang dimaksud.
b. Berat
1) Permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan
2) Diberi teguran atau peringatan atas kesalahan yang dilakukan
3) Barang-barang yang seharusnya tidak boleh dibawa (larangan point e, f, g, h) akan diamankan oleh panitia untuk diadukan kepada mahkamah.
4) Memungut sampah minimal 15 buah di sekitar tempat acara berlangsung dan atau mencabut pamflet yang telah habis masa berlaku sebanyak 15 lembar disekitar acara berlangsung.
5) Membuat resume acara Editorial berita malam.

source: Notes Facebook BEM REMA UPI

Thursday, August 5, 2010

Pinggir Jendela: Terlalu Provokatif Kurang Aktif.

Kamis malam kayak sekarang itu memang serem. Malem Jum'at, katanya. Anehnya, banyak stasiun TV malah bikin acara hantu-hantuan waktu malem Jum'at kayak gini. Bikin tambah ngeri. Bikin tambah serem.

Tapi ada yang punya acara baru diTV. Bukan hantu-hantuan. Bukan serem-sereman. Mereka ngomongin berita-berita yang hangat. Dipandu oleh para laki-laki yang, katanya, pinter-pinter. Provocative Proactive di MetroTV.

Hari ini (05 Agustus 2010) itu tayang perdana acara tersebut. Yang nonton banyak. Saya gak perlu data statistik untuk buktikan ini. Di Twitter saja, kata Proactive jadi Trending Topic (TT) saat tayangan ini berlangsung. Jangan ragu dengan ini, karena TT di Twitter itu skalanya dunia.

Host-nya adalah 4 pria di bidangnya masing-masing: Penyiar radio dan rapper, Pandji Pragiwaksono, digambarkan mewakili para pekerja kantoran. Komedian dan penyiar radio, Ronal Surapraja, dicap sebagai wakil dari rakyat jelata. Novelis, Raditya Dika, dibuat sedemikian rupa agar tampak seperti mahasiswa. Dan satu lagi itu rapper, yang gue kaga tau namanya, dijadikan wakil dari kalangan eksekutif.

Isinya? Kalau anda tanya saya, saya akan jawab: biasa-aja-kagak-ada-yang-luar-biasa.

Terus ukuran TT di Twitter itu apa? Berarti itu luar biasa dong?

Jadi TT itu udah ketebak. Mereka berempat itu adalah celebritweets yang followersnya banyak banget. Mereka punya followers diatas 1000 orang. Bayangkan saja kalau semua followers mereka tweet tentang itu. Lagi pula promosi acara ini sudah ari lama dipromosiin sama mereka. Jadi jangan heran kalau jadi TT.

Secara konten juga, menurut gue, biasa aja. Malah gue lebih suka acaranya Anies Baswedan sebelum acara ini. Acara ini, diawal acara melalui Pandji, ngajak anak-anak muda untuk ikut mengerti politik. Tapi saat acara berlangsung, mereka disuguhkan dengan isi tentang politik yang lebih memojokkan lawan politik. Misalnya seperti menjadikan kesalahan orang lain sebagai bulan-bulanan seluruh rakyat Indonesia. Yaaahh.. Setidaknya kita dapet sebagian dari inti judulnya: Provocative.

Kemana proactive-nya? Saya juga kurang dapet. Kita memang harus proaktif dalam segala hal. Dan, menurut saya, bentuk proaktif itu harus dalam bentuk solusi kemudian dilanjutkan dengan tindakan konkrit. Menurut saya, Acara sebelumnya lebih memberi solusi daripada acara ini. Acara ini tidak (atau belum?) memberi solusi konkrit.

Yah mungkin ini cuma bentuk kekecewaan saya akibat harapan terlalu tinggi karena termakan promosi dunia maya. Acara yang katanya berbeda itu ternyata sama saja dengan acara-acara yang lain.

Atau memang ilmu saya saja yang cuma sepanjang rute Bus DAMRI Leuwi Panjang - Ledeng? Mungkin memang saya yang gak ngerti arti kata Provocative dan Proactive? Ahh.. Gak tahu lah. Saya kan cuma gabungan Ronal dan Dika: Mahasiswa Jelata.

Tapi ini baru episode pertama. Saya yakin acara ini akan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan keberaniannya untuk 'menyentil' secara langsung letak ketidakberesan di negeri tercinta ini. :)

Saturday, July 24, 2010

Gitar Pengamen: Sweet Disposition - The Temper Trap (Live on KEXP)




sweet disposition
never too soon
oh reckless abandon
like no one's
watching you

a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs
a moment, a love
a dream, a laugh
a moment, a love
a dream, a laugh

just stay there
cause i'll be comin' over
and while our bloods still young
it's so young
it runs
and we won't stop til it's over
won't stop to surrender

songs of desperation
I played them for you
a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs
a moment, a love
a dream, a laugh
a moment, a love
a dream, a laugh

just stay there
cause i'll be comin over
and while our bloods still young
it's so young
it runs
and we won't stop til it's over
won't stop to surrender

a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs (won't stop til it's over)
a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs(won't stop til it's over)
a moment, a love
a dream, a laugh
a kiss, a cry
our rights, our wrongs (won't stop til it's over)
a moment, a love
a dream, a laugh
a moment, a love
a moment, a love (won't stop to surrender)

Standing on Aisle: Love Will Find The Way

Ia menatapku tanpa berkedip. Itu bukan tatapan ngajak berantem. yang pasti aku pernah melihat tatapan semacam itu. tatapan papa ke mama atau sebaliknya. Ya, Itu tatapan cinta.

Sudah menjadi rahasia umum kalau dia menyukaiku. Sebenarnya, kemarin-kemarin sih aku juga menyukainya. Tapi rasa suka itu berubah sejak minggu kemarin. Kenapa? Karena ia menyatakan cintanya.

“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu sih?” Terlontarlah sebuah tanya dari rasa salah tingkahku.

“Pengen aja ngeliatin kamu. Abis kamu orangnya geer-an. Hehe” jawabnya dengan senyum jahil.

Sudah hampir 19 tahun aku hidup. Tapi belum ada yang melihatku dengan cara seperti itu. Banyak yang mengatakan cinta, sayang, suka padaku. Tapi tak ada yang melihatku dengan tulus seperti itu.

Minggu kemarin ia menyatakan cintanya setelah 7 bulan mengisi hari-hari ku dengan segala tingkah polahnya yang mengisyaratkan cinta. “Cinta pada pandangan pertama.” Katanya. Ia bilang kalau ia membutuhkan 7 bulan untuk membuktikan cintanya padaku. Setelah dirasa cukup, minggu kemarin ia nyatakan isi hatinya padaku.

“Kenapa ga diterima aja sih? Haha.” Tanyanya setengah bercanda. Tapi aku tahu. Ditengah canda itu ia mengharap sesuatu.

“Abis, kayaknya aku ga cocok sama kamu deh.” Jawabku sekenanya. Sedetik kemudian aku sadar kalau aku telah menyakiti hatinya.

Aku menyukainya. Menyukainya lebih dari yang ia tahu. Bahkan mungkin lebih besar dari cintanya padaku. Tapi tampaknya ego dan gengsiku lebih besar daripada cintaku padanya.

“Ga terlalu penting sih mau diterima apa ngga. Kalo ditolak sih itu resiko yang nembak. Yang penting itu kamu udah tau perasaan aku ke kamu itu gimana.” Jawabnya disertai senyum tulus.

Aku menyesal telah menjawab seperti itu. Ia mencintaiku seakan aku adalah orang yang paling berarti untuknya. Ia mencintaiku melebihi cintanya akan dirinya sendiri. Sedangkan aku, mendobrak gengsiku dengan cinta yang besar ini pun aku tak bisa.

“Dulu aku percaya sama orang yang bilang ‘cinta tak harus selalu memiliki’, tapi sekarang aku mikir lagi. Kalau ga merasa saling memiliki gimana bisa mencintai? Makanya aku ungkapin semua isi hati aku ke kamu minggu lalu. Biar aku merasa memiliki kamu. Biar aku bisa mencintai kamu.” Ungkapnya.

Aku menangis dalam hati. Ingin aku memberitahunya bahwa aku menyukainya. Sangat menyukainya. Aku merasa memilikinya, karena ia memang mencintaiku.

Sampai kapan kamu mau terus bohongin diri kamu sendiri? Sampai kapan kamu selalu kalah sama gengsi kamu sendiri? Mau nyesel terus karena ga bisa jujur buat diri kamu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam kepalaku. Ohh please! Kasih tau aku caranya buat bilang itu semua ke kamu!

“Sekarang aku percaya sama orang yang bilang ‘love will find the way’. Jadi apapun jawaban kamu, aku bakalan terima apa adanya. Toh aku seneng udah ngebuat tempat khusus untuk kamu di hati aku, meskipun gak akan pernah kamu isi.”

Air mataku mengalir. Love will find the way. Apakah itu jawaban yang dia kasih untuk kebimbanganku? Beruntunglah aku dicintainya. Berucap terimakasih pun takkan cukup untuk membalas cintanya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau dia menyukaiku. Sebenarnya, kemarin-kemarin sih aku juga menyukainya. Tapi rasa suka itu berubah sejak minggu kemarin. kenapa? karena ia menyatakan cintanya.

sekarang aku bukan menyukainya. aku mencintainya.


Bandung, 13092009. 11.36 pm

Thursday, July 22, 2010

Pinggir Jendela: 10 Soal Atau 1000 Ilmu?

Minggu ini itu minggu yang sedikit menegangkan bagi gue dan temen-temen yang lain. Bukan karena minggu ini katanya Pak Tifatul Sembiring mau blok situs-situs porno, tapi karena sesuatu hal sangat penting untuk masa depan kita semua, para mahasiswa: Pengumuman Nilai Akhir Semester.

Nilai-nilai dari hasil kuliah jungkir balik, kayang dan sikap lilin selama 6 bulan (satu semester) akan diumumkan pada minggu sekarang, dimulai dari senin kemarin. Gue gak bakalan cerita gimana hasil nilai-nilai gue, karena memang nilai gue bisa bikin seorang dengan IP dibawah 2 pun bangga karena merasa lebih pintar dari gue.

Eniwei, ada satu hal menarik yang dari jaman SD selalu terlihat secara jelas sama. Kenapa terlihat jelas? Karena gue tidak merasakan hal itu, tapi teman-teman gue tampak sangat merasakan hal itu: Pentingnya sebuah nilai.

Semua temen-temen gue selalu panik kalau ada nilai dia yang gak bagus. Banyak yang sirik bahkan jadi benci ke temen yang lain gara-gara nilai temennya itu lebih besar dari nilainya dia. Sampai ada yang tiap hari nyamperin dosen buat perbaikan nilai.

Sebenernya fenomena biar dapet nilai bagus itu bukan di akhir semester saja. Banyak yang udah jilat-jilat ke dosen dari awal semester, baca buku sampai dihapal kata perkata, bahkan begadang sampai malem dan ngantuk di kelas pagi cuma biar dapet nilai bagus.

Heboh, ya? Banget.

Gue sendiri gak terlalu heboh soal nilai. Buat gue, nilai itu cuma produk pengkotak-kotakan ilmu manusia. Bayangin aja, ilmu manusia yang tak terbatas ini dikotak-kotakkan dalam range sebuah nilai. Oke, nilai merupakan indikator kelulusan untuk apapun. Tapi menurut gue lebih penting pemahaman terhadap ilmu tersebut.

Sungguh naif orang yang melihat sesuatu hanya pada nilai akhirnya saja. Karena sebenarnya yang ia didapatkan lebih daripada itu. Ada ilmu yang lebih berharga daripada nilai tersebut, karena nilai tersebut hanya 10 soal dari 1000 ilmu yang kita dapat.

Jadi inget suatu film yang sangat bagus. Film tahun 2010. Dari India tapi mendunia: 3 Idiots. Salah satu ide film ini adalah kita itu belajar bukan untuk berkompetisi, tapi untuk mencari ilmu. Kayaknya gue mau nonton film itu lagi malem ini. :)

Sunday, July 18, 2010

Pinggir Jendela: 3 Berita 3 Idola

Bulan Mei lalu, ada berita rame-rame soal SMI yang memilih pergi ke World Bank. Sebelumnya, Ada pula rame-rame berita soal Setgab/Sekber/Setber (atau apalah) antara partai-partai koalisi. Sebelum itu lagi, ada berita rame-rame yang sampai berbulan-bulan dan gak selesai sampai sekarang: Kasus Bank Century.

Ada banyak kesamaan dari ketiga berita itu. Salah satunya mereka-mereka yang disalahkan: Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sri Mulyani Indrawati (SMI), Boediono, Pemerintahan 2004-2009, dll. Tapi apakah dari ketiga berita itu ada hubungannya? Pasti.

Kalau urut dari awal, gue (pendapat pribadi) bisa lihat hubungan antar kejadian-kejadian itu. Diawali dengan berita tentang perselisihan antara Aburizal Bakrie (ARB) dengan SMI karena ternyata perusahaan Bakrie banyak yang ngemplang pajak. SMI akhirnya berani angkat bicara karena ARB sudah tidak di pemerintahan 2009-2014.

Dari situ, ujug-ujug muncul masalah soal 'Skandal Bank Century'. Sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan secara biasa, tapi ternyata semua orang mengangkat berita ini dengan lebay. DPR bikin pansus yang dengan pedenya dibilang bakal berhasil. Beritanya sendiri diangkat sampai 3 bulan lebih.

Dari kasus tersebut, DPR (dengan dibantu media cetak dan elektronik), berhasil memojokkan beberapa pihak. Mereka adalah SMI dan Boediono. Padahal kalau melihat para ekonom-ekonom ahli yang beneran ahli (bukan yg suka tampil di TV), SMI dan Boediono harusnya tidak disalahkan. Tapi tampaknya DPR dan media ditunggangi oleh orang yang dendam pada mereka berdua. Jadi media (Bossnya itu yang punya masalah sama SMI dan Boediono) pun menyalahkan SMI dan Boediono secara berlebihan.

Pertanyaanya, kemana SBY? SBY aman karena dia Presiden dan kebetulan tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan yang merupakan awal kasus ini. Apa Presiden diem saja? Gue kira tidak.

SMI dan Boediono sedang terpojok. Sebagai pemimpin yang baik, SBY pasti ingin melindungi mentri-mentri terbaiknya. SMI yang pernah ditawari jadi Managing Director di World Bank akhirnya dilepas ke World Bank. Melepas aset paling berharga? Betul, sayang sekali SMI dikirim ke World Bank saat Indonesia masih membutuhkannya. Tapi kalau gue jadi SBY, gue juga bakalan ngelepas SMI. Kasian orang baik-baik malah dihujat sana sini di negaranya sendiri.

Kalau Boediono gak mungkin dikirim juga ke luar negeri soalnya dia Wapres. Jadi SBY mengalihkan isu dengan bikin Sekber. Semua media langsung soroti soal ini. Lupa soal Century, lupa soal SMI, lupa soal Boediono. SBY seakan-akan bunuh diri dengan bermain bersama ARB yg merupakan ketum Golkar.

Tapi gue punya pandangan lain. SBY itu berusaha melindungi Wapres dan SMI. Terus kok kayak yang makin deket sama ARB? Itu masalah lain. SBY tunjuk Agus Martowardoyo (AM) dan Anny Ratnawati (AR) buat menjinakkan ARB.

AM ini dulu pernah ditunjuk oleh SBY untuk jadi Gubernur BI kerja bareng SMI dan Boediono waktu masa pemerintahan 2006-2009. Keliatan banget kalau DPR gak suka AM. Buktinya, baru jadi calon, DPR langsung nolak AM untuk jadi Gubernur BI. Akhirnya Gubernur BI diisi oleh Boediono. Sedangkan AR ini titipan pribadi SMI. Jadi gue rasa Integritasnya AR ini tidak perlu diragukan lagi.

Kenapa SMI bilang kalau dia korban kartel politik? Kalau menurut gue, SBY gak kasih tau soal ini ke SMI. Biar SMI bisa fokus ke World Bank dan bekerja dengan baik disana. Yaaah.. Dengan kata lain. SBY bunuh diri sendiri buat SMI dan Boediono.

Jadi menurut gue semua itu berhubungan. Untuk menyelamatkan SMI, SBY kirim ke World Bank. Untuk menyelamatkan Boediono, SBY bikin Sekber untuk alihkan isu. Biar ARB ga ngelunjak, SBY tunjuk AM dan AR di kemenkeu.

Hasilnya? SMI kerja tenang gak dihujat-hujat lagi di World Bank, Boediono kerja tenang jadi Wapres tanpa dicekcokin sana sini di negaranya sendiri. ARB tetap diusut kasus pajaknya oleh AM dan AR.

Yaaahh... Itu semua memang pikiran gue doang. Pikiran waktu lagi di bis waktu mau pulang. Kenapa gue bisa mikir kayak gitu? Karena gue sendiri mengidolakan SBY, SMI dan Boediono. Mereka itu orang-orang baik yang bisa bekerja bersama. Mereka para pemikir pembangun bangsa. Mereka idola gue.

Buat gue, gak bisa idola sama SBY doang. Gak bisa idola sama SMI doang. Gak bisa sama Boediono doang. Gue idola sama mereka bertiga. Bisa gak sih idola sepaket? Kalau iya, gue idolain mereka. Satu paket.

Saturday, July 17, 2010

#kumahamaneh: Bioskop

Cewek: "Nanti kita turun dimana?"
Cowok: "Nanti kita turun di PVJ aja. Mau nonton di Blitzmegapixel, kan?"

Bandung, Damri Leuwi Panjang - Ledeng, November 2009

Friday, July 16, 2010

Standing on Aisle: Tak Ada Yang Tahu

Motor bebek warna hitam itu berhenti di depan sebuah bengkel. Ada yang salah dengan ban luar motor itu. Ban itu tidak kempes. Tapi benjol-benjol seperti kepala pencuri yang dihakimi masa.

"Ganti ban luar, mas." Kata sang pengendara motor bebek itu.

Usianya tak lebih dari 20 tahun. mungkin masih sekolah. Tak tahulah. Sulit melihat orang masih sekolah atau tidak di jaman edan yang disebut 'globalisasi' ini.

"Simpan dulu saja disana, bang. aku selesaikan yang ini dulu." Sang montir berkata sambil menunjuk motor sport hijau bermerek nama pendekar jepang.

Sang montir dari sumatra. mungkin dia orang batak. Tak tahulah. Susah menentukan orang berasal darimana di jaman gila yang disebut 'modern' ini.

"Duduklah dulu, bang. atau pilihlah ban luar yang mau kau ganti. Daftar harganya mintalah ke gadis di belakang meja itu." Sang montir menyarankan.

Sang pengendara motor pun mulai memilih ban luar baru untuk menggantikan ban 'benjol' miliknya.

"Sudah dapat barangnya, bang? aku bisa kerjakan sekarang." Tanya sang montir.

"Yang ini aja deh, mas." Sambil memegang ban luar bermerek.

Montir itu pun langsung mengambil ban yang dipegang anak sekolahan itu. Ia langsung bekerja mengganti ban luar tersebut. Takut ada pekerjaan yang tidak beres, anak sekolahan itu pun duduk di dekat sang montir.

"Dimana rumah, bang?" Sang montir mulai percakapan.

"Di komplek seberang, mas." Jawabnya sambil memperhatikan sang montir.

"Tak sekolah?" Sang montir mulai mencari jawaban dari pertanyaannya.

"Nggak lah. sabtu kan libur, mas."

"Sekolah dimana memang?"

"Saya kuliah"

"Oh, saya kira masih sekolah. Dimana kuliah? Jurusan apa?"

"Di UPI. Ambil bahasa inggris."

Anak kuliahan itu menyebutkan jurusannya sambil menyumpahi diri sendiri. Ia tidak pernah suka akan jurusan yang dia ambil. Orang tuanya yang menginginkan dia untuk memilih jurusan bahasa inggris. Biar bisa menghadapi tantangan global, katanya. Padahal menghitung 1 sampai 100 dalam bahasa inggris saja belum lancar. Ia tidak bisa bahasa inggris. Kalau boleh memilih, ia akan memilih masuk jurusan seni musik. Dia sudah pintar main setidaknya 4 alat musik pada umur 10 tahun. Yah, ia ingin menjadi ahli di kehidupannya.

"Wah pintar cakap bahasa inggris kau, bang. aku pun kuliah." Sang montir takjub. Anak kuliahan itu tersenyum.

"Semoga saja begitu, mas." Pikirnya dalam hati.

"Aku pun kuliah. di ITB." Lanjut sang montir.

Butuh 2 detik untuk mencerna kata-kata yang baru dikeluarkan sang montir. Detik pertama ia tidak percaya. Seorang montir, belepotan oli, kotor, dan bahkan (mungkin) tidak mandi adalah seorang mahasiswa ITB? Bagaimana bisa?

Detik kedua ia melihat mata sang montir, semua teorinya runtuh. Sang montir jujur. Itu terlihat dari matanya.

"Ambil apa, mas?" Kata-kata sang anak kuliahan itu keluar begitu saja menerjang keterkejutannya. Mencari jawaban atas ketidak percayaannya.

"Matematika. aku yang paling nakal disana, bang. Aku tak heran abang kaget. Banyak yang tak percaya." Jawab sang montir menjelaskan sambil tersenyum.

Ahh.. anak ITB hampir DO mungkin. Pikir sang anak kuliahan dalam hatinya.

"Tak pernah suka aku kuliah di bidang itu. Lebih baik aku bekerja jadi montir saja daripada berkutat dengan si 'x' yang tak kunjung ketemu itu." Sang montir mulai bercerita.

"Kenapa, mas? Kan sayang, susah masuk ITB." Tanya anak komplek itu heran.

"Aku sudah pintar matematika sejak SD. Aku lahap pelajaran kelas 3 SMP saat aku kelas 6 SD. Aku telan bulat-bulat pelajaran kelas 3 SMA saat aku kelas 3 SMP. Aku sudah mahir matematika sejak dulu. Untuk apa aku belajar lagi? Tak ada guna. Aku inginnya belajar musik atau otomotif seperti ini. Soalnya aku belum mahir dalam bidang ini." Jawab sang montir panjang. Sang anak komplek itu pun takjub.

"Kalau aku belajar apa yang aku sudah bisa, aku tak bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang hidup, bang. Makanya aku kepingin belajar otomotif dan musik. Karena aku belum mahir." Lanjut sang montir sambil mengencangkan baut roda. pekerjaannya hampir selesai.

Sang anak komplek itu tidak menyangka jawaban sang montir. Mereka bertolak belakang. Sang montir ingin mencari dan mempelajari segala macam bidang agar bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang hidup. Sedangkan ia ingin menjadi ahli di kehidupannya dengan mempelajari apa yang ia telah kuasai.

"Selesai, bang. Pembayarannya langsung ke gadis di belakang meja tadi."

Mana yang lebih baik? Tak ada yang tahu.

Bandung, 04102009. 01.56 am

Bus: Kotak Besar Miniatur Dunia

Saya tidak mengada-ada dengan judul diatas. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Selamat datang di blog "Catch Your BUS!!!". Sebuah blog buatan mahasiswa penumpang setia Bus Damri jurusan Leuwi Panjang - Ledeng Bandung. Blog berisi buah pikiran banyak perjalanan panjang dari selatan menuju utara Bandung atau sebaliknya.

Jangan terlalu berharap banyak dari blog ini. Karena hanya berisi suatu hiburan dari sebuah miniatur kehidupan dalam kotak besar: BUS.

Catch your bus. Catch your world.

Regards.